Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Hari Pertama


__ADS_3

-2018-


Entah sudah berapa puluh kali sawah terlewati, berapa kali terowongan dimasuki dan berapa kali jembatan dipijaki oleh kendaraan panjang bak ular ini, hari telah berganti, mentari yang mengintip di ufuk timur itu begitu sedap di pandang mata. Amra memperhatikannya, menyimpan baik-baik dalam memory otaknya. Akan ia kenang pemandangan indah dan pengalaman menyenangkan ini dalam ingatan. Tak ada kamera mahal untuk mengabadikan, ia gunakan kedua matanya yang sempurna dan penyimpanan terbaik memory otaknya untuk mengabadikan semua yang tersuguh indah. Ia benar-benar telah jauh meninggalkan rumah, ada rasa yang benar-benar tak bisa ia ungkapkan. Sangat tak percaya ia akan keluar dari kampung itu dan menjelajah seperti saat ini.


Semalam, ia dan juga Fatih terus melanjutkan obrolan, hingga ia memohon ijin untuk tidur karena lelah. Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya seputar pengalaman selama enam tahun, meski tak begitu antusias menanggapi karena malu, Amra cukup mengikuti obrolan yang terjadi. Ia merasa semakin kagum kepada Fatih yang saat ini menjadi seorang pengusaha muda, dari ceritanya, Amra bisa menarik kesimpulan bahwa Fatih adalah laki-laki ulet pekerja keras. Sementara dirinya? Ia hanya gadis kampung biasa yang berusaha untuk menjadi maju, ia bahkan baru memulai saat teman-temannya sudah mulai beranjak menuju puncak kesuksesan. Ibarat kata, ia telah kalah start. Benar-benar jauh tertinggal.


Dipikir-pikir, Amra merasa malu, selama ini ia terus membayangkan bisa menjadi istri seorang Fatih, namun apakah Fatih akan mau mempersunting gadis biasa yang tak sebanding dengan dirinya itu? Itu adalah hal mustahil bagi Amra. Amra mengalihkan pandangannya dari jendela dan memandang Fatih yang masih tertidur. Menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Berharap khayalan itu bisa ia akhiri untuk saat ini. Amra menunduk saat ponsel yang berada di kursi itu bergetar, ponsel itu milik Fatih, sepertinya terjatuh dari genggamannya semalam, sebuah nama tertera di layar "My dear". Amra terpaku memandang layar ponsel itu, benar! Khayalannya harus segera diakhiri. Meski tak jago bahasa inggris, ia sangat mengerti arti dari dua kata itu. Segera Amra mengalihkan perhatiannya saat Fatih terbangun dan mengambil ponselnya dengan sedikit mengantuk


"Iya sayang..." Amra memejamkan kedua matanya, ada rasa sakit yang menghujam dadanya, selama ini ia telah mendambakan milik orang, tentu itu menyakitkan


"Aku naik ekonomi, bentar lagi nyampek stasiun pasar senen kok. Engga... Cuma pingin nostalgia aja.... Shireen udah bangun? Apa haha... Dia pasti kangen banget! Ya udah iya nanti aku kabarin kalau mau nyampek..." Fatih menyudahi pembicaraannya dan memandang Amra yang masih memejamkan mata, ia terus memandangnya tanpa berkedip. Lagi-lagi ada ekspresi tak terbaca dari wajahnya


"Aku tak pernah mengira takdir akan berjalan seperti ini Amra...." Iapun hanya mampu mengucapkan itu dalam hati.


Dan kali ini bergantian ponsel Amra yang bergetar, Amra membuka kedua matanya dan menerima telepon dari sang ibu itu


"Assalamualaikum buk..."


"Belum sampai kamu nduk?"


"Belum buk, kira-kira 15 menit lagi sampai stasiun Senen. Ibuk tenang aja, Yumni nanti akan jemput Amra kok buk, udah janjian.... Iya... Ibu juga jaga diri. Doakan Amra ya buk? Iya, Amra gak akan lupa pesan ibuk. Iya... Waalaikumussalam" Amra menghela berat dan menunduk setelah telepon terputus. Nama yang setia ia sebutkan dalam doanya telah menjadi jodoh untuk orang lain. Memang benar, hanya Allah yang berhak menentukan takdir seseorang, dan.... Hanya berharap kepada Allah yang membuat kita tak kecewa, ia telah salah karena terlalu berharap banyak akan berjodoh dengan Fatih. Dan sekarang ia kecewa


"Ibuk?" Tanya Fatih membuka percakapan, Amra menoleh dan mengangguk


"Jadi ini pertama kalinya kamu pisah sama keluarga?" Lagi-lagi Amra hanya mengangguk sebagai jawaban, Fatih tersenyum


"Pasti berat rasanya?"


