
Siang hari, Indah menjemput Husein di sekolah sekalian dia ingin menyelesaikan masalah kepindahan Husein.
Iya, Indah terpaksa memindahkan Husein ke sekolah yang lain, agar kedepannya mereka tidak bertemu lagi dengan Hanung.
Indah benar-ingin menjauh dari keluarga Hanung, dia akan pindah ke luar kota. Untuk urusan pekerjaan nya, bisalah sesekali dia ke Jakarta kalau lagi ada pemanggilan dan kepentingan mendadak di Jakarta.
''Terimakasih ya, Pak. Karena selama ini Pak Faisal sudah banyak membantu kami,'' ucap Indah pada guru tampan yang masih singel tersebut. Kini, Indah dan Pak Faisal tengah berdiri dengan jarak cukup dekat, dengan Husein berada ditengah-tengah.
''Iya Mama nya Husein. Saya harap di manapun kalian berada, kalian selalu baik baik saja dan selalu dalam lindungan Allah. Saya hanya bisa mendoakan kalian dari jarak jauh,'' ucap Pak Faisal dengan wajah seperti keberatan melepas kepergian Husein dan Indah.
Kemudian Husein mencium takzim punggung tangan Pak Faisal, mereka juga berpelukan sesaat.
Setelah itu Indah pamit dari hadapan Faisal, Faisal melepas kepergian Indah dan Husein hingga mobil mereka melaju menjauh meninggalkan halaman sekolah.
Ada rasa sesak yang Faisal rasakan di dada nya, karena dia tidak dapat mencegah Indah dan Husein pergi menjauh dari hidupnya.
Sebenarnya selama ini diam diam Faisal menyimpan perasaan suka kepada Indah. Tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaan nya itu karena dia tahu Indah adalah wanita bersuami.
Tapi Faisal janji, suatu saat nanti dia akan menemui Indah dan Husein, saat Indah sudah resmi menjadi seorang janda. Iya, Faisal pun tahu kalau saat ini Indah telah menggugat cerai Hanung, karena Husein sering bercerita kepada Faisal tentang hubungan kedua orangtuanya yang tak pernah harmonis dan kini berada di jurang perceraian.
* * *
Sore hari, Hanung pulang dari kantor, dia langsung pulang ke rumah Ida, karena sedari tadi Resti selalu menghubungi dirinya, mewanti-wanti agar dia tidak pulang ke rumah dia dan Indah.
Setibanya di rumah, Resti langsung menyambut kedatangan Hanung dengan senyum merekah. Dia menggandeng tangan Hanung memasuki rumah.
Di dalam rumah, tampak ramai, karena dua orang kakak Hanung berada di rumah. Mereka ikut membantu mempersiapkan keperluan untuk pernikahan Hanung dan Resti nanti malam.
''Selamat ya, Nung. Akhirnya kalian akan menikah juga. Mbak sangat menyetujui pernikahan kalian,'' ucap Hesti, Kakak tertua Hanung.
''Iya Mbak. Terimakasih. Suami Mbak mana?''
''Suami Mbak nanti malam akan menyusul kesini, karena sekarang dia lagi sibuk bekerja,'' jelas Hesti.
__ADS_1
Setelah itu datang lagi Kakak nomor dua Hanung. Namanya Fira, dia juga mengucapkan selamat kepada Hanung dan Resti. Ternyata semua anggota keluarga Hanung sama saja, mereka semua tidak ada yang menyukai Indah, mereka merasa senang mendengar kabar pernikahan Hanung dan Resti. Karena bagi mereka Resti tetap menjadi menantu kesayangan di keluarga, karena Resti pandai sekali mencari muka. Resti selalu bersikap bak malaikat dan penurut, padahal aslinya dia sangat lah licik.
Resti lalu menggandeng tangan Hanung menuju kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Hanung menatap ruangan itu dengan tatapan sedikit kaget, karena kini kamar Resti sudah dihiasi sedemikian rupa dengan tirai bewarna putih serta bunga-bunga.
Kelopak bunga mawar merah tampak bertaburan di atas kasur.
''Bagaimana, Mas? Cantik 'kan kamar pengantin kita,'' ucap Resti.
''Iya Sayang. Cantik dan harum sekali,'' jawab Hanung.
