
Angin sepoi-sepoi berhembus manis sore ini, aroma tanah, pepohonan menambahkan ketenangan jiwa. Orang-orang hilir mudik, nampak begitu sibuk. Para bapak sibuk saling bahu membahu mendirikan sebuah tenda di depan rumah, para ibu sibuk di dapur menyiapkan berbagai macam hidangan.
Bulhek dan juga pak lek tak kalah sibuk, mengatur ini dan itu. Sementara Amra, dia tengah berada dalam kamarnya, membiarkan seseorang menggambari tangannya dengan henna. Wajahnya tak terlihat cerah ataupun muram.
"Amra... Ada Syifa.." bulhek muncul dari balik kelambu kamarnya
"Iya bulhek..." Amra hendak berdiri namun urung saat Syifa tiba-tiba muncul dengan wajah sumringah. Kedua tangannya memegang sebuah kotak besar berwarna ungu muda.
Kemudian Syifa berjalan memasuki kamar itu, meletakkan kotak di meja dan mendekat
"Wah.. cantik banget mbak..." Amra hanya menunjukkan senyumannya
"Syifa sudah makan?" Tanya Amra agak canggung
"Mbok ya jangan canggung gitu tho mbak, aku ini sekarang sudah jadi adekmu lho mbak..." Ledek Syifa sembari tersenyum sumringah, membuat Amra hanya bisa tersenyum
"Aku datang kesini buat ini lho mbak.."
Dengan lekas Syifa mengeluarkan ponsel dalam saku bajunya dan menghubungi seseorang, Amra memandang calon adik iparnya ini dengan heran saat ia menunjukkan layar padanya
"Amraaaaa...."
Teriakan itu berasal dari ponsel tersebut, Amra menoleh cepat dan tersenyum lebar melihat wajah sahabatnya
"Yaa Allah Ra... Sayangku.... Terimakasih banyak untuk kabar bahagia ini..! Aku seneng banget Ra, seneng banget, saat Hafidz mengabariku..! Kenapa kamu malah diem-dieman sih, nggak ngasih aku kabar...?"
"Maaf Yum..."
"Keputusan kamu tepat Ra, sangat tepat!! Kalaupun aku bisa datang, aku pasti udah terbang kesana sekarang..."
"Iya Yum.. jangan khawatirkan soal itu, doakan saja yang terbaik..."
"Aku sudah kirim hadiah pernikahan buat kamu!"
"Tidak perlu repot-repot Yumni..."
"Tidak ada yang repot untuk orang tersayang seperti kamu..."
Berbincang sejenak dengan Yumni membuat hatinya merasa seedikit lega. Tak bisa dipungkiri, pernikahan tanpa dasar cinta membuat Amra khawatir. Tapi ini keputusannya, demi sang ibu.
Akad nikah akan dilakukan esok hari, semua memang serba mendadak. Hanya satu minggu persiapan terhitung dari Amra menerima lamaran Hafidz. Tanggal pernikahan ini Amra yang memutuskan. Ia tak ingin berlama-lama dan membuat hatinya kembali bimbang. Untuk acara pernikahan memang dilakukan di rumah Amra, sebenarnya ia ingin acara yang sederhana saja. Namun, keluarga Pak Joko tentu tak ingin pesta yang sederhana saja. Akhirnya dengan seluruh biaya yg ditanggung olehnya, dan kesepakatan beesama, pesta pernikahan dilaksanakan dengan meriah di rumah Amra.
__ADS_1
Malam harinya, suasana di rumahnya masih tampak sibuk mempersiapkan pesta pernikahan untuknya. Amra duduk menatap langit-langit kamarnya. Air mukanya terlihat sedih, meski besok adalah hari bahagia. Kedua tangannya telah cantik dengan goresan henna. Gaun pengantin sudah tergantung rapi, siap untuk dikenakan. Tapi sungguh hatinya sangat berat terasa
"Ibuk... " Gumamnya pelan, kemudian menunduk, bersamaan dengan itu airmatanya menetes dan jatuh tepat di kedua tangannya
Besok, dia akan menjadi milik Hafidz seutuhnya, tentu ia merasa gelisah. Airmata terus saja mengalir dari kedua matanya. Namun hatinya terus bergumam menguatkan diri
"Ini takdirmu Ra... Ini yang terbaik yang sudah Allah tentukan untukmu.."
Sementara itu, di rumah Hafidz tak begitu banyak persiapan. Meski mereka juga sibuk. Syifa yang terlihat paling sibuk, ia baru saja selesai mempersiapkan segalanya. Sembari menghela kencang ia duduk di samping sang kakak
"Bahagia banget ya mas??" Hafidz menoleh
"Entahlah dek..."
