Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Perlawanan


__ADS_3

''Sudah pandai melawan kamu sekarang, ya,'' Mas Hanung memegang kedua pipi ku dengan jari jari tangannya, hingga membuat pipi ku terasa perih. Gigi nya terdengar bergemeletuk. Sepertinya saat ini dia merasa begitu geram terhadap diriku, karena sebelumnya tidak pernah sekalipun aku berani membantah perkataan nya. Tapi kali ini aku benar-benar sudah lelah. Kesabaran ku sudah habis.


''Iya. Selama ini aku tidak pernah takut sama kamu Hanung! Aku tidak pernah membantah perkataan mu karena aku menghargai kamu sebagai suami dan seorang Ayah, tapi semakin hari kelakuan kamu semakin keterlaluan saja. Aku muak, aku capek! Sekarang cepat, jatuhkan talak mu kepada ku, supaya aku bisa bebas dari pria brengsek seperti mu. Supaya aku bisa mencari suami yang jauh lebih baik dan lebih tampan dari kamu!'' racau ku dengan suara keras, aku menepis kasar tangannya yang berada di pipi ku.


Pria yang masih berstatus sebagai suami ku terlihat tercengang mendengar perkataan ku.


''Kamu!'' geramnya dengan kedua buku tangan mengepal.


''Apa?'' tantang ku tak gentar. Selama beberapa bulan ini diam-diam aku ikut latihan ilmu bela diri, jadi aku sudah tahu bagaimana cara melindungi diri agar Mas Hanung tidak menyakiti aku. Aku memang sudah mempersiapkan semuanya karena aku tidak ingin dianggap rendah dan lemah.


''Argh!'' Mas Hanung lalu berlalu dari hadapan ku. Aku tersenyum sinis. Mungkin saat ini dia merasa begitu kesal karena tidak dapat meluapkan emosi nya.


Akupun naik ke lantai atas menuju kamar, setibanya di dalam kamar, aku mengangkut beberapa barang-barang milikku yang aku rasa penting ke dalam kamar tamu, mulai nanti malam aku akan tidur di ranjang yang berbeda dengan Mas Hanung, aku tidak sudi lagi tidur sekamar dengan pria yang telah berselingkuh dibelakang aku dan telah menyakiti aku berulangkali. Selain itu supaya aku bisa bebas kapan saja kalau ingin bekerja tanpa diketahui Mas Hanung. Nanti malam aku akan membuat judul novel baru lagi, aku akan membuat judul Selalu direndahkan Keluarga Suami, mudah-mudahan pembacanya ramai, kalaupun tidak ramai, setidaknya bisa membuat perasaan ku lega, karena aku akan menulis kisah nyata tentang kehidupan rumah tangga ku yang tak berjalan baik-baik saja.


* * *


Pagi hari yang cerah. Bangun tidur aku langsung membersihkan diriku di kamar mandi. Tadi malam tidur ku begitu nyenyak, karena tidak ada yang menganggu.


Setelah selesai mandi dan mengerjakan sholat subuh, aku lalu berjalan ke kamar Husein, aku ingin melihat apakah anakku sudah bangun dari tidurnya.


Dan setibanya aku di dalam kamar Husein, perasaan ku dibuat menghangat melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Husein terlihat lagi duduk di atas sajadah dan begitu menyadari kehadiran ku, dia langsung bangkit dan melipat sajadah nya.


''Duh, anak sholeh Mama,'' kataku tersenyum simpul. Husein menyelami dan mencium punggung tangan ku, aku mengusap lembut pucuk kepalanya.


''Husein baru selesai sholat Ma, dan selesai sholat Husein mengirimkan doa untuk Kak Hasan, selain itu Husein juga mendoakan Mama, agar Mama selalu bahagia dan sehat sehat. Husein tidak ingin kehilangan Mama, Husein ingin Mama berumur panjang supaya saat aku sudah dewasa nanti, aku bisa membalas semua kebaikan Mama, Husein akan membuat Mama bahagia,'' ucapnya lembut dan terdengar sungguh sungguh. Aku lalu memeluk tubuh anakku, walaupun usianya masih cukup belia, tapi pemikiran nya sudah cukup matang, bahkan pemikiran Mas Hanung kalah sama pemikiran bocah sepuluh tahun yang ada di dalam dekapan ku ini.

__ADS_1


Setelah itu aku meminta agar Husein segera bersiap-siap untuk ke sekolah, sementara aku berjalan ke dapur, aku akan membuat sarapan pagi untuk Husein dan menyiapkan bekal untuk dia bawa ke sekolah.


