Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Saling Sembunyi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kantor penerbitan, Amra hanya terdiam. Wajahnya terlihat sangat murung. Baru saja dia akan memulai hidup barunya dengan bahagia bersama Hafidz, suaminya, datang lagi sebuah ujian menggoyahkan hatinya. Apakah memang sesulit ini menjalani sebuah pernikahan?


Siapa yang menyangka, Fatih yang sudah tak lagi ia dengar kabarnya selama enam bulan ini tiba-tiba muncul kembali menjadi mitra bisnis suaminya?


“Kamu kenapa sayang?” suara Hafidz yang sedang menyetir di sampingnya menginterupsi Amra yang sedari tadi hanya melihat ke arah jalanan


“Ah.. tidak apa-apa mas” Amra tersenyum menenangkan, Hafidz membalas senyuman itu dengan tulus


“Hari ini, penentuan untuk karyamu akan berhasil terbit atau tidak, semangat ya sayang” Amra hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum dengan tulus


Mobil yang mereka tumpangi, berhenti di depan sebuah bangunan perkantoran. Mereka telah sampai di kantor penerbitan milik Hafidz


“Mas, lain kali boleh tidak kalau aku berangkat sendiri saja?” tanya Amra sebelum turun


“Kenapa? Aku senang mengantarmu sayang”


“Terimakasih mas, tapi banyak pekerjaan yang harus mas urus” Amra tersenyum dan menepuk pelan paha Hafidz


“Baiklah, biar diantar pak Yanto aja kalau begitu” Amra mengangguk


“Terimakasih mas” Amra melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil


“Amra” panggilan lembut itu membuat Amra menoleh, Hafidz mendekat dan mencium kening Amra dengan penuh kasih sayang, senyuman Amra menghilang. Raut wajahnya tampak sangat sedih, dan berubah seketika saat ia tatap Hafidz.


Tak ingin ia menampakkan kesedihan diwajahnya kepada Hafidz.


“Aku pergi mas, Assalamualaikum”


“Waalaikumu salam” dengan senyuman Hafidz mengantar kepergian Amra.


Senyuman Hafidz menghilang, tak ia lepaskan pandangannya pada Amra yang berlalu, meninggalkan mobil. Pikirnya teringat bagaimana pertemuan Amra dan Fatih tadi. Bagaimana mereka saling menatap untuk waktu yang cukup lama, bagaimana Amra tampak sangat terkejut melihat Fatih, begitupun dengan Fatih.


***


Berbeda dengan kedatangan Amra enam bulan yang lalu. Kini kedatangannya di sambut dengan baik oleh semua karyawan disana. Tak ada yang mengabaikannya. Semuanya ramah, bagaimana tidak? Sebagai istri dari bos mereka, dia harus diperlakukan dengan baik.


“Apa mas Hamzah sudah datang?” tanya Amra pada salah satu karyawannya


“Iya bu, sudah di ruangan ibu” Amra tersenyum ramah sebelum meninggalkan karyawannya itu menuju ruangannya.


Memang sudah enam bulan ini, Amra dipercaya Hafidz untuk mengelola kantor penerbitan itu. Amra yang tak memiliki dasar untuk mengelola bisnis sebesar ini sempat menolak. Namun Hafidz terus memintanya dan mengajarinya dari awal.


Nasib Amra telah berubah 180°, dari seorang gadis desa yang hanya tamatan SMA dan tak berpengalaman. Allah balikkan kehidupannya, dari yang serba pas-pasan, kini hidupnya menjadi serba ada dan mudah.


Hafidz tak hanya menjadikannya perhiasan saja di rumahnya. Ia ingin membuat Amra maju, dan berpengalaman.


“Ah.. maaf mas Hamzah saya terlambat” ujar Amra kepada salah satu editornya itu


“Oh.. tidak apa-apa bu Amra”


“Bagaimana mas? Masih ada yang harus saya perbaiki?”