"Udah.. jangan mikir macam-macam...!"
"Mas hanya merasa jika Amra terpaksa menerimaku, semakin aku pikir, semakin aku merasa ini tidak benar dek..." Hafidz menunduk
"Mas..." Ujar Syifa lembut sembari memegang pundak kakaknya itu, hingga Hafidz menoleh dan memandangnya. Ia berikan senyuman termanis untuk sang kakak dan mengangguk mantap seolah memberinya kepercayaan dan keyakinan lebih
"Hati seseorang tidak ada yang tahu lho mas... Apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya juga tidak ada yang tahu... Mas yakin aja sama perasaan mas, dan berikan cinta terbaik untuk mbak Amra..." Hafidz menarik nafas panjang dan menghela, setelah itu beranjak ke kamarnya.
'Assalamualaikum... Masih ada waktu Ra, kamu boleh membatalkannya. Aku akan ikhlas, jika memang hatimu masih terasa berat...'
Airmata Amra berhenti mengalir seketika. Bagaimana Hafidz tahu ia merasa berat dengan pernikahan ini? Amra menghela dan menunduk, dan dengan berat hati ia menelpon Hafidz. Telepon sudah tersambung namun sejenak tak ada kata dari mereka berdua
"Assalamaualaikum.. Amra" ujar Hafidz dari seberang sana, mendengar suara itu Amra kembali tidak bisa lagi menahan tangisnya. Mendengar isakan Amra, Hafidz hanya menunduk
"Aku tidak mau menyakitimu dengan cintaku, Ra.." Amra masih saja terisak tangis, dan tak sanggup untuk berucap meskipun hanya satu kata saja
"Aku tahu meskipun kamu tidak mengatakannya. Hatiku tahu, Ra... Aku ikhlas Ra..." Suara Hafidz bergetar, dan hening kembali, hanya suara isakan Amra yang terdengar
"Mas..." Hafidz yang hampir memutuskan sambungan urung saat mendengar suara Amra yang sepertinya sudah sedikit tenang itu
"Bimbing aku, aku tidak bisa mundur dengn keputusn yang sudah kubuat... Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu...!"
"InsyaaAllah.. Ra"
***
Iringan rebana sungguh meriah menyambut kedatangan Hafidz sebagai mempelai pria pagi hari ini. Para tamu undangan juga menyambutnya dengan begitu ramah penuh senyuman. Beberapa saksi pernikahan dan seorang penghulu sudah siap di tempat untuk ijab qabul nanti. Dengan langkah pasti, Hafidz dengan digandeng oleh kedua orang tuanya memasuki ruangan.
__ADS_1
Sementara Amra dikamar, ditemani oleh bulhek. Gaun syar'i putih dan riasan tipis namun manis membuatnya tampak elok dipandang. Amra sungguh sangat cantik pagi ini. Mendengar suara riuh rebana di luar membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Hafidz telah berjanji untuk menerima Amra apa adanya semalam. Hafidz telah berjanji akan membimbingnya, meski diawal mereka saling menangis. Kini giliran Amra untuk memenuhi janjinya pula.
Suasana penuh bahagia ini membuat Amra teringat kepada kedua orang tuanya. Andai mereka masih ada dan menyaksikannya menikahi seorang pria yang baik?
Amra menunduk saat rasa sedih menyeruak dalam dadanya. Andai sang ayah masih hidup, maka dia yang akan menikahkannya langsung dengan Hafidz. Tapi apalah daya, dia hanya bisa berandai-andai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Imriyah Lathifa Nazra binti Ahmad Mujahid dengan mas kawin emas 50 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.."
Amra memejamkan kedua matanya dan menghela nafas, bersamaan dengan itu airmatanya mengalir. Bulhek yang berada di sampingnya mengelus pundak Amra dan tersenyum bahagia.
Tak jauh berbeda, Hafidz juga meneteskan airmata begitu saksi mengesahkan akad nya. Tak menyangka, wanita yang sedari dulu ia cintai itu kini benar-benar telah menjadi miliknya. Menjadi teman hidupnya.
Perlahan ia berdiri, saat Amra keluar dari kamar bersama sang bulhek. Hafidz tersenyum begitu lebar melihat wanita anggun yang kini berjalan kearahnya itu. Amra mengangkat kepalanya dan menemui wajah-wajah bahagia disana, ia juga melihat senyuman penuh ketulusan di wajah pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Ia pun turut tersenyum.
Kini Amra telah berdiri berdampingan dengan Hafidz, dengan sedikit canggung ia raih tangan Hafidz dan menciumnya, sebