
Hari berganti hari, tidak terasa sudah satu bulan aku berada di sekolah ini. Namun waktu saru bulan itu ternyata tidak menjadikan ku lebih akrab dengan teman teman satu kelas ku.
Aku tidak pandai bergaul, dan aku kurang menyukai keramaian. Terkadang suka merasa kesepian, tetapi di sisi lain aku nyaman seperti ini.
Entah mengapa duduk menyendiri, membaca novel, dan sesekali merenung terasa lebih menyenangkan dibandingkan berbaur dengan yang lain.
Aku menikmati kesendirian ini.
Selain itu aku juga enggan bergabung bersama mereka. Mereka berasak dari keluarga orang berada, terlihat dari barang-barang yang mereka pakai.
Bila mereka ke kantin saat jam istirahat tiba, mereka akan kembali dengan berbagai macam bentuk jajanan.
Sedangkan aku, aku berasal dari keluarga yang serba cukup, perlengkapan sekolah ku pun hanya barang-barang utama.
Untuk pulpen warna warni, stabilo warna warni, dan apa lagi itu aku tidak punya.
Dan bisa di hitung berapa kali aku ke kantin selama di sini.
Tapi tak apa, yang penting aku bisa melanjutkan sekolah, dan akan ku ubah nantinya kondisi keluarga ini.
Bermodalkan tekad yang besar, aku harap aku bisa jadi anak yang membanggakan. Aminn
*****
Hari ini jam pelajaran pertama adalah mapel prakarya, di mana kami akan membuat sebuah produk dari barang bekas.
Kami di bagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok terdiri atas 5 orang. Setelah terbentuk, kelompok kami terdiri atas 4 orang perempuan dan satu orang laki laki.
Di kelas kami memang mayoritas perempuan, tapi entah mengapa, kelompok kami agak lain. Entah di sengaja atau bagaimana aku pun tak tahu.
Baiklah, tak apa. Selama dia tidak keberatan masalah selesai.
"Ferdinan.." aku menyebutkan nama nama anggotak kelompokku satu per satu. Ternyata nama laki laki yang satu kelompok itu dengan kami namanya Ferdinan.
"Waduh, si ganteng manis ini? Aaa" teriak ku girang dalam hati.
Seminggu belakangan ini memang fokusku sedikit teralihkan oleh dia. Penampilannya yang rapi, cool dan keren menambah kharismanya sebagai lelaki 'ganteng'.
Sering kali aku curi curi pandang, terlebih saat dia tersenyum. Sungguh sangat sangat manis sekali.
Aaarrggghh meleleh hati adek bang, hiks.
Ehm.
Kembali ke topik, kali ini kami akan membahas produk apa yang akan kami buat. Kami berdiskusi selama kurang lebih satu jam dengan mempertimbangkan alat dan bahan, proses pembuatan, serta biaya yang di perlukan.
Setelah diskusi yang agak panjang dan lumaya lama, akhirnya kami memilih untuk membuat alat musik gitar yang terbuat dari kardus bekas.
__ADS_1
Yang sederhana saja dulu, yang penting hasil karya kita sendiri, dan tentunya mudah untuk dibuat.
Dari yang sederhana dulu baru ke yang spektakuler, eaak.
Itu kata Ferdinan, hmmm..
Bahan bahan yang di perlukan juga tidak terlalu banyak. Hanya kardus bekas berukuran kira kira 60cm, benang sebagai senar nya, lem tembak untuk merekatkan bagian depan dan belakang.
Di perlukan juga keahlian dalam menggambar bentuk gitarnya, dan tugas tersebut jatuh kepada sang pangeran kelompok kami, Ferdinan.
Ah dia ternyata pandai melukis. Kira kira bakat apa lagi ya..
Setelah itu kami menentukan waktu, kapan dan dimana kami mengerjakan tugas itu. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, termasuk jarak rumah antara teman yang satu dengan teman yang lain akhirnya kami pun memilih temlat di rumah Sarah karena rumah Sarah berada di tengah.
"Karena mapel prakarya hanya sekali seminggu, berarti tugas nya di kumpul minggu depan. baiklah, dimana kapan kita bekerja?" tanyaku pada teman sekelompok.
