
Beruntung begitu sampai di rumah, Hafidz masih belum pulang. Jadi tak perlu ia mencari jawaban mengapa wajahnya sembab, saat Hafidz bertanya. Namun hal itu membuat ART di rumahnya merasa keheranan. Amra mempercepat langkahnya menuju kamar, ia tak ingin seorangpun menyadari kekacauannya saat ini.
Begitu ia sampai di kamarnya, Amra duduk diatas kasur dan diam menghadap cermin rias disana. Terdiam menatap dirinya dengan dingin, kedua matanya menggambarkan sebuah rasa sakit yang teramat dalam. Kemudian ia menunduk, tak menyangka rumah tangganya menjadi seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Amra beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum Hafidz datang.
Sementara itu, tanpa diketahui siapapun, secara tak sengaja Hafidz melihat semua adegan yang terjad di kafe saat itu. Ia sedang berada dalam perjalanan untuk menemui salah satu kliennya, dan mampir untuk membeli kopi yang akan ia minum di perjalanan. Saat ia memesan kopi tadi ia melihat Amra dan Yumni di salah satu sudut. Bibirnya tersenyum saat itu, dan berniat menghampiri mereka. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar seorang anak memanggil Amra dengan sebutan “bunda”.
Hafidz memperhatikannya dari jauh, wajah istrinya itu sangat sembab seperti baru saja menangis. Ia masih terdiam memperhatikan semua itu. Dan ia sadar ternyata lelaki yang saat ini berdiri di hadapan sang istri adalah Fatih, sahabat lamanya. Hafidz sungguh ingin menghampiri mereka, namun ia tahan. Tiba-tiba ia teringat bagaimana sikap Amra yang penuh pertanyaan selama ini. Ia ingin tahu, apakan lelaki ini yang membuat istrinya tampak murung di suatu kesempatan, dan menangis setiap malam.
Sayup-sayup ia mendengar perbincangan mereka, dan betapa ia sangat terkejut, mendengar kenyataan bahwa Fatih, sahabatnya, telah menaruh rasa pada istrinya sejak mereka masih SMA. Dan yang lebih mengagetkan lagi, Amra juga seperti itu. Bahkan hingga saat ini, disaat ia telah menjadi istrinya.
Hafidz menundukkan kepalanya dan keluar dari kafe itu dengan hati yang tak karu-karuan. Memasuki mobil dan menghubungi sekretaris pribadinya
“Tolong kamu batalkan pertemuan dengan pak Salim hari ini, mendadak saya merasa sakit hari ini” ucapnya cepat dilanjutkan dengan memutuskan sambungan.
Hafidz lajukan mobilnya, dan ia tak tahu akan kemana? Ia hanya ingin pergi, mengendarai mobilnya, hingga mungkin membuat perasaannya sedikit membaik.
*****
Jarum jam menunjukkan pukul 07:00 malam. Amra keluar dari kamarnya, menuju dapur, dimana makan malam telah siap disana. Namun tak seperti biasanya, Hafidz belum sampai di rumah. Biasanya sebelum isya’ ia sudah sampai di rumah. Amra mengecek ponselnya, tak ada kabar dari Hafidz. Ia merasa sedikit heran dan cemas, tak seperti biasanya, Hafidz selalu mengabarinya setiap waktu. Tapi saat ini, dia pulang terlambat dan tak memberi Amra kabar.
Niat hati ingin menghubunginya, namun deru mesin mobil yang terdengar membuat Amra mengurungkannya. Dengan segera ia keluar untuk menyambut kedatangan suaminya itu. Ia sudah berdiri di depan rumah dengan berhias senyum sumringah. Namun senyumannya menghilang, saat ia melihat Hafidz yang tampak lesu.
“Mas?”
“Assalamualaikum..” ucap Hafidz pelan dan tersenyum tipis. Kemudian memasuki rumah tanpa menerima uluran tangan Amra.
Bertambah lagi keheranan Amra, Hafidz yang selalu bersikap manis selama ini, tiba-tiba mengacuhkannya. Ada apa ini? Amra menggelengkan kepalanya pelan dan segera menyusul
“Aku angetin dulu ya mas” ujar Amra sembari beranjak ke dapur
“Aku sudah makan!” ujar Hafidz sambil lalu, menghentikan langkah Amra. Dan membuat wanita itu tertegun memandang punggung Hafidz yang saat ini beranjak meninggalkannya.
__ADS_1
Amra menghembuskan nafasnya pelan dan kebingungan. Apa yang sudah ia lakukan, hingga membuat Hafidz tampak sedang marah padanya. Ia abaikan rasa laparnya dan beranjak menyusul Hafidz ke kamar.
Sampai di kamar, ia tak melihat keberadaan Hafidz. Namun ia mendengar gemercik air di kamar mandi. Amra duduk di kasur, menunggu Hafidz selesai mandi. Beberapa saat kemudian, Hafidz keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian tidurnya. Amra memandangnya dengan lembut. Namun lagi-lagi, Hafidz tak membalas pandangan itu, dan memilih untuk berbaring bersiap untuk tidur. Amra menunduk, dan tak bisa dipungkiri ia merasa sedih sekarang. Hingga kedua matanya memanas, namun berusaha sekuat tenaga ia menahan agar tak menangis
“Sudah shalat mas?”
