Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Part 7


__ADS_3

Kebetulan aku sedang memegang ponsel, aku lalu mengarahkan kamera ponsel kepada dua manusia yang tak tahu malu itu.


Aku memotret beberapa kali, lalu mengambil video mereka yang masih saling bergandengan tangan dan bercanda gurau seraya saling mencolek satu sama lain. Kadang Mas Hanung yang mencolek hidung, pipi serta dagu Resti dan terkadang Resti yang mencolek hidung mancung Mas Hanung, bahkan Resti juga mencolek bibir Mas Hanung seraya berkata.


''Aku mau ini?'' ujar nya. Mungkin karena di keramaian makanya dia berujar keras hingga sampai ke telinga ku. Aku bergidik jijik mendengar perkataan Resti. Dih, murahan sekali dia. Jangan-jangan dia yang memulai menggoda Mas Hanung duluan. Iya, karena sudah lama tidak digaruk makanya dia merasa gatal dan mencari lelaki yang sudi menggaruk nya. Tidak peduli lelaki itu siapa, bahkan lelaki yang sudah beristri dan memiliki anak dia goda dan dekati, dan lelaki yang merupakan kakak iparnya sendiri pun bego dan murahan, bisa-bisanya jatuh ke perangkap adik ipar yang di tinggal mati suami.


Setelah di rasa cukup, aku kembali menyimpan ponsel ka dalam tas, lalu pandangan ku beralih melihat ke arah Husein, putra ku tampak masih asyik bermain. Kami bisa tersenyum bahagia meskipun tanpa Mas Hanung, jadi satu bukti sudah aku dapatkan, dengan bukti yang ada akan lebih mudah bila aku menggugat cerai Mas Hanung di pengadilan. Tak ada yang perlu di perbaiki dan di pertahankan, lebih baik menjanda dari pada berstatus istri orang tapi tak pernah dianggap dan dihargai. Menjadi seorang janda bukanlah hal yang hina, asalkan kita tahu bagaimana bersikap dan menghargai diri kita sendiri agar tak dianggap sebagai janda murahan apalagi penggoda suami orang. Nauzubillah.


* * *


Sore harinya kami tiba di rumah, aku masih memarkirkan mobilku di garasi rumah Rizka.

__ADS_1


Setelah itu kami beranjak ke rumah kami.


Hari ini cukup melelahkan, karena setelah dari Mall, kami mampir dulu di panti asuhan untuk membagikan bingkisan kepada anak-anak panti. Melihat senyuman anak panti yang terlukis indah saat menerima bingkisan pemberian ku, seketika rasa bahagia mereka menular kepada ku, aku senang melihat mereka bahagia, dengan begitu rasa rindu ku terhadap Hasan sedikit terobati dan Husein pun tampak senang, tadi dia bermain bersama anak panti dengan begitu ceria.


Aku dan Husein masuk ke rumah, setibanya kami di dalam rumah, kami melihat Mas Hanung sudah duduk di sofa ruang keluarga. Ternyata dia sudah pulang lebih dulu.


''Dari mana saja kalian?'' tanya nya menatap aku dan Husein lekat. Wajahnya tampak datar, tiada ekspresi dan kebahagiaan yang terlukis di wajah itu. Berbeda sekali saat dia lagi bersama Resti tadi.


''Kami dari belanja,'' kataku santai, lalu ikut duduk di sofa yang berbeda.


Di kedua tangan ku terdapat paper bag yang berisi pakaian baru dan di tangan Husein pun sama.

__ADS_1


''Heh Indah! Mas memberikan kamu uang untuk berbelanja keperluan dapur, ya, bukan untuk membeli pakaian,'' bentaknya. Tatapan matanya tertuju ke arah paper bag yang aku pegang.


''Jangan boros!'' sambung nya lagi.


''Kamu yakin kalau aku berbelanja pakai uang pemberian dari kamu? Dua ratus ribu, mana bisa membeli pakaian yang menggunakan paper bag mewah begini,'' kataku mencibir.


Aku lihat wajah Mas Hanung memerah.


''Terus dari mana kamu dapat uang untuk membeli pakaian hah? Apa kamu menjual diri?!'' Mas Hanung semakin menjadi, karena sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan nya yang menyakitkan itu, aku berdiri lalu menghadiahkan satu tamparan keras ke pipi pria brengsek seperti Mas Hanung. Seketika dia terdiam, dia menatap aku tajam dengan wajah memerah.


''Apa? Kamu tidak terima? Kalau memang benar aku menjual tubuh ku kepada pria kaya untuk mendapatkan banyak uang emang masalah bagi kamu, hah? Aku ini wanita normal, pengen seperti wanita wanita lain diluar sana yang shopping dan makan makan enak, wanita yang suami mereka bisa bertanggungjawab dengan memberikan uang yang banyak, sebenernya tidak perlu banyak, yang penting cukup aja. Tapi sayangnya aku punya suami yang pelit pada anak istri nya!'' ucapku telak.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2