
Pukul dua belas malam, kini kediaman Ida sudah sepi, karena kerabat beserta tetangga dekat sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing. Acara pernikahan Hanung dan Resti sudah selesai. Mereka menikah secara sederhana karena Resti menolak diadakan pesta besar-besaran, padahal Ida sudah berulangkali mengusulkan itu. Kata Resti hanya buang-buang uang. Mendengar itu, semakin kagum lah Ida kepada menantu kesayangan nya.
''Hanung, jaga Resti baik-baik, ya. Jangan sakiti dia, karena kalau kamu menyakiti dia, sama saja kamu menyakiti Mama. Orang tua Resti sudah tidak ada lagi, hanya Mama lah yang dia punya, dan sebagai teman dekat Mama nya Resti, Mama punya kewajiban untuk memastikan kalau hidup Resti dan anaknya selalu baik-baik saja,'' tutur Ida sembari mengelus lengan Hanung.
''Iya, Ma,'' Hanung menjawab singkat.
''Ya sudah, gih sana masuk kamar, Resti pasti sudah menunggu kamu,''
''Baik, Ma,'' sahut Hanung. Lalu dia berjalan ke dalam kamar pengantin.
Setibanya di dalam kamar, Hanung menatap Resti tanpa berkedip. Bagaimana tidak, kini Resti sudah berganti pakaian. Dia sudah memakai lingerie bewarna merah terang, lingerie transparan dengan belahan dada cukup rendah sehingga menampakkan dua gundukan kenyal miliknya cukup jelas. Rambutnya pun terlihat sedikit basah, sepertinya dia baru selesai mandi.
Resti duduk di atas kasur, tubuhnya meliuk-liuk menggoda Hanung.
''Mas, sini,'' ucap Resti lembut.
''Em, nanti dulu Sayang. Mas akan ke kamar mandi dulu. Mas harus mandi, karena tubuh Mas rasanya gerah sekali,'' kata Hanung.
''Baiklah, jangan lama. Aku menunggu mu,''
''Oke Sayang,''
Hanung masuk ke kamar mandi, dia diam-diam membawa ponselnya karena dari tadi dia terus kepikiran dengan Indah dan Husein. Dia berniat untuk memberi tahu Indah kalau dia nginep di rumah Mama nya.
Hanung mulai menghubungi Indah, tapi nomer Indah malah tidak dapat dihubungi. Sudah lebih dari tiga kali Hanung mencoba menghubungi sang istri pertama, tapi tetap saja nomer yang biasa dipakai oleh Indah tidak aktif.
''Ya ampun, kenapa nomernya Indah tidak aktif? Apa jangan-jangan dia sudah tidur dan ponselnya di cas dalam keadaan mati,'' gumam Hanung.
''Besok, pagi pagi sekali sebelum ke kantor aku akan pulang sebentar untuk melihat kabar Indah dan Husein, jangan sampai hubungan kami yang sudah mulai membaik kembali terasa kaku,'' sambung Hanung.
Lalu dia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana yang di gantung. Setelah itu dia menyirami tubuh nya dengan air hangat. Malam malam begini, dia tidak sanggup mandi pakai air dingin.
Beberapa menit setelah itu Hanung keluar dari kamar mandi dengan handuk bewarna putih melilit pinggang. Rambutnya basah dengan sisa-sisa air terdapat di bagian dada dan perut. Melihat itu, Resti meneguk saliva, bentuk tubuh sang suami membuat nya tak tahan hanya melihat saja, dia ingin menyentuh tubuh tegap itu, merasakan hangatnya dekapan yang beberapa waktu lalu sudah pernah dia rasakan. Hanung mampu membuat Resti menjadi candu, candu sentuhan lembut dan hangat nya dekapan suami yang dia rebut dari wanita lain.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan lagi, Resti berdiri, lalu menghampiri Hanung.
Dia langsung memeluk tubuh tegap tersebut. Hanung balas memeluk Resti.
''Kapan kamu membeli pakaian seksi seperti ini Sayang?'' tanya Hanung.
''Sudah lama Mas. Lingerie seperti ini ada banyak di dalam lemari aku, aku koleksi dengan beberapa warna. Lingerie ini memang sengaja aku siapkan untuk memanjakan mata mu. Sudah lama aku menunggu saat saat seperti sekarang, dan akhirnya mimpi ku menjadi nyata. Kini aku sudah bisa berada satu kamar dengan mu,'' jelas Resti. Jari jarinya bermain-main di dada bidang Hanung. Dia mendongak, menatap wajah Hanung lekat.
Setelah itu tidak ada percakapan apa-apa lagi diantara mereka, karena Resti mengecup bibir Hanung terlebih dahulu. Mereka berciuman cukup lama sampai nafas keduanya ngos-ngosan.
Resti begitu agresif, dia tidak merasa sungkan untuk memulai duluan. Berbeda dengan Indah yang sampai saat ini masih tetap memegang teguh harga dirinya sebagai seorang wanita. Dia selalu bersikap jaim, tetapi dia mampu mengimbangi permainan sang suami saat di ranjang.
Di kamar berbeda.
