Selalu Direndahkan Keluarga Suami

Selalu Direndahkan Keluarga Suami
Part 20


__ADS_3

Benar saja, sore harinya sepulang dari kantor Hanung tidak langsung pulang ke rumah, tapi dia mencari keberadaan Indah dan Husein. Dia sudah mencari Indah dan Husein ke rumah teman-teman terdekat Indah, tetapi tetap tidak dia temukan keberadaan wanita yang sering dia rendahkan itu.


Malam harinya dia pulang ke rumah, berharap di rumah dia menemukan keberadaan Indah dan Husein, berharap anak dan istrinya sudah pulang, tetapi hasilnya nihil, Hanung semakin kebingungan sendiri di buat nya.


Dia duduk di ruang keluarga rumahnya. Kini, rumah tersebut terasa sunyi sepi.


Anehnya Indah pergi tidak membawa sepeserpun harta milik Hanung. Surat rumah, motor dan benda berharga lainnya masih ada di tempat nya.


Hanung masih terus kepikiran di mana Indah bisa mendapatkan uang untuk mengurus proses gugatan cerai dan pergi ke luar kota, karena dia tahu untuk semua itu bukan lah hal yang mudah. Butuh biaya yang lumayan banyak apalagi Husein yang juga sudah pindah sekolah.


''Jangan sampai Husein berhenti sekolah. Ah, tidak,'' gumam Hanung seraya menggeleng kecil. Pikirannya jadi ke mana-mana, sekarang dia malah kepikiran kalau Indah menjadikan anak nya sebagai seorang pengemis di lampu merah. Ada ada saja memang.


Sedari tadi ponsel Hanung terus berdering nyaring menandakan ada panggilan masuk, tapi Hanung abaikan. Tapi karena Resti tak kunjung berhenti menghubungi nya, akhirnya Hanung mengangkat panggilan tersebut dengan malas.


''Iya Sayang,'' jawab Hanung. Lalu setelah itu dia sedikit menjauhkan ponsel dari telinga, karena suara Resti yang merepet kayak petasan memarahi dia.


''Iya, sebentar lagi Mas akan pulang,'' ucap Hanung lagi, lalu panggilan diakhiri.


* * *


Hanung mengendarai kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, tatapan matanya melihat ke kiri ke kanan, berharap melihat keberadaan Indah dan Husein, tetapi tetap saja dia tidak menemukan mereka.


Sesampainya di rumah, Resti menyambut kepulangan nya dengan wajah merenggut.


Hanung yang memang lagi capek dan pusing kepala nya semakin bertambah kacau keadaan saat melihat Resti yang bertingkah.


Hanung sama sekali tidak berniat untuk membujuk dan menyapa Resti. Dia berjalan melewati Resti begitu saja, lalu masuk ke kamar, dan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi.


Resti menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, dia tidak terima sang suami mengabaikan nya.


Ida yang mengetahui hal itu lalu langsung membujuk Resti, agar Resti tak marah lagi.


''Sudah, ayo kita duduk dulu, Sayang. Hanung butuh waktu untuk menerima semuanya,''


''Iya Ma. Tapi dia terlihat sangat berlebihan. Seharusnya dia senang dengan kepergian dua benalu itu, tapi ini kok malah sedih,''

__ADS_1


''Sudah. Sudah. Nanti kita bicarakan hal ini sama dia,'' Ida mengelus punggung sang menantu kesayangan.


Resti lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Ida, dia memang sudah terbiasa bermanja-manja bersama sang mertua.


Di kamar mandi, Hanung berdiri dibawah shower yang air nya terus mengalir membasahi tubuh. Tidak hanya air dari shower yang mengalir, tetapi air matanya juga mengalir.


Dia masih tetap tidak menyangka Indah berani meninggalkan nya. Karena yang dia tahu Indah sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia, pun saudara saudara dia tak punya. Hanung masih belum mengetahui tentang pekerjaan Indah selama ini.


*


Di meja makan, saat makan malam, Hanung masih tetap bungkam. Dia masih tetap enggan untuk berbicara. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Bahkan sapaan dan panggilan dari Cantika dia abaikan.


Melihat itu, Resti menjadi tambah kesal karena nya. Resti mencak-mencak marah.