“Saya salut sekali lho sama bu Amra ini. Kalau ibu mau, mudah sekali untuk bu Amra menerbitkan novel ini, tapi...”


“Semua karya yang masuk kesini, harus melalui pengecekan yang ketat, jadi sudah seharunya saya mengikuti aturannya”


“Baik bu Amra, semuanya sudah beres, apakah ada hal yang akan ditambahkan lagi sebelum nanti di cetak bu?” Amra terdiam sejenak, menimang akankah ia tambahi atau tidak. Sementara Hamzah menunggu dengan sabar


“Iya” singkat Amra memutuskan.


***


Hari ini, Amra tak akan lama di kantor, karena dia akan bertemu dengan sang sahabat yang sudah enam bulan lamanya tak bertemu karena kesibukan masing-masing. Amra menutup laptopnya, kemudian menghubungi Hafidz untuk meminta izin


“Assalamualaikum mas..”


“Waalaikum salam istriku” wajah Amra datar saja mendengar kalimat manis itu. Entah apa yang salah dengan hatinya. Mengapa rasanya sulit sekali untuk bisa berdamai dengan perasaannya yang belum usai


“Mas, Yumni akan datang, boleh aku pergi sama Yumni?” Tak langsung ada jawaban di seberang sana, tapi Amra masih sabar menunggu

__ADS_1


“Boleh sayang, tapi sore nanti usahakan sudah di rumah ya”


“InsyaaAllah mas, terimakasih”


“Hmm.. hati-hati”


“Iya, Assalamualaikum”


“Waalaikum salam, sayang”


Amra memutuskan sambungan telepon dan menghela. Kepalanya tertunduk lemas. Demi apapun kedua matanya memanas saat ini. Rasanya ia ingin sekali menangis. Hafidz orang yang sangat baik, namun justru ia malah berbuat seperti ini.


Amra menghembuskan nafasnya kembali, berusaha untuk menenangkan perasaannya. Namun berapa kalipun ia menarik nafas, yang ada airmatanya semakin menyeruak berebut untuk keluar.


Tak kuat, akhirnya Amra menangis dengan diam sembari memegangi dadanya yang terasa sangat sesak


“Ibuk..” gumamnya pilu


Andai saja sang ibu masih ada? Tidak akan ia merasa sesakit ini. Tidak akan ia merasa serapuh ini, dan tidak akan menjadi “sejahat” ini.


“Amra rindu buk...” bisiknya terdengar menyedihkan


‘Tok tok tok’


Pintu ruangannya terketuk. Dengan segera Amra mengapus airmatanya dan berbalik membelakangi pintu, sembari berucap


“Masuk”


Pintu terbuka bersamaan dengan suara heboh Yumni, Amra merasa lega. Dengan segera ia berbalik dan tersenyum pada Yumni


“Sahabatku tersayang!” ujar Yumni sembari mendekati Amra dan memeluknya


“Apa kabar Yum?”


“Tetep aja kalem ya” Yumni melepas pelukannya dan tersenyum pada Amra


“Gini dong, cantik” kali ini Amra yang meledeknya melihat penampilan Yumni yang sudah lebih tertutup, Yumni menunduk dan tersipu malu


“Tidak Yum, aku habis nonton drakor” Yumni menghela kemudian tertawa


“Udah izin bapak suami?” Amra hanya mengangguk


“Pertama-tama temenin aku belanja baju dulu ya, habis itu terserah kamu mau kemana, sebagai hadiah pernikahan”


Amra tertawa dengan sangat khas, lembut dan membuat wajahnya terlihat semakin cantik memukau. Meski sudah ratusan kali ia mengatakan kepada Yumni untuk tidak perlu khawatir dengan hadiah pernikahan, sahabatnya itu juga sama kerasnya seperti dirinya.


