
Beberapa jam yang lalu saat Rasyid menunggu David mengambil motornya
"Syid, aku duluan" kata Shereen lewat bersama ayahnya dengan menggunakan mobi avanza hitam
ayah shereen yang melihat shereen menyapa seseorang menjadi penasaran
"Siapa dia?" Tanya ayah shereen dengan nada yang dalam
mendengar pertanyaan ayahnya shereen tampak menjadi gugup
"Teman sekelas yah" Jawab singkat shereen
"Kamu tidak melepaskan topeng mu kan?" tanya ayah shereen serius
"umm, tidak yah" jawab shereen dengan gugup
"Bagus, jangan sampai ada yang tau tentang identitas dirimu yang asli. kamu harus ingat kalau kamu sudah dilatih sejak masuk kelas 3 SD dulu, jadi jangan sia siakan usaha keluarga mu" jelas ayah shereen
"Baik yah, aku tidak akan melepaskannya" kata shereen
"...."
setelah beberap saat hening, ayahnya meliriknya dari cermin dalam mobil, kemudian..
"Darah siapa yang ada dibajumu?" tanya ayahnya
(Ugh, sial, kenapa aku tidak sadar kalau ada darah di baju ku, kalau begini sudah tidak bisa beralasan lagi) pikir shereen
"Kakak tingkat yah" jawab shereen
"hmm, kamu berkelahi?"
"Ya ayah, sedikit" jawab shereen
"Berapa orang?"
Ayah shereen merupakan seorang yang tipikalnya tidak akan bertanya mengenai alasan kenapa berkelahi, ia tidak perduli apakah putrinya benar atau salah, dia hanya memikirkan menang dan kalah.
"20 orang yah"
"Apa kamu mengeluarkan semuanya?"
" Tidak yah, aku menahan setengahnya"
mendengar tanggapan shereen , ayahnya mengangguk puas. sedangkan shereen yang melihat anggukan puas ayahnya akhirnya merasa legah, ia tidak tau akan jadi apa dirinya kalau ayahnya tidak puas dengan jawabannya.
"kalau begitu pertanyaan terakhir" kata ayahnya
mendengar perkataan ayahnya tersebut, shereen yang awalnya sudah legah kembali menjadi tegang, ia takut kalau ayahnya tidak puas dengan jawabannya, dan juga dia tidak berani berbohong kepada ayahnya karena takut risiko yang akan terjadi nantinya kalau dia ketahuan berbohohong.
" Anak laki laki tadi juga ikut kan? dan siapa lagi yang terlibat? dan bagaimana menurut mu tentang mereka dibandingkan dirimu?"
(Huft aku harus tenang, jangan sampai melebih lebihkan) pikir shereen mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Yah ayah, dia juga ikut, dan ada satu lagi anak cowok yang terlibat, dan untuk kemampuan mereka , mereka cukup kuat " jawab shereen seadanya
(mana bisa kedua orang itu disebut cukup kuat, tentu saja mereka justru harus disebut sangat kuat, saat perkelahian sebelumnya masih kelihatan jelas kalau mereka juga menahan kekuatan mereka) pikir shereen
"kalau kamu mengatakan mereka cukup kuat, berarti ada kemungkinan mereka juga dilatih secara khusus oleh keluarganya, dan ada kemungkinan keluarganya adalah keluarga ahli tersembunyi , jadi perhatikan terus keduanya, hindari kontak yang berlebihan , dan tetap jaga identitasmu" kata ayahnya
"Baik ayah" jawab shereen legah setelah mengakhir introgasi ini
__ADS_1
Setelah membahas hal ini dengan ayahnya, shereen jadi kepikiran kembali mengenai kejadian tersebut
"David dan Rasyid" kata shereen pelan
(Saat itu, aku sempat melihat, David yang awalnya sudah mengambil ancang ancang untuk memukul hingga terlihat kepalannya itu bergetar, namun sebelum pukulannya hendak mendarat ia langsung mengurangi kekuatannya )
(aku yakin mungkin dia hanya mengeluarkan 20% dari kekuatan pukulan aslinya, tapi pukulan yang outputnya hanya 20% itu masih bisa membuat kakak tingkat itu terbang seperti itu,betapa mengerikannya pukulan itu)
(haa... (menghela nafas) aku tidak tau apa yang akan terjadi , kalau misalnya 100% kekuatan pukulannya ditujukan kepadaku , bahkan jika harus mengeluarkan seluruh kekuatan ku mungkin pukulan itu tidak akan berhenti bahkan sampai tulang tangan ku patah) renung shereen
(Sedangkan Rasyid, terlihat sekali kalau dialah yang paling rileks diantara kami saat itu,seolah olah dia sudah terbiasa bertarung dengan banyak musuh sekaligus. walaupun kami sama sama bertarung dengan kakak tingkat, terlihat jelas kalau dia masih mengawasi punggung kami, bahkan pada saat itu) pikir shereen
"Seolah olah kau sudah terbiasa melindungi rekan rekan mu saat bertarung" gumam shereen pelan
---------------------------------------------------
Sore hari , ruang kelas 8A
"Baik itu saja hari ini, saya harapkan kalian mempelajari apa yang sudah diajarkan disini di rumah kalian, sehingga saat kita bertemu lagi tidak ada diantara kalian yang membuat saya memberikan hadiah push up lagi secara cuma cuma i" kata pelatih anton
setelah kepergian pelatih anton kelas awalnya sunyi tiba tiba menjadi riuh
"waah bangsa , akhirnya selesa juga, si bangst itu bahkan tidak membiarkan kita isitrahat sedikit pun"
"Wah akhirnya.. aku tidak akan ikut pramuka lagi kalau tau pelatihya seperti ini, mana mungkin bisa tenang kalau tiap saat kena hukum"
"Ya kau benar, bahkan rachel yang polos dan tidak melakukan apapun masih kena hukuman push up sama si pria busuk itu!!"
