
Tangan Ida masih berusaha menggapai kepala Indah, tetapi dengan cepat Faisal memegang kedua tangan yang sudah dipenuhi keriput tersebut.
''Minggir kau anak muda, saya tidak punya urusan sama Anda. Saya punya urusan sama wanita murahan itu! Apa jangan-jangan kau adalah pria yang menyewa jasanya? Berapa bayaran yang kau berikan kepadanya sebagai jasa nya karena telah melayani anda di ranjang?!'' ucap Ida lancar. Mendengar hal itu, Indah tidak dapat lagi membendung emosi nya. Dia tidak terima Ida memfitnahnya di depan orang banyak.
Indah meminta agar Faisal menyingkir dari hadapan. Begitu Faisal sudah menyingkir.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi keriput Ida. Wajah Indah memerah. Seketika Ida tersungkur ke lantai, dengan cepat Resti dan Hanung membantunya berdiri. Hanung merasa marah dengan apa yang dilakukan oleh Indah kepada Mama nya.
''Beraninya kamu berbuat kasar sama orang tua! Dasar wanita gila!'' umpat Resti menunjuk wajah Indah.
''Tua, tapi mulutnya begitu lancar memfitnah orang! Aku sudah capek sama tingkah semena-mena kalian selama ini! Jangan kalian kira aku takut sama kalian, aku tidak takut sama sekali dengan kalian. Saat aku sudah menjauh dari hidup kalian, lalu untuk apa lagi kalian mengusik hidup aku!'' teriak Indah yang sudah tidak dapat lagi mengendalikan emosi nya. Melihat itu, Husein merasa begitu terluka hatinya. Dia lalu memeluk sang mama, berharap sang mama akan lebih tenang, lalu setelah itu Faisal membimbing tubuh Indah dah Husein menjauhi keluarga jahat tersebut.
Hanung ingin mengejar langkah kaki mereka, tetapi dua orang security mencegah Hanung. Dua orang security restoran yang baru datang.
Hanung merasa amat kesal saat dia tahu rombongan Indah sudah pergi dari Restoran.
Fokus Hanung lalu tertuju kepada Ida lagi. Ida duduk di atas kursi dengan keadaan begitu kacau.
Sudut bibirnya sedikit berdarah, dia merasa begitu syok dengan serangan mendadak dari Indah.
''Balas wanita itu Hanung. Habisi dia sekalian, Mama sungguh tidak rela dia memperlakukan Mama sebegitu hina di depan orang banyak,'' lirih Ida.
''Iya Mas. Kurang ajar sekali dia!'' timpal Resti mengompori.
''Lagian Mama juga salah sih, kenapa tadi Mama langsung bersikap gegabah dengan memukul meja rombongan Indah. Padahal Hanung tadi ingin berbicara baik-baik kepada Indah dan Husein,'' ucap Hanung lirih.
''Jadi kamu lebih membela wanita itu dibandingkan Mama?'' Ida menatap Hanung dengan tatapan nyalang.
''Bukan begitu, Ma,'' Hanung memegang kedua tangan Ida.
''Kasih dia pelajaran Hanung!'' tegas Ida lagi.
__ADS_1
''Iya Ma,'' akhirnya Hanung mengangguk.
Ida merasa kepalanya begitu pusing dengan dada terasa sesak, lalu beberapa detik kemudian dia jatuh pingsan. Melihat itu, betapa cemasnya Hanung, dengan cepat dia menggendong tubuh Ida lalu berjalan menuju mobil. Dia akan membawa Ida ke rumah sakit terdekat.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Hanung merasa begitu kacau. Belum lagi dari tadi Cantika terus saja menangis, semakin membuat kepala Hanung ingin pecah mendengarkannya.
''Diamlah Cantika!'' bentak Hanung.
''Mas, kamu membentak anak aku?'' Resti tidak terima.
''Makanya kamu jadi Ibu yang becus dong. Bujuk anak mu itu supaya berhenti menangis,'' ucap Hanung lagi.
''Kamu keterlaluan Mas!'' Resti merasa amat amat kesal, karena baru kali ini Hanung berani membentak Cantika.
Makan malam yang begitu mereka idam-idamkan seketika berubah menjadi bencana, bukan, bukan orang lain yang menjadi penyebab kekacauan, tapi mereka sendiri, karena mereka suka mengusik ketenangan orang lain.
*
Di tempat berbeda, Indah dan Husein duduk di bangku taman. Faisal membawa Indah dan Husein berhenti di taman kota.
''Tidak apa-apa Ma. Husein mengerti, karena bukan Mama yang memulai duluan. Tapi mereka,'' timpal Husein terdengar bijak. Di usianya yang masih cukup belia, dia dipaksa dewasa oleh keadaan. Husein membelai punggung sang mama.
Tidak lama setelah itu Faisal datang, Faisal duduk bergabung bersama mereka.
Dia membuka tutup botol minuman kemasan yang dia beli, lalu menyerahkan kepada Indah.
''Minum dulu, supaya kuat menjalani hidup,'' ujar Faisal tersenyum tipis.
''Terimakasih Pak,'' belas Indah. Lalu Indah meneguk minuman tersebut. Hanya dalam hitungan detik, minuman tersebut tandas tak bersisa.
Husein dan Faisal menatap Indah keheranan.
''Haus akunya,'' Indah nyengir, lalu membuang botol minuman ke tempat sampah yang tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu tertawa kecil.
Faisal mereka lega melihat Indah sudah baik-baik saja.
Meskipun dia tahu, hati Indah pasti masih merasa sakit dengan perkataan Ida tadi.
Setelah itu Faisal mengantarkan Husein dan Indah kembali ke hotel, karena malam kian larut. Besok, pagi-pagi sekali Indah akan bertemu dengan produser.
*
Setibanya di rumah sakit, Ida langsung ditangani oleh seorang Dokter.
Hanung dan Resti duduk di kursi tunggu di depan ruangan Ida.
Sedari tadi, sepasang suami istri tersebut hanya diam saja.
Cantika sudah tidur dipangkuan Resti setelah puas menangis.
Resti merasa begitu kesal sama Hanung, karena Hanung yang sama sekali tidak berniat membantu nya untuk memegang Resti. Pahanya terasa keram.
Pikiran Hanung masih tertuju kepada Indah dan Husein, rasanya dia ingin meninggalkan rumah sakit sebentar untuk menemui Indah dan Husein.
''Mas, gantian dong kamu ambil alih tubuh Cantika. Berat tauk,'' Resti akhirnya bersuara.
''Ais, sini,'' dengan terpaksa Hanung mengambil alih tubuh Cantika.
Setelah itu, tiba-tiba saja Resti merasa mual yang teramat sangat. Dia berlari menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Uek
Uek
Mendengar itu, Hanung semakin bertambah cemas. Dia penasaran apa yang terjadi kepada sang istri.
__ADS_1
Bersambung.