Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Takdir Yang Rumit


__ADS_3

Mau seberapa keraspun kita berusaha, jika hati sudah menolak, semua hanya akan sia-sia dan menjadi semu belaka. Terkadang, tak ada hasil yang baik untuk sesuatu yang dipaksakan. Mungkin, di kemudian hari akan berbuah manis, tapi bukankah itu membutuhkan waktu yang lama? Bukankah itu membutuhkan sebuah pengorbanan yang lebih? Dimana hati yang harusnya bahagia, harus teriris luka, dimana pikiran yang harusnya tenang menjadi bergemuruh, karena semua yang terjadi berjalan tak sesuai kata hati.


Amra menyadari hal itu, tapi jalan ini yang ia tempuh. Jalan ini yang ia pijaki. Rasa bersalah kepada sang ibu adalah pemicunya. Dan, tak bisa dipungkiri, ia juga terkagum dengan keberanian, tekad dan ketulusan seorang Hafidz. Ini adalah resiko yang harus ia terima. Merasakan sakit demi penebusan “dosanya” kepada sang ibu.


Tanpa bisa dipungkiri, ia juga harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa menerima takdir ini. Bagaimanapun ia telah menjadi istri dari seorang lelaki yang rela memberikan segalanya untuk Amra. Rela mengorbankan perasaannya demi menunggu Amra siap menerima cintanya.


Jalan mereka sama. Sama-sama sulit untuk bisa di taklukkan. Jika dipikirkan lagi? Apa yang membuat mereka berdua masih bisa bertahan sejauh ini? Hanya iman mereka yang bisa mengeratkan hubungan mereka yang sebenarnya saling bertolak belakang.


Semua tak lepas dari pertolongan Tuhan. Bayangkan saja, Hafidz baru bisa mendapatkan haknya sebagai seorang suami diusia pernikahan mereka yang menginjak setengah tahun. Jika bukan karena pertolongan dari Allah, tentu sulit bagi Hafidz untuk bertahan.


Dalam kegalauan hatinya, Hafidz masih percaya Allah akan membantunya. Ia sangat yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran dan ketulusannya kepada Amra. Jika Amra menjauh, bukankah yang harus ia berikan adalah cinta kasih? Karena hanya hal yang lembut yang mampu menyentuh hati seseorang.


Perlahan, Hafidz melepas pelukan itu dan tersenyum kepada Amra dan sekali lagi menghapus sisa air mata di pipinya


“Maafkan sikapku semalam.. kamu pasti merasa bingung!” Amra hanya tersenyum simpul


“Kamu marah karena itu?”


“Tidak!” jawab Amra dengan cepat sembari menggeleng dan menampakkan raut wajah yang menggemaskan bagi Hafidz


“Kenapa cuma diam?”


“Kalau boleh jujur, aku hanya merasa sedih” ujar Amra pelan dan nyaris tak terdengar, entah mengapa ia merasa malu untuk mengakuinya. Dan Hafidz tersenyum mendengar pernyataan itu


‘Apakah ini awal dari jawaban atas doa-doaku?’ pikir Hafidz


“Dalam sekejab, aku merasa menjadi tersangka” dan kali ini Hafidz menanggapi ucapan Amra ini dengan senyum simpul sembari menundukkan kepalanya


“Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita pergi berlibur?”


“Kamu belum memberikan penjelasan atas sikap kamu semalam mas!”


“Perlukah aku jelaskan? Bukan sesuatu yang penting Amra, hanya ada masalah sedikit di kafe dan itu membuat moodku tidak baik... Maaf ya sayang” Hafidz mengelus kepala Amra yang hanya mengangguk kecil menanggapi permohonan maaf dari Hafidz itu


“Bagaimana? Kamu mau liburan kemana?”


“Mas... Kita tidak bisa tiba-tiba pergi liburan” Amra tersenyum “Aku siap-siap dulu ya mas, hari ini, hari pertama novelku naik percetakan, aku harus pastikan semuanya baik-baik saja...”

__ADS_1


Amra beranjak meninggalkan musholla kecil di rumahnya itu. Dan beranjak menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga sang suami. Hari ini dia akan meminta ijin Hafidz untuk berangkat lebih pagi. Karena ia masih ingin pergi ke suatu tempat sebelum ke kantor.


Bukan masakan yang istimewa, Amra hanya menyiapkan sarapan simple untuk Hafidz. Mengingat selera makanan Hafidz selama ini bukanlah sesuatu yang harus sulit untuk dibuat, hanya yang terpenting harus ada nasi. Menjadi kaya raya tak membuat Hafidz lupa bahwa dia orang kampung, yang sedari kecil sudah terbiasa makan nasi. Tidak pernah ada menu sarapan yang “kebarat-baratan” yang Hafidz mau hanyalah nasi, soal lauk, ia tak mempermasalahkan.


