
Takjub. Adalah gambaran rasa pertama bagi Amra ketika melihat rumah yang ditempati Yumni. Rumah itu tak mewah, minimalis namun menggambarkan kesuksesan pemiliknya. Yumni tersenyum saat melihat sahabatnya itu mengedarkan pandangan tanpa bisa menyembunyikan ketakjubannya
"Hebat banget kamu Yum..." Gumam Amra pada akhirnya
"Yang hebat itu papah aku..." Yumni kemudian tertawa kecil dan menyerahkan tas Amra, Amra menoleh dengan heran
"Ini bukan rumah aku.... Gak usah sok kagum gitu deh..." Yumni tertawa kembali
"Maksud kamu?"
"Papah sama mamah gak disini, ada kerjaan di luar pulau dan lumayanlah lama, jadi kamu bisa tinggal disini...."
"Oh.. begitu" Amra tersenyum kikuk
"Jangan bilang kalau kamu nyangka mobil ini punya aku?" Yumni bertanya dengan serius sementara Amra mengangguk lugu
"Ya ampuuunn Ra... Ya kamu pikir aja kali, mana bisa aku beli mobil?" Yumni geleng-geleng kepala, kembali Amra hanya bisa tersenyum kikuk
"Yuk masuk...!"
Meski nyatanya Yumni belum sesukses yang ia pikirkan, bukan berarti semangatnya yang menggebu-gebu untuk mengejar mimpi tadi harus lenyap. Inilah saatnya semangat itu terasa semakin menguat. Sekarang ia tak begitu tertinggal jauh, dan keyakinan untuk mengejar harusnya lebih kuat.
Hari ini adalah penentuannya. Teman Yumni bilang, pertemuan bisa dilakukan sore nanti. Dan ia sangat berharap semuanya bisa berjalan dengan lancar
"Isrirahat dulu gih...! Aku siapin makanan.." Yumni beranjak mengeluari kamar dan membiarkan Amra untuk sekedar rebahan menghilangkan penat.
Semenjak lulus dari SMA Yumni dan keluarganya pindah ke Jakarta, dikarenakan pekerjaan sang ayah yang lebih sering berpindah-pindah kota. Kali inipun sama, hanya saja Yumni memilih untuk tinggal sendiri di Jakarta karena ia sudah merasa nyaman, ia juga memiliki pekerjaan yang menjanjikan di kota metropolitan ini.
Hidup sahabatnya ini selalu enak sejak dulu, rasa iri itu ada dalam dada Amra meskipun sedikit. Terkadang ia berpikir, mungkin jika ayahnya tidak gugur saat bertugas mengamankan kerusuhan di perbatasan waktu itu, hidupnya akan serba mudah. Uang pensiunan sang ayah saat ini, hanya cukup untuk melanjutkan hidup sang ibu dan dirinya di kampung. Tentulah, berpikir seperti itu tidak baik, semua sudah menjadi takdir yang telah ditentukan yang maha kuasa. Bukan pula hal yang patut untuk disesali.
Justru saat ini waktunya bagi Amra untuk keluar dari zona merah itu. Nanti sore tepatnya, Yumni akan mengenalkan Amra dengan teman yang dibicarakan ditelepon beberapa waktu lalu. Yumni bilang pekerjaan itu cukup menjajikan. Baiklah, ini akan menjadi harapan pertama bagi Amra untuk melangkah maju.
Aroma wangi masakan tercium hingga ke ruang tengah rumah saat Amra keluar dari kamar. Ia sudah membersihkan dirinya dan bermaksud untuk membantu Yumni. Tidak mungkin dirinya bersantai sementara sang tuan rumah sibuk di dapur
"Aku tidak menyangka seorang Yumni pandai memasak" Amra mendekat dan membantu Yumni menyajikannya di meja makan
"Itu karena sudah bertahun-tahun jadi anak kos..."
"Kamu masih ngekos?" Yumni mengangguk
"Aku baru tinggal disini sejak papah sama mamah pindah ke luar pulau..." Amra tersenyum kemudian duduk di tempat makan setelah selesai menyiapkannya di meja.
Yumni datang sembari membawa satu botol air minum dan juga gelasnya. menyajikannya untuk Amra, sementara Amra hanya memandang Yumni dan tersenyum simpul. Memubuat Yumni harus berdecak
"Udah ketebak nih kalau udah kayak begini...! Ada apa?" Amra tertawa kecil mendengar ucapan Yumni itu. Tujuh tahun tak bertemu tidak membuat Yumni lupa akan kebiasaannya itu
"Ternyata tujuh tahun adalah waktu yang sangat lama Yum. Aku udah kelewatan jauh cerita-cerita kamu, begitupun dengan kamu...." Suara dan tutur kata Amra begitu lembut dan enak di dengar
"Makanya kamu cerita dong! Nanti gantian aku yang cerita..."
