
Di meja makan, Hanung, Resti, Ida dan Cantika tengah menikmati sarapan pagi. Ida merasa sangat bahagia pagi ini dengan kehadiran Hanung di tengah tengah mereka.
''Mas, mau nambah lagi?'' tanya Resti saat makanan Hanung hampir habis.
''Boleh Dek,'' jawab Hanung tersenyum simpul.
Setelah itu Resti memasukkan sedikit nasi dan lauk ke dalam piring Hanung, dan pada saat itu Ida mencuri kesempatan dengan memotret Hanung dan Resti. Ida berhasil mendapatkan potret yang dia inginkan, foto Hanung dan Resti tampak sangat romantis dengan jarak yang cukup dekat. Apalagi wajah mereka yang sama-sama sedang tersenyum.
''Pas,'' ucap Ida di dalam hati.
Setelah itu dia langsung mengirimkan foto tersebut kepada seseorang, orang yang paling dia benci di dalam hidupnya. Entah kenapa Ida sangat sangat membenci sang menantu.
Usai sarapan pagi, Hanung pamit pergi ke kantor, sebelum pergi dia mencium Cantika cukup lama, Cantika persis seperti anak kandungnya sendiri yang dia sayangi dengan sepenuh hati.
''Ma, aku bahagia sekali sekarang, Ma,'' ucap Resti dengan wajah berbinar terang selepas Hanung melajukan mobilnya menjauhi halaman rumah.
Lalu Ida membimbing agar Resti masuk ke dalam rumah lebih dulu, dia ingin mendengarkan cerita Resti di dalam saja, kalau di luar takut ada yang diam diam menguping pembicaraan mereka yang cukup intim.
Saat sudah duduk di sofa ruang keluarga, mereka lanjut mengobrol.
''Ternyata obat yang Mama kasih tadi malam hasilnya tokcer sekali, Ma. Tadi malam ... Em, aku dan Mas Hanung,'' ucap Resti malu malu dengan wajah merona, jari jari tangannya dia mainkan.
''Mama sudah tahu Sayang. Mama sudah bisa menebak hanya dengan melihat rambut mu yang basah, selain itu juga tanda merah di leher mu, semua yang Mama lihat sudah menjelaskan apa yang terjadi antara kalian tadi malam,'' kata Ida tersenyum simpul seraya membelai rambut Resti. Mendengar itu, wajah Resti semakin memerah karena malu, dia meraba lehernya, dan dia ingat, tadi malam Hanung menghisap lehernya cukup lama di beberapa titik. Saat mengingat itu, lagi-lagi Resti merasa berbunga-bunga hatinya, saat ini dia merasa bagaikan pengantin baru.
''Aku jadi malu, Ma,''
''Semoga saja kamu segera hamil Sayang. Dan nanti sore saat Hanung sudah pulang dari kantor, Mama akan berbicara kepadanya agar dia segera menikahi mu. Terserah dia kalau dia belum bisa menceraikan Indah. Kamu tidak keberatan 'kan kalau jadi istri kedua dulu untuk sementara waktu? Dari pada hubungan kalian tidak jelas, dan nanti Hanung malah minta jatah lagi kepada kamu. 'kan tidak lucu kalau kalian harus berbuat maksiat terus menerus,'' Ida menjelaskan kepada Resti tentang rencananya.
Dan Resti menyetujui itu. Tak apa jadi yang kedua, yang penting selalu diutamakan. Begitulah pikir nya.
__ADS_1
* * *
Setibanya di kantor, Hanung duduk di kursi kebesaran nya, dia menatap layar ponsel yang menyala. Sedari kemarin Indah tidak pernah menghubungi nya, dan hal itu membuat Hanung bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
Hanung lalu berinisiatif untuk menghubungi Indah, tapi setelah melakukan panggilan demi panggilan, Indah tak kunjung mengangkat panggilan tersebut.
Lagi-lagi Hanung merutuk kesal.
''Awas saja kamu Indah,'' gumamnya lirih dengan wajah memerah.
Setelah itu Hanung meletakkan ponselnya di atas meja kerja, dia mulai fokus mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk.