Sementara Amra sibuk di dapur, dengan dibantu oleh Mbak Im, Hafidz memilih untuk kembali ke kamar. Hanya untuk sekedar menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda kemarin. Dia akan berusaha melupakan apa yang dilihatnya kemarin. Tak peduli siapa yang Amra cintai, ia hanya akan terus dan terus memberikan cinta kasihnya kepada Amra. Menggedor pintu hatinya, agar dia tahu bahwa ada seorang pria bernama Hafidz yang mencintainya dengan tulus dan berjuang untuk mendapatkannya.


Saat sedang sibuk dengan tabletnya, ponsel Amra yang berada di meja nakas berdering. Ada sebuah nomor tak dikenal tertera di layar sedang memanggil, Hafidz hanya memandang itu, tanpa berniat sedikitpun untuk mengangkatnya. Namun, ada sedikit rasa tak nyaman dalam hatinya, bukan ia sedang mencurigai Amra, tapi ia merasa aneh saja. Dan benar saja, sesaat setelah panggilan itu berakhir, masuk sebuah pesan singkat , dan itu terbaca oleh Hafidz, air mukanya berubah keruh melihat pesan singkat itu, rahangnya mengeras, meski tampak dari luar ia terlihat biasa saja.


‘Ra.. ini aku, Fatih, tolong angkat teleponku!’


Itulah isi pesan singkat yang masuk. Hendak mengambil ponsel Amra dan menghapusnya, namun urung Hafidz lakukan, karena pintu terbuka, dan Amra masuk sembari tersenyum lembut kepada Hafidz


“Mas...” seketika raut wajah Hafidz berubah menjadi hangat begitu memandang Amra


“Ada apa sayang?”


“Boleh tidak aku berangkat lebih pagi? Aku harus ke suatu tempat..” Hafidz hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban


“Terimakasih mas...”


“Oiya... Sarapan sudah siap, kita sarapan bersama?”


Amra mengangguk, kemudian mengambil ponselnya dan beranjak keluar kembali. Kali ini, dia akan menyiapkan bekal makan siang untuk Hafidz. Iya begitulah Amra, meskipun belum ada rasa cinta dalam hatinya, ia masih terus berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Hafidz, sebagaimana janjinya sebelum ia memutuskan untuk menerima lamaran Hafidz. Bukan atas dasar cinta, hanya rasa hormat kepada suami.


Hafidz menghela, ia sedikit kecewa saat Amra membawa ponselnya. Ia sangat berniat untuk menghapus pesan singkat itu. Namun kali ini ia gagal. Sungguh ia sangat tidak ingin Amra berhubungan dengan Fatih lagi. Di saat hati Amra yang sedang gamang ini, Hafidz merasa Amra akan goyah dan ia takut Amra melakukan hal yang tak seharusnya.


Amra meletakkan ponsel itu di meja marmer dapurnya. Sembari memasak untuk bekal makan siang Hafidz, ia juga sedang menunggu telepon dari Pak Hamzah, untuk memberikan kabar tentang tambahan pada novelnya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian ponselnya berdering, tanpa sempat melihat siapa yang menghubungi, Amra langsung menerima panggilan masuk tersebut


“Assalamualaikum pak Hamzah! Jadi bagaimana? Sudah tidak ada masalah?” ujarnya dengan cepat


“Waalaikumussalam, Ra!” Amra, menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan makanan dalam kotak bekal itu saat mendengar suara itu asing.


Dan dengan segera ia melihat ulang layar ponselnya, sebuah nomor asing tertera di layar


“Akhirnya kamu mengangkat teleponku, Ra!”

__ADS_1


“Maaf, siapa ini?”


“Fatih..! Bisakah kita bertemu Amra?” Amra terdiam tak memberi jawaban apapun, ia masih terkejut, bagaimana bisa Fatih menghubunginya


“Amra.. please!” terdengar di seberang sana Fatih sedang memohon, Amra menghela pelan dan menunduk


“Aku akan ke penitipan anak setelah ini!” ucapan singkat itu menjadi jawaban Amra. Dan dengan cepat pula ia memutuskan sambungan, bahkan Amra sampai lupa untuk mengucapkan salam.