"Ngga boleh makan dulu ya?" Canda Amra sembari melontarkan senyuman yang mungkin dirinya sendiri juga merindukannya, karena Amra sendiri tak tahu kapan ia tersenyum sedikit jahil seperti saat ini
"Oh yaa ampuun... Lupa! Ya udah makan dulu deh.."
__ADS_1
Mereka memulai sarapan yang sedikit terlambat itu dengan tenang. Begitu selesai makan dan membereskan tempat makan, mereka berdua memilih taman kecil samping rumah untuk mengobrol. Ada satu set kursi putih dari kayu disana, taman yang di design sedemikian rupa itu tampak sangat sejuk dipandang mata, setidaknya sedikit mampu mengurangi panasnya kota Jakarta. Suara gemericik air dari air mancur buatan itu membuat Amra rindu kampung halamannya.
Amra memulai kisahnya dari ia baru lulus sekolah, mengajar mengaji di musholla dekat rumahnya yang mendapat gaji hasil panen, keinginan sang ibu untuk ia menikah dengan Hafidz, anak seorang kaya di tetangga kampungnya. Hingga pertemuannya dengan Fatih di kereta
"Fatih? Aku kayak pernah dengar nama itu? Apa aku kenal?" Yumni menyerangnya dengan rentetan pertanyaan. Mereka memang tak saling mengenal. Amra sendiri juga tak berteman dengan Fatih, namun yang membuat Amra bingung, bagaimana Fatih bisa begitu mengenalinya?
"Dia satu SMA sama kita Yum..."
"Yang bener??" Amra hanya mengangguk
"Gimana ceritanya kamu bisa kenal dia sementara aku gak?" Amra menunduk pelan
"Panjang Yum ceritanya...."
"Ceritain, biar aku tahu runtutannya..!" Desak Yumni memaksa
Selama bersekolah dulu, Amra memang tak pernah menceritakan tantang ketertarikannya pada Fatih. Ia simpan perasaannya seorang diri. Dan pagi ini ia menceritakan semuanya pada Yumni, tentang bagaimana ia mengagumi Fatih diam-diam waktu sekolah hingga saat ini, iya saat ini. Perasaannya tak pernah berubah sedikitpun, ia masih mengaguminya
"Pasti pertemuan ini buat kamu kaget banget!" Amra mengangguk pelan
"Itu menjadi salah satu alasan kamu menolak laki-laki yang ingin menikahimu? Kamu masih berharap akan berjodoh dengan Fatih?"
"Aku pasti bodoh banget Yum..."
"Bukan bodoh Ra, tapi tulus... Gak kebayang deh kalau aku harus menyimpan rasa bertahun-tahun lamanya seorang diri, kagum banget sama kamu!" Yumni tersenyum tulus dan menepuk pundak Amra dengan bangga
"Aku akan bantu kamu untuk masalah ini! Kita cari tahu sama-sama dia tinggal dimana, siapa tahu kalian berjodoh?" Ujar Yumni mantap
"Tidak mungkin Yum, kami gak berjodoh! Justru pertemuan itu meyakinkan hatiku untuk melepasnya.." meski bibirnya tersenyum, Amra tak bisa menyembunyikan pilu disuaranya, berat. Namun tak seharusnya ia kecewa jika ia telah menyerahkan semuanya pada sang Kholik
"Dia sudah punya istri, dan sepertinya sudah punya anak..."
"Ya ampun Ra... Kisah kamu kok drama banget gini sih? Tapi gimana bisa kamu yakin banget?"
"Aku gak sengaja lihat ponselnya saat ada telepon masuk, dan itu istrinya..." Yumni menghela pelan dan mengelus pelan pundak sahabatnya itu beberapa kali
"Sabar ya Ra.... Kalau jodoh gak akan kemana!" Amra hanya tersenyum dan mengangguk
"Wanita tangguh pertama yang aku temui selama ini, itu kamu Ra... Kamu memang punya hati yang tulus dan bersih. Percayalah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.... Semoga" ucapan Yumni itu benar-benar membuatnya berbesar hati. Mungkin memang hanya sampai disini kisah cintanya, ia harus yakin, pasti ada yang lebih baik dari pria yang selalu ia sebut namanya di dalam doa itu.
"Kamu buat aku terpesona lagi Yum..."
........
Sore akhirnya tiba, selepas sholat ashar, Yumni mengantarkan Amra pada temannya itu. Dia adalah seorang pengusaha cafe dan cafe nya itu sedang membutuhkan seorang pekerja dibagian pelayan. Bukannya Yumni tak mencarikan pekerjaan yang lebih baik untuk Amra, hanya saja untuk orang yang hanya lulusan SMA akan sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini.
Gugup, tentu Amra merasa gugup. Ini adalah pertama kalinya ia akan melamar pekerjaan. Yumni meliriknya beberapa kali dari kursi kemudi, ia bisa melihat kegugupan sahabatnya itu
"Lokasinya deket kok dari rumah, jadi enak nanti..."
"Iya Yum..."
"Tenang aja..."
__ADS_1
"Apa aku akan diterima?"
"Siapa yang akan nolak orang seperti kamu...?" Yumni tertawa
"Kamu nih! Aku serius..."