"Bagaimana jika besok saja, aku hari ini ada pekerjaan penting," usul dari Sarah
"Bagaimana teman teman yang lain? besok bisa kan?" suara Ferdinan
"Aku sih yes"
"It's okey, aku ngikut"
Baiklah, karena semua anggota sudah setuju, saatnya membuat group chat agar bisa saling berkabar.
Jujur, aku masih ingin duduk dengan tenang menetralkan hati dan pikiranku. Karena saat berdiskusi tadi hatiku sangatttt kacau.
Apalagi duduk berhadapan dengan Ferdinan, ah kacau sekali. Sangat sulit berkonsentrasi saat melihatnya.
Terlebih saat dia tersenyum dan tertawa lepas, ingin rasanya aku menghentikan waktu sejenak, menikmati karya Tuhan yang sangat indah ini.
Ferdinan, ku panggil dengan sebutan Nan.
Mulai saat ini dan detik ini, akan ku persembahkan segenap jiwa dan ragaku haya untukmu seorang.
Akan ku pastikan kau bertahta di hatiku yang paling tinggi, di tempat yang istimewa. Tidak akan ada orang lain yang menggantikan tahta mu di hatiku.
Sampai kau jadi milikku. Awww halu.
*****
Keesokan harinya, sesuai yang di instruksikan di group chat malam tadi, hari ini sepulang sekolah kami akan ke rumah Sarah mengerjakan tugas prakarya.
Pulang untuk ganti baju dulu tentunya, sambil mengambil alat dan bahan yang kami perlukan untuk membuat produk kami. Untuk makan, kata Sarah mamanya sudah menyiapkan makanan untuk kami.
Dengan senang hati kami akan menerimanya, maklum anak di bawah umur haha.
__ADS_1
"Ting!" bunyi notifikasi dari hp ku, pertanda ada pesan masuk.
"Dari siapa ya? tidak biasanya ada yang notice." aku bertanya dalam hati siapa gerangan yang membuat hp ku yang super sunyi senyap itu berdenting.
Karena sudah memang dari dulu, hp ku tidak akan berbunyi jika bukan notifikasi dari group kelasdan beberapa teman dekat ku.
Segera ku buka hp ku, ternyata ada pesan masuk dari Ferdinan.
"Hah? sumpah demi apaaa? mimpi apa aku tadi malam yak?" sungguh, kejadian di luar ekspektasiku.
"*Nis, kita jadi kerja kelompoknya kan*?" begitu isi pesannya.
Cepat cepat aku membalasnya, mengetikkan sesuatu.
Mode Pesan:
👩: "Iya jadi, ini aku udah siap, tinggal berangkat"
👦: "Kamu naik apa?"
👩: "Aku naik kendaraan umum aja, lagian Ayah ku sedang di kebun, tidak mungkin aku mengganggunya"
👦: "Yasudah kalau begitu, bareng aku aja ya, kan aku juga lewat situ nati, jadi sekalian aja.."
Dag dig dug serrrr
Demi apaaa? dia ngajak sama? motoran? berdua gitu?
Waaa makin kacau dong hati aku..
Tenang Nisa, tenang.. Dia cuman berniat baik dengan menawarkan tumpangan padamuu. Lagi pula kalian satu kelas, satu kelompok pula. Jadi wajar kalau dia membantu.
Lagian sadar diri sajalah, tidak mungkin selera dia seperti aku ini. Tidak ada menarik menarik nya.
Ah sudahlah, memikirkan itu membuat rasa insecure ku kian menjadi jadi.
"Okey, aku tunggu di depan yaa, kamu tau kan rumah aku?" balas ku di kolom chat.
"Belum tau, makanya kamu langsung aja di pinggir, biar aku lihat. aku pelan kok motorannya biar keliatan." balasnya membuatku semakin respect.
"Okey, aku tunggu yaa, nanti biar lebih jelas nya kamu berhenti aja di depan SD XX, di depan itu rumah aku." aku sedikit menjelaskan agar dia tidak repot mencari di setiap sudut jalan.
Jodoh mu gak jauh kok bang, ga usah susah payah yaa, haha.
Like, komen and vote yaa😍
__ADS_1