
Langit jingga kemerah-merahan sore itu menjadi saksi semakin padatnya jalanan ibu kota. Mobil-mobil, kendaraan umum dan juga motor tampak berbaris antri untuk melalui sebuah jalan. Hari telah menginjak petang, mereka semua pasti terburu-buru ingin segera sampai di rumah. Namun apa daya macet menjadi penghalang pertama mereka untuk sampai pada tujuan. Tapi beruntung, salah satu pemilik mobil yang berbaris telah berhasil melewati semua kebosanan itu. Seakan tahu sang pemilik telah lelah, jalan seakan terbuka lebar untuk dilewati.
Mobil berwarna hitam kelam mengkilat itu melaju lancar dengan ditemani keceriaan di dalamnya. Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun itu berceloteh menemani sang ayah yang tengah berkonsentrasi menyetir. Sesekali sang ayah menimpali celoteh putri semata wayangnya itu, sesekali pula ia tertawa saat putrinya begitu ekspresif bercerita. Tak jarang pula bibirnya membentuk senyuman hangat saat putrinya mulai bernyanyi lagu anak-anak yang diperolehnya dari paud tempat ia belajar
"Shireen senang hari ini? Papah lihat Shireen bahagia sekali?" Bocah cantik itu mengangguk
"Karena papah yang jemput Shireen...." Pria dewasa yang dipanggil papah itu tesenyum dan mengelus kepala putrinya yang bernama Shireen itu
"Jadi.. iyum sakit apa?"
"Tadi iyum bilang kalau kepalanya pusing.."
"Nanti Shireen pijitin..." Tawa renyah sang ayah menjadi tanggapan dari pernyataan itu
"Boleh.."
"Pah... Ada bunda baru!"
"Ibu guru baru?"
"Bukan pah.... Bunda baru..." Shireen terbiasa memanggil pengasuhnya di tempat penitipan anak dengan sebutan bunda, dan sepertinya sang ayah kurang mengetahui itu
"Oh iya?"
"Cantik, baik..."
Mobil berhenti ketika mereka telah sampai di depan rumah. Dengan sabar dia melepaskan sabuk pengaman putrinya sebelum keluar dari mobil. Setelah itu ia keluar dan membukakan pintu mobil untuk putri kecilnya. Langit sudah menandakan hari sudah semakin sore. Dia menuntun tangan mungil sang buah hati memasuki rumah
"Assalamuaalaikum..."
__ADS_1
"Ah... Walaikumussalam cantik...." Seorang wanita berusia sekitar 24 tahun menyambut kedatangan mereka. Shireen hanya tersenyum bahagia dan beranjak menuju kamarnya
"Yu..." Panggilan itu menghentikan langkah wanita 24 tahun bernama Ayu itu
"Ada apa mas Fatih?"
"Kamu udah baikan?" Ayu tersenyum dan mengangguk
"Shireen bilang mau mijitin kamu tadi..."
"Oiya? MasyaaAllah... Manis banget anak kamu ini mas! Sebentar ya aku bantu dia dulu, setelah itu aku siapin makan malam..."
"Siap!"
Di dalam rumah yang tak bisa dikatakan kecil itu mereka hanya tinggal bertiga. Dan mereka tampak harmonis dari luar, ya... meskipun dari dalam mereka lebih harmonis. Rumah sepi itu, menjadi lebih berwarna dan ceria semenjak Shireen tumbuh semakin besar dan sangat ceria. Gadis kecil nan ceria yang mampu menghilangkan rasa lelah sang ayah sepulang bekerja, gadis kecil nan pengertian. Entah bagaimana bocah ini tumbuh dengan begitu baik. Meskipun tak ada sedikitpun campur tangan sang ibu untuk merawatnya hingga sebesar ini.
Fatih. Benar Fatih adalah ayahnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang putri cantik yang begitu menggemaskan. Tujuh tahun memang bukan waktu yang sebentar. Pada waktu itu Fatih memutuskan untuk menikah muda, dengan seorang wanita jawa yang anggun dan cantik. Pernikahan mereka berjalan harmonis dan bahagia. Mereka bertemu saat sama-sama mengikuti seminar di kampus yang sama, awalnya mereka hanya berteman. Dan tanpa disangka, kedua orang tua mereka mempertemukan mereka dalam sebuah proses perjodohan.
Meskipun sebenarnya, ia sama sekali belum melupakan perasaan masa SMA itu. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada Amra. Namun bukan berarti ia menjadikan istrinya sebagai pelampiasan karena cintanya yang tak sampai itu.
Pulang sekolah bukan tanda untuk Shireen beristirahat. Bocah cerdas dan aktif ini akan lebih senang untuk bermain di dalam rumah bersama Ayu –sang iyum– gadis jawa yang memiliki paras dan pribadi yang ayu seperti namanya. Sejak satu tahun yang lalu, semenjak pertemuan pertamanya dengan Shireen, ia mendapat panggilan kesayangan itu. Wanita mana yang tidak bahagia mendapat panggilan seperti itu, namun rasa bahagia Ayu tak sebanding dengan rasa sedihnya.
Sedih? Mengapa ia harus sedih? Tentu ada cerita dibalik kesedihan yang Ayu rasakan. Panggilan itu bukanlah dari hati terdalam Shireen, itu hanya panggilan di bibir saja. Bukan ia menyalahkan gadis kecil ini, ia lebih menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun pada kenyataannya tak perlu ada yang dipersalahkan.
Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, setelah menidurkan Shireen di kamar, Ayu menghampiri Fatih yang tampak sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Secangkir teh hangat ia bawa bersama sebuah sunggingan senyum manis. Fatih mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada Ayu yang kini sudah duduk di sampingnya
"Sepertinya kamu semakin sibuk?" Ujar Ayu membuka percakapan
"Kenapa? Kamu merasa kesepian?" Ayu tak menjawab dan menyerahkan teh tersebut pada Fatih
__ADS_1
"Makasih" Fatih menerima cangkir teh itu dan meminumnya
"Teh buatan kamu selalu terasa pas di lidah, apa kamu mengukur dengan teliti?" Ayu tertawa kecil
"Mas..." Fatih membalikkan badan dan menyamankan duduknya, bersiap untuk mendengarkan
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Kenapa sih? Serius banget?"
"Apa kamu mencintai aku?" Senyuman di wajah Fatih menghilang perlahan mendengar pertanyaan itu. Bukan ia tak suka dengan pertanyaan itu, ia hanya merasa aneh saja karena tiba-tiba Ayu menanyakan hal ini. Berbeda dengan Fatih, Ayu justru masih mempertahankan senyumannya
"Kenapa kamu tanya begitu Yu? Kamu kan istri dan ibu dari anakku, tentu saja aku mencintai kamu" Ayu menghela pelan dan tersenyum
"Sudah tidak diragukan jika itu alasan kamu mas, tapi apakah kamu mencintaiku sebagai seorang wanita?" Giliran Fatih yang menghela, namun kali ini ia sertai dengan sebuah senyuman manis
"Ada apa Yu? Ada yang mengganjal pikiranmu? Tidak biasanya kamu seperti ini?"
"Mas, aku merasa sangat tidak sempurna sebagai seorang wanita" kini Ayu menunduk dan tampak sedih
"Apanya yang tidak sempurna? Kamu sudah melengkapi hari-hariku selama ini, kamu juga sudah melahirkan seorang putri cantik dan pintar sepertimu! Itu sudah cukup"
"Aku belum pernah menjadi seorang ibu mas, ini benar-benar membuatku merasa sangat sedih..." Ayu meneteskan airmata kesedihannya
Fatih mendekat dan merangkul istrinya itu dengan penuh sayang. Apapun yang terjadi dengan masalalunya, kini Fatih adalah seorang suami dan kepala keluarga. Tak sepatutnya jika ia terus tenggelam dalam masa lalu.
"Tidak sempat merawatnya dari bayi, bukan berarti kamu gagal menjadi seorang ibu. Jangan pernah salahkan diri sendiri, jangan pernah menyalahkan takdir yang sudah terjadi ini. Perlahan Shireen akan mengerti, dia hanya tak terbiasa"
Ayu menunduk dengan sedih. Memang benar, bukan kesalahannya jika ia harus sakit dan butuh perawatan lama hingga ia melewatkan perkembangan Shireen. Tho Fatih juga sudah mengenalkan dirinya pada Shireen dengan begitu baik, buktinya begitu melihat ia datang Shireen langsung menyebutnya Iyum. Yang berarti adalah ibu, dalam bahasa jawa ibu biasa disebutkan dengan biyung, namun keterbatasan lidahnya waktu itu membuat Shireen menyebutnya dengan iyum. Tapi ia merasa jika, panggilan itu belum datang dari hati Shireen, bukan berarti gadis kecil itu salah, ini hanya perasaannya saja. Saat ini juga, ia masih tak begitu sehat, kelelahan adalah musuh utamanya. Hingga Fatih mengharuskan Shireen di titipkan di tempat penitupan anak selagi Fatih bekerja. Karena tubuhnya yang ringkih ini, Ayu tak bisa maksimal merawat Shireen. Dan itu membuatnya merasa gagal menjadi seorang ibu.
__ADS_1
"Jangan memikirkan sesuatu yang tak perlu, apapun yang terjadi kamu adalah ibunya yang terbaik!" Hibur Fatih sembari mengelus tangan istrinya itu
******"