"Iya... Semoga aja..."
Terhitung hanya butuh waktu 15 menit dari rumah Yumni untuk sampai di cafe milik teman Yumni itu. Mulailah dada Amra bergemuruh karena gugup saat mobil berhenti di depan cafe yang cukup mewah. Sebelumnya Yumni mengatakan jika pekerjaan yang akan dilakukan oleh Amra ini hanyalah sebagai pelayan, namum Amra tak masalah dengan itu. Bukan saatnya ia pilih-pilih pekerjaan dengan mengedepankan gengsi. Sementara ia tahu sampai mana ia tamat belajar.
Bersama-sama mereka memasuki cafe itu, cukup ramai. Dan dari kacamata Amra ia bisa melihat, bukan orang sembarangan yang berkunjung kesana, ia melihat wajah-wajah kaya diantara para pengunjung. Amra terus mengikuti langkah Yumni yang seperti hafal sekali dengan tempat itu, sampai langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan
"Tunggu disini ya Ra!" Amra mengangguk, sementara Yumni membuka pintu kayu itu untuk menemui temannya.
Sembari menunggu, Amra mengedarkan pandangannya. Suasana di dalam cafe ini cukup sibuk, beberapa kali ia melihat pelayan hilir mudik melayani pengunjung, sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari mereka. Memperhatikan cara kerja mereka adalah langkah awal untuk ia belajar. Ia sedikit terkejut saat pintu terbuka kembali dan menampakkan sosok Yumni
"Langsung masuk aja!" Serunya setelah menutup pintu, Amra masih memandangnya ragu, entah apa yang membuatnya merasa ragu
"Dia baik kok..." Ujar Yumni menenangkannya
"Baiklah! Makasih ya Yum..." Setelah menarik nafas beberapa kali, Amra mengetuk pintu itu dan masuk dengan wajah menunduk
"Silahkan duduk!" Suara itu menerpa pendengarannya, Amra mengangguk dan dengan sopan duduk di sofa yang tersedia
"Kita bertemu lagi Amra..." Tentu saja Amra merasa terkejut bukan kepalang mendengar kalimat itu. Perlahan Amra mengangkat kepalanya dan memandang calon bosnya itu
"Mas Hafidz..."
Iya! Pemilik cafe itu adalah Hafidz putra kedua pak Joko. Hafidz hanya melontarkan senyum lebarnya. Ia juga tak menyangka jika sahabat Yumni itu adalah Amra yang ia kenal, ini kejutan juga untuknya. Setelah ia berpikir tak akan lagi bertemu dengan Amra, takdir berkata lain. Mereka bertemu tanpa ada rencana, pertanda apa ini?
"Jadi ini cafe milik mas Hafidz?"
"Belum sepenuhnya milikku" Hafidz lagi-lagi tersenyum ramah
"Sebelumnya aku tidak menyangka jika teman Yumni itu adalah kamu... " Amra hanya diam
"Yumni pasti sudah memberi tau mu pekerjaan apa yang akan kamu lakukan. Aku akan memberimu keringanan awal masuk, biasanya aku akan langsung memperkerjakan mereka begitu aku merasa cocok... Tapi, aku tau kamu datang dari jauh...."
"Maaf, tapi bagaimana bisa mas Hafidz langsung menerimaku bekerja disini?" Sela Amra, ia hanya merasa heran, Hafidz bahkan belum mengujinya
"Karena aku merasa cocok padamu, aku rasa cara kerjamu akan bagus..."
"Maaf sekali lagi, aku tidak pernah berpikir akan semudah ini. Aku benar-benar minta maaf mas, tapi jika dengan diterimanya aku bekerja disini karena apa yang terjadi di kampung, aku merasa tidak pantas menerima kebaikan ini"
"Tidak perlu merasa menyesal! Aku belum resmi mengkhitbahmu dan kamu juga tidak secara resmi menolakku! Tidak perlu kamu pikirkan itu lagi....." Amra kembali menunduk, ia tak tahu harus dengan cara apa untuk mengungkapkan ketidak nyamanan hatinya ini. Tentu tak akan nyaman untuk bekerja kepada orang yang telah ia "campakkan"
"Pikirkan lagi! Pikirkan secara realistis Amra! Tidak akan mudah menemukan pekerjaan, tentu sangat sayang jika kamu menyia-nyiakan kesempatan seperti ini!"
Hafidz masih berusaha membujuk Amra agar mau bekerja di cafe nya. Bagaimanapun ia bahagia atas takdir ini
"Maaf mas, bolehkah aku mencari yang lain? Bukan bermaksud untuk tidak tau terimakasih.... Tapi....."
"Kamu merasa tak nyaman bekerja denganku?" Amra kembali hanya diam
__ADS_1
"Baiklah! Aku akan memberimu waktu dan kesempatan berpikir. Namun pintu ini akan selalu ku buka! Kamu boleh kembali lagi kesini jika memang kamu tidak menemukan pekerjaan yang lain..."
*****