
Seperti biasa, keesokan harinya Amra kembali di sibukkan dengan pekerjaannya. Sejauh ini semua berjalan lancar, meski ada satu dua hal yang merisaukannya. Ia sambut "anak-anaknya" dengan wajah berseri-seri. Sebagian besar dari mereka sangat menyukai Amra. Salah satunya adalah Shireen. Entah mengapa, gadis cilik itu sangat lengket dengan Amra. Ia bahkan mampu menghilangkan kebiasaan minum susu dengan dot, hanya karena Amra menasehatinya. Sebelum itu sama sekali Shireen tidak mau lepas dari benda itu, meski kini usianya sudah hampir lima tahun.
Siang itu, wajah Shireen tampak sangat murung. Terlihat aneh melihat bocah yang biasanya sangat ceria itu tiba-tiba terlihat mendung. Amra mendekatinya sembari menampakkan senyuman paling manisnya
"Teman-teman sedang bermain.." ujar Amra sembari menyentuh punggung kecil Shireen
"Iya..." Shireen menjawabnya dengan lesu
"Emm?? Kenapa dengan wajah cantik Shireen? Apa diluar sedang mendung?" Perlahan Shireen menoleh, memandang Amra dengan mata polosnya. Tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Amra, Amra tersenyum lebar dan memeluknya. Entah mengapa, sejak sebelum tahu jika Shireen adalah putri dari Fatih, ia merasakan ada ikatan batin diantara mereka
"Kenapa sayang?"
"Bunda pernah di tusuk jarum?" Tanya Shireen dengan polos, Amra melepas pelukannya kemudian memasang tampang berpikir
"Kenapa bunda harus ditusuk jarum?" Shireen membenarkan posisi duduknya
"Disini..! Iyum terlihat kesakitan saat ditusuk jarum" Shireen menunjukkan punggung tangannya. Kini Amra memandang Shireen dengan lekat
"Apa iyum sedang sakit?" Amra mengerti jika iyum yang dimaksud Shireen adalah ibu, Shireen mengangguk
"Itu yang membuat Shireen merasa sedih?" Lagi, Shireen mengangguk. Amra tersenyum manis dan memeluk Shireen
"Iyum akam segera membaik, Shireen harus doakan iyum biar cepat sembuh" anggukan kecil terasa dalam pelukan itu membuat senyuman Amra semakin lebar.
Tidak ada yang mengetahui tentang cerita keluarga Shireen. Begitupun dengan Amra. Ia hanya mengira ibu Shireen hanya sedang sakit biasa.
...
Piknik keluarga Fatih kemarin harus dibatalkan karena dipertengahan Ayu tiba-tiba pingsan. Ini pertama kalinya bagi Shireen melihat sang ibu begitu sakit hingga hilang kesadaran. Pertama kali pula bagi Shireen melihat sang ayah begitu panik.
Hingga hari ini, Fatih tidak pergi bekerja untuk menemani Ayu yang masih belum juga siuman. Kondisinya bahkan tiba-tiba menurun. Kedua keluarga datang ke rumah sakit. Kesedihan terpancar dari wajah mereka yang berada di depan ruang tunggu sebuah kamar rumah sakit. Mereka tidak dijinkan masuk, karena hanya satu penunggu saja yang boleh menemani.
Penyaakit ini sudah diderita Ayu bertahun lamanya. Ini adalah kondisi terburuk Ayu sejak ia melahirkan Shireen dahulu. Mungkin Ayu telah menyerah dengan rasa sakitnya, mungkin Ayu sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Kedua ibu berpelukan sembari menangis pilu. Sementara kedua ayah sama-sama duduk terpekur. Mereka terlihat lebih tegar daripada kedua ibu.
Sementara Fatih, dia duduk terpekur di samping tempat tidur sembari menangis dengan diam, mungkin ia menyesal karena tak sepenuhnya menyerahkan cinta kasih kepada Ayu. Sementara Ayu begitu tulus mencintainya. Hembusan nafas panjang ia keluarkan sembari menghapus airmatanya.
Tiada guna ia menyesali semuanya, sekarang ia harus fokus pada tugasnya, merawat Ayu dan menghibur Shireen yang pastinya akan bertanya-tanya nanti.
....
Hari ini, Hafidz kedatangan tamu spesial, setelah hampir lebih dari tiga tahun akhirnya Pak Joko, sang ayah datang berkunjung ke rumahnya. Kali ini ia datang bersama sang adik, Syifa. Kedatangan mereka kali ini sama sekali tak disangka oleh Hafidz, sepertinya mereka tengah membuat kejutan untuk Hafidz
"Bapak kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini?" Ujar Hafidz dengan lembut sembari membantu membawakan barang-barang pak Joko
"Memangnya kenapa?"