* * *
Di tempat berbeda, setelah mengantar Husein ke sekolah, Indah tidak langsung pulang ke rumah, tapi dia pergi ke suatu tempat untuk mengurus perihal perceraian nya dan Hanung.
Indah duduk di kursi kafe, dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Sembari menunggu dia membuka ponsel nya, dan saat itulah dia melihat banyak panggilan masuk dari Hanung. Indah tak peduli, lalu dia membuka chat, dia melihat pesan yang di kirim oleh Ida, lalu dia tersenyum simpul.
Indah lalu menulis pesan.
[ Apakah masih ada foto yang lebih intim dari ini? Foto Mas Hanung dan Resti lagi berpelukan misalnya? Atau saat mereka berada di dalam kamar yang sama dan sedang memadu kasih, ] tulis Indah, lalu dia mengirimkan pesan tersebut kepada Ida. Terlanjur basah, jadi untuk apa dibaik-baiki mertua seperti itu. Pikir Indah.
Tidak lama setelah itu masuk pesan balasan dari Ida.
[ Dasar wanita gila. ]
[ Yang gila aku atau kamu? Sudah tua bukannya tobat, banyak-banyak beribadah, tapi ini malah senang saat ada yang berbuat maksiat di depan mata. Mana di fotoin lagi, iih jijik aku melihatnya. Aku sama sekali tidak cemburu melihat Hanung dan Resti sedekat itu, terserah mereka mau berbuat apa. Aku sudah tidak peduli lagi, dan aku juga sudah tidak peduli lagi sama kamu. Mama mertua, nenek dari anak-anak ku, tapi kelakuan nya kayak iblis betina! ] tulis Indah, lalu dia mengirim pesan tersebut kepada Ida.
Indah tidak mau lagi direndah-rendahkan, dia tidak mau menjadi para menantu kayak di sinetron ikan terbang, para menantu yang hanya bisa nangis nangis saat ditindas sama mertua jahat.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu orang yang Indah tunggu kehadiran nya datang. Indah menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Orang tersebut adalah pengacara yang Indah sewa untuk membantu mengurus proses perceraian nya dengan Hanung agar berjalan cepat.
* * *
Ida meradang marah saat membaca pesan balasan dari Indah.
Resti yang sudah tahu pun ikutan marah.
''Sudah, Ma. Tidak usah dipikirkan dengan apa yang dikatakan oleh Indah. Dia itu benar-benar sudah stress,'' ucap Resti sembari mengelus bahu Ida.
''Berani sekali dia menyamakan Mama dengan iblis betina. Mama tidak terima Resti. Sejak anaknya meninggal, kelakuannya semakin menjadi saja,'' ucap Ida sembari mengelus dada, menenangkan dirinya sendiri.
''Terus apa yang harus kita lakukan untuk memberikan dia pelajaran, Ma?'' tanya Resti.
''Tidak ada pilihan lain, nanti Mama akan mendesak Hanung agar Hanung segera menceraikan dia dan mengusir dia dari rumah yang Hanung beli menggunakan uang Hanung. Tidak akan Mama biarkan dia membawa sepeserpun harta dari Hanung, biar jadi gembel dia dan anaknya itu,'' ucap Ida geram.
''Mas Hanung pasti mau menuruti perintah Mama. Karena selama ini Mas Hanung sangat menghormati Mama. Sudah, sekarang Mama yang tenang ya,''
''Iya Sayang,''
''Lebih baik sekarang Mama beristirahat di dalam kamar. Wajah Mama terlihat sedikit pucat,''
''Baiklah Resti. Cantika, Nenek ke kamar dulu, ya,'' sapa Ida kepada Cantika yang tengah sibuk dengan mainannya.
Setelah Ida berlalu.
Resti memikirkan rencana untuk membuat hidup Indah menderita.
__ADS_1
''Ternyata dengan matinya satu anak tidak membuat Indah menjadi gila. Sepertinya aku harus membayar orang lagi untuk menghabisi Husein. Biar tahu rasa tuh Si Indah.'' Ucap Resti tersenyum penuh arti.
Bersambung.