
Selepas subuh, Amra menyiapkan segala keperluannya. Rasa syukur berkali-kali ia ucapkan sejak kemarin. Bagaimana tidak, hal yang sangat ia inginkan untuk saat ini telah berhasil di dapatnya. Apalagi kalau bukan pekerjaan? Tiada yang lebih ia inginkan saat ini selain pekerjaan. Setidaknya, bulan depan ia bisa mengirimi ibunya uang meski tak banyak. Apalagi yang bisa membuatnya sebahagia ini, selain impian untuk membuat sang ibu merasa terbantu meski sedikit.
Sejak hari pertama ia bekerja, Amra selalu menyiapkan semuanya selepas subuh. Meskipun jam kerjanya tidak terlalu pagi, ia tak ingin terlambat barang semenit saja. Ia akan mengerjakan semuanya dengan baik.
Sebelum sibuk di dapur, Amra beranjak ke kamar Yumni, seperti biasa ia akan membangunkan gadis itu, subuh telah lewat lima belas menit yang lalu. Jika tidak sabar membangunkan sahabatnya ini, dia pasti akan kesiangan
"Yum... Subuh yum...." Yumni bergeliat namun kedua matanya masih menutup
"Yum... Udah telat 15 menit lho..."
"Lima menit lagi Ra. ..." Yumni bergumam dengan malas
"Ee.... Sudah dikasih waktu 15 menit masih mintak nambah lima menit? Ayo, jangan mau diketawain setan...." Amra tersenyum setelah mengatakam itu, ia merasa sedang berusaha membangunkan anaknya
"Ya udah, aku masak saja, aku sudah bangunin lho ya, berarti kewajibanku sudah gugur..."
Amra beranjak keluar, dan saat itulah, Yumni membuka kedua matanya. Memandang Amra yang bergerak keluar
"Sungguh berdosanya aku selama ini, mungkinkah kamu orang yang akan mengubah hidup aku?" Yumni meraih ponselnya dan menghubungi nomor seseorang
"Iya" terdengar suara malas diseberang sana
"Udah waktunya sholat subuh!"
"Hah? Sejak kapan kamu...." Laki-laki diseberang sana terdengar sangat terkejut karena tak seperti biasa, kekasihnya ini mengingatkan tentang sholat, apalagi subuh. Yumni memutuskan sambungan dan beranjak dari tempat tidurnya.
Bertemu dengan Amra kembali membuat Yumni bahagia sekaligus merasa resah. Ya benar resah! Bukan kehadiran Amra yang membuatnya resah. Tapi apa-apa yang telah ia kerjakan belakangan ini yang menumbuhkan perasaan seperti ini.
__ADS_1
Disaat sahabatnya itu berubah dengan begitu baik dalam kurun waktu tujuh tahun ini, ia malah sebaliknya. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali kulitnya tersentuh air wudhu sampai akhirnya Amra datang dan mengingatkan hal itu.
Resah karena ia merasa tak pantas menjadi sahabat Amra untuk saat ini, ia sangatlah tak sebanding dengan Amra. Ia telah menjadi seorang pecundang yang salah arah dan salah pergaulan. Terkadang hal ini yang mampu membuat airmatanya mengalir dengan deras tanpa sebab. Diam-diam ketika ia sendirian, ia menangis dengan begitu keras, seolah tangis itu tak mampu dibendung.
Usai menyelesaikan kewajibannya, Yumni menghampiri sang sahabat yang tengah sibuk di dapur berasama mbak Ina, Amra menyambutnya dengan senyuman
"Mbak Ina... Aku bawa Amra dulu ya..." Ujar Yumni dengan wajah datar, tentu itu membuat Amra keheranan. Mbak Ina hanya mengangguk
"Amra... Aku ingin bicara sama kamu"
"Ada apa Yum? Serius sekali?" Yumni tak memberi jawaban, namun ia beranjak menuju kamarnya. Dengan heran, Amra mengikutinya. Berbagai pertanyaan timbul dalam otaknya, apakah ia telah menyinggung perasaan Yumni, hingga gadis itu tampak marah? Apakah ia mengecewakan Yumni dengan sikapnya yang sok beberapa minggu terakhir ini? Apakah Yumni merasa risih dengannya yang selalu bawe menyuruhnya sholat? Ataukah ini masalah yang lebih serius?
Amra sampai di kamar Yumni. Ia lihat sahabatnya itu duduk di tempat tidurnya, membelakangi pintu. Tak ada suara dari mulutnya hingga Amra menutup pintu dan beranjak mendekat
"Aku harus gimana Ra....." Tangisnya pecah sembari memeluk Amra yang masih kebingungan
Kening Amra masih berkerut, namun tangannya dengan lembut mengelus punggung Yumni untuk menenangkan. Melihat Yumni tampak berat untuk bicara, Amra memilih untuk diam, ia tak ingin semakin membebani Yumni dengan banyak pertanyaan. 15 menit berlalu, Yumni sudah melepaskan pelukannya, namun masih ada sisa-sisa tangis yang keluar dari mulutnya
"Kamu sudah tahu semuanya kan Ra..." Ujar Yumni di sela-sela tangisannya
"Maaf, tahu tentang apa Yum?"