"Berat sih udah pasti, tapi... Bagaimana aku mau maju kalau aku tidak berani menanggung rasa berat?"


"Aku setuju" Fatih tersenyum


"Oiya... Udah ada tujuan mau bekerja dimana?" Amra mengangguk ragu. Meski salah satu teman Yumni mau memperkerjakannya, ia tak yakin akan diterima dengan mudah. Mengingat hanya tamatan SMA, baiklah ia memang telah berani pergi tanpa ada persiapan yang matang


"Tapi tempat tujuan ada kan?"


"Iya... Aku akan tinggal dengan Yumni sampai aku menemukan pekerjaan tetap..." Seperti mengerti, Fatih mengangguk-anggukan kepalanya

__ADS_1


"Kalau kamu kesulitan nanti, aku bisa bantuin kamu"


"Iya, terimakasih"


"Kebetulan di tempat aku ada lowongan..." Amra memandangnya sejenak dan menghela


"Kamu gak tanya aku buka usaha apa?" Amra hanya memberinya senyuman simpul sebagai jawaban.


Tepat beberapa saat kemudian kereta berhenti. Amra dan juga penumpang yang lain telah sampai di pemberhentian terakhir. Jantung Amra terasa berpacu cepat saat melangkah menuruni kereta itu. Ada rasa gugup yang menggetarkan jiwanya. Bagaimana jika Yumni belum datang menjemput? Kemana ia harus pergi?


Banyaknya orang berlalu lalang dan suasana panas menyambut Amra yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kota metropolitan ini. Amra mengedarkan pandangan matanya dan merasa takjub. Ia masih ada di kawasan stasiun, namun ia sudah merasakan perbedaan yang cukup banyak dari stasiun dekat tempat tinggalnya. Sungguh kini ia telah berada di dunia lain yang tak pernah terbayangkan sama sekali olehnya, melihatnya saja ia tak pernah, karena memang dirumah tak ada televisi.


Melangkah perlahan mengeluari stasiun dengan perasaan senang bercampur gugup. Ia tinggalkan Fatih yang sedari tadi berdiri di belakangnya dengan diam. Sepertinya perasaan dalam dadanya itu membuat ia lupa untuk berpamitan.


"Amraaaaaa!!!!" Amra menghentikan langkahnya dan menoleh keasal suara


"MasyaaAllah.... Yumni"


Seorang perempuan modis berdiri tak jauh dari Amra. Celana jeans model terbaru ia padukan dengan kaos putih polos yang ia balut dengan kemeja bermotif kotak. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan acak-acakan namun terlihat bagus, terakhir sneakers putih menjadi pelengkap penampilannya pagi ini.


"Kangen banget tau gak....?" Yumni mendekat dan memeluknya erat, Amra tersenyum


"Ya ampun Ra.... Kamu berubah banget sih?" Yumni melepaskan pelukannya dan memandang Amra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Amra sendiri hanya tersenyum simpul


"Yuk.... Kamu pasti capek...." Dengan segera Yumni mengambil alih tas Amra dan menarik temannya itu mengeluari stasiun.


Yumni meletakkan barang bawaan Amra di bagasi mobilnya. Bukan mobil mahal, hanya saja sudah cukup bagus untuk ditempati seorang Yumni yang baru saja lulus kuliah tiga tahun yang lalu. Amra tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, mereka seumuran tapi mereka berbeda nasib. Amra memandang mobil itu dengan pandangan yang sulit untuk diartikan


"Kenapa Ra?" Tanya Yumni sebelum mereka masuk dalm mobil itu


"Engga apa-apa Yum..." Yumni tersenyum dan membukakan pintu mobil itu mempersilahkan sahabatnya untuk masuk.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan sang ibu kota. Gedung-gedung tinggi menjadi suguhan penyedap mata, pemamdangan baru untuk seorang Amra yang biasanya hanya memandang pepohonan dan tiang listrik itu. Tak ada suara atau obrolan sepanjang perjalanan, Yumni juga tak meminta Amra untuk mengobrol, ia biarkan dia menikmati perjalanan yang mungkin akan sedikit panjang karena macet.


