
Jadilah malam itu menjadi malam yang berat untuk Amra. Sulit baginya untuk sekedar memejamkan kedua matanya. Bagaimana tidak? Serasa berturut-turut diberi kejutan. Fakta menyedihkan tentang Fatih yang sudah memiliki seorang putri yang tentunya membuat pernikahannya pasti bahagia. Entalah Amra ingin sekali tak merasa sedih, tapi itu sulit. Yah... Hati siapa yang tidak hancur melihat orang yang masih dicintai terlihat bahagia bersama keluarga kecilnya sementara masih seperti ini... Bisa dibilang menyedihkan.
Amra merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menghela beberapa kali dan seperti terlihat sedang kalut. Tak tahu mengapa tiba-tiba hatinya merasa resah, padahal tadi ia sudah mengobrol dengan sang ibu melalui telepon. Kejadian berturut-turut tadi membuat batinnya merasa lelah, belum selesai keterkejutannya bertemu Fatih, ia kembali dikejutkan oleh Hafidz yang tiba-tiba muncul.
Keresahan ini membuat Amra merasa ingin menangis saja, apalagi tadi ia telah salah bicara kepada Hafidz. Sebenarnya bukan salah bicara, ia hanya tak sadar mengucapkan itu. Ia hanya merasa tak enak hati telah menolak Hafidz mentah-mentah, karena itu ia meminta maaf. Namun sepertinya Hafidz mengartikan lain niatnya hingga mengajukan sebuah pertanyaan yang mampu membuat Amra kelabakan dan bimbang. Benarkah hanya perasaan bersalah? Atau karena hal lain?
...
Sementara itu, Hafidz baru saja sampai di rumahnya. Rumah yang terbilang cukup mewah untuk anak muda seperti dia. Seorang penjaga membukakan pintu gerbang rumah dengan terburu-buru begitu tuannya datang. Hafidz yang ramah menyambut penjaga rumahnya dengan senyuman dari dalam mobil.
Kemudian bergegas masuk, sudah tak sabar untuk mengekspresikan kebahagiaan yang sedari tadi ia tahan. Bahagia? Mengapa ia merasa bahagia??
Amra. Tentu hanya wanita itu yang menjadi alasannya berbahagia untuk saat ini. Seperti halnya di kampung, pertemuan tadi benar-benar diluar rencanya, ia memang benar-benar sebuah takdir yang sudah digariskan.
Apalagi bagaimana sikap Amra tadi? Sangat menunjukkan jika Amra merasa bersalah padanya. Bukankah itu pertanda jika Amra peduli padanya?
"Ya Allah... Inikah pertanda jika Engkau mengabulkan doaku? Mudahkanlah Ya Allah..." Ujarnya dengan bahagia begitu ia tiba di dalam rumah.
Sesaat kemudian ponselnya berdering, dengan lekas Hafidz menjawabnya. Bagi Hafidz semua telepon yang masuk adalah penting, itu dari Yumni
"Assalamualaikum Yum.. bagaimana?" Tanyanya seakan ia tahu apa yang akan di sampaikan oleh Yumni
"Waalaikumsalam.. udah beres, kemungkinan besok aku antar ke kamu.."
"Kenapa gak email aja biar cepet?"
"Ini kan spesial, mana bisa di email doang" ledek Yumni kemudian tertawa, Hafidz hanya tersenyum simpul
"Baiklah, aku tunggu di cafe..."
"Oke siap... Aku matikan ya..."
"Salamnya mana?"
"Ah.. lupa, Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..."
Ia tak tahu apa yang ada dalam pikiran Yumni, dia suka sekali memberi kejutan. Beberapa minggu yang lalu, Yumni meminta Hafidz untuk membantu menerbitkan sebuah karya novel dari temannya.
Hafidz memang benar-benar pemuda sukses, selain memiliki sebuah cafe ia juga bekerja sama dengan perusahaan penerbitan, ia bekerja sama dengan temannya sewaktu kuliah.
