Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Part 15


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Hanung tidak pulang ke rumah Mama nya, tapi dia langsung pulang ke rumahnya. Karena dia penasaran dengan apa yang dilakukan Indah di rumah sehingga tidak menanyakan tentang keberadaan nya. Tidak seperti biasa, biasanya kalau Hanung tidak pulang ke rumah semalam saja, Indah akan menghubungi Hanung berulangkali hingga membuat dia muak, tapi kali ini tidak lagi. Hal itulah yang membuat Hanung terheran-heran sama sikap Indah yang perlahan berubah, berubah semakin menjauhi dan tidak peduli terhadap dirinya.


Sesampainya di rumah, suasana terasa begitu sunyi seperti tiada kehidupan di dalam nya. Hanung memanggil nama Indah berulangkali, namun tak ada jawaban sama sekali. Untuk masuk ke dalam rumah tadi, dia harus menggunakan kunci cadangan karena pintu rumah dikunci dari luar. Hanung sudah tahu Indah tidak ada di rumah, tetapi tetap saja dia berteriak memanggil nama sang istri.


Dia berjalan ke kamar utama, dan tetap tidak dia temukan keberadaan Indah, lalu dia berjalan ke ruangan yang lain yang ada di rumah itu, tetap saja dia tidak menemukan keberadaan anak dan istrinya.


Hanung lalu duduk di pinggir kasur kamar Husein, dia mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu mulai menghubungi Indah, tapi ternyata nomer yang dia hubungi tidak aktif. Hanung berdecak kesal.


''Kamu ke mana sih Indah? Pergi dari rumah kok tidak minta izin sama suami terlebih dahulu. Istri macam apa itu!'' ucap Hanung merutuk dengan tangan menggenggam ponsel.


Tiba-tiba saja ponsel yang dia genggam berdering nyaring, Hanung tersenyum senang, dia kira itu adalah panggilan dari Indah, tetapi ternyata tidak, ternyata Resti lah yang menghubungi dirinya.


''Iya Sayang,'' jawab Hanung.


''Mas kamu di mana sih? Kok udah mau malem gini belum pulang juga?'' tanya Resti.


''Mas sudah pulang Sayang. Pulang ke rumah Mas,'' jelas Hanung.


''Yah ... Kok kamu malah pulang ke sana sih? Padahal dari tadi aku dan Mama menunggu kepulangan mu. Karena ada sesuatu hal yang ingin Mama bicarakan sama kamu terkait hubungan kita,''


''Emang Mama mau ngomong apa Sayang?''


''Udah mending cepetan kamu ke sini,''


''Iya, iya. Mas akan mandi sebentar, setelah itu baru meluncur ke sana,'' jawab Hanung. Lalu dia memutuskan panggilan.


* * *


Hanung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ida, lalu dia berjalan masuk. Dia sampai di rumah sang mama saat Magrib sudah datang.


''Mama mana, Dek?'' tanya Hanung pada Resti.


''Mama ada di kamar, Mas. Mama lagi enggak enak badan,'' jawab Resti sembari mencium punggung tangan Hanung. Cantika pun melakukan hal yang sama. Hanung balas dengan mencium kening Resti dan mencium pipi Cantika.


Lalu setelah itu mereka masuk ke kamar Ida.


Setibanya di dalam kamar, Hanung melihat wanita yang paling diutamakan olehnya di dalam hidupnya tengah berbaring di atas kasur.

__ADS_1


''Ma, Mama sakit?'' sapa Hanung saat dirinya sudah berada di dekat Ida. Hanung menyentuh kening Ida, suhu tubuh Ida normal.


Perlahan Ida membuka mata, saat melihat kehadiran Hanung, dia lalu duduk bersandar di kepala ranjang.


Ida memaksa senyum, dia menggenggam tangan Hanung, lalu berucap.


''Mana anak dan istri mu?'' tanya Ida dengan suaranya yang lirih.


''Maksud Mama Indah dan Husein?'' Hanung malah balik bertanya dengan mata menyipit, karena tidak biasanya sang mama menanyakan anak dan istrinya.


''Iya, siapa lagi? Emang kamu punya anak dan istri yang lain?!'' canda Ida.


Mendengar itu, Resti tersenyum malu.


