
Faisal memperlakukan Indah dan Husein dengan begitu istimewa.
Setibanya mereka di Restoran, Faisal menarik kursi untuk Indah dan Husein, lalu mempersilahkan anak dan Ibu tersebut duduk.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa buku menu, Faisal meminta agar Indah dan Husein memesan makanan apa saja yang mereka suka.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai memilih menu yang hendak mereka santap.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka mengobrol terlebih dahulu.
''Jadi kapan kalian akan kembali ke Yogyakarta?'' tanya Faisal.
"Besok, selasa Pak Faisal,'' jawab Indah.
''Kok sebentar banget sih kalian di Jakarta? Padahal saya masih ingin menghabiskan waktu bersama kalian,'' kata Faisal jujur. Sejenak tatapan Faisal dan Indah bertemu, membuat keduanya sama-sama salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke arah Husein. Selalu saja Husein yang menjadi perantara diantara keduanya.
''Em, Husein akan kembali bersekolah, 'kan enggak lucu, baru saja masuk sekolah udah ngilang aja,'' jawab Indah.
''Iya. Ada benar nya juga. Walaupun sudah pindah ke sekolah yang baru, kamu harus tetap mempertahankan juara satu mu Husein,''
''Itu pasti Pak,'' jawab Husein yakin.
__ADS_1
Pun Faisal, dia juga belum mengetahui kalau Indah adalah seorang penulis, baik Husein maupun Indah sendiri tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang pekerjaan yang di geluti nya, karena dia menggunakan nama pena untuk menulis.
Tapi cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu soal itu, dan entah bagaimana tanggapan orang-orang begitu tahu kalau Indah adalah seorang penulis hebat. Dalam waktu satu tahun dia menulis, ada tiga novel miliknya yang akan di angkat ke layar lebar. Hebat memang.
*
Tidak lama setelah itu pesanan mereka datang, saat semua makanan sudah terhidang di atas meja, mereka mulai menyantap makanan yang terlihat begitu menggugah selera tersebut. Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang sesekali terdengar.
*
Di pintu masuk Restoran, rombongan Hanung baru muncul menampakkan batang hidung. Mereka berjalan beriringan menuju kursi yang akan mereka duduki.
''Di sana saja, Mas,'' tunjuk Resti ke meja yang ada di sudut ruangan.
Saat tatapan mata Hanung masih mengedar melihat keseluruhan ruangan restoran, tiba-tiba tatapan matanya bisa menangkap orang orang yang dia cari selama ini. Mendadak jantung nya berdebar lebih cepat saat dia melihat keberadaan Indah dan Husein. Ada rindu yang teramat sangat dia rasa, rasanya dia ingin memeluk Husein dan Indah dengan segera. Apalagi saat ini Indah terlihat semakin cantik saja, pun Husein, dia juga terlihat sangat tampan.
''Mas,'' panggil Resti karena bukannya melangkahkan kaki menuju meja mereka tapi Hanung malah diam di tempat dengan tatapan terpaku ke satu titik.
Ida dan Resti ikut melihat apa yang Hanung lihat, beberapa detik setelah itu mereka merasa kaget melihat keberadaan Indah dan Husein.
Tanpa pikir panjang Ida menghampiri meja rombongan Indah, diikuti oleh Hanung dan Resti juga, sementara Cantika berada di dalam gendongan Hanung.
__ADS_1
Entah apa yang akan Ida lakukan.
Setibanya di meja rombongan Indah, Ida langsung memukul meja dengan tangannya, sehingga membuat rombongan Indah kaget. Beruntungnya makanan mereka sudah hampir habis.
''Oh bagus ya, sok-sokan kamu makan di Restoran mahal,'' ucap Ida dengan wajah memerah. Dari dulu Ida memang tidak pernah suka melihat Indah bahagia.
''Hey, apa-apaan anda ini wanita tua! Anda siapa hah? Bisa-bisanya anda menganggu ketentraman orang yang tengah menyantap makanan! Dasar tidak sopan!'' balas Indah tanpa takut sama sekali. Dia berdiri dari duduknya, lalu menatap Ida dengan tatapan menantang. Sebenarnya tadi dia merasa kaget dengan kehadiran Ida yang tiba-tiba, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya.
Husein yang melihat itu ingin membela sang mama, tapi Faisal mencegah, karena Faisal tidak ingin Husein terlalu ikut campur urusan perempuan. Dia membiarkan Indah dan Ida beradu argumentasi berdua saja. Mereka cukup menjadi penonton.
''Hanung, lihat lah istri mu ini! Dasar istri dan menantu durhaka! Pergi dari rumah dengan diam-diam ternyata jalan sama laki-laki lain. Awas kena azab kamu nanti!'' ujar Ida lagi dengan wajah merah padam, dia sengaja berkata seperti itu untuk memojokkan Indah. Karena dia tidak terima Indah mengatainya dengan sebutan wanita tua.
''Istri? Anda mimpi, Bu? Saat ini saya sudah bukan istri siapa-siapa lagi. Bukankah wanita yang ada di samping anda sekarang adalah istri putra anda?! Oh wajar saja anda sudah pikun, karena anda sudah tua juga!'' balas Indah lagi tersenyum sinis. Mendengar itu semakin terpancing lah emosi Ida. Karena merasa sudah tidak sanggup lagi melawan Indah dengan kata-kata, dia lalu mengangkat tangannya, dia ingin menarik rambut Indah yang tergerai indah, tapi dengan cepat Faisal berdiri di depan Indah, Faisal sungguh tidak ingin seseorang berbuat kasar kepada wanita yang dicintainya.
Saat ini mereka sudah menjadi tontonan orang-orang yang ada di restoran.
Hanung merasa terbakar dadanya melihat Faisal membela Indah. Dia cemburu.
''Oh, ternyata ada main mereka berdua selama ini di belakang aku. Jangan-jangan guru itulah yang membantu Indah mengurus gugatan cerai di pengadilan. Dasar wanita murahan! Aku sungguh tidak menyangka!'' ucap Hanung di dalam hati. Kedua tangannya mengepal erat, dadanya naik turun, rasanya dia ingin menonjok wajah tampan Faisal.
Sementara Resti ikut merasa tidak suka melihat Faisal melindungi Indah. Pun Resti, dia juga tidak pernah bahagia melihat Indah bahagia. Penyakit hati mereka sudah mendarah daging terhadap Indah. Entah karena apa sehingga mereka bisa begitu membenci Indah, padahal Indah selama ini tidak pernah mengusik hidup mereka, tapi malah sebaliknya, mereka lah yang sering mengusik hidup Indah.
__ADS_1
Bersambung.