Dan alih-alih mengirim naskahnya melalui email, Yumni justru ingin memberikannya secara langsung. Pasti ada udang dibalik batu, parahnya ia tak bisa menebak apa yang sedang direncanakan oleh Yumni.
...
Ini adalah hari libur, hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang karena mereka dibebaskan dari rutinitas pekerjaan mereka. Begitu juga dengan Amra. Namun tidak bagi Hafidz, hari libur justru menjadi hari tersibuknya, karena cafenya benar-benar ramai saat hari libur, sebenarnya sudah ada orang yang bertanggung jawab di cafe, hanya saja Hafidz memang tidak bisa diam, dia suka sekali sibuk.
Sesuai dengan kesepakatana mereka, tepat pukul 11:00 siang Yumni datang bersama Amra ke cafe milik Hafidz. Amra mengedarkan pandangannya saat berada di parkiran. Ia masih ingat betul cafe itu, Amra mengalihkan pandangannya kepada Yumni dengan heran. Memang, Yumni tak memberi tahu apa-apa jika naskah novelnya akan ia serahkan kepada siapa.
"Iya.. Hafidz yang akan bantu kamu..." Ujar Yumni seakan sudah menebak pertanyaan Amra
"Kenapa?" Amra bertanya dengan berat
"Kenapa lagi? Dia teman aku" dan Yumni menjawabnya dengan begitu ringan
"Tapi Yum...."
__ADS_1
"Jangan berpikiran kalau Hafidz akan memudahkan jalan kamu, dia itu agak rewel kalau masalah pekerjaan, kamu tahu perfeksionis? Iya itu Hafidz" sela Yumni, Amra menghela. Semoga memang begitu, terlalu percaya diri memang jika Amra berpikiran Hafidz akan mengistimewakannya. Tapi itu memang kekhawatiran Amra
"Ayo masuk! Kenapa bengong aja?" Seru Yumni sembari menarik tangan Amra
Sesampai di dalam Yumni tampak sedang berbicara dengan salah satu karyawan disana, sementara Amra sudah mengambil tempat duduk. Yumni menghampirinya dengan senyuman, agak terlihat meledek. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Yumni saat ini
"Hafidz pasti akan terkejut, seperti kamu!"
"Yum... Jujur, aku merasa tidak enak hati, kita batalkan saja ya...? Kita cari penerbit yang lain" Amra masih saja merasa resah
"Dia datang.." tanpa menggubris kekhawatiran sahabatnya, Yumni malah menginformasikan jika Hafidz sedang berjalan kearah mereka. Memang posisi Amra membelakangi Hafidz
"Udah dari tadi?" Tanya Hafidz begitu sudah dekat
"Ennga kok, baru aja.." Yumni menjawab dengan senyuman. Kemudian Hafidz menoleh pada Amra yang ada disamping kanannya
"Amra?" Dengan berat hati Amra mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul sebelum kembali menunduk karena malu, Yumni tersenyum lebar melihat Hafidz masih memandang sahabatnya itu dengan lembut
"Fidz... Aku udah bawa naskahnya!" Ujar Yumni mengalihkan pandangan Hafidz dari Amra
"Oh.. iya.." Hafidz segera duduk di kursi kosong yang lain
"Amra yang menulisnya.." ujar Yumni kembali sembari menyerahkan sebuah flashdisk
"Amra?" Hafidz bertanya sembari memandang Amra
"Iya.. bukan karya yang bagus, aku hanya pemula yang mencoba peruntungan, tolong mas Hafidz teliti dengan benar, dan sampaikan kekurangannya kepadaku agar aku bisa memperbaikinya" Hafidz tertawa renyah
"Tentu saja.. boleh aku minta nomor telepon kamu?"