''Bukan begitu Ma, tidak biasanya Mama bertanya tentang Indah dan Husein,''


''Hmm, itu karena selama ini Mama tidak pernah menyukai istri mu. Kamu tahu sendiri, 'kan?''


Hanung menghembus nafas kasar. Dari dulu dia sudah tahu itu.


''Nung, apa kamu menyayangi Mama?'' tanya Ida dengan wajah yang dibuat sedih.


''Kalau kamu menyayangi Mama, Mama minta kamu ceraikan Indah, lalu menikahlah dengan Resti,'' ucap Ida mulai melancarkan rencana nya.


''Ma?''


''Kamu tidak mau menuruti permintaan Mama?''


''Bukan begitu, tapi?''


''Tapi apa? Jika kamu menikah dengan Resti, maka Mama akan merasa sangat bahagia, dan Mama rasa Mama akan lebih lama lagi hidup di dunia ini. Berbeda ceritanya bila kamu masih berumah tangga bersama Indah, Mama tidak tenang setiap harinya, Mama merasa tertekan. Entah kenapa dari dulu Mama tidak bisa menyayangi Indah. Mama sudah mencoba untuk itu, tetapi tetap tidak bisa,'' jelas Ida. Mendengar itu, Hanung menjadi gamang.


''Ma, aku akan menikahi Resti, tapi aku belum bisa menceraikan Indah. Aku janji, setelah aku menikah sama Resti, aku akan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah ini, dan aku akan memberikan uang belanja lebih banyak untuk kalian. Sedangkan untuk Indah, ya ... Aku akan membuat dia hidup menderita bersama aku, Ma. Jadi, itulah alasan kenapa aku belum mau menceraikan nya,'' jelas Hanung.


''Jadi itu rencana kamu Hanung?''


''Iya, Ma.''

__ADS_1


''Mama tidak menyangka, ternyata pikiran kamu lebih cerdas dari Mama. Mama setuju, sebelum kamu menceraikan Indah, ada baiknya kamu buat dia menderita terlebih dahulu. Dan jangan lupa, surat rumah beserta aset berharga milik mu kamu aman kan segera, agar saat kamu dan Indah resmi bercerai, dia tidak mendapatkan apapun dari pernikahan kalian. Biar tahu rasa dia,''


''Iya Ma,'' Hanung mengangguk pasti.


Setelah itu mereka mengobrol mengenai pernikahan Hanung dan Resti.


*


Malam harinya sekitar pukul sebelas malam, Hanung pulang.


Setibanya di rumah, dia langsung mencari keberadaan Indah.


Indah sedang berada di kamar tamu, kamar yang di tempati nya selama beberapa malam ini.


''Kemana saja kamu? Kenapa tadi sore kamu tidak berada di rumah?'' tanya Hanung, dia melihat Indah tengah membaca buku. Indah duduk di atas kasur dengan punggung bersandar di kepala ranjang.


Mendengar suara sang suami, Indah lalu menutup buku yang dia baca dan meletakkan di atas kasur.


''Ngapain kamu ke sini?'' tanya Indah dengan wajah tanpa ekspresi.


''Indah!'' bentak Hanung.


''Apa? Masih peduli kamu sama aku?'' ucap Indah.


''Dasar istri pembangkang kamu! Mulai saat ini aku tidak akan pernah lagi memberikan uang belanja untuk kamu. Biar tahu rasa kamu! Kelaparan kelaparan deh kamu sama anak kamu itu! Kali ini aku benar benar sudah tidak peduli sama kalian! Sok sokan melawan suami. Aku pengen lihat, bisa apa kamu tanpa aku!'' Hanung berkata penuh penekanan. Setelah itu dia langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu hingga mengeluarkan bunyi berdentum cukup keras.


Selepas kepergian Hanung, Indah tersenyum getir.


Lalu dia berdiri, dia memilih memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


Tidak lama setelah itu tiba-tiba Husein menghampiri Indah.


''Ma, aku sudah selesai berkemas,'' kata Husein.


''Baiklah Sayang. Mama juga sudah mau selesai. Kamu kalau capek berbaring saja di kasur Mama,''


''Iya Ma,'' jawab Husein.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2