Mereka berangkat menuju sebuah butik muslimah tak jauh dari kantor Amra. Sepanjang perjalanan, Yumni terus saja bercerita dengan sangat antusias. Dia bahkan menceritakan kandasnya hubungan percintaannya dengan sang pacar dulu dengan wajah yang sangat antusias. Mereka memang memilih untuk pergi dengan berjalan kaki, karena Yumni tak ingin waktunya sia-sia bersama Amra yang sangat ia rindukan.


Jadilah ia putuskan untuk berjalan kaki saja, sambil menikmati waktu bersama


“Alhamdulillah..”


“Sudah ku duga, reaksi kamu akan begitu Ra, mana mau kamu kalau aku terjerumus dalam dosa..” Yumni mendadak menjadi kalem dan menunduk, namun senyumnya masih terlihat


“Pasti semua itu berat Yum!”


“Iya.. berat sekali, kami sudah berhubungan bertahun-tahun, tapi ya sudahlah... Aku sudah mantap mau hijrah Ra, jangan tinggalin aku ya..”


“MasyaaAllah” Amra tersenyum sangat bahagia mendengar keputusan sahabatnya itu


“Semoga Allah pertemukan kamu dengan pria yang baik Yum”


“Iya.. iya.. Aamiin.. semoga saja! Eh.. jadi gimana nih perkembangannya? Udah isi belum?” Amra mengerutkan keningnya dan menoleh pada Yumni heran


“Isi?” Yumni menghela setelah menyadari jika Amra tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan


“Hamil, Ra!” Amra tertawa malu karena kepolosannya, namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah sendu, bahkan tak terlihat sama sekali senyuman di sudut bibirnya.


Yumni yang melihat itu merasa sangat yakin jika ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Ia harus tahu, dan siapa tahu jika ia bisa membantu. Mengingat Amra tak memiliki siapapun lagi untuk berkeluh kesah. Yumni yakin jika ini ada hubungannya dengan pernikahannya.

__ADS_1


Sesampai di butik itu, Yumni segera memilih-milih pakaian yang diperlukan. Dan sesekali ia mmeminta pendapat Amra. Beberapa lama kemudian mereka keluar dari butik itu dengan berkantung-kantung tas belanjaan.


“Aku sudah buang semua pakaianku, jadi aku harus kembali mengisi lemariku” ujar Yumni sembari tersenyum polos, Amra hanya meresponnya dengan senyuman. Entahlah sejak pembahasan tentang hamil tadi, Amra berubah sangat diam.


“Ra.. ayo ikut aku!” Yumni menarik tangan Amra, dan mereka berjalan menuju sebuah kafe di seberang jalan.


Sesampai disana, setelah memesan beberapa makan ringan dan minuman, mereka segera mencari tempat duduk yang sedikit tidak terekspos, karena Yumni tahu, dengan sangat jelas, Amra mebutuhkan waktu untuk menumpahkan segala kesedihannya.


“Ra, aku gak akan maksa kamu buat cerita, tapi setidaknya, aku ingin tahu dan ingin membantumu”


Wajah putih Amra memerah. Dan sangat jelas sekali jika dia sedang menahan tangisnya. Amra masih mengarahkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Yumni. Yumni sendiri masih sabar menunggu Amra membuka suara. Hingga beberapa saat kemudian


“Seberat itukah Ra?”


Pertahanan Amra runtuh mendengar pertanyaan lembut itu. Airmatanya mengalir dan akhirnya menangis sesenggukan, sambil meletakkan kepalanya di meja menyembunyikan wajahnya. Bukan ia tak mau bercerita, tapi ia mereasa bimbang, haruskah ia bercerita atau tidak. Sementara itu Yumni hanya bisa melihatnya prihatin.


Ia pikir hidup sang sahabat akan membaik, dan semakin bahagia setelah menikah, namun ternyata tidak seperti yang ia kira.