Tampak jelas bahwa keberadaan pelatih anton bukanlah hal yang baik bagi para murid yang ingin mengikuti atau mencoba kegiatan pramuka
"Haah, leganya" kata Rasyid
"Hahaha, benar benar pelatihnya, ngajakin ribut mulu" kata David
"Wah, kamu benar Syid"
tiba tiba kedua orang itu menyatukan tangannya layaknya seorang biksu dan menundukan kepala
"Turut berduka cita" kata mereka berdua memikirkan orang tuanya anton
Setelah bercanda untuk beberapa waktu, David dan Rasyid akhirnya pulang, seperti sebelumnya David mengantarkan Rasyid pulang ke rumahnya dengan menarik perhatian malaikat kematian saat dijalan, untungnya malaikat kematian tidak sedang bertugas saat itu.
"Vid, sekedar saran, lain kali tolong, berkendaralah dengan santai, jangan terburu terburu, jangan sampai menarik perhatian manusia lain apalagi perhatian malaikat maut" kata Rasyid
"Hahah, santailah itu syid, mana mungkin bawa kawan ngebut ngebut dijalan kan?" respon David
(Hadeh, Keras kepala anak ini) pikir Rasyid
(hahaha bocah yang menarik) kata Gig
"Aku duluan syid, bye" kata David
"oke hati hati dijalan brother" jawab Rasyid
--------------------------------------------------------------------------
Sesampainya David di gerbang depan rumah kakeknya, ia melihat rumah kakeknya gelap dan tidak ada lampu yang hidup meski sudah jam setengah 7 malam saat itu.
"Hmm mencurigakan" kata david sambil mendorong masuk motornya melalui gerbang
Setelah memasukkan motornya ke dalam garasi, David menggedor pintu beberapa kali, namun tidak ada respon apapun setelahnya.
__ADS_1
(tampaknya belum ada orang yang pulang ke rumah) pikir david
kemudian ia memakai kunci cadangan untuk membuka pintu rumah kakeknya
Ceklek ! Ceklek !
"aku masuk " kata David
Swissh !!
"Wah KAKEK GIlAA !!" teriak David
Seketika saat David melangkah masuk ke dalam rumah kakeknya yang gelap, ia langsung mendapati dirinya diserang oleh tebasan vertikal sebuah parang.
Whoss !!
Whoss !!
Whoss !!
serangan yang secara konstan menyerang David terus terusan dilancarkan dari berbagai macam sudut dan arah.
Kepala, badan, tangan , dan kaki, semua serangan bertujuan untuk membunuh ataupun melumpuhkan
setelah beberapa saat, akhirnya serangan itu berhenti
"Hohoho sangat baik sangat baik, bagaimana menurutmu sambutan kakek?" kata kakek David
"Wah sial, Kakek Gila, kakek macam apa yang menyambut cucunya yang pulang dengan tebasan parang?" kata David marah
"Hahaha, jangan marah, kan kamu bisa menghindari semuanya"
"Gilaa, mana mungkin aku ga menghindari serangan brutal itu. Dulu waktu aku sengaja ga menghindari serangan kakek, kakek masih tetap mengayunkan pisau ke arah ku, bahkan hingga darah bercucuran pun kakek masih mengayunkannya. jadi coba jelaskan alasan kenapa aku ga menghindari serangan kakek?
-------------------------
Nama: Rasyid Alfariz
Lv; 3
Class: -
Hp: 135/135
Stm: 150/150
Atk : 44
def : 27
hit : 25
int : 17
Spd : 30
Res : 20
GP: 270
Terimakasih telah setia membaca hingga BAB atau Chapter yang ke 23 ini, mohon kepada para pembaca untuk meninggalkan komentar dan likenya apabila suka dengan karya ini. pastikan untuk menyampaikan komentar yang membangun ya agar author tau apa yang perlu diperbaiki dalam karya ini
__ADS_1
sekali lagi terimakasih