
Mereka bilang, cinta pertama itu akan melekat sampai kapanpun. Meski kau telah memiliki sebuah cinta yang baru. Rasanya, tidak akan pernah sama. Mereka bilang juga, jika cinta pertama itu menyakitkan. Tidak banyak orang yang berhasil dengan cinta pertamanya. Benarkah begitu??
Siapa yang tak pernah merasakan cinta pertama? Hampir semua orang di dunia ini pernah merasakan yang namanya cinta pertama. Ada yang berjalan lancar, adapula yang berjalan penuh liku, penuh luka, penuh air mata dan penuh pengkhianatan.
Padahal, cinta pertama itu adalah sebuah rasa yang benar-benar membuat hati meletup-letup dibuatnya. Berbunga-bunga, hingga kemanapun kita melangkah seakan langit menaburkan kelopak bunga penuh warna. Beruntung memang bagi mereka yang telah berhasil dengan cinta pertamanya, namun akan menjadi sebuah kisah, pengalaman paling menyakitkan bagi mereka yang gagal.
Dimana malam terasa sangat melelahkan. Kedua mata tertutup, tertidur, namun alam bawah sadar memberikan sebuah kisah yang melelahkan. Selalu hadir dalam mimpi, meski terkadang kita tak menginginkannya. Dan dimana siang terasa sangat menyakitkan. Karena pasangan kita yang berada di depan mata, namun wajah cinta pertama yang selalu tergambar. Rasa bersalah, rasa lemah, menghancurkan hati dan pikiran.
Jika cinta adalah anugerah, mengapa harus ada hati yang tersakiti karena itu? Jika mencintai adalah sebuah hal yang mulia lantas mengapa ada orang yang harus menelan pil pahit sebagai imbalannya.
Tersiksa dalam penjara cinta pertama yang tak pernah usai. Amra ingin sekali terbebas dari semua rasa sakit ini. Jika Tuhan mempersatukannya dengan Hafidz dalam ikatan suci, mengapa ia masih dibiarkan terpenjara oleh perasaan lampau yang bahkan tak pernah ia awali? Apakah ini alasan, mengapa sulit sekali baginya untuk melepaskan Fatih? Apakah bersembunyi dulu adalah sebuah keputusan yang salah?
Lelah...
Sungguh Amra merasa sangat-sangat lelah, ingin sekali Amra bertemu dengan orang yang bisa melepaskan belenggu ini. Setidaknya, satu alasan yang mampu membuatnya “membenci” cinta pertamanya. Mungkin itu yang terbaik.
Mobil yang Amra tumpangi berhenti tak jauh dari tempat penitipan anak tempat Amra bekerja dulu. Di seberang jalan, ada sebuah kursi taman, Amra memilih duduk disana. Menyaksikan lalu lalang orang tua yang mengantarkan putra putri mereka, dengan datar.
Matahari yang mulai meninggi membuat pagi terasa hangat. Sinarnya menembus melalui, celah-celah dedaunan di pohon rindang tempat Amra duduk. Amra mendongak dan memandang hal itu. Kemudian, saat ia kembali memandang ke arah penitipan anak tersebut, Amra melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti disana. Sang pengemudi keluar.
Sendirian...
Tanpa putri ataupun putranya. Dia seorang pria yang sudah rapi dengan setelan baju kerjanya, setelah menutup pintu mobilnya, pria itu mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari sesuatu. Dari gelagatnya, terlihat dia sedang gelisah.
Amra yang tahu siapa pria itu hanya diam di tempatnya. Namun pandangan matanya masih tertuju pada pria di seberang jalan itu. Sebuah kenangan masa lalu melintas dalam otaknya. Ia teringat saat dulu, diam-diam memperhatikan pria ini, saat dia sedang bermain bola atau sedang berbincang dengan teman-temannya. Atau saat pria ini, diam seorang diri.
Namun tak tergambar sedikitpun ekspresi mengenang di wajahnya. Wajah Amra masih saja datar. Hanya saja dari kedua matanya yang sanyu, bisa terlihat jika ia sedang sangat putus asa dan lelah.
__ADS_1
Amra, masih seperti itu. Meski saat ini, pria yang tampak gelisah itu akhirnya menemukannya. Dari seberang jalan, pria itu memandang Amra, dan berdiri mematung untuk sejenak. Kedua mata mereka saling bertemu, saling memandang dengan pilu.
Satu penyesalan dari pria ini adalah, mengapa ia tak memperjuangkan wanita yang saat ini tengah memandangnya dengan putus asa ini? Dan memilih menikahi wanita lain, meski saat itu ia terpaksa. Semakin, ia memandang wanita di seberang jalan itu, semakin ia merasa jika wanita itu tengah menyimpan beribu-ribu kesedihan.
Perlahan kakinya melangkah, mendekatinya yang seakan tak berkedip memperhatikannya. Mereka telah berada dalam jarak yang begitu dekat sekarang. Wanita itu —Amra— akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bersamaan dengan itu air matanya menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya
“Amra...”
“Jika aku tahu, bahwa kamu adalah seorang pria yang jahat, aku tidak akan pernah tertarik kepadamu” ujar Amra datar, masih tak memandangnya, pria itu menunduk
“Am...”
“Fatih... Semua sudah selesai, tidak perlu ada yang diperjelas lagi”
“Nggak Amra...” ujat Fatih sembari menggeleng dengan kuat
“Kamu tahu, aku adalah istri dari sahabatmu, berhentilah! Jangan ganggu kami!” Amra berujar dengan pelan namun tegas.
“Kemana kamu selama ini?” suara Amra bergetar, tangisnya tumpah, sementara Fatih hanya memandang Amra dengan prihatin. Kedua matanya juga memanas,
“Ketika kamu tahu bagaimana perasaanku melalui surat itu, kemana saja kamu?” Fatih masih terdiam, ucapan Amra ini benar-benar telah menohok ulu hatinya yang terdalam
“Jika kamu menaruh perasaan padaku sedari dulu, mengapa kamu menghilang? Kenapa justru sahabatmu, yang sama sekali tak ku kenal yang harus berusaha keras mendapatkan hatiku? “ Amra meninggikan suaranya. Mungkin ini pertama kali bagi Amra berkata dengan suara keras.
Fatih merasa sangat lemas mendapat serangan ini
“Bukan maksudku untuk menghilang Amra, aku berada pada posisi sulit saat itu!”
__ADS_1
Amra kembali memandangnya dengan tatapan keras
“SESULIT APA?”
Nafas Fatih cepat melihat Amra seperti ini, tak menyangka Amra yang terkenal lembut selama ini bisa seperti itu?
Sepertinya luka dalam hati wanita ini terlalu dalam dan meninggalkan rasa perih yang teramat
“Apakah lebih sulit dariku? Yang harus menelan rasa ini seorang diri? Tanpa kejelasan! Berdoa siang dan malam! Namun yang aku sebut dalam doaku tak pernah hadir? Situasi berat seperti apa yang kamu rasakan?”
“Amra.. maaf....”
“Mencintaimu diam-diam, dan memperhatikanmu diam-diam seperti orang bodoh!” Sela Amra masih dengan penuh amarah
“Dan sekarang! Dengan seenaknya kamu datang setelah aku menjadi istri orang lain?” Fatih semakin menunduk tak berdaya saat Amra semakin berapi-api
“Aku mohon! Aku mohon sama kamu, hentikan semua ini, sudah terlalu banyak dosaku kepada mas Hafidz karena tak pernah bisa mencintainya! Aku mohon hentikan Fatih, biarkan aku belajar untuk mencintainya, aku mohon jangan hubungi aku lagi! Jangan kamu ingatkan aku dengan raa sakit itu! Aku mohon!”
Suara Amra memelan, wajahnya sudah berurai airmata dan ia satukan kedua tangannya memohon. Fatih masih betah menunduk. Tak tahu ia harus bagaimana lagi. Amra menarik nafas panjang dan menurunkan kedua tangannya, kemudian beranjak pergi saat Fatih tak memberinya respon kembali.
****
Kebodohan terbesar yang pernah Fatih lakukan adalah menyia-nyiakan wanita seperti Amra. Yang masih berusaha menjadi istri terbaik untuk suami yang tidak pernah ia cintai. Melepaskan Amra begitu saja tanpa sebuah perjuangan. Menyerah begitu saja saat sulit baginya untuk menemukan sang cinta pertama.
Meski Ayu pernah menjadi istrinya, dan pernah menempati relung hatinya, namun sama sekali Ayu tak pernah menggeser posisi Amra dalam hatinya. Amra masih yang pertama di hatinya. Ia hanya bodoh saja! Menyerah pada situasi yang tak berpihak padanya dulu.
Dan pantas ia menerima kemarahan Amra. Ia bahkan muncul dan mengganggu pernikahan yang coba Amra pertahankan meskipun tanpa cinta itu. Apakah situasi telah berubah sekarang? Apakah ini hukuman dari Tuhan, yang membuatnya berada pada rasa sakit yang pernah Amra rasakan selama ini?
__ADS_1
Egois sekali ia jika seperti ini? Fatih terduduk di kursi itu. Memandang jalanan dengan sendu. Berpasrah, Akan ia terima semua ini. Merasakan sakit yang sama seperti yang pernah Amra rasakan. Menunggu waktu, kembali berpihak padanya. Menjalani hukumannya dan berharap, jodoh terakhirnya adalah Amra.
Tak peduli seberapa lama ia akan menunggu, mungkin sampai mati. Fatih tak peduli akan hal itu. Ia akan tebus segala dosanya, yang tak memperjuangkan Amra yang sudah jelas-jelas ia ketahui perasaannya. Sampai ia bisa pergi dari dunia ini dengan perasaan tenang.