Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Secarik Kertas


__ADS_3

-2011-


Fatih terdiam ketika gadis yang di kenal santun itu meninggalkannya tanpa memberinya kesempatan sama sekali untuk melanjutkan pertanyaan. Ia pandang punggung gadis itu dengan diam. Ada rasa lain dalam hatinya, namun ia tak bisa menjelaskan rasa seperti apa itu. Kini pandangan matanya beralih pada sebuah kertas yang tergeletak di samping tong sampah itu, ia penasaran, kertas seperti apa yang harus melakukan perunangan dulu untuk membuangnya, tanpa pikir panjang Fatih memungut kertas yang telah lusuh itu. Belum sempat ia membukanya, terdengar sebuah pengumuman jika prosesi wisuda akan segera dimulai.


Melupakan rasa penasarannya untuk sejenak, Fatih memasukkan kertas itu dalam saku celana. Kemudian berlari ke tempat acara, dimana semua teman-temannya telah siap untuk diwisuda. Duduk dengan segera dan mengedarkan pandangan ke deretan bangku di sebelah kanan, mencari si pembuang kertas itu


"Cari apa sih?" Fatih terperanjat kaget mendengar pertanyaan salah satu temannya


"Engga ada..." Singkatnya dan duduk tenang


"Coba kamu lihat ke sebelah sana...!" Tunjuk temannya itu ke suatu arah, dimana disana tengah duduk tenang seorang siswi berhijab yang tengah dicari Fatih, Fatih tertegun melihat itu, mengapa sang sahabat ini menunjukkan keberadaannya


"Siapa sih?"


"Siswi dari kampungku..."


"Kamu kenal dia? Atau dia kenal kamu?" Sang sahabat memandangnya keheranan ketika Fatih mengajukan pertanyaan beruntun dan tampak antusias


"Nanya doang..." Ujar Fatih membela diri karena merasa terpojok dengan tatapan itu


"Kami gak saling kenal, dan takdir juga tidak menempatkan kami berada dalam satu kelas, diantara ratusan siswa yang ada disini, walaupun satu angkatan juga akan sulit untuk saling mengenal, apalagi dia yang gak pernah nongkrong-nongkrong kayak yang lain.."


Ok! Fatih dibuat bingung sekali saat ini, sahabatnya itu benar-benar tak mengalihkan perhatian dari Amra, begitu siswi itu dipanggil oleh teman-temannya. Sadar atau tidak Fatih terus memperhatikan sang sahabat dengan seksama, ia ingin menebak apa yang ada dalam pikirannya saat ini, tak peduli sang kepala sekolah yang mulai mengoceh sebagai kata sambutan untuk para tamu


"Aku rasa sepertinya aku jatuh hati sama dia, selain cantik dia juga sangat sederhana, apalagi kepribadiannya itu.... Menurut kamu gimana kalau selesai wisuda ini aku nembak dia? Atau ngelamar dia?"

__ADS_1


"Apa?" Fatih terkejut bukan kepalang, namun ia menahan suara pekikan yang akan keluar dari mulutnya itu


"Hafidz? Kamu gila ya? Baru lulus SMA udah mau ngelamar anak orang, sukses dulu baru beraksi!" Iya... Sahabatnya yang bernam Hafidz itu hanya menunduk dan menghela


"Bingung banget aku Tih, aku sekarang sedang jatuh cinta, dan parahnya lagi aku gak bisa pacarin dia! Coba kamu bayangin, mana mau gadis kayak dia pacaran?" Fatih tertawa kecil dan menepuk pundak Hafidz menenangkan, walau sebenarnya ia merasakan sedikit sakit di dalam dadanya, gadis sederhana itu juga menjadi idaman sahabatnya. Fatih menghela, bukan prihatin terhadap Hafidz, namun ia prihatin terhadap dirinya sendiri. Karena baru sekarang ia merasa, jika sebenarnya ia tertarik kepada Amra, namun selama ini ia mengabaikannya.


"Habis lulus aku mau ke Jakarta!" Gumamnya tanpa sadar, ia sedang berpikir, apa yang akan terjadi jika memang benar ini cinta, ini adalah hari terakhir bagi Fatih, kesempatan terakhir, setidaknya meski bukan hubungan yang spesial, mereka bisa saling mengenal kan?


"Apa kamu bilang?" Hafidz bertanya ketika ia bergumam tadi


"Engga ada..."


..........


Prosesi wisuda telah usai, Fatih memilih untuk pergi mencari tempat tenang untuk mengobati rasa penasarannya. Tepat di taman samping sekolah, ketika tak ada seorangpun disana, Fatih buru-buru membuka kertas yang ada dalam sakunya. Sebuah tulisan rapi dan indah terpampang ketika ia telah membuakanya, bisa Fatih tebak, ini mungkin sebuah puisi.


...Sungguh pasti aku telah berdosa melakukan hal semacam ini...


...Tak patut ku lakukan...


...Namun nurani ini terasa gersang begitu aku tak melakukannya...


...Teriakanmu ketika bola yang kau mainkan tak bisa masuk dalam gawang selalu terdengar menghantui...


...Entah sejak kapan aku merasakan hal aneh seperti ini...

__ADS_1


...Mungkin kau lupa...


...Suatu hari kita pernah bertemu secara tak sengaja...


...Kau menumpahkan minuman pada kerudungku...


...Waktu itu kau panik dan hendak membersihkannya dengan tanganmu seraya merapalkan kata maaf dari bibirmu...


...Namun aku melangkah mundur dan membuatmu merasa heran, itu adalah pertemuan pertama kita!...


...Aku pergi meninggalkanmu begitu saja tanpa membalas kata maafmu...


...Aku hanya merasa gugup, tak biasa aku berhadapan dengan seorang laki-laki...


...Aku bahkan mengacuhkan panggilanmu dengan kata "hey" itu...


...Dan hari-hari berikutnya, tanpa aku tahu apa sebabnya, aku jadi suka diam-diam memperhatikanmu...


...Mungkinkah aku telah jatuh hati kepadamu?...


^^^-Amra-^^^


Fatih terpekur, laki-laki dalam tulisan itu adalah dirinya. Ia ingat betul dengan peristiwa yang tertulis dan sejak saat itulah ia mencari tahu tentang Amra. Meski hanya sedikit yang ia peroleh, memang mereka tak berada dalam satu kelas, namun senang rasanya ketika akhirnya ia bisa bertegur sapa dengan Amra. Hanya tadi saja sikap Amra yang membuatnya bingung. Namun kini kebingungannya terjawab, karena surat ini yang membuat Amra harus meninggalkannya. Benar kata Hafidz, gadis seperti dia tidak akan mudah untuk diajak pacaran, bahkan itu tidak mungkin. Namun apa yang bisa dilakukan oleh seorang siswa SMA yang baru lulus sekolah untuk membuktikan rasa cintanya?


"Dia memang cewek yang beda...." Gumamnya

__ADS_1


*****


__ADS_2