"Ya kan kalau bapak bilang, Hafidz bisa jemput bapak di bandara.." Hafidz tersenyum begitupun Syifa yang kali ini senyumnya mengandung beberapa arti yang Hafidz tak mengerti
"Mbak Im.. tolong ya.." ujar Hafidz kepada asisten rumahnya agar membawa bawaan pak Joko dan Syifa ke kamar mereka. Sementara mbak Im membawa barang-barang mereka ke kamar, seorang asisten rumah yang lain datang membawa minuman dan beberapa cemilan ke ruang keluarga itu.
Syifa segera meraih remot telivisi untuk menonton tv sembari melepas penat. Alih-alih duduk diatas shofa Syifa memilih duduk di karpet dan merebahkan tubuhnya setelah mengambil bantal shofa.
"Aku ke dapur dulu..." Ujar Hafidz sembari beranjak, namun urung saat Pak Joko menahannya
"Duduk aja.. bapak sama adek mu sudah makan tadi.." Syifa melirik "mas" nya itu sembari mengangguk
"Mas Hafidz kapan tho yang mau melamar mbak Amra?" Syifa duduk dan bertanya dengan yakin, Hafidz sedikit melotot mendapat pertanyaan mengejutkan itu
__ADS_1
"Adekmu bener, katanya hubungan kamu sudah mulai membaik sama Amra..?"
"Bukan seperti yang bapak dan dek Syifa bayangkan.."
"Lalu seperti apa?" Syifa bertanya dengan nada menantang
"Kalian ndak mengerti.."
"Jangan lama-lama mas, kalau mas Hafidz sudah yakin langsung aja.. nanti mbak Amra keburu ditikung orang lho mas.." Hafidz tertawa mendengar kalimat serius dari Syifa itu. Membuat Syifa cemberut
"Oh iya Fidz.. sebenarnya bapak datang karena kepingin menemui Amra.." ujar Pak Joko setelah ikut mentertawakan Syifa itu, Hafidz menghentikan tawanya dan memandang Pak Joko dengan diam
"Mau ngapain pak?" Tanyanya kemudian
"Ada perlu.. nanti sore anterin bapak ya..?"
"Syifa ikut..!" Seru Syifa dengan semangat. Gadis yang akan segera melanjutkan kuliah itu terlihat selalu bersemangat saat berhubungan dengan Amra.
...
Amra melambaikan tangan melepas kepergian Shireen yang hari ini di jempum oleh neneknya. Tak seperti biasanya, Amra menarik nafas panjang dan beranjak masuk. Seperti ada rasa iri dalam hatinya, Fatih sepertinya begitu menyayangi istrinya. Amra menghela
"Astaghfirullah...." Gumamnya tak seharusnya ia memelihara perasaan seperti ini.
Begitu semua anak di jemput oleh orang tua mereka, Amra memutuskan untuk segera pulang. Entahlah dalam perjalanan pulang ia merasa hatinya terusik, tiba-tiba saja ia memikirkan nasib ibu Shireen. Ia menjadi penasaran, sakit seperti apa yang di derita ibunya hingga harus sang nenek yang menjemput. Dan sakit seperti apa sehingga ibu Shireen harus diopname di rumah sakit? Sedikit pikirannya bimbang, haruskah ia menjenguk? Atau tidak? Tapi alasan apa jika ia menjenguk? Amra menghela, hingga kebimbangannya hilang saat ponselnya berdering.
"Asaalamualaikum..." Ujarnya menjawab telepon masuk itu setelah sejenak berdiam diri berpikir akan menerima telepon masuk tersebut atau tidak
"Waalaikumussalam, Ra!"
"Ada apa mas Hafidz?"
"Bagaimana mas Hafidz tahu kontrakanku?"
"Yumni yang ngasih tahu... Kamu masih di tempat kerja?"
"Ndak mas, aku sudah di jalan ini, 10 menit lagi nyampe.."
"Oke aku tunggu, Assalamualaikum.."
"Waalaikumussalam..." Amra menghela dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Kejutan apalagi ini? Kenapa Hafidz ke rumahnya beersama pak Joko?
Sepuluh menit kemudian, bis yang di tumpanginya berhenti di tempat pemberhentian. Amra keluar dengan pikiran penuh tanda tanya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit lagi dengan berjalan kaki agar Amra sampai di kontrakkannya.
Setiba ia disana, pak Joko, Hafidz dan juga Syifa sudah menunggu di depan rumahnya. Dengan rasa sungkan ia segera mendekat
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..." Jawab mereka bertiga serentak, pak Joko tersenyum padanya
"Maaf nggeh, kalau saya tahu lebih awal saya pasti bisa pulang dulu..."