Aku hanya memasak nasi dan menggoreng paha ayam yang telah di ungkep dan aku juga menggoreng telur dadar. Sarapan pagi yang sederhana tapi cukup mengenyangkan perut kalau dimakan di temani nasi.


Aku sama sekali tidak berniat untuk membangunkan Mas Hanung, terserah dia mau telat kek ke kantornya, toh, uang hasil kerjanya tidak dapat aku nikmati. Biasanya aku yang selalu membangunkan nya dengan sabar, tapi untuk saat ini dan kedepan nya aku tak sudi lagi.


Aku dan Husein sudah sarapan bersama, tapi Mas Hanung belum menampakkan batang hidungnya juga.


Saat makanan kami sudah habis, terdengar langkah kaki mendekati kami.


Dan setelah itu.


''Dasar istri tak berguna!'' bentak nya. Lalu duduk dengan kasar di atas kursi di samping ku.


"Gara-gara kamu aku jadi telat pergi ke kantor,'' sambung nya lagi. Penampilan nya terlihat sedikit berantakan. Dasinya belum terpasang sempurna dan kemeja yang dipakai pun terlihat kusut.


''Kamu benar-benar sudah lancang jadi istri Indah!'' Mas Hanung menggebrak meja dengan kedua tangannya.


Aku meminta agar Husein menunggu ku di garasi, dan Husein berjalan dengan cepat meninggal situasi yang seketika berubah tegang karena kehadiran Mas Hanung.


''Kenapa kamu masih berharap aku yang membangunkan kamu? Kenapa tidak minta Mama mu saja yang membangunkan kamu, atau Resti, minta saja Resti dan anaknya yang membangunkan kamu!'' balas ku tanpa takut sama sekali.


Mas Hanung mengangkat tangannya, dia siap menampar wajah ku, tapi dengan cepat aku tahan tangan kekar tersebut. Tangan kekar yang seharusnya melindungi tapi ini malah menyakiti.


''Kamu jangan coba-coba lagi untuk membodohi aku, Mas. Karena aku sama sekali tidak takut sama kamu!'' ucapku, lalu melepaskan tangannya dengan kasar. Setelah dirasa cukup drama pagi ini, aku lalu berjalan ke garasi untuk menyusul Husein, aku harus segera mengantar Husein ke sekolah agar tidak terlambat.

__ADS_1


Saat aku baru tiba di ambang pembantas antara ruang makan dan ruang keluarga, aku bisa mendengar suara Mas Hanung yang merutuk kesal.


''Ini mana lagi makanannya! Ah, pagi yang menyebalkan!'' ujarnya keras. Pagi ini untuk yang kedua kalinya dia menggebrak meja. Apa tidak sakit tuh tangan. Haha. Emang enak. Biar tahu rasa.


Aku memang tidak meninggalkan lauk untuk Mas Hanung, biarkan saja dia makan di rumah Mamanya. Aku bukan nya ingin menjadi istri durhaka, tapi pria yang suka berbuat semena-mena sama anak dan istri terkadang harus diberi pelajaran agar dia tahu rasa. Tidak boleh dibiarkan secara terus menerus karena itu dapat membuat dia semakin menjadi.


* * *


Setibanya di depan halaman sekolah, Husein turun dari motor.


''Mama hati-hati di jalan, ya,'' katanya lembut.


''Iya Sayang. Kamu juga. Kalau Mama belum datang menjemput kamu, kamu tunggu di pekarangan sekolah dulu, ya. Jangan keluar pager,'' pesan ku.


''Bu Indah tenang saja, saya akan menjaga Husein dengan baik,'' aku dibuat kaget dengan sebuah suara yang tiba-tiba ikut dalam obrolan aku dan anakku.


Aku menoleh ke samping, ternyata suara itu adalah suara Pak Faisal.


Sejak kapan mobil Pak Faisal berhenti di samping motor ku? Ah, aku seperti nya terlalu fokus kepada anakku, sehingga aku tidak memperdulikan hal lain yang ada disekitar.


''Terimakasih Pak, saya percaya sama Bapak, karena Bapak sudah sering berbuat baik terhadap anak-anak saya,'' ucapku tersenyum simpul seraya mengangguk kecil. Pak Faisal pun membalas dengan senyuman yang sama.


Setelah itu aku pamit pergi, dan Husein juga sudah masuk.


Setibanya aku di rumah, aku dibuat kaget dengan kehadiran Mama mertua serta Resti.

__ADS_1


Mereka sudah menunggu ku di teras rumah dengan gaya mereka yang angkuh.


Bersambung.


__ADS_2