"Tentu saja buat ngabarin kamu lah Ra, masak iya lewat aku terus?" Ledek Yumni, Amra memandang Yumni dan sedikit manyun
"Iya.. Yumni benar, aku butuh menghubungi kamu untuk mengabari kamu tentang kelanjutan naskah kamu, mungkin kamu juga harus berkenalan dengan editor kami. Agar bisa berdiskusi lebih" Amra terdiam, dan menghela kecil. Ada apa dengan pikirannya, mengapa ia merasa sangat sensitif sehingga tidak memikirkan hal itu, ia merasa sangat malu
"Kalau Amra gak mau ngasih, aku aja nanti yang ngasih..!" Ledek Yumni kembali
"Yumni!" Tegur Amra lembut namun agak tegas
"Iya maaf..."
Amra menarik nafas panjang dan mengambil ponsel Hafidz yang telah disodorkan padanya, kemudian menulis sebuah nomor disana
"Terimakasih mas Hafidz, karena sudah banyak membantuku..." Ujar Amra tulus sembari memberikan ponsel itu kembali, Hafidz terdiam tak menanggapi ungkapan tulus itu. Membuat Amra maupun Yumni merasa heran
"Berterimakasihlah ketika aku telah berhasil memenangkan hatimu dan membahagiakanmu Amra..."
Yumni menutup mulutnya dengan tangan mendengar pernyataan yang terlalu berani itu. Sementara Amra, ia juga terkejut mendengar itu, ia hanya bisa mematung, Hafidz tersenyum simpul.
....
Naskah telah diserahkan, mereka pulang dengan perasaan yang lega, tapi itu hanya berlaku untuk Yumni. Sementara Amra masih ada resah di dalam hatinya. Jika boleh berkata jujur, ia sangat tidak menyukai sikap Yumni tadi, tapi ia merasa bimbang akan mengatakannya atau tidak?
"Kenapa Ra? Kok diam aja?" Mendengar pertanyaan itu Amra menoleh pada Yumni yang sedang menyetir. Terlihat keraguan di wajahnya
"Ada masalah? Ngomong aja Ra...!"
"Emh... Yum.. maaf ya, aku mau tanya..." Amra menghentikan ucapannya. Hatinya terlalu baik mungkin, hingga ia merasa sungkan untuk memprotes
__ADS_1
"Tanya aja Amra, kenapa harus minta maaf dulu? Aku salah ngomong ya?" Yumni menanggapi sikap Amra itu dengan lebih santai
"Bukan salah ngomong sih, tapi sikap kamu Yum, aku tidak terlalu suka..." Ujar Amra pada akhirnya
"Iya... Aku juga merasa seperti itu, maaf ya Ra.. aku hanya kepingin kalian gak bersikap terlalu kaku seperti itu, dan sebenarnya aku ingin kamu dan Hafidz bersatu menjadi pasangan... Sebenarnya aku tidak punya hak untuk menginginkan hal semacam ini, tapi entah mengapa aku melihat Hafidz tulus mencintai kamu.. maaf..."
"Jalanku masih terasa panjang, rasanya sulit untuk sekedar memikirkan pernikahan" Amra masih bersikukuh dengan tekatnya dahulu
"Aku belum bisa memberikan apa-apa kepada ibuk di kampung, aku juga belum bisa membahagiakan beliau..."
"Sudah Ra, ibu mana yang tidak bahagia memiliki seorang putri baik hati, sholihah kayak kamu gini? Coba kamu pikirkan apa yang begitu ibumu inginkan saat ini? Bukannya apa ya Ra, kalau kamu menolak Hafidz hanya karena masih terikat dengan masalalu, bagiku itu keterlaluan. Hafidz bukan orang sembarangan, selama aku kenal dia, gak ada yang namanya dia punya pacar dan ngelakuin hal yang aneh-aneh. Dia orangnya lurus, sayang sekali kalau kamu menolak orang sebaik dia..." Amra terdiam mendengar kalimat panjang dari Yumni itu.
....
Fatih tampak sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka untuk sekedar jalan-jalan menghilangkan jenuh dan penat. Ia akan berjalan-jalan bersama Shireen dan istrinya Ayu.
