Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Jalan Terang


__ADS_3

Taman buatan disamping rumah Yumni menjadi tempat favorit baru untuk Amra. Sudah dua minggu lamanya ia berada di Jakarta. Persediaan uang yang ia bawa semakin menipis, sejak saat itu sampai dua minggu ini, Amra tak pernah kenal lelah berusaha mencari pekerjaan. Dengan harapan, meskipun ia tak akan bisa menemukan pekerjaan tetap, setidaknya ia bisa menemukan pekerjaan sampingan untuk menyambung hidup. Namun lagi-lagi, semua itu tak semudah yang direncanakan.


Ia bahkan merasa bingung akan dirinya sendiri. Apa yang salah dengannya? Semua menolak saat ia bertanya, dengan berbagai macam alasan. Dari mulai kuota sudah penuh sampai pada cara berpakaian Amra saat ini. Rata-rata mereka keberatan dengan apa yang dipakainya sekarang. Mungkin mereka mengira Amra tidak akan cekatan dengan memakai gamis panjang dengan jilbab panjang pula itu. Tapi, bukankah mereka terlalu melihat penampilan fisik dibandingkan kemampuan? Amra sudah terbiasa seperti ini, sudah tujuh tahun lamanya ia berpakaian seperti ini, dan tak ada satupun pekerjaan yang ia lakukan dengam kerepotan.


Tapi Amra bukanlah tipe penggila dunia, ia tetap pada komitmen awalnya meskipun sedikit ia sempat goyah dan merubah penampilannya saat bekerja saja. Ketika itu, ada sebuah toko kue yang menerimanya bahkan gaji yang ditawarkan sudah lumayan. Namun sang pemilik toko mengajukan persyaratan, dia mengatakan jika tak apa Amra berpakaian seperti itu, tetapi saat bekerja dia tak menginginkan Amra memakai pakaian syar'i seperti itu, sang pemilik toko bahkan memberi kelonggaran lebih, ia masih memperbolehkan Amra untuk mengenakan hijab namun tentunya dengan yang lebih pendek dari yang ia pakai. Ketika Amra menawarkan ingin tetap memakai rok, pemilik toko memperbolehkannya, ia hanya perlu memperpendek hijabnya.


Ada setitik rasa tenang dalam dadanya, pemilik toko memintanya untuk mulai bekrja esok hari. Amra kembali pulang dengan perasaan bahagia kala itu. Rasa syukur terus ia ucapkan dalam hati. Usahanya tak sia-sia, ia yakin bahwa Tuhan akan menolong orang-orang yang berusaha keras.


Begitu sampai di rumah Yumni, Amra segera memasuki kamarnya dan memeriksa semua baju yang ia bawa. Namun tak satupun ia menemukan pakaian yang bisa ia pakai untuk bekerja besok, Amra menghela dan sedikit kecewa. Ia sudah mendonasikan semua baju yang sedemikian tujuh tahun yang lalu, mau membeli juga ia tak punya cukup uang


"Apalagi sekarang?" Keluhnya tanpa terasa


"Ada apa Ra?" Amra menoleh cepat menerima pertanyaan itu


"Sebuah toko kue menerima lamaran pekerjaanku dengan syarat aku tidak berpakaian syar'i seperti ini. Tapi pemilik toko masih memperbolehkan aku memakai hijab dan rok..." Yumni yang berdiri di ambang pintu itu melangkah masuk dengan yakin dan menatap sahabatnya itu. Ada sedikit rasa tak percaya tersirat di kedua matanya


"Dan kamu akan lakuin itu?" Tanyanya setelah duduk disebelah Amra. Amra mengangguk mantap


"Kamu ada gak? Aku boleh pinjem?"


"Harus banget kamu nerima pekerjaan ini?"