''Nanti malam aku akan membuat kamu puas Mas,'' bisik Resti menggoda.
''Kamu bisa saja Sayang. Mas jadi tidak sabar lagi ingin bermain-main di atas ranjang bersama kamu,'' balas Hanung sama lirihnya.
Hanung menatap Resti lekat, lalu setelah itu dia mengecup bibir Resti cukup lama. Resti menyambut ciuman itu dengan antusias. Bahkan dia menahan kepala bagian belakang Hanung dengan satu tangan nya agar Hanung tak segera melepaskan ciuman tersebut.
Mereka bertukar saliva dengan tangan saling meraba. Namun, ciuman mereka terpaksa mereka lepaskan saat pintu kamar di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Iya, Ma.'' Jawab Resti sembari membereskan penampilan nya, karena pakaian nya sudah di tarik ke atas oleh Hanung tadi.
''Mama mengganggu saja,'' gumam Hanung, dan Resti mencubit kecil pinggang sang calon suami.
Begitu pintu terbuka, Cantika menghambur ke pelukan Hanung. Hanung menggendong Cantika dan mencium pipi Cantika gemes.
''Iih ... Kalian ngapain saja sih di dalam? Pakai acara di kunci segala pintu kamar nya. Sabar dikit napa. Hanya tinggal hitungan jam kalian akan resmi menjadi suami istri,'' goda Ida tersenyum jahil. Resti dan Hanung tersenyum malu mendengar godaan sang mama.
* * *
Malam harinya, ruangan serba putih itu sudah dipenuhi oleh tamu undangan yang merupakan kerabat dekat dan tetangga dekat keluar besar Ida dan Resti. Bahkan Pak penghulu dan wali nikah Resti turut hadir.
Di dalam kamar pengantin, Resti tampak cantik dengan gaun putih yang melekat ditubuh ramping nya. Wajahnya di make up oleh MUA handal yang ada disekitar tempat tinggal mereka. Rambut nya disanggul dengan selendang putih menutupi setengah kepala.
__ADS_1
''Kamu cantik sekali Sayang,'' puji Ida.
''Terimakasih Ma,''
''Dan kamu terlihat sangat tampan Hanung,'' ucap Ida lagi sembari mengelus pipi Hanung. Sekarang mereka bertiga lagi berkumpul di dalam kamar pengantin.
Setelah itu mereka berjalan menuju ruang akad.
Tanpa menunda-nunda waktu lagi, saat mereka sudah duduk diruang akad, tangan Hanung dan tangan Pak penghulu saling berjabat, lalu ijab qobul di mulai.
Beberapa detik setelah itu Ijab qobul selesai diucapkan. Hanung mengucapkan dengan lancar hanya dengan satu tarikan nafas.
''Bagaimana para saksi? Sah?'' tanya Pak penghulu dengan tatapan mengedar keseluruhan tamu undangan.
''Sah!'' seru para saksi secara bersamaan.
Kini, Hanung dan Resti sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Netra Ida berkaca-kaca, dia merasa begitu terharu menyaksikan Hanung dan Resti sudah resmi menjadi suami istri. Ida sudah tidak sabar lagi ingin memiliki cucu laki-laki dari Resti dan Hanung dan dia sudah tidak sabar lagi ingin mendepak Indah dan Husein dari kehidupan Hanung.
Ida mengambil foto Hanung dan Resti yang tengah duduk saling berhadapan, dan saat Hanung mengecup kening Resti, Ida memotret nya lagi. Lalu dia mengirimkan foto hasil potretan nya kepada Indah.
Namun, beberapa menit setelah itu Ida dibuat kesal, karena foto yang dia kirim tak kunjung berubah centang biru dua.
Dia permisi kebelakang, lalu saat sudah jauh dari keramaian, dia mencoba menghubungi nomer Indah, dan ternyata nomer ponsel menantu yang di bencinya sudah tidak aktif lagi.
''Ah, palingan nanti juga aktif lagi nomernya. Mungkin hp nya sekarang lagi di cas,'' ucap Ida di dalam hati.
Lalu dia berjalan lagi menghampiri Hanung dan Resti.
Sepasang pengantin baru tersebut lalu sungkeman kepada Ida.
Ida menangis terisak saat kedua anak yang dia sayangi mencium tangannya, memohon doa restu.
__ADS_1
Bersambung.