"Aibku...." Pelan Yumni sembari menahan tangisnya kembali, Amra tercekat dan menunduk sembari menghembuskan nafas pelan. Yumni sama sekali tak pernah melakukan sesuatu yang tak bermoral dimata manusia, hanya saja ia memang terlihat jauh dari agama. Mungkinkah Yumni tersinggung padanya sekarang? Karena Amra sering mengingatkan akan hal itu?
"Maaf.... Aku sungguh tidak bermaksud membuat kamu tersinggung dengan sikapku, Yum...." Yumni menoleh padanya dan memandang sahabatnya itu dengan kedua mata sembab
"Kenapa kamu masih mau bertahan dengan orang seperti aku, Ra?" Pertanyaan itu sungguh menohok hati Amra, apakah saat ini Yumni sedang memintanya pergi?
__ADS_1
"Yumni.... Maaf sekali lagi...."
"Tidak Ra! Bukan itu maksud aku" sela Yumni seakan sadar jika sahabatnya ini telah salah faham
"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tidak malu tetap berteman dengan aku yang seperti ini..." Amra memandangnya dengan lembut cukup lama sebelum menjawab
"Karena aku percaya hati kamu lembut Yum, kamu orang baik, lebih baik daripada aku..... Kamu hanya salah jalan, dan aku ingin mengajakmu kembali ke jalan yang seharusnya. Yumni, semua manusia pernah melakukan kesalahan, aku juga, tapi tidak semua manusia bisa mengakui kesalahannya. Kamu melakukan itu Yum, maukah kamu berubah mulai saat ini, Yum?" Airmata Yumni kembali menetes, tentang niatnya berubah, saat ia sendiri merasa ragu, Amra justru merasa begitu yakin
"Aku belum siap Ra.... Beri aku waktu..." Amra tersenyum
"Semoga pintu itu segera kamu buka Yum, aku akan selalu berdoa untukmu. Tak apa, pelan-pelan saja..." Dengan besar hati Amra mengucapkan itu, ia tak ingin memaksanya harus segera menentukan pilihan.
********
Sebelum pukul tujuh pagi, Amra sudah berada di tempat kerjanya. Mempersiapkan diri dan menunggu kedatangan anak-anak yang dititipkan disana. Pada jam 07.00 sampai 12.00 siang, ia akan menemani anak-anak dibawah tiga tahun. Sementara di jam 13.00 sampai 17.00 ia akan menemani anak-anak diusia tiga tahun sampai enam tahun.
Amra tahu pekerjaan ini tak mudah, ia harus menanggung tanggung jawab yang besar untuk pekerjaan ini. Tapi ia tak keberatan, bersama dengan anak-anak membuatnya bahagia. Seorang bayi berusia 12 bulan datang bersama sang ibu, Amra menyambut kedatangannya dengan senyum sumringah
"Assalamualaikum Rais...." Entahlah sapaan sederhana itu membuat bayi yang dipanggil Rais itu tertawa
"Selamat pagi bunda... Saya sedang buru-buru jadi saya serahkan Rais disini ya bun.." ujar sang ibu sembari menyerahkan Rais dalam gendongannya dengan terburu-buru. Amra tersenyum sebagai tanda ramahnya dan membiarkan ibu sang bayi berlalu
"Jalan pikir seseorang memang berbeda... Kehidupan seseorang juga berbeda, Rais... Mama pasti sayang kamu" Amra tersenyum pada bayi itu sebelum membawanya masuk dan mengajaknya bermain.
Bekerja seperti ini membuat pikirannya terbuka. Bahwa tidak semua yang terjadi sesuai dengan pemikirannya. Dan membuanya belajar menanggapi apa yang terjadi. Awalnya, ia merasa sedikit kesal saat mengetahui usia Rais dan bagaimana ibunya selalu terburu-buru meninggalkannya. Sisi buruknya berprasangka jelek, bagaimana bisa ada seorang ibu yang begitu rela menitipkan anaknya demi sebuah pekerjaan. Namun satu fakta yang mampu mematahkan prasangka itu. Rais terlahir yatim, ayahnya meninggal saat sang ibu melahirkannya. Dia hidup seorang diri untuk menghidupi Rais. Ia merasa berdosa telah berprasangka buruk pada ibu Rais. Dan mungkin semua ibu yang menitipkan anak mereka ditempat ini memang tak punya pilihan. Sungguh langkah terbaik yang telah ia ambil saat ini, ia sangat bersyukur menjadi bagian dari penitipan anak ini, ia bisa belajar lebih banyak tentang hidup disana.
*****
__ADS_1