Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Nginep di rumah Mama


__ADS_3

Ditempat berbeda, sepulang dari kantor, Hanung langsung pulang ke rumah Mama nya.


Setibanya di sana, Ida, Resti dan Cantika menyambut kedatangan nya dengan senyum mengembang. Bahkan Cantika mengangkat kedua tangannya, memberi kode agar Hanung menggendongnya.


Dengan senang hati Hanung membawa bocah perempuan dua tahun tersebut kedalam gendongan. Hanung mencium pipi Cantika berulangkali dengan penuh kasih sayang. Melihat itu, semakin besar obsesi Resti untuk memiliki Hanung seutuhnya, dia ingin Hanung segera meninggalkan Indah dan Husein, begitu juga dengan Ida.


''Mas kamu sudah makan?'' tanya Resti lembut.


"Sudah Dek,'' jawab Hanung. Selama ini Hanung memang memanggil Resti dengan sebutan Dek di depan orang-orang. Karena Resti adalah adik iparnya, istri dari almarhumah adiknya.


''Kalau begitu aku bikin teh saja untuk kamu, ya,'' tawar Resti dengan senyum simpul.


''Iya Dek,'' balas Hanung lagi. Setelah itu Resti berlalu kebelakang.


Setelah punggung Resti hilang di balik ambang pembantas antara ruang keluarga dan ruang belakang, Ida mulai mengobrol dengan Hanung.


''Resti cantik ya, selain itu dia juga baik banget,'' puji Ida. Dia sengaja berkata seperti itu, dia ingin melihat bagaimana respon Hanung. Selama ini Ida memang hanya tinggal bersama Resti dan Cantika, sedangkan anak-anaknya yang lain sudah tinggal di rumah mereka masing-masing, karena semua saudara Hanung sudah berumahtangga.


''Iya, Ma,'' balas Hanung singkat. Cantika duduk dipangkuan nya. Hanung terlihat lesu karena saat di perusahaan tadi dia beberapa kali melakukan kesalahan sehingga mendapatkan teguran dari sang atasan.


''Kamu kok lemes gitu?''


''Aku tidak apa-apa Ma, aku hanya kurang tidur saja,''


''Huh, pasti Si Indah itu tidak bisa membuat kamu tidur dengan nyenyak tadi malam,'' rutuk Ida.


''Ya begitulah, Ma,'' ucap Hanung lembut. Saat berbicara dengan Ida, Hanung memang berkata dengan begitu lembut berbeda sekali saat dia berbicara dengan Indah.


''Kalau begitu nanti malam kamu nginep disini saja, Nung,''


''Tapi, Ma,''

__ADS_1


''Tapi apa? Kamu kok betah banget tinggal bersama Si Indah itu,''


''Bukan begitu, Ma. Ya sudah, nanti malam aku akan nginep di sini,'' kata Hanung lagi seraya tersenyum kecil. Mendengar itu, Cantika bersorak kegirangan. Pun Ida, dia juga merasa bahagia karena perlahan dia akan membuat Hanung dan Indah berpisah. Dia akan membuat hubungan Hanung dan Resti semakin bertambah dekat.


Tidak lama setelah itu Resti datang membawa nampan yang diatasnya terdapat segelas teh dan cemilan yang berupa bolu coklat.


Resti mempersilahkan Hanung minum dan menyantap cemilan yang telah dia bikin dengan penuh cinta.


''Kalau Mama lihat-lihat, kalian berdua tampak begitu serasi, apalagi ditambah dengan kehadiran Cantika, kalian terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia,'' ucap Ida saat Resti, Hanung dan Cantika duduk di sofa yang sama.


Hanung yang lagi minum tersedak teh yang baru memasuki kerongkongannya. Dia melihat Mama nya lekat.


''Maksud Mama apa?'' tanya Hanung salah tingkah, karena Resti belum cerita apa-apa kepada Hanung.


''Ah tidak, tadi Mama hanya ngomong ngaco aja,'' balas Ida. Setelah itu Ida pamit, dia akan mengangkat jemuran yang ada dihalaman belakang.


''Dek?'' setelah kepergian Ida, Hanung menatap Resti lekat. Dan mereka semakin merapatkan jarak diantara mereka.


''Sungguh?''


''Iya Mas,''


''Syukurlah. Jadi tidak ada lagi hal yang perlu kita khawatirkan tentang hubungan kita,'' Hanung tersenyum mengembang.


''Iya Mas, makanya cepetan kamu ceraikan Si Indah itu,''


''Untuk saat ini Mas belum bisa menceraikan Indah,''


''Iiih ... Kamu kenapa kayaknya berat banget untuk meninggalkan wanita bodoh itu!'' Resti cemberut, dia membalik tubuh nya agar tak dilihat oleh Hanung. Dia merajuk.


''Bukan begitu Sayang. Dengar Mas dulu,'' ucap Hanung sembari menggenggam tangan Resti, ''Jadi begini, sebelum Mas menceraikan Indah, Mas ingin membuat hidup nya menderita terlebih dahulu. Mas tidak akan memberikan dia uang belanja lagi dan Mas akan menyita semua aset yang telah Mas berikan kepadanya supaya dia tahu rasa karena sudah berani main-main sama Mas,'' sambung Hanung menjelaskan. Mendengar itu, Resti tersenyum senang. Lalu dia memeluk tubuh Hanung erat. Pasangan yang belum halal itu saling berpelukan dengan penuh nafsu dan hasrat. Mustahil pria dan wanita dewasa saat bersentuhan tidak merasakan hasrat apa-apa. Apalagi Hanung dan Resti yang sengaja saling berpelukan.

__ADS_1


Ida diam-diam memperhatikan Hanung dan Resti, dia tersenyum senang melihat pemandangan yang menurut nya begitu menyejukkan mata. Padahal jelas-jelas apa yang dilakukan oleh Hanung dan Resti adalah hal yang salah, tapi dengan bodohnya Ida membenarkan itu. Miris memang.


Malam harinya, setelah selesai makan malam, Hanung duduk di pinggir kasurnya. Hanung tidur di kamarnya semasa dia masih bujangan dulu.


Dia mengambil ponselnya yang terdapat di atas kasur, lalu mulai melihat apakah ada pesan dan panggilan masuk.


Hanung dibuat heran, karena Indah sama sekali tidak mengirimkan pesan dan tidak melakukan panggilan terhadap nya. Indah seperti tidak mau tahu tentang keberadaan nya.


''Dasar istri sialan!'' umpat Hanung di dalam hati, entah kenapa dia merasa sangat kesal karena Indah terkesan sama sekali tidak memperdulikan nya. Dia meletakkan ponselnya kembali di atas kasur dengan kasar, lalu dia berjalan keluar kamar.


Di dapur, Ida dan Resti sedang membuatkan minuman untuk Hanung.


''Mama yakin obat yang kita masukkan kedalam minuman ini tokcer?'' lirih Resti.


''Yakin sekali Sayang. Sudah, sana kamu berikan minuman ini untuk Hanung. Mama rasanya sudah tidak sabar lagi ingin melihat kamu dan Hanung menikah. Malam ini Cantika biar Mama yang jaga, kamu temani saja Hanung, buat dia semakin tergila-gila kepada mu,'' ucap Ida. Dan Resti tersenyum kecil.


Resti lalu berjalan menghampiri Hanung yang kini sudah duduk diruang keluarga. Sementara Ida masuk ke dalam kamar Resti, Ida akan menemani Cantika yang sudah terlelap di atas kasur.


''Mas, ini teh nya,'' ucap Resti.


Hanung menatap Resti lekat, dia meneguk saliva melihat penampilan Resti yang begitu menggoda.


Malam ini Resti sengaja memakai pakaian kurang bahan. Dia memakai piyama tanpa lengan dengan panjang nya sebatas paha. Lekukan payudara nya pun terlihat jelas.


''Iya Sayang, ayo duduk di sini,'' Hanung berusaha bersikap biasa saja, dia lalu meminta Resti duduk tepat di sebelah nya. Saat Resti sudah duduk di sebelahnya, Hanung harus menelan saliva lagi saat mencium aroma parfum Resti yang begitu harum menggoda.


''Mas, aku senang deh bisa sedekat ini sama kamu,'' Resti mulai nakal, dia dengan beraninya melingkarkan tangannya pada pinggang Hanung, sedangkan kepalanya bersandar pada bahu Hanung.


''Mas juga senang Senang sekali Sayang,'' Hanung mengecup pucuk kepada Resti dengan lembut. Lalu tangannya mulai mengelus pelan bahu Resti yang terbuka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2