"Ndak apa-apa" ujar pak Joko menenangkan, dengan segera Amra membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di kontrakan sederhana yang bahkan tidak memiliki kursi itu.
Amra bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman, namun Syifa segera menahan dengan tangannya. Amra menoleh merasa heran
"Ndak usah repot-repot mbak Amra, kita cuma sebentar kok.."
__ADS_1
"Tapi..."
"Mbak Amra duduk saja.." sela Syifa lembut, Amra menoleh kepada Hafidz yang kemudian mengangguk. Amra menghela pelan dan kemudian duduk
"Saya benar-benar ndak enak membuat pak Joko menunggu..." Ujarnya dengan lembut
"Ndak apa-apa nak Amra... Bapak cuma sebentar, ndak usah repot-repot..!" Seru pak Joko diiringi tawa renyah
"Ada perlu apa nggeh? Kenapa sampai repot-repot datang ke tempat sederhana ini?"
"Iya.. Bapak akan langsung saja, Bapak datang untuk melamarkan nak Amra untuk anakku Hafidz..."
Deg! Amra mematung sejenak mendengar pernyataan itu, seketika pikirannya kosong dan dia hanya bisa melongo memandang pak Joko. Tak hanya Amra, Hafidz pun terkejut dengan pernyataan pak Joko itu
"Bapak?" Bisiknya sedikit menegur, namun pak Joko tampak acuh tak acuh
"Bapak sudah sampaikan berkali-kali kepada ibukmu, tapi dia tidak punya jawaban.. jadi daripada bapak tidak tenak, bapak langsung saja bicara sama kamu nak Amra.." Amra menghela dan menunduk, Hafidz pun begitu, ini sudah berjalan begitu lancar seperti aliran air, Hafidz tak bisa lagi mencegah. Sejujurnya ia merasa malu kepada Amra
"Gimana nduk?" Amra terdiam sejenak, ia tak tahu harus mengatakan apa. Pikirannya sedang beradu, mencari jawaban terbaik
"Amra... Kalau kamu rasa berat, tidak perlu menjawabnya sekarang..." Ujar Hafidz turun tangan. Amra menghela dan mengangkat kepalanya, namun sebelum ia utarakan jawabannya, ponsel Amra berdering
"Maaf... Boleh saya terima telepon dulu?"
"Monggo monggo...!" Pak Joko berseru dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya, Amra beranjak ke kamar untuk menerima telepon itu
"Assalamualaikum, buk..."
"Amra...." Terdengar suara sedih di seberang sana, tapi itu bukan suara sang ibu
"Bulhek...? Ibuk mana?"
"Pulang nduk.. ibukmu...." Amra menahan nafasnya bersiap mendengarkan kelanjutan kalimat itu, spertinya bukan kabar baik, karena sang bulhek di seberang sana terdengar sedang menahan tangis
"Ibuk kenapa bulhek?" Amra masih mencoba tenang
"Ibukmu...sudah...gak ada nduk...."
"Innalillahi wainnaa ilaihii rojiun..." Amra terpekur mendengar kabar itu, kakinya lemas hingga ia tak sadar telah jatuh terduduk di lantai, mendengar suara jatuh, Hafidz dan yang lain beranjak menuju kamar Amra yang memang tak tertutup pintunya itu.
Dilihatnya Amra yang sudah menangis terpekur dilantai, Syifa mendekat dan memeluknya
"Kenapa mbak?"
"Ibuk..." Ujarnya pilu
"Ibukmu kenapa nduk?" Pak Joko juga bertanya
"Ibuk...ibuk... Sudah gak ada...." Tangis Amra pecah dalam pelukan Syifa, Hafidz menggembuskan nafas panjang karena terkejut
"Innalillahi wainnaa ilaihi rojiun... Yang tabah nduk..." Ujar Pak Joko
....
Tangis pilu juga terdengar di kamar perawatan sebuah rumah sakit. Tangis Fatih pecah begitu dokter menyatakan istrinya telah tiada. Setelah sejak kemarin kondisi Ayu terus menurun, akhirnya Ayu menyerah dengan penyakitnya. Allah telah berkehendak lain. Ia genggam tangan Ayu dengan erat sembari menangis sesenggukan. Ibu Ayu menangis dalam pelukan suaminya, begitupun dengan ibu Fatih.
"Maafkan aku Ayu...."
__ADS_1
Takdir itu adalah misteri, hidup ini adalah rahasia sang maha pencipta, begitu pula dengan kematian. Waktunya, penyebabnya... Semua itu adalah rahasia sang pencipta. Ada baiknya jika kita mempersiapkan kematian kita kelak karena kita tidak tahu kapan sewaktu-sewaktu ia akan mendatangi kita.