Ida hanya bisa menarik nafas dalam.


Saat makanan di piring Hanung sudah habis, dia berdiri, hendak masuk ke kamar, lalu Ida bersuara.


''Nung, jangan ke kamar dulu. Tunggu Mama di ruang keluarga, kita perlu bicara,'' kata Ida lembut, dan Hanung mengangguk lemah. ''Iya, Ma,'' jawabnya.


''Indah dan Husein pergi, ya?'' tanya Ida memulai obrolan.


''Iya, Ma,'' Hanung menghembus nafas kasar.


''Ke mana?'' tanya Ida lagi. Sementara Resti hanya diam menyimak.


''Aku tidak tahu Ma. Dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu aku. Dia hanya meninggalkan surat di atas laci kamar bersama dengan surat gugatan cerai,'' jelas Hanung dengan wajah sedih. Mendengar itu, senyuman Ida dan Resti terbit.


''Dia menggugat kamu, Nung?''


''Iya, Ma,''


''Duh, nekat juga dia, ya,''


''Hm,''

__ADS_1


''Nung, kalau dia sudah tidak ingin lagi hidup bersama kamu, ya lepaskan saja. Toh, yang meninggalkan kamu duluan 'kan dia, bukan kamu. Suatu saat nanti, yang pergi pasti akan kembali dengan sebuah penyesalan. Dia dan anaknya tidak akan sanggup hidup di luar, dunia ini keras untuk dijalani kalau kita tidak punya kemampuan apa-apa, apalagi Indah yang hanya sekolah sebatas SMA. Palingan dia hanya bisa bekerja sebagai pembantu untuk mencukupi kebutuhan nya dan Husein. Sudahlah, dia sudah memilih jalan yang sulit, jadi tanggung resiko sendiri. Tidak usah kamu pikirkan lagi. Yang perlu kamu utamakan sekarang adalah Resti dan Cantika,'' Ida menasehati seraya mengelus punggung Hanung.


''Tapi kasihan Husein, Ma. Aku takut dia berhenti sekolah,''


''Ya biarkan saja. Toh Ibunya sendiri yang membawanya menuju jalan kesusahan,'' ucap Ida enteng.


Mendengar itu, Hanung berpikir lagi, dan berpikir apa yang dikatakan oleh sang mama ada benarnya juga.


*


Pagi hari yang cerah.


''Kerja yang benar. Jangan cari-cari Indah dan Husein lagi, buang-buang waktu saja. Kamu fokus saja sama pekerjaan mu,'' ucap Ida.


''Iya Ma,'' saat berbicara sama Ida, Hanung selalu manut, tanpa adanya bantahan sedikit pun yang keluar dari mulutnya.


''Mas pergi ya,'' Hanung pamit kepada Resti. Hubungan mereka sudah kembali membaik karena tadi malam Resti sudah memberikan pelayanan terbaik untuk sang suami, sehingga membuat sang suami kembali tunduk pada dirinya.


''Iya Sayang. Hati-hati kamu nya,'' ucap Resti.


Setelah itu Hanung berangkat dengan mengendarai kendaraan roda empat miliknya.


''Ma, ayo kita siap-siap,'' Resti dan Ida masuk ke dalam rumah.


''Iya Sayang,'' sahut Ida.


Mereka akan pergi ke rumah yang di tempati oleh Hanung dan Indah selama ini. Mereka akan menguasai rumah itu. Dan kunci rumah sudah berada di tangan Resti setelah tadi malam dia membujuk Hanung meminta kunci tersebut.


* * *


Di tempat berbeda.


''Iya Pak. Jadi besok 'kan, ya?'' tanya Indah. Dia sedang berbicara sama seseorang lewat sambungan telepon.


''Iya Bu Indah. Besok, pagi-pagi sekali akan ada orang kami yang akan menjemput Bu Indah, Bu Indah tenang saja, karena semuanya sudah ditanggung oleh manajemen kami, Bu Indah tinggal duduk manis saja,'' jelas pria tersebut. Setelah berbincang-bincang sebentar akhirnya panggilan diakhiri. Besok Indah akan berangkat ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan produser yang mengontrak novelnya untuk dijadikan film layar lebar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2