Shireen sudah tampak sangat bersemangat sejak pagi tadi, ia berlarian kesana kemari dengan penuh semangat. Semua sudah siap, waktunya berangkat. Namun Ayu justru terlihat pucat dan itu membuat Fatih merasa khawatir, sebentar ia mengajak Ayu untuk duduk
"Kamu yakin mau ikut? Tidak istirahat aja?"
"Yakin mas, aku tidak mungkin merusak kebahagiaan Shireen.." ujar Ayu dengan lembut
"Ayu... Kamu terlihat tidak sehat"
"Aku gak apa-apa" Ayu tersenyum, Fatih menghela dan memandangnya
"Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan bersama kalian, aku hanya ingin mengganti waktu yang dulu tidak bisa aku lalui bersama kalian... Bertahun-tahun aku hanya merepotkan, sekarang ijinkan aku untuk menggantinya"
Fatih meraih tangan Ayu yang terlihat kurus kemudian menarik istrinya itu perlahan dalam pelukannya, setetes airmatanya lolos membasahi pipinya.
Dulu, Ayu sangatlah penuh semangat sebelum kanker menggerogoti tubuhnya. Penyakit mengerikan itu Ayu dapatkan saat ia sedang mengandung Shireen, karena itu Ayu tak bisa merawat Shireen dari bayi karena ia harus fokus pada pengobatannya.
Ayu melepas pelukan itu dan menghapus airmata dipipi suaminya, kemudian tersenyum
"Kamu engga malu sama Shireen?" Ledeknya, putrinya itu sedang sibuk bermain bersama kucingnya sembari menunggu kedua orang tuanya siap dan mengajaknya keluar
"Mas.. aku tahu selama ini, tidak ada cinta di hati kamu buat aku... Tapi ketahuilah, aku sangat mencintai kamu"
"Ayu... Bagaimana..."
"Kalau aku tiada, jangan pernah ada penyesalan di dalam hati kamu, kalau aku tiada, jangan pernah menyalahkan diri kamu. Aku baik-baik saja selama aku bersama dengan orang yang aku cintai..."
"Tolong jangan katakan hal itu lagi, aku suamimu tentu aku mencintaimu..."
"Kamu boleh menikah lagi dengan wanita yang kamu harapkan selama ini" Fatih menarik nafas panjang dan tersenyum simpul, lagi-lagi Ayu mengatakan hal ini
"Sudah kita bahas lain waktu saja, Shireen sudah menunggu kita..."
...
Hidup memiliki begitu banyak rahasia, hidup memang begitu penuh misteri. Tidak ada yang bisa menyangka akan seperti apa masa depan kita kelak. Siang malam, setiap waktu, Amra selalu menyebut nama Fatih dalam doanya, berharap doanya mampu menggetarkan hati seorang Fatih. Tapi apalah daya? Allah memiliki jalan lain untuk kebahagiaannya nanti. Begitupun dengan Fatih, dulu ia juga berusaha sekuat tenaganya untuk bertemu dengan Amra, minimal ia mendengar kabarnya, namun apalah daya? Usahanya tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Wanita cantik bernma Ayu, justru yang kini berada dalam hati dan kehidupannya. Awal pernikahannya memang tak semulus seperti yang orang-orang kira. Bayangan Amra terus saja menghantuinya. Jika waktu itu Ayu tak sabar menghadapi keadaan itu, mungkin mereka sudah berpisah sejak dulu. Namun ketulusan hati Ayu mampu membuat Fatih menyayanginya sebagai seorang istri.
Tapi siapa yang menyangka jika hal tak diinginkan Fatih terjadi? Mungkinkah ia akan berpisah dengan Ayu? Dan merawat Shireen sendirian?? Mungkinkan umur jodohnya dengan Ayu akan berakhir dan jodoh lain yang akan menemani hari tuanya akan hadir?
***
__ADS_1