
Setelah Ferdinan pergi meninggalkan lingkungan sekolah, kami melanjutkan kegiatan kami. Para siswa laki laki sudah berhenti bermain, karena sebentar lagi juga jam pelajaran olahraga akan habis.
Tring...
Suara bel, tandanya jam istirahat tiba. Kami lekas menuju ke kantin untuk sekedar membeli air mineral, mungkin semua merasa kehausan.
Hanya ada beberapa siswa yang kembali ke dalam kelas, mungkin mereka membawa air minum.
*****
Hari ini hari minggu, jadi aku memutuskan berbaring dulu sebentar di kamar ku. Berhubung hari ini libur aku sedikit menunda jam bangun ku.
Merasa cukup, aku beranjak dan mulai membersihkan tubuhku terlebih dahulu agar aku kembali segar.
15 menit berlalu, aku sudah selesai mandi dan memakai baju santai. Aku segera melakukan rutinitasku membantu Ibu di dapur.
Saat ini aku sedang duduk di kursi belajarku, membaca novel kesukaanku.
'Ting!' bunyi notifikasi hp ku mengalihkan perhatian ku dari novel.
Aku lekas meraihnya dan melihat ada pesan group chat mata pelajaran seni.
"Teman-teman jangan lupa, kita hari ini kerja kelompok ya, bawa bahan sesuai pembagian tugas kemarin,' begitu isi pesannya, yang tak lain pengirimnya adalah Putri.
Kalian ingat Putri kan, siswi berparas rupawan yang aku ceritakan di awal, tapi memiliki wajah tak bersahabat.
Kami satu kelompok di mapel seni. Beberapa hari yang lalu kami mendapat tugas membuat sebuah alat musik dari barang barang bekas dan menyanyikan lagu daerah.
Kami terdiri dari 5 orang, diantaranya 2 cowok dan 3 cewek.
"Jam?" balasku singkat
"Setelah jam makan siang ya, jam 2," balas Putri
"Ok, dimana?" kali ini Gevan, teman sekelompok kami yang bertanya
"Di kos aku aja, ibu kos aku ngizinin kok, udah aku izin semalam, dan sekalian juga biar ketemu sama Hana, dia udah pulang dari kampung.
"Ok,"
Kalian ingat Hana kan? Siswi yang mempunyai suara yang indah itu dan tampil saat MOS. Dia pulang ke kampung 3 hari yang lalu, penyakitnya kambuh.
Aku belum tau dia sakit apa, tapi dia sering mengeluh sakit perut. Untuk urusan itu, tidak usah di perpanjang.
*****
Kami telah selesai kerja kelompok. Bukan selesai, tepatnya sudah lelah. Ini sudah hampir pukul 6 sore, tapi pekerjaan kami belum selesai.
Jangankan selesai, ingin membuat apa, kami saja bingung. Lagu nya sudah ada, tinggal alat musik apa yang akan kami buat.
Mau bagaimana lagi, kebanyakan main hingga lupa waktu. Apalagi dengan posisi disana ada Hana yang sedang sakit, jadi bisa di perkirakan akan sangat susah menyelesaikan tugas kami.
"Hello gaesss..." sapa seseorang dari arah pintu. Suara itu tidak asing bagiku.
Aku yang posisinya sedang membelakangi pintu dan sedang asyik belajar menggunakan alat musik gitar langsung menoleh, dan benar saja.
Ferdinan datang sambil nyengir kuda. Sementara yang lain sibuk menyapa, aku hanya diam sambil tersenyum tipis lalu melanjutkan berkutat dengan gitar.
Bukan bermaksud cuek, hanya saja aku tidak pandai basa basi.
Saat dia akan duduk, aku sempat meliriknya sebentar, dan di tatap balik olehnya. Pandangan kami bertemu, lalu detik berikutnya aku langsung memutus kontak mata itu.
__ADS_1
Aku memilih berhenti bermain main pada gitar, dan aku ikut nimbrung dengan mereka. Aku penasaran apa yang dilakukan Ferdinan ke luar kota.
Lagi dan lagi, aku hanya mampu menjadi pendengar yang budiman, bukan tak ingin angkat bicara atau memgeluarkan suara, melainkan aku tidak tau harus ngomong apa.
Disaat mereka bercanda, aku ikut tertawa, dan saat serius aku juga serius. Sudah itu saja, tidak lebih.
"Cie udah jadi om," candaku mendengar jika kakak perempuannya melahirkan makanya dia pergi ke luar kota.
Ternyata dia mengunjungi kakaknya, batinku.
Dan itu pertama kali aku mengeluarkan suara setelah menyimak sekian lama. Dan di susul tawa yang lain.
Kami melanjutkan obrolan, hingga semua sudah mulai lelah dan kami memutuskan untuk pulang.
"Pulang naik apa Nis?" tanya Putri padaku saat kami sudah di teras kos kosan dia.
"Sama Riko mungkin," jawabku singkat. Sebenarnya kami belum telalu dekat, hanya saja kami satu kelompok ya bagaimana lagi.
"Oo, se-"
"Engga, sama aku aja," belum sempat Putri selesai bicara, Ferdinan datang dari belakang kami.
"Ha?" aku melongo, sedikit kaget melihat kedatangannya dan ya pastinya mendengar kalimatnya itu.
"Eh iya Nan, kalian kan searah pulangnya, barengan aja Nis sama dia," usul Putri yang diangguki Ferdinan.
"Tapi bentar dulu ya, aku ngantar Gevan dulu, deket kok, bentar aja," Ferdinan segera pergi dengan motornya bersama Gevan dan Riko.
"Dasar aneh, tapi gapapa sih, Riko juga belum tentu mau, dan sepertinya dia ada urusan," aku membatin berperang dengan isi kepala sendiri.
"Dan itu, rumahnya si Gevan kan dekat, ngapain di antar coba, hadeehhh, sungguh sangat mengherankan sekali" aku bergumam dan mungkin bisa di dengar Putri tapi dia hanya tersenyum.
"Put, Na, aku pulang ya," pamitku pada mereka berdua. Mereka berdua satu kos disini.
"Iya Nis, hati-hati kalian.." balas mereka.
Ferdinan pun melajukan motornya membelah jalan yang dikatakan ramai tidak, dikatakan sepi juga tidak.
Jalanan agak lenggang, maklum sore hari.
"Nis, pegangan ya aku mau ngebut.." suruh Ferdinan.
"Plis Nan, jangan ngebut, asli takut aku," aku sedikit memasang nada memelas.
"Padahal seru loh," ujarnya meyakinkanku.
"Engga, ga usah, cukup kemaren aja, kali ini ga usah," aku masih bersikeras tidak ingin memeluknya.
Bukannya tentang takut. Jika masalah kecepatan aku sudah mulai terbiasa. Tapi ini tentang hati. Hatiku tidak aman jika harus memeluknya kembali seperti kemarin. Yang ada aku bisa terkena serangan jantung.
Akhirnya dia tidak jadi ngebut. Dia hanya menaikkan sedikit kecepatanya, tidak masalah.
"Eh, mana oleh-olehnya, katanya baru pulang dari kota XX," ujarku memecah keheningan. Lucu rasanya berboncengan dengan teman sekelas tapi tidak saling sapa. Terkesan seperti ojol dan pemumpang nantinya jika hanya diam sepanjang jalan dan akan saling bicara jika sudah sampai di tujuan.
"Haha aku mana ada bawa apa-apa Nis, repot" jawabnya sambil tertawa.
"Lah mana bisa gitu," sewotku sedikit tak terima.
"Pokoknya besok oleh-olehnya harus ada." lanjutku memaksa, namun aku sejujurnya hanya bercanda.
"Hahaha iya iya.." dia tertawa dan mengiyakan, betuk atau tidak aku tak tahu, terserah dia saja. Toh aku juga hanya bercanda. Tapi jika benar-benar di bawa, aku pasti dengan senang hati akan menerimanya.
__ADS_1
"Eh, besok ada ulangan matematika, kan?" tanya Ferdinan.
"Iya ada, makanya nanti malam belajar, jangan malah main,"
"Liat ntar malam deh, kayaknya aku bakal ke warnet, di rumah ga ada siapa-siapa, suntuk."
"Mama Papa kamu?" aku bertanya bingung.
"Belum pulang," jawabnya seadanya
"Oo, yaudah belajar aja sih, masa takut sendiri di rumah," aku sedikit mengejeknya.
"Temenin" ujarnya singkat yang membuatku heran.
"Maksudnya?" tanyaku yang tidak mengerti. Temenin apaan coba? Masa iya aku ke rumah dia, dan nemenin dia? Berdua gitu? Gak lah, ga baik.
"Nemenin kamu di rumah kamu gitu?" tanyaku memperjelas.
"temenin belajar makdsunya, nanti kalo ada yang ga aku ngerti, aku nanya ke kamu, makanya aktifin hp kamu ya," jawabnya memberi penjelasan.
"Kalo perlu sambil vido call, biar ga ribet," lanjutnya membuatku melongo. Aku hanya diam, bengong. Bagaimana tidak? Aku dan dia video call? Yang benar saja. Yang ada aku tidak bisa konsentrasi jika terus menerus melihatnya. Dia terlalu manis, ditambah perlakuan baiknya menambah kesan manis pada dirinya.
"Nis, kok diam?"
"Nisa"
"Woi Anisa!" panggilnya membuatku kaget.
"I iya kenapa tadi?" aku langsung tersadar dari lamunanku.
"Melamun sih.. gimana, bisa kan?" tanyanya membuatku bingung. Ini kenapa otakku tiba-tiba ngeblank ya.
"Bisa apa?" tanyaku lagi.
"Engga jadi," katanya membuatku jengkel.
"Apasih ga jelas," ucapku sewot.
Setelah itu kami diam dan jarak rumah ku pun sudah dekat.
Setelah sampai di depan rumahku, aku turun dari motornya dan berterimakasih padanya.
Seperti biasa, dia selalu menunjukkan senyum termanis yang dia miliki, dan setelah itu pergi.
Aku memandangi punggungnya sampai benar benar hilang dari pandanganku, dan setelahnya aku lekas masuk ke rumah.
Dan sudah bisa dipastikan, sepanjang malam ini hatiku tidak akan bisa tenang setelah melihat senyuman milik Ferdinan.
Malam harinya dia benar-benar melakukan video call, dan mau tidak mau aku harus mati matian menahan ekspresiku agar terlihat tenang. Dan aku mati matian untuk bisa berkonsentrasi ssaat belajar.
Benar benar ya anak ini, batinku.
Kami benar benar belajar. Sesekali dia akan bercanda saat aku memasang wajah serius memahami materi. Dan jangan lupakan wajah manianya saat berhasil menjahiliku.
Terkesan menyebalkan, tapi aku senang. Sesekali dia juga memasang wahah imut saat mendengar penjelasanku, rasanya aku ingin mencubit pipinya yang menggemaskan itu.
Dan di saat ada yang tidak dia mengerti, dia akan langsung bertanya.
Benar-benar menyenangkan, saat kita melakukan hal-hal yang sederhana bersama orang yang kita sukai.
Hal sesederhana ini mampu membuatku bahagia. Ku harap selamanya akan seperti ini..
__ADS_1