Amra bernafas dengan sedikit cepat diiringi dengan degupan jantungnya yang seakan berlomba karena begitu cepatnya. Amra meletakkan ponselnya dan berpegangan pada meja karena ia merasa detakan jantungnya begitu kuat. Hafidz yang berada di tangga sedari tadi berlari mendekati Amra dan memegang kedua lengan Amra. Amra kembali terkejut dan menoleh pada sang suami, wajahnya tampak pucat pasi


“Kamu baik-baik saja sayang?” Amra memandang Hafidz dalam, hingga akhirnya ia peluk tubuh itu dan menangis dengan diam. Tak ada yang Hafidz ucapkan lagi, ia hanya membalas pelukan itu


“Istirahat saja di rumah!”


“Maaf mas, aku tidak bisa.. ada hal penting yang harus aku urus” ujar Amra pelan sembari melepas pelukannya dan melanjutkan kegiatannya, sebelumnya, ia sudah menghapus air matanya tanpa sepengetahuan Hafidz, ia tak ingin Hafidz tahu menahu mengenai hal ini.


Sungguh bukan karena ia tak menghormati suaminya itu, ia hanya ingin menyelesaikan semua ini sendirian.


“Dan maaf sekali lagi, karena sepertinya aku tidak bisa menemanimu sarapan, aku akan langsung berangkat setelah ini mas! Jangan lupa, mas Hafiz harus membawa bekal ini! Okey?” Amra tersenyum, Hafidz memandangnya dengan pandangan tak biasa. Entahlah seperti sebuah kekecewaan


“Aku antar”


“Terimakasih mas, tapi pak Yanto sudah siap!” Amra meraih tangan Hafidz, menggenggamnya sejenak dan kemudiam menciumnya sebelum ia beranjak ke kamar untuk mengambil tas. Bahkan ia tak berganti baju terlebih dahulu


Hafidz menghela sembari memandang istrinya yang tampak sangat buru-buru itu. Kemudian menunduk dan mengusap wajahnya dengan sedikit kuat. Tanda jika sedang merasa sangat kesal dan banyak fikiran.  Kedua telinganya juga memerah, biasanya itu menjadi pertanda jika ia sedang merasa marah.


******


Menjalin hubungan baru tanpa menyelesaikan masalalu, hanya akan menambah sebuah kesengsaraan. Banyak hati yang harus dikorbankan, banyak luka yang harus dibubuhkan. Adakalanya, lebih baik dan lebih dewasa jika selesaikan terlebih dahulu sebuah kisah yang belum tuntas. Agar apa yang kita jalani dikemudian hari menjadi lebih baik dan lebih bahagia.


Sebagai manusia, mungkin ini adalah salah satu kesalahan Amra. Namun bukan sepenuhnya kesalahan dia juga, karena bagaimanapun, Amra juga sedang berada pada kondisi yang tengah hancur, merasa bersalah kepada sang ibu. Dan kebetulan orang yang ingin ibunya jadikan menantu adalah Hafidz.


Sebenarnya, Amra sendiri juga berada pada situasi yang sangat sulit. Jika boleh ia berandai-andai? Seandainya sang ibu masih diberikan umur yang panjang oleh Tuhan, mungkin ia akan memilih Fatih sebagai pelabuhan terakhirnya. Karena bagaimanapun, hanya Fatih lah yang berada dalam hatinya selama ini. Seorang pria yang selalu ia sebutkan namanya dalam doa. Bahkan ia juga merasa telah memiliki ikatan batin dengan putrinya.


Tapi, perputaran takdir terkadang tak sejalan dengan apa yang dibayangkan. Diakhir cerita penantiannya selama ini, harus ada orang lain yang menjadi pelabuhan terakhirnya. Jika kisahnya tak bahagia, mungkin takdir sedang ingin menunjukkan betapa ia harus lebih bersabar dan berbesar hati.


Terombang-ambing dalam keadaan seperti ini, Amra masih ingin berprasangka baik kepada Tuhannya. Ia serahkan semuanya kepada Tuhan yang telah menjamin kehidupannya. Sembari terus berharap, ia akan mendapatkan akhir yang membahagiakan.

__ADS_1


Amra merenung, memandang keluar jendela mobil. Ia sandarkan kepalanga disana. Melihat lalu lalang kendaraan yang melaju tak seirama itu. Ada yang cepat, ada pula yang perlahan. Wajahnya terlihat sendu ditengah cerahnya pagi.


‘Tunjukkanlah jalan keluar dari semua ini ya Allah... Jika kehadiran Fatih hanya akan membuat hamba dan mas Hafidz menjadi buruk, hamba mohon jauhkan dia dari hamba, hapuskan rasa ini. Biarkan hamba berikan rasa cinta ini kepada suami hamba, orang yang lebih berhak mendapatkannya.. Hamba mohon ya Allah.. kepada siapa lagi hamba harus meminta pertolongan’


__ADS_2