“Dosa apa aku Yum?” ujar Amra setelah merasa lebih tenang


“Mengapa semuanya terasa sangat berat? Mengapa Allah tidak hapus saja perasaan ini Yum? Mengapa DIA menyiksaku dengan persaan terlarang ini Yum? Aku lelah sekali!” Amra kembali terisak


“Fatih?” tanya Yumni pelan, Amra menghembuskan nafas pelan, dan menghapus air matanya, dan mengangguk pelan. Yumni sendiri tak bisa berbuat dan bicara apapun. Jika ia berada di posisi Amra ia pasti juga akan merasa sangat tersiksa.


“Bunda!” sayup-sayup Amra mendengar suara anak kecil yang terdengat sangat girang


“Bunda Amra!” dengan terkejut ia berdiri saat melihat Shireen berlari mendekatinya, dan langsung memeluknya dengan erat. Wajahnya masih terlihat terkejut


“Bunda!” Shireen mendongak memandang Amra, Amra tersenyum lembut


“Shireen dengan siapa disini?”


“Papah!” Shireen melepas pelukannya dan menunjuk ke arah tempat duduknya bersama sang ayah. Semakin terkejut Amra melihat ada Fatih tak jauh dari tempat duduknya.


Fatih berdiri dan mendekati mereka. Amra terlihat gugup dan menunduk. Sementara Yumni berdiri si hadapan Amra, seperti sedang menghalangi Fatih untuk mendekati Amra. Fatih memandagnya tajam, dan itu berhasil membuat Yumni menepi


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Fatih pada Amra, Amra hanya diam


“Hanya 10 menit, aku mohon!” Amra menarik nafas panjang dan mengangguk pelan.


Yumni beranjak sembari mengajak Shireen untuk sebentar memberi mereka ruang untuk saling bicara.


“Aku turut sedih atas kepergian istrimu!” ujar Amra pelan begitu mereka sudah sama-sama duduk


“Terimakasih, Ra!”


“Enam bulan ini, sangat sulit untuk menghubungimu Ra.. dan ternyata kamu sudah menikah dengan Hafidz, selamat atas pernikahanmu” meski Fatih mengucapkan hal itu dengan berhias senyum namun terdengar pilu di telinga Amra. Ia tak tahu mengapa Fatih terdengar kecewa.


“Aku selalu kalah selangkah dari Hafidz” ujar Fatih kembali


“Maaf?” tanya Amra tak mengerti


“Tentang surat yang kamu buang itu, aku memungutnya kembali Ra” Amra membulatkan kedua matanya terkejut


“Sejak membacanya, aku merasa harus melakukan sesuatu, karena aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu! Tapi, aku selalu kalah dari Hafidz..” Fatih tersenyum pedih di akhir kalimatnya


“Entahlah, kamu harus tahu ini atau tidak? Tapi aku sungguh tidak tahan lagi Amra, tolong jangan salah paham, aku tidak berniat buruk sama sekali!” Amra masih terdiam, ia masih sangat terkejut


“Waktu itu secara tak terduga Hafidz mengatakan padaku jika ia tertarik padamu dan akan menikahimu. Aku pikir itu hanya omong kosong anak SMA yang sedang di mabuk cinta. Tak ku sangka dia benar-benar tulus mencintaimu..”


“Ditengah-tengah perjuanganku mengumpulkan uang, menyiapkan rumah sebagai modal untuk melamarmu, takdir membawaku harus menikahi orang lain, hancur? Iya aku merasa gagal sebelum berperang! Rasanya sakit sekali, hingga saat ini! Apaplagi aku tahu, kamu menyimpan perasaan padaku! Amra sampai saat ini aku masih...”


“Cukup! Cukup!” Sela Amra dengan lembut namun tegas


“Aku tahu aku keterlaluan, tapi aku sudah sangat lelah dengan semua ini, Ra!”


“Tidak ada yang salah dengan perasaanmu! Hanya waktu yang membuatnya salah! Maaf Fatih, waktu 10 menitmu sudah habis!”


“Tapi Amra..!” Amra menggelengkan kepalanya dan beranjak cepat meninggalkan kafe itu.

__ADS_1


*******


 


__ADS_2