Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Rumah tiga lantai


__ADS_3

Semakin hari Indah semakin fokus menekuni pekerjaannya yang sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah cukup banyak dan diluar perkiraan nya selama ini. Dia tidak menyangka akan menghasilkan uang dengan cara yang mudah, hanya duduk didepan laptop dan mengetik maka uang akan mengalir dengan sendiri masuk ke rekening nya. Indah merasa saat ini Allah membuka jalan rizki nya, dan dia berharap rizki yang didapatkan nya membawa keberkahan untuk hidupnya dan putra nya.


* * *


Siang hari, setelah menjemput Husein di sekolah, Indah mengajak sang putra pergi ke suatu tempat. Mereka pergi dengan mengendarai mobil.


''Emang kita mau kemana sih, Ma?'' tanya Husein penasaran. Dia duduk di samping kemudi di sebelah sang mama. Tatapan matanya fokus ke depan.


''Ada deh. Pokok nya Mama akan membawa anak Mama ke suatu tempat yang indah dan tentunya Husein akan menyukainya,'' jawab Indah tersenyum simpul.


Husein dibuat semakin penasaran setelah mendengar perkataan sang mama.


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, mobil yang dikendarai oleh Indah berbelok memasuki kawasan elit.


Husein melihat keluar jendela, melihat bangunan dua tingkat dan ada juga yang tiga tingkat. Bangunan yang terlihat begitu mewah dan megah.


Lalu Indah membelokkan lagi kendaraan roda empat miliknya memasuki gerbang tinggi, setelah itu mobil berhenti tepat didepan teras rumah.


"Ayo turun Sayang,'' kata Indah.


Husein turun dengan cepat.

__ADS_1


''Wah, ini rumah siapa, Ma? Rumah teman Mama, ya?'' tanya Husein. Husein dibuat takjub dengan bangunan tiga lantai tersebut. Di samping rumah terdapat taman dan kolam ikan yang cukup luas.


Belum sempat Indah menjawab, tiba-tiba datang seorang pria menghampiri nya.


''Non, ini kunci rumahnya,'' ucap pria paruh baya yang berusia sekitar lima puluh tahun lebih.


''Terimakasih Pak. Pak, kalau Bapak capek istirahat dulu aja, ya. Kerjanya jangan dipaksa,'' kata Indah ramah. Pria yang ada di depannya sekarang bernama Mukhlis, tukang kebun sekaligus orang yang menjaga rumah tiga lantai tersebut.


''Iya Non. Kalau begitu Bapak istirahat dulu di kamar belakang,'' Pak Muklis hendak melangkah kaki nya, namun urung dia lakukan saat dia menyadari kehadiran Husein, bocah tampan yang belum disapanya.


''Wah, ini toh putranya Non Indah, tampan sekali, ya,'' kata Pak Muklis ramah dengan wajah tersenyum simpul.


''Salam kenal Kek,'' ujar Husein sama ramahnya, lalu dia menyalami dan mencium takzim punggung tangan Pak Muklis.


''Kamu anak baik, sama seperti Ibu mu, Nak,'' kata Pak Muklis.


Setelah selesai beramah tamah Pak Mukhlis berlalu kebelakang.


Indah dan Husein masuk ke dalam rumah tiga lantai tersebut.


Lagi-lagi Husein dibuat takjub dengan penampakan yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


Saat Indah menunjukkan sebuah kolam renang yang luas dilengkapi dengan seluncuran, Husein semakin kegirangan dibuat nya. Lalu Indah mengajak Husein keruang bermain, dan Husein semakin dibuat takjub melihat semua jenis permainan ada diruang tersebut.


Tidak sampai disitu, Indah juga mengajak Husein memasuki sebuah kamar. Setibanya mereka di dalam kamar, lagi-lagi netra Husein terlihat berbinar terang.


''Rumah teman Mama bagus banget ya, dan pasti teman Mama memiliki anak laki-laki seumuran dengan ku, lihatlah kamarnya bagus sekali dengan stiker Avengers di dindingnya,'' kata Husein.


Indah lalu mengajak Husein duduk dipinggir kasur yang empuk.


Lalu dia menatap Husein lekat. Kedua tangannya meraup pipi Husein.


''Nak, ini adalah rumah kita. Bukan rumah teman Mama. Rumah ini khusus Mama beli untuk kamu dan Kak Hasan, tapi sayangnya Kak Hasan sudah memiliki rumah baru yang insya Allah dia nyaman berada di sana. Jadi ini adalah rumah kamu Sayang. Rumah yang Mama beli menggunakan uang Mama,'' jelas Indah dengan netra berkaca-kaca.


''Mama beneran?'' tanya Husein sedikit kaget.


''Iya Sayang,'' jawab Indah pasti.


Setelah itu Husein memeluk Indah erat. Seraya memeluk, berulangkali dia mengucapkan terimakasih kepada Mama nya. Karena sang mama sudah membelikan rumah impian nya.


Rumah yang jauh berbeda dengan rumah yang mereka tempati bersama Hanung. Di rumah Hanung, tidak ada kolam renang dan ruang bermain, dan kamar Husein pun di cat polos dengan menggunakan cat putih, karena Hanung yang begitu perhitungan dengan sang anak. Selama ini dia sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan sang anak, yang dia pikirkan hanya kebahagiaan anak orang lain.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2