Ida kembali menatap ponselnya, dia mengecek chat yang dia kirimkan kepada Indah tadi, dan chat itu masih sama seperti semula, masih tetap centang satu.
''Kemana sih ini mantu gila!'' rutuk Ida. Ida belum merasa tenang kalau dia belum berhasil memanas-manasi Indah.
* * *
''Nung, kok kamu buru buru begitu? Masih pagi juga,'' sapa Ida saat Hanung sudah berjalan menuju mobil yang ada di garasi.
''Aku lagi ada pekerjaan penting di kantor hari ini, Ma,'' sahut Hanung berbohong. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan mobil melaju meninggalkan garasi dengan kecepatan sedang.
"Emang beneran suami mu ada pekerjaan penting di kantor?'' tanya Ida pada Resti.
''Katanya sih begitu, Ma.''
''Mama tidak mau dia menemui istri tak berguna nya itu,''
''Mama tenang saja, aku yakin Mas Hanung tidak akan ingat lagi sama wanita bodoh itu, karena aku sudah melayani nya dengan baik. Kita percaya saja deh sama dia, Ma. Karena kalau Mas Hanung rajin ke kantor, otomatis gajinya akan bertambah besar dan kita bisa shoping shoping sepuas kita. Secara gajinya Mas Hanung 'kan sudah hampir lima belas juta sebulan, belum lagi uang seserannya. Dan aku tidak akan membiarkan Mas Hanung membagi uang nya untuk wanita bodoh itu dan anaknya,'' ucap Resti panjang lebar.
"Iya Sayang, kamu harus pandai menguasai Hanung dan layani dia terus dengan baik,'' timpal Ida.
__ADS_1
* * *
Hanung tiba di tempat tujuan. Dia memutar handle pintu, dan pintu tidak bisa terbuka. Dia lalu mengeluarkan kunci cadangan dari saku celananya, dan beberapa saat setelah itu pintu rumah terbuka lebar. Hanung masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki lebar. Dia berseru memanggil nama Indah dan Husein, tapi sayangnya seruannya tak mendapatkan jawaban.
''Indah ke mana lagi sih? Pagi-pagi begini udah kelayapan saja. Tapi, apa mungkin dia sudah pergi mengantarkan Husein ke sekolah,'' gumam Hanung dengan langkah kaki menaiki satu persatu anak tangga. Dia berjalan menuju lantai dua.
Setibanya di lantai dua, dia langsung memasuki kamarnya.
Suasana terasa begitu sunyi, dia lalu menjatuhkan pantatnya di atas kasur. Dia memegang kepalanya, akhir akhir ini dia merasa sikap Indah begitu sulit di tebak. Dia merasa Indah sudah berubah semenjak kematian Hasan. Indah suka pergi entah kemana, tidak seperti dulu, dulu Indah begitu betah berada di rumah dan selalu meminta izin kepadanya kalau mau pergi kemana-mana.
Saat Hanung masih kepikiran sama sosok istri cantiknya, tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada kertas yang ada di atas laci.
Hanung mengambil kertas tersebut, sesaat setelah itu dia dibuat kaget membaca bagian luar amplop yang bertuliskan kalau itu adalah surat gugatan cerai dari pengadilan. Dengan tangan gemetar dan detak jantung yang tiba-tiba berdegup lebih cepat Hanung membuka amplop, lalu dia membaca isi surat tersebut.
''Apa-apaan ini! Tidak, Indah tidak mungkin menggugat cerai aku. Dapat dari mana dia uang untuk mengurus semuanya,'' Hanung menggeleng kepalanya, meyakinkan kalau semua tidak lah benar.
Dia lalu melempar asal surat gugatan cerai tersebut, lalu dia meraih lagi kertas HVS putih yang ada di atas laci.
''Ini apa lagi?!'' umpat nya kesal.
Lagi-lagi masih dengan tangan gemetar dia membaca isi surat yang merupakan tulis tangan Indah sendiri, tulis tangan yang begitu rapi.
Hanung semakin dibuat tercengang setelah tahu isi surat tersebut.
Dia masih tidak percaya, dia syok. Lalu dengan gerakan cepat dia membuka lemari pakaian Indah, dia ingin membuktikan kebenaran isi surat yang dia baca, dan ternyata benar, semua pakaian Indah sudah tidak ada lagi di dalam lemari.
Dengan langkah kaki sempoyongan dia berjalan ke kamar Husein, lalu membuka lemari pakaian Husein, dan ternyata semuanya memang benar adanya.
Hanung berteriak keras.
''Indah, kenapa kamu melakukan ini kepada Mas. Kamu itu masih istri sah Mas. Sampai kapanpun Mas tidak akan pernah menceraikan kamu!'' teriak Hanung. Dadanya terasa sesak. Mendadak netra nya berkaca-kaca. Sakit tapi tak berdarah. Dia kira Indah adalah wanita lemah dan tidak pernah mungkin berani meninggalkan, tetapi ternyata, Indah sanggup melakukan itu. Semua diluar dugaan Hanung.
Lalu setelah itu dengan langkah kaki lebar dia menuju mobilnya, dia akan pergi ke sekolah Husein, dia harap Husein masih bersekolah ditempat yang lama.
__ADS_1
Bersambung.