Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Pergolakan Batin


__ADS_3

Malam yang seharusnya sunyi dan tenang itu tidak pernah terjadi di perkotaan, entah apa yang dilakukan orang-orang perkotaan, hingga malam pun tak pernah sunyi, seakan tak pernah tidur. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Seorang wanita duduk menunduk di sebuah rungan sholat di rumah mewah itu. Tak ada cahaya terang, hanya cahaya temaram yang berasal dari lampu terang dari luar rumah. Sepertinya ia baru saja selesai melaksanakan sholat nya. Mukena masih ia pakai, begitupun dengan sajadah yang masih terbentang.


Tangannya tak berhenti bergerak seperti sedang menghitung sesuatu. Sementara airmatanya mengalir cukup deras. Ia sedang menangis sesenggukan, sorang diri di dalam rumah yang sepi itu.


Sudah enam bulan ia hidup sebagai istri seseorang, namun hatinya tak pernah merasa bahagia. Padahal suaminya begitu baik dan sngat memuliakannya. Tapi ia merasa tidak bahagia. Setiap malam, airmata selalu datang membawa kesedihan dalam harmonisnnya rumah tangga yang telah terbangun.


Yah.... Romantis dimata mereka yang menyaksikan, dan mungkin dimata sang suami yang mungkin tak tahu menahu tentang lelahnya hati sang istri


"Mengapa Engkau tetapkan perasaan ini yaa Allah, dosa apa yang telah hamba lakukan? Hingga hamba harus tersiksa dengan perasaan ini..?" Gumamnya pilu


Hingga satu jam kemudian, wanita itu —Amra— melangkah pelan menuju kamarnya. Tergambar dalam wajahnya jika ia sangat lelah dengan takdir yang rumit ini. Ia buka pelan pintu kamarnya, takut membangunkan Hafidz, suaminya itu. Namun ia terkejut saat melihat Hafidz sudah duduk diatas tempat tidur. Ia tunjukkan senyuman manis kepada Amra yang membalas senyuman itu, namun kedua matanya tampak sendu.


"Aku siapin baju buat sholat ya mas..." Ujarnya sembari berjalan menuju lemari


"Tidak perlu sayang..." Ujar Hafidz dengan lembut, Amra menghentikan langkahnya dan menoleh


"Aku sudah sholat..." Amra tersenyum dan memilih sibuk membereskan tempat tidur dibandingkan duduk disamping Hafidz, wajahnya menunduk, ia tak ingin wajah sembabnya terlihat jelas dimata Hafidz.


Diam-diam Hafidz memandangnya, senyuman dan kehangatan diwajahnya menghilang. Ada sedikit keputus asaan diwajahnya, entah apa yang membuatnya seperti itu


"Sayang...." Serunya sangat lembut, membuat Amra menghentikan kegiatannya dan memandang dalam sang suami, Hafidz pun memandang sama dalamnya, membuat Amra mengalihkan pandangan dengan cepat. Selalu ada rasa bersalah menyusup dalam hatinya ketika Hafidz menatapnya seperti itu


"Enam bulan sudah berlalu, apa aku masih tidak bisa menyentuhmu..?" Tanya Hafidz begitu lembut


Amra memejamkan kedua matanya menahan airmata yang tiba-tiba menyeruak. Pertanyaan lembut itu berhasil menikam hatinya. Memang sudah enam bulan ia menjadi istri Hafidz. Namun satu kalipun Hafidz belum "menyentuh" kehormatannya. Bukan ia tak mau, tapi Hafidz seperti mengerti jika ia belum siap dengan semua itu. Perlahan Amra terduduk di kasur merasa kedua kakinya lemas.


"Hari ini... Aku ingin kamu menjadi istriku, Amra..." Hafidz masih mengatakannya dengan pelan dan lembut, membuat airmata Amra lolos begitu saja.


Amra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mengatur perasaannya


"Aku sudah menjadi milikmu sepenuhnya, kamu bolehmelakukan apa saja kepadaku mas, tidak perlu meminta ijinku..." Amra tersenyum


"Kamu ikhlas...?" Kini Amra kembali menatap dalam kedua mata Hafidz, kemudian mengangguk yakin. Hafidz bergeser dan mendekat kepada Amra, kemudian ia raih tubuh itu dan memeluknya dengan hangat

__ADS_1


"Terimakasih Amra, aku berharap setelah ini kamu tidak perlu lagi menangis setiap malam..." Sekuat tenaga Amra menahan isakannya mendengar kalimat ini, ia tak menyangka Hafidz tahu dengan semua kepiluannya setiap malam itu.


****


Pagi tiba, Hafidz keluar dari kamarnya dengan wajah cerah penuh senyuman. Sementara Amra sibuk di dapur bersama mbak Nurul, menyiapkan sarapan. Begitu melihat Hafidz mendekat, Amra terseyum manis padanya


"Selamat pagi mas..." Ujarnya dengan sangat lembut, Hafidz mendekat, kemudian mencium kening istrinya itu penuh cinta


"Aku siapin dulu ya..." Sambil mengatakan itu, Amra meletakkan menu sarapan di meja makan dan Hafidz membantunya


"Terimakasih mas...."


"Iya sayang..." Hafidz tersenyum dan meraih tangan Amra yang hendak kembali ke dapur, memintanya untuk duduk saja


"Mbak... Minta tolong sisanya bawa kesini ya..!"


"Baik pak..."


"Aku bahagia sekali hari ini..." Ujar Hafidz sembari menatap lembut kedua mata Amra yang kemudian tersenyum malu.


Yah.. benar, Amra akan mulai berdamai dengan perasaannya. Berdosa besar jika ia terus menerus egois dan tak "melayani" Hafidz dengan baik sebagai suaminya, surganya.


"Apa aku harus ikut?" Amra jawab pertanyaan Hafidz dengan pertanyaan yang lain dan membuat Hafidz tertawa renyah


"Sepertinya begitu... Aku ingin mengenalkanmu kepada teman lamaku... Ini pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun.."


"Baiklah mas, aku akan siap-siap dulu..." Setelah mengatakan itu Amra beranjak menuju kamar.


Hafidz memang lebih fokus untuk turun tangan langsung mengelola cafe nya yang sudah memiliki beberapa cabang di pulau jawa itu. Meskipun ia memiliki beberapa perusahaan yang salah satunya adalah perusahaan penerbitan buku, yang saat ini ia percayakan pada sang istri untuk mengelolanya.


Karena ia yakin, Amra sangat sesuai dengan pekerjaan itu. Bukan ia tega memperkerjakan istrinya, tapi ini kemauan dari Amra yang tak ingin hanya berdiam diri. Selain itu, ia juga masih disibukkan dengan novelnya yang masih belum rampung karena banyak yang harus dia perbaiki.


Setelah melakukan sarapan, mereka berangkat berasama menuju cafe. Ini pertama kalinya bagi Amra setelah ia menolak pekerjaan dari Hafidz dulu. Perjalanan mereka lalui dengan tenang.


"Kamu tahu? Sampai saat ini aku masih sangat kagum sama kamu, sayang..." Ujar Hafidz, Amra yang sedang sibuk dengan mengetik sesuatu di ponselnya itu menoleh

__ADS_1


"Aku tidak sebaik itu mas.."


"Aku masih inget banget waktu kamu menolakku mentah-mentah saat aku akan memberi pekerjaan waktu itu.." Hafidz tersenyum, Amra tertunduk menyembunyikan rona merah dipipinya karena merasa malu


"Aku tidak menyangka sejauh itu kamu berpikir, ditengah kota yang tidak pernah kamu datangi sama sekali, di tempat yang sangat asing ini, kamu berani meninggalkan pekerjaan di depan mata hanya karena sebuah prinsip..."


"Udah ah mas.. aku malu.." Amra sedikit merengek manja membuat Hafidz tertawa kecil


"Tapi beneran lho, sikap kamu itu membuatku semakin merasa ingin mendapatkan cintamu..."


"Mas Hafidz..." Amra kembali merengek


"Kalu boleh jujur nih ya... Sebenarnya sejak SMA aku menyukai kamu Ra, tapi apalah daya aku yang tidak seberapa ini, harus memendam perasaan begitu lama karena merasa tidak pantas saja menjadi pasangan orang sebaik kamu... Lagipula, waktu itu aku juga bingung, bagaimana caranya mendekati wanita sholihah seperti kamu..." Amra mengangkat kepalanya dan memandang Hafidz yang fokus menyetir di sampingnya itu.


Tak ada yang ia komentari dari cerita Hafidz tadi. Ia hanya memandang sang suami untuk beberapa saat, Pria di sampingnya ini memiliki sebuah ketulusan untuknya, dan sebagai wanita ia merasa sangat beruntung.


Setelah melakukan perjalan selama kurang lebih 30 menit, mereka sampai di cafe. Dengan menggandeng tangan Amra, Hafidz melangkah masuk. Suasana masih terbilang sepi, karena masih pagi. Di ujung ruangan tepatnya di dekat sebuah jendela, ia melihat kawan lamanya sudah duduk menunggu. Posisinya membelakangi Hafidz dan juga Amra


"Itu dia, dia selalu tept waktu..." Hafidz tersenyum pada Amra yang juga membalas senyumannya itu


"Assalamualaikum bro...." seru Hafidz girang begitu mereka dekat, terkaget dengan seruan Hafidz, pria itu menoleh dan menyambut Hafidz dengan girang pula.


Namun senyumannya hilang sesaat saat ia melihat Amra disamping sang sahabat. Begitupun Amra yang saat ini merasa jantungnya akan copot karena sangat terkejut


"Yaa Allah... Kawanku Fatih... Kemana saja kamu?" Hafidz yang belum menyadari situasi segera mendekat dan merangkul hangat sang sahabat


"Ah iya... Aku tidak percaya kita dipertemukan kembali karena pekerjaan..."


"Apa kabar kawan?" Hafidz melepas rangkulannya


"Baik.. baik..." Fatih tersenyum namun pandangannya tak lepas dari Amra yang saat ini menunduk, mencoba menetralisir perasannya


"Emm... Sekali lagi, aku turut berduka atas istrimu... InsyaaAllah Allah akan menerima semua amal ibadahnya.."


"Terimakasih kawan..."

__ADS_1


"Oh iya... Kamu ingat dengan ucapanku waktu kelulusan dulu? Allah menjawab doaku... Perkenalkan, Amra... Istriku..." Dengan bangga Hafidz memperkenalkan sang istri. Amra mengangkat kepalanya perlahan dan memandang Fatih


"Hai Amra..." Amra tersenyum simpul dan kembali menunduk, tak tahan melihat kedua mata Fatih yang seperti menyimpan luka itu. Tak ada lagi obrolan, Fatih masih memandang Amra yang kini menunduk, dan situasi canggung ini membuat Hafidz menyadari ada yang aneh.


__ADS_2