"Kok kamu nanya kayak gitu sih Yum?" Amra balik bertanya dengan tersinggung, ia bahkan sekarang merasa kebahagiaannya tadi menguap entah kemana


"Aku serius tanya seperti ini, kamu bahkan menolak pekerjaan dari Hafidz yang tidak menuntut apapun ke kamu! Dan sekarang kamu menerima pekerjaan yang bahkan mengekangmu dalam hal yang aku yakin membuatmu tak nyaman! Kamu yakin?" Amra terdiam dan tampak bimbang mendengar pernyataan santai dari sahabatnya itu


"Mau bagimana lagi Yum.... Aku gak bisa terus nganggur" Yumni menarik nafas panjang, ia kecewa sekali lagi dengan keputusan Amra ini


"Ok! Aku ambilin dulu di kamar!" Yumni beranjak, meninggalkan Amra yang tampak semakin bimbang. Ada benarnya ucapan Yumni itu, namun sisi lain dalam hatinya mengatakan jika yang ia lakukan ini tak salah.


Sesaat kemudian Yumni datang dengan setumpuk pakaian yang dimaksudkan oleh Amra, berikut dengan hijab pendek yang sesekali Yumni pakai untuk menghadiri acara yang mengharuskannya berpakaian sopan


"Pakai aja gak usah kamu pinjem kalau kamu merasa nyaman..." Setelah meletakkan itu di kasur, Yumni kembali beranjak tanpa membiarkan Amra mengatakan sepatah katapun. Amra memandangnya dengan sendu, sikap Yumni ini menohok hatinya dengan keras, kemudian ia lirik tumpukan pakaian itu.

__ADS_1


Sementara itu di kamar, Yumni beberapa kali menghela untuk menenangkan perasaannya. Ia sangat kecewa dengan keputusan Amra saat ini. Lebih kecewa dari keputusan Amra menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Hafidz.


"Aku ngga nyangka banget kamu bakalan buat keputusan kayak begini Ra...."


Amra masih tak mengalihkan pandangannya pada tumpukan pakaian dari Yumni itu. Hingga beberapa saat kemudian, Amra mencoba satu stel pakaian itu dan mematut dirinya di depan cermin. Lama menatap dirinya yang lain, membayangkan ia akan berjalan keluar dengan pakaian yang tak biasa ia kenakan itu dengan sendu. Ada yang hilang dalam dadanya. Amra menunduk saat merasakam ketidak nyamanan yang Yumni sebutkan tadi. Pantas Yumni sangat kecewa? Ia bahkan merasa jika dirinya telah mempermainkan keyakinannya, seketika airmatanya menetes menyesali apa yang ia putuskan tanpa pikir panjang. Ia bahkan terus berusaha untuk tetap istiqomah dengan proses perbaikan dirinya, dan sekarang dengan mudah ia akan melupakan perjuangannya melawan nafsu itu. Dan malam itu juga, Amra mengembalikan pakaian Yumni bahkan sebelum airmatanya mengering. Tentu ia mendapat sambutan penuh tanya dari Yumni


"Kamu benar-benar sahabatku Yum.... Terimakasih banyak sudah membuka pikiranku lagi...." Ucapnya dengan tetes air mata, Yumni tersenyum dan mendekat


"Aku tahu bagaimana perasaanmu Ra, tentu semua ini sangat sulit untuk kamu lalui, aku ngerti kenapa kamu ambil keputusan ini.... Kamu harus ingat niat awal kamu" Amra mengangguk berkali-kali saat Yumni memegang kedua bahunya dengan hati yang kembali bergejolak. Ia tak mengerti apa arti dari gemuruh dalam dadanya ini, hanya saja ia selalu ingin menangis saat perasaan ini datang. Lagi-lagi Amra membuat hatinya tersentuh.


......


Secangkir teh hangat ia letakkan di depannya. Tangannya begitu lincah menulis kata demi kata dalam sebuah buku yang tak pernah ia tinggal kemanapun ia pergi. Sejenak ia berhenti saat otaknya tak menemukan kata yang pas untuk ia bubuhkan. Amra menengadahkan kepalanya ke langit, malam ini lumayan cerah, angin juga berhembus pelan membawa sedikit rasa sejuk di tengah panasnya cuaca. Dibandingkan dengan AC Amra lebih menyukai hembusan angin ini


"Nih... Pake aja punyaku..." Amra terkejut dan menoleh kearah suara, ia tak tahu kapan Yumni datang, hanya saja sekarang dia sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan sebuah laptop


"Yum?"


"Gimama kamu tahu aku lagi nulis novel? Aku kan gak pernah cerita-cerita ke kamu?"


"Sorry ya... Aku udah baca-bacain tuh karangan kamu di buku-buku yang ada di kamar kamu...! Aku penasaran lanjutannya, beneran lho Ra, kamu buat aku mewek tahu gak?"


"MasyaaAllah..."


"Seharusnya kamu cerita kalau kamu punya bakat sebagus ini, siapa tau aku bisa bantu...."


"Ya Allah... Alhamdulillah! Terimakasih banyak lho Yum...."


"Oh iya, gimana? Sudah ada panggilan kerja lagi?" Amra menggeleng sembari tersenyum kecut


"Ngga apa-apa...! Mungkin rejeki kamu ada di tulisan-tulisan kamu ini!"


"Aamiin..."

__ADS_1


Memang sejak ia memutuskan mundur dari tawaran di toko kue itu, Amra masih tak kunjung menemukan pekerjaan. Dan ia pergunakan waktu luangnya untuk menulis, membersihkan seluruh rumah Yumni ketika sahabatnya itu berangkat bekerja. Apapun ia akan lakukan dalam rumah itu, setidaknya ia sedang berusaha untuk tidak menjadi benalu yang hanya numpang makan dan minum. Meski sebenarnya Yumni tak mengijinkannya melakukan itu karena ada pekerja rumah tangga yang akan membantu untuk pekerjaan rumah. Karena itu Amra melakukannya saat Yumni pergi bekerja.


Keesokan paginya.....


Ponsel jadul milik Amra berdering saat Yumni memasuki kamar sahabatnya itu. Tak ada Amra dimanapun, Yumni yang awalnya berniat untuk mengambil charger nya yang tertinggal semalam, beralih menerima telepon yang masuk itu. Karena ia pikir, dering telepon sangat berarti bagi Amra untuk saat ini


"Halo... Iya waalaikumsalam..." Jawabnya kemudian terdiam mendengarkan seseorang diseberang sana berbicara


"Diterima? Beneran ini mbak? Ok mbak siap! Ok... Terimakasih banyak ya mbak! Waalaikumsalam...."


"Yesss!!!"


Yumni mengepalakan kedua tanyannya dan melompat untuk mengekspresikan kegembiraannya. Ini kabar bahagia, ia harus segera menyampaikannya pada Amra


"Amra....! Ra!!!" Panggilnya sambil melangkah mengeluari rumah. Mungkin karena bahagia, Yumni tak sadar telah mengeraskan suaranya untuk memanggil sahabatnya itu


"Ra!!! Dimana sih kamu???"


"Ada apa sih Yum, kok teriak-teriak?" Tanya Amra dengan suara lembut sembari mendekat, ia sedang berada di dapur untuk membantu mbak Ina untuk membuat sarapan


"Kami diterima Ra..."


"Apa?"


"Kamu diterima kerja! Kamu pasti gak akan lupa kalau kamu pernah naruh lamaran di tempat penitipan anak kan? Kamu di terima....!"


"Alhamduliah ya Allah...."


"Sebaiknya kamu siap-siap sekarang! Jam delapan nanti kamu harus kesana untuk interview... Aku anterin!" Amra mengangguk dengan wajah yang berseri, setelah itu beranjak.


Akhirnya sampailah ia pada sebuah jalan yang terang, kegundahannya berakhir. Kali ini ia merasa Allah telah menjawab doanya. Pertemuan dengan pemilik tempat penitipan anak pagi itu, meyakinkan Amra jika ini pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang cocok untuknya. Tak ada syarat yang menyulitkan, mereka menerima Amra dengan apa adanya. Justru mereka begitu senang jika bisa memiliki seorang karyawan yang santun seperti dirinya. Ia akan mulai bekerja esok hari, dimulai dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima sore. Tak masalah seberapa lama ia harus bekerja, ia sudah sangat bersyukur diberikan pekerjaan seperti ini.


*******

__ADS_1


__ADS_2