“Iya” singkat Hafidz pelan
Amra memandang suaminya yang sudah berselimut itu dengan sendu. Kemudian beranjak untuk mematikan lampu. Ia coba untuk berpikir positif, mungkin Hafidz sedang lelah saat ini. Begitu lampu sudah mati, Amra memilih untuk keluar dari kamar dan melanjutkan tulisannya di balkon.
Hafidz membuka kedua matanya dan memandang pintu yang tertutup. Ini adalah pertama baginya mendiamkan Amra. Tidak ada pilihan, untuk saat ini, melihat wajah Amra malah membuatnya ingin marah. Tak ingin berkata kasar kepada Amra, Hafidz memilih untuk menghindarinya.
Sementara itu, Amra baru sadar telah meninggalkan Yumni tanpa pamit tadi. Dengan segera ia menghidupkan ponselnya dan menelpon sahabatnya itu
“Assalamualaikum Yum”
“Waalaikumussalam.. Ra, kamu oke kan?” terdengar suara Yumni khawatir
“Tenang aja, aku ngerti kok! Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu Ra, fokus saja sama rumah tangga kamu! Percayalah, kamu gak sedang berada pada pilihan yang salah, aku yakin Ra! Ini hanya ujian untuk kamu sama Hafidz agar lebih bahagia ke depannya..!”
“Terimakasih banyak ya Yum”
****
Keesokan harinya...
Amra terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul 05:00 pagi. Ia sedikit terheran, saat ia berada di kamar. Seingatnya, semalah ia ketiduran di balkon saat menulis. Apakah Hafidz yang telah memindahkannya?
“Astaghfirullah...” dengan segera ia beranjak ke kamar mandi, saat teringat ia belum shalat subuh.
Dengan terburu-buru, Amra menuju musholla kecil dirumahnya untuk menunaikan sholat. Ada Hafidz yang sedang membaca Al-qur’an disana. Tanpa menyapa terlebih dahulu, Amra segera menunaikan shalat. Sementara Hafidz masih melanjutkan mengaji, namun memelankan suaranya.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai, Amra mendekat dan mengulurkan tanyannya untuk mencium tangan Hafidz. Dan ia merasa lega saat Hafidz menerima uluran tangan itu dilanjutkan dengan mencium kening Amra dengan lembut, Amra tersenyum.
__ADS_1
“Terimakasih mas...” Hafidz mengangguk dan tersenyum dan menyelesaikan bacannya. Begitu ia selesai dan menutup Al-qur’annya, Hafidz beralih duduk menghadap Amra
“Aku mencintaimu Amra” Amra sedikit terkejut mendengar itu, pasalnya meski Hafidz sudah biasa mengucapkan hal itu, kali ini terdengar sangat berbeda. Terdengar sangat ingin dimengerti oleh Amra
“Mas...”
“Bagaimanapun kamu, aku mencintai kamu dengan segala kekurangan kamu, Ra!”
“Iya mas... Terimakasih banyak” Hafidz tersenyum simpul dan menunduk, selalu seperti ini, Amra belum pernah membalas rasa cintanya. Hafidz menghembuskan nafasnya pelan, dan memijat keningnya pelan
“Kenapa mas?”
“Tidak apa-apa sayang, hanya sedikit pusing!”
Amra semakin mendekat dan meletakkan telapak tangannya di kening Hafidz. Berada pada jarak sedekat itu, membuat Hafidz memandang istrinya dalam.
“Ada masalah apa mas?” tanya Amra pelan, Hafidz menurunkan tangan Amra dengan lembut dan memeluk istrinya itu dengan erat, sikap Hafidz ini membuat Amra heran
“Mas..”
“Ada sebuah kerikil tajam yang telah melukai hati ini Ra, aku berusaha menyingkirkannya, tapi rasanya terlalu sulit. Apapun yang terjadi tidak akan pernah aku meninggalkanmu, Amra” Amra terdiam, semua yang terjadi semalam dan hari ini, sungguh berbeda dari biasanya
“Aku akan menunggumu sampai kamu selesai dan bisa mencintaiku... Maaf telah memaksakanmu untuk menikahiku...” Amra melepaskan diri dari pelukan itu perlahan, dan memandang Hafidz dalam, dan perlahan airmatanya menetes.
Banyak yang telah Amra sembunyikan dari Hafidz, Amra merasa sangat tersiksa dengan keadaan ini. Jika boleh jujur, Amra sangat ingin keluar dari permainan ini. Ia sudah lelah bersembunyi seperti ini. Tapi ia tak siap, akan sekecewa apa Hafidz padanya begitu dia tahu kenyataan yang sesungguhnya.
Hafidz hapus airmata Amra dengan lembut dan memeluknya kembali.
‘Jika ini begitu menyiksamu, katakan saja Amra! Katakan yang sejujurnya! Katakan saja jika kamu lebih mencintai Fatih daripada aku! Tidak perlu kamu memikirkan perasaanku! Aku tahu aku bisa menahan kekecewaan ini, tapi berat rasanya jika aku harus melihatmu tidak bahagia seperti ini! Kamu selalu menangis begitu aku katakan perasaanku! Aku tidak tahan Ra! Sakit hati ini melihatmu tak bahagia!’
Ingin Hafidz mengatakan semua itu, namun berat lidahnya berucap! Hanya bisa ia katakan dalam batinnya.
Sampai kapan permainan petak umpet ini selesai?
__ADS_1