Untuk menemani kesunyian, Yumni memutar sebuah lagu barat dan sesekali ikut bernyanyi. Ini adalah hal baru lagi bagi seorang Amra yang telinganya terbiasa mendengar sholawatan di toa musholla dekat rumahnya, dan terbiasa mendengar suara lantunan ayat Alqur'an yang ia baca sendiri maupun dari sang ibu. Jadi seperti ini kebiasaan orang-orang diperkotaan? Tapi Amra yakin tak akan semuanya seperti ini.


Amra terkejut bukan kepalang ketika mobil berhenti dengan mendadak. Karena mobil didepannya juga berhenti mendadak. Umpatan terdengar dari mulut Yimni, Amra menoleh padanya dan lebih terkejut. Masih tak ada komentar dari mulutnya, belum selesai keterkejutannya ini, ia dikejutkan lagi oleh dua orang pengemudi di depannya yang bertengkar saling menyalahkan, sepertinya telah terjadi tabrakan ringan. Tanpa sadar Amra menunduk

__ADS_1


"Astaghfirullah...."


"Kenapa Ra?"


"Aku tidak tahu kenapa Yum, aku merasa hari pertamaku di kota ini tidak begitu baik..." Jujur Amra masih menunduk, Yumni tersenyum maklum


"Lama-lama juga akan terbiasa" hibur Yumni menenangkan


"Apakah sudah terbiasa seperti ini?"


"Tidak semua orang di kota ini memiliki sifat seperti dua orang itu!" Ujar Yumni menegaskan jika tidak semua yang Amra lihat ini terjadi di kota ini, sembari menekan klakson beberapa kali karena jengkel perjalanannya terganggu


"Masih banyak orang baik disini, dan akan bertambah dengan datangnya ustadzah seperti kamu ini..." Goda Yumni


"Apaan sih Yum..."


"Tapi bener lho kamu berubah banget Ra..." Yumni kembali melajukan mobilnya


"Aku masih Amra yang dulu kok Yum"


"Aku gak nyangka kamu bisa kayak begini? Hebat kamu Ra....! Tapi gak gerah? Jakarta panas lho!" Amra tertawa geli mendengar pertanyaan ringan yang diajukan dengan serius itu. Membuat Yumni mengerutkan keningnya


"Kok malah ketawa sih?"


"Gak kok... Sudah biasa..." Ujar Amra setelah berhasil memghentikan tawanya


"Tinggal dipasangin cadar tuh..." Goda Yumni, Amra kembali tersenyum


"Doain aja..."


"Yaa ampuunn...!!" Yumni tertawa, entah apa yang membuatnya merasa lucu.


Seiring dengan perjalanan yang tak kunjung berakhir bagi Amra, mereka terus membicarakan hal-hal ringan untuk menghilangkan bosan. Dimulai dari pertanyaan tentang kegiatan Amra selama tujuh tahun ini, kemudian dengan Yumni yang ternyata berhasil menjadi seorang ilustrator yang sukses diusia yang masih muda. Itu karena kecintaannya pada dunia menggambar. Ia juga menjadi komikus yang memiliki pembaca setia di intenet dan itu juga cukup menghasilkan. Mendengar cerita itu, Amra benar-benar merasa iri. Bukan berarti ia tak menyukai kesuksesan Yumni, ia hanya terpacu untuk bisa melakukan hal yang sama seperti Yumni, iya! Dia sudah ketinggalan begitu jauh dan sekarang ia harus berlari untuk menyamai teman-temannya. Saatnya ia berusaha!


"Yang terpenting itu percaya diri dan yakin dengan kemampuan kita Ra, gak boleh ragu, kerja keras! Semua pasti bisa dilakukan dengan keyakinan dan keteguhan hati! Aku yakin kamu pasti bisa"


"Terimakasih Yum...." Amra tersenyum memandang sahabatnya itu

__ADS_1


"Yumni benar! Semua akan berjalan manis jika aku berusaha dan yakin, senang sekali bisa bertemu dengannya lagi, rindu ini terbayar dengan begitu manis!"


*****


__ADS_2