
Hari ini hari rabu, ada jadwal mata pelajaran PJOK. Kegiatan mata pelajaran kami kali ini di isi oleh kegiatan praktek permainan bola besar. Kami memilih untuk bermain bola kaki saja.
Kami segera bergegas keluar. Berhubung hari ini kami mengenakan seragam olahraga jadi kami tidak perlu mengganti baju.
"Nis, katin dulu yok, beli jajan. biar pas nonton nya nanti seru gitu sambil ngemil," ajak Nadia padaku saat akan bergegas keluar kelas.
"Emang kita ga ikut main? kok nonton?" tanyaku agak heran dengan ajakan Nadia.
"Enggak lah, biar para cowok aja yang main, kita mah jadi tim hore saja haha," ujarnya tanpa merasa berdosa.
"Bisa gitu ya?"
"Bisa, lagian bu Esra ga bakak ngawasin kita kok, dia udah nangkring noh, di kantor dari tadi, banyak urusan dianya mah... jadi aman aman sajaa," Nadia mencoba membujukku namun segera ku bantah.
"Ah gak usah Nad, lagian mana boleh jajan pas jam pelajaran, tuh liat siapa yang ada disana," ucapku sambil menunjuk pak pembina OSIS yang sedang di kantin.
Bisa bisa kena semprot nanti..
"Hadehhh yaudah deh, yoklah," jawab Nadia dengan wajah cemberut nan lesu. Aku hanya tersenyum simpul saja menganggapinya, lalu kami berjalan beriringan menuju lapangan luar.
Lapangan di sekolah ini terdiri dari 2 lapangan, lapangan luar dan lapangan dalam. Kami memilih untuk bermain di lapangan luar, karena memang lapangan di luar lebih luas, lebih mantap rasanya.
Dan itu sudah atas izin dari guru mapel PJOK.
Dan benar saja, siswa perempuannya tidak ada yang berminat untuk ikut bermain, hanya sekitar 3 orang saja yang memang memiliki sifat agak tomboy.
Sedangkan yang lainnya memilih untuk duduk saja melihat lihat mereka sambil bergosip, toh ga ada guru juga, haha.
Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengubah diriku, mencoba berbaur dengan siswa yang lain. Karena mau bagaimana pun juga, aku tetap butuh orang lain di hidup ku.
Tidak mungkin aku terus menerus menyendiri dengan segala khayalan ku yang entah sudah sampai ke ujung dunia mana.
Yang ada lama lama aku bisa gila.
Meski aku menjadi pendengar setia, itu sudah lebih baik rasaku. Yang penting aku punya teman dulu. Nanti jika sudah mulai akur dan sudah merasa cocok, baru aku mulai bersuara.
Aku tipikal orang yang susah bergaul. Jika aku tidak nyaman di tempat itu, aku akan diam seribu bahasa. Diam dan diam.
Namun jika orang nya tepat, se frekuensi, bisa jadi aku menjadi orang yang oversharing.
Yaa begitulah.
*****
Saat mereka bermain, datang abang tukang bakso yang membuat perut kami tiba tiba merasa kelaparan.
Lapangan ini berada dekat dengan jalan, jadi tidak bisa di pungkiri tukang jualan akan berlalu lalang, contohnya seperti abang tukang bakso ini.
"Eh Nis, bakso tuh, beli yukkkk,' ajak Nadia sambil merengek.
__ADS_1
"Ayok, aku juga jadi lapar,' jawabku antusias. Hari ini aku membawa uang jajan yang sedikit lebih banyak dari biasanya, tak apalah, sesekali, pikirku.
Kami berdua berjalan menuju abang tukang bakso, dan sudah dapat dipastikan teman teman yang lain pun pasti berlarian kesana.
"Ternyata satu kelas ku penggemar bakso semua, ya" gumamku dalam hati.
"Nis, kamu mau beli bakso kah?" tiba tiba Ferdinan datang menghampiriku dan Nadia.
"Eh iya Nan, ini aku sama Nadia mau kesana. kamu mau nitip?"
"Iya, nitip yak, ini uangnya, sekalian buat bayar punta kamu," ucap Ferdinan sambil memberikan uang 20 ribu kala itu.
"Ga ada penolakan." ujar dia cepat saat aku akan membantah.
"Hadeh, yaudah deh. makasi duluan lho yaaa.." ucap ku sambil nyengir kuda😁
Lumayan, uangku tidak jadi keluar, haha. Rezeki anak baik.. Pikirku
Nadia tidak melihat interaksi kami, dia berjalan duluan, mungkin sudah kelaparan dan takut habis. Dasar anak kampret.
"Bang, dua porsi ya, banyakin saos nya.." ucapku pada abang bakso nya.
"Oke dek.."
"Yeee siapa juga yang mau beliin sama kamu, ini tuh buat Ferdinan ..."
"Cie cie.. pedekate nih ceritanya..?" potong Nadia sambil menggodaku.
"Blom selese ngomong weh, main potong potong aja. ini itu tadi dia minta tolong buat di beliin, ini juga dia ngasih uang nya kok," jawab ku menoyor kepalanya.
"Kamu aja sana, sama dia.." lanjutku dengan wajah malas, tapi sedikit tidak tulus.
"Iya iya, gitu aja sewot. eh tapi lumayan juga sih dia, tampan dan manis, cocok sama kamu yang juga cantik dan manis. aku doakan kalian berjodoh, aminnn.."
"Gigimu cantik dan manis. muka ku biasa aja gini di bilang cantik. periksa gih, matanya," aku sedikit malas menjawabnya.
"Kamu itu cantik, Nisa, cantik. believe me." ucapnya meyakinkan diriku sendiri.
"Iya kan bang, dia cantik kan?" lanjutnya bertanya pada kang bakso.
"Iya dek, semua yang namanya wanita pasti cantik kok, kalo ganteng mah udah gawat atuh," sahut abang tukang bakso sambil bercanda.
"Hahaha." kami bertiga tertawa renyah
"Nih dek, udah siap. Makasi yaa," kata abang nya memberikan bakso pada kami.
Kami lekas menerimanya dan membayar, setelah itu kami pamit, ingin menikmati bakso panas di cuaca yang pana pula.
__ADS_1
"Bentar ya Nad, mau ngasih bakso nya Ferdinan bentar,"
"Iya, lama juga ga masalah kok, aku dukung kamu sama dia," jawab Nadia. Seperinya anak ini senang sekali membuatku jengkel.
"Cuman ngasih bakso lho.." aku memutar bola mata malas.
"Iya iyaa cepat sana, dia dah nunggu tuh keburu mati kelaparan ntar nungguin bakso dari sang pujaan hati, asek" lagi dan lagi, hadehhh
"Jangan lupa balek ya sayang, masih ingat jalan pulang kesini kan? jangan lama lama mandangnya, ntar cinta.." lanjut Nadia menggodaku.
Padahal aku hanya memberikan bakso pesanannya, masa iya sampai lupa jalan pulang. Ini juga masih di area yang sama, ga beda kelurahan, atau kecamatan, atau kota, apalagi negara. Ini di sekolah, hey.
Aku jalan saja tanpa menghiraukan ucapan Nadia. Mendengarkan kata katanya akan membuatku semakin jengkel, walaupun sebenarnya aku sedikit senang di goda dan di jodoh jodohkan seperti itu. Siapatau bisa jodoh beneran, haha.
"Wihh udah datang nih yang di tunggu tunggu," ujarnya dengan wajah bahagia. Seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan saja, pikirku.
"Ini Nan, baksonya, makasi juga yaa buat uangnya," aku menyerahkan plastik berisi bakso itu padanya.
"Iya sama sama, kan ga mungkin juga aku nyuruh orang ga ngasi apa apa," ujarnya sambil tersenyum.
"Hehe, iya.. aku kesana ya, ngumpul sama teman teman..."
"Okey" jawabnya sambil menganggukkan kepala, dan sekali lagi tersenyum.
Aku langsung berbalik badan, tak tahan rasanya melihat senyum itu lebih lama lagi. Posisi ini sunnguh sangat mendebarkan.
Melihat dia tersenyum dengan tulus, rasanya aku selalu ingin menghentikan waktu sejenak agar aku bisa lebih lama lagi menikmati senyum itu.
Sepanjang jalan, senyuman tak pernah lepas dari bibirku. Aku terlalu senang hingga aku tak bisa bersikap normal.
Hingga saat akan sampai di dekat teman teman ku, aku mengubah ekspresi wajah ku menjadi biasa saja, seolah semua hanya biasa saja.
Menampilkan wujud awak ku, pendiam.
****
Tak lama, aku melihat Ferdinan menuju ke ruang piket, entah apa yang akan dia lakukan.
Sepertinya dia sedang meminta izin, entah izin apa. Dia terlihat sedang berbincang dengan petugas piket hari ini.
Setelah selesai berbincang, dia keluar dari ruang piket, dan pergi ke parkiran. Ternyata dia mengambil sepeda motornya.
"Mau kemana tuh anak," tanyaku dalam hati.
Aku hanya melihatnya dari kejauhan, tidak mungkin aku berlari menghampirinya hanya untuk menanyakan "kamu mau kemana?" Ga lucu.
Alhasil aku hanya bertanya tanya dalam hati. Setelah lelah bertanya dalam hati, aku bertanya pada teman yang lain, ternyata dia izin ingin menemui ibu dan kakak nya ke luar kota, ada urusan katanya.
"Ooo.."
__ADS_1