
Keesokan paginya, Indah memasak hidangan sarapan pagi yang cukup banyak.
Dia membangunkan Hanung.
''Mas, bangun. Hari sudah pagi, nanti Mas terlambat ke kantornya,'' ucap Indah sembari mengguncang kecil tubuh Hanung. Dia berucap begitu lembut, persis seperti istri istri sholehah.
Hanung perlahan membuka mata, saat dia sudah bisa melihat dengan jelas, dia menatap Indah dengan tatapan heran. Lalu dia duduk di atas kasur.
Dia tersenyum sinis menatap sang istri yang terlihat cantik di pagi ini. Karena Indah sudah berpenampilan rapi.
''Sudah Mas duga, kamu mana bisa bersikap cuek kepada Mas. Kamu mana sanggup hidup tanpa Mas. Kamu membangunkan Mas pagi ini pasti ingin mengajak Mas baikan. Sudah ketebak apa mau mu Indah,'' ucap Hanung remeh. Dia lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan gaya nya yang pongah. Sementara Indah menggeleng kecil dengan wajah tersenyum tipis.
Indah membereskan tempat tidur Hanung, setelah itu dia mengambil pakaian kerja Hanung di dalam lemari, lalu meletakkan di atas kasur.
''Mas, pakaian kerja kamu sudah aku siapkan. Mandi yang cepat, aku dan Husein menunggu mu di meja makan!'' seru Indah.
''Iya.''
Hanung menjawab singkat. Dia yang lagi mandi semakin besar kepala mendengar perkataan Indah. Karena dia kira Indah sudah kembali tunduk kepada nya.
*
Di meja makan.
Indah memasukkan nasi beserta lauk ke dalam piring Husein.
''Makan yang banyak Sayang,''
''Iya, Ma,''
"Mama juga,'' sambung Husein.
Husein terlihat tampan dengan seragam sekolah nya.
Tidak lama setelah itu Hanung muncul, lalu duduk di kursi meja makan.
Dengan cepat Indah memasukkan nasi ke dalam piring sang suami. Sementara Hanung merasa heran melihat banyaknya menu di meja makan.
''Kamu dapat uang dari mana untuk membeli bahan masakan sebanyak ini?'' tanya Hanung.
''Aku jual ini,'' jawab Indah sembari menunjukkan jari manisnya.
__ADS_1
''Kenapa cincin kawinnya malah kamu jual Indah?'' tanya Hanung.
''Aku butuh uang untuk menyajikan makanan yang sehat dan lezat untuk anak dan suamiku,'' jawab Indah sekenanya.
Mendengar itu, Hanung tak bersuara lagi. Mulut nya seakan terkunci, karena apa yang dikatakan oleh Indah cukup masuk akal. Hanung jadi berubah pikiran, dia ingin memberikan uang belanja kepada Indah, tapi sayangnya dia tidak punya uang tunai.
''Nanti sore lah aku kasih uang belanja untuk Indah. Aku tarik dulu di ATM,'' ucap Hanung di dalam hati.
Hanung menatap Husein sekilas, putranya tersebut terlihat tampan, dan Hanung mengakui itu. Sebenarnya ingin sekali rasanya dia memeluk sang putra, tapi karena gengsi, dia menahan rasa itu. Apalagi saat dia teringat perkataan Ida yang selalu meminta agar dirinya menjaga jarak dari sang anak, agar sang anak tidak manja kepadanya.
''Makan Mas,'' Indah menyerahkan piring Hanung yang sudah di penuhi dengan nasi beserta lauk pauk dan sayuran.
Hanung lalu menyantap makanan tersebut. Dia makan dengan lahap, karena masakan Indah memang terasa sangat nikmat, tiada tandingannya.
Hanung bahkan minta di tambahkan lagi. Untuk pertama kalinya, Husein melihat hubungan kedua orang tua nya adem ayem. Tapi Husein sudah tahu, saat ini adalah momen terakhir mereka berada di meja makan yang sama. Husein sudah tahu rencana sang mama. Sang mama ingin membuat kesan yang indah untuk sang papa sebelum mereka pergi meninggalkan rumah dan pergi meninggalkan pria yang selama ini tidak pernah bersikap baik dan adil terhadap mereka. Indah ingin membuat Hanung menyesal setelah kehilangan mereka.
Setelah sarapan pagi selesai. Hanung berucap.
''Hari ini biar Mas yang mengantarkan Husein ke sekolah,''
''Tumben?'' ujar Indah menatap Hanung dengan tatapan heran.
''Mas pengen saja, sekali kali boleh dong,''
Indah menyalami tangan Hanung, dia mencium punggung tangan sang suami dengan takzim, dada nya terasa sesak, tetapi dia harus kuat, dia harus memegang teguh pendirian nya agar terbebas dari lingkungan toxic.
Kini Hanung dan Husein sudah berada di dalam satu mobil yang sama, lalu mobil perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.
Indah melambaikan tangan.
''Selamat tinggal Mas. Aku harap kamu bisa memanfaatkan momen terakhir kamu bersama Husein. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga kita. Aku tidak bisa lagi mempertahankan suami yang selalu dikekang oleh Ibunya, dan aku sudah tidak sudi lagi hidup bersama suami yang sudah membagi tubuhnya dengan wanita lain,'' ucap Indah di dalam hati.
Lalu dia berjalan ke dalam rumah.
Dia menarik koper nya ke luar kamar, lalu membawa ke dalam bagasi mobil. Setelah koper milik nya sudah berhasil dipindahkan ke dalam bagasi mobil, Indah lalu memasukkan koper milik Husein lagi.
Iya, hari ini Indah akan segera pergi dari kehidupan Hanung. Dia sudah selesai mempersiapkan semuanya. Bahkan surat gugatan cerainya sudah keluar.
Indah meletakkan surat gugatan cerai di atas laci di dalam kamar yang ditempati Hanung, berharap Hanung akan membaca surat tersebut, dan dia juga menuliskan surat di atas kertas HVS. Kira-kira begini isi surat tersebut.
Mas Hanung, maafkan aku. Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku dan Husein sudah pergi jauh dari hidup mu.
__ADS_1
Maaf aku, aku sudah tidak bisa lagi menjadi istri mu.
Aku sudah tahu semuanya tentang hubungan kamu dan Resti. Aku mengalah, aku serahkan kamu kepada Resti. hidup lah berbahagia bersama nya.
Dan semoga saja Mama bahagia dengan perpisahan kita ini.
Aku pergi.
Tulis Indah.
* * *
Di dalam mobil.
Diam-diam Hanung menatap Husein dari samping.
''Apakah kamu masih sering kepikiran Kak Hasan?'' tanya Hanung memulai obrolan. Dia ingin sedikit mencairkan hubungan nya dan sang anak yang begitu kaku dan beku. Dia berjanji kepada Ida untuk membuat Indah dan Husein menderita, tapi saat bersama Indah dan Husein, dia tidak tega melakukan itu. Karena sebenarnya dia masih berharap rumah tangganya dan Indah berjalan baik-baik saja, tapi karena Ida yang suka ikut campur, membuat Hanung bingung dan pusing sendiri harus bagaimana bersikap.
''Itu pasti,'' jawab Husein singkat.
''Kamu sudah besar sekarang,''
''Hm,''
''Maafkan Papa karena selama ini Papa tidak pernah bersikap baik kepada kamu dan Kakak mu,''
''Tidak apa. Itu hanya hal biasa,'' jawab Husein lagi dengan tatapan mata fokus kedepan. Gaya nya sudah seperti orang dewasa. Tampak begitu cool.
Melihat itu, Hanung menghembus napas kasar.
''Besok weekend, apakah kamu mau jalan-jalan ke Mall bersama Papa?''
''Tidak usah. Nanti uang Papa habis. Mending Papa ajak Cantika saja,''
''Husein, kamu tidak boleh berbicara seperti itu sama Papa kamu sendiri,''
''Maaf,''
''Papa maafkan. Jadilah anak baik dan rajin, supaya kelak saat kamu dewasa kamu bisa jadi orang sukses dan membanggakan Papa,'' Hanung mengusap pucuk kepala Husein.
Tidak lama setelah itu mereka sampai, Husein turun dari mobil dan setelah memastikan Husein sudah masuk ke dalam pekarangan sekolah, Hanung melajukan mobilnya menuju kantor.
__ADS_1
''Setelah ini aku akan bersikap baik kepada Indah dan Husein, dan nanti malam aku akan menikah bersama Resti, aku berjanji akan menjadi kepala keluarga yang adil untuk mereka,'' gumam Hanung.
Bersambung.