
Setelah melewati perjalanan yang lumayan memakan waktu, akhirnya kami tiba di pusat perbelanjaan terbesar di Ibukota.
Kami turun dari mobil lalu berjalan bergandengan tangan memasuki gedung yang dingin tersebut.
Husein terlihat begitu antusias, Mall terlihat ramai karena hari ini merupakan hari libur.
''Apa kamu merasa senang Sayang?'' tanyaku sembari mengusap pucuk kepala anakku.
''Senang sekali, Ma. Karena ini merupakan impian aku dan Kak Hasan selama ini. Kami sering berandai-andai bisa menghabiskan hari libur di Mall bersama-sama. Tapi sayangnya Kak Hasan tak menepati janjinya, dia pergi begitu cepat. Akan lebih menyenangkan rasanya bila Kak Hasan bersama kita,''
''Sudah. Yang perlu kamu ingat, saat kamu teringat dengan Kak Hasan, kamu harus mengirim doa untuk Kak Hasan dan kamu juga harus tahu, Kak Hasan sudah bahagia di tempat nya yang baru dan dia pun pasti merasa bahagia melihat kita bahagia. Jadi jangan sedih lagi, ya. Karena saat ini hanya kamu yang menjadi penyemangat Mama untuk terus hidup dan menjadi orang sukses,''
''Baiklah, Ma,'' Husein tersenyum mengembang.
Setelah itu kami mampir di tempat makan terlebih dahulu, kami akan mengisi perut kami sebelum memutari setiap sudut Mall.
Husein makan dengan lahap, dia makan ayam goreng upin ipin katanya, makanan kesukaannya.
Perasaan haru dan bahagia begitu kentara aku rasa, melihat Husein ku sudah bisa mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.
Setelah itu kami berjalan menuju arena bermain yang ada di lantai atas, kami menaiki eskalator, dan Husein mengatakan kalau dia bahagia bisa menaiki tangga berjalan tersebut.
Setibanya di arena bermain, Husein mencoba mainan apa saja yang dia suka dan yang belum pernah dia coba.
__ADS_1
Aku duduk di kursi tunggu seraya memantau pergerakan Husein. Sekarang dia sudah memiliki teman bermain seusianya, tawa riang mereka terdengar dan menular kepadaku.
Aku memilih mengambil ponsel dari dalam tas, lalu membuka aplikasi menulis dan membaca, aku ingin melihat sudah berapa banyak orang-orang yang meninggalkan komentar pada tulisanku tadi malam.
Aku tersenyum membaca satu persatu komentar pembaca yang greget serta penasaran sama alur cerita.
Saat tatapan mata ku masih fokus menatap layar yang menyala, tiba-tiba aku mendengar suara yang begitu familiar di telinga. Aku mengalihkan tatapan ku, mengedar pandangan melihat apakah aku tidak salah dengar.
Dan ternyata benar dugaan ku, dibelakang ku, tampak Mas Hanung, Resti serta Cantika. Mereka tampak bahagia, persis seperti sebuah keluarga kecil. Diam-diam aku memperhatikan mereka, wajahku aku tutupi dengan masker bewarna hitam.
"Foto kalian bagus-bagus sekali, Mas,'' kata Resti dengan tatapan jatuh ke layar ponsel. Sepertinya dia baru saja memotret Mas Hanung bersama Cantika.
''Oh ya?''
Kini, tubuh mereka sudah saling menyatu tanpa jarak, jangan-jangan kecurigaan ku selama ini memang benar.
Lalu, tanpa aku duga-duga, pemandangan yang begitu menyakitkan terpapar jelas di depan mata.
Resti dengan berani mengecup pipi Mas Hanung di keramaian.
''Iih kamu nakal sekali, Dek,'' kata Mas Hanung mencubit hidung Resti.
''Habisnya aku sudah tidak tahan lagi, Mas. Kamu tampan sekali,''
__ADS_1
''Untungnya di sini tidak ada yang mengenali kita,'' kata Mas Hanung.
''Ah, palingan mereka mengira kalau kita adalah pasangan suami istri,'' balas Resti santai.
''Memang itu 'kan yang kamu mau?'' goda Mas Hanung dengan mata ia kerling.
''Iya Mas. Makanya buruan kamu ceraikan wanita yang tak berguna itu,'' ucap Resti manja, dia malah semakin lancang dengan menggandeng tangan Mas Hanung dan Mas Hanung sendiri sama sekali tidak melakukan penolakan.
''Kamu sabar dulu, ya,''
''Iya,''
''Kita bicarakan dulu hubungan kita ini sama Mama dan anggota keluarga yang lain,''
''Kapan? Buruan dong,''
''Kamu kayak udah tidak tahan banget Sayang,'' ujar suamiku lagi dengan tangan mencolek dagu Resti.
Ya Allah, pria seperti apa yang telah aku pilih menjadi suamiku.
Aku benar-benar jijik melihat wajahnya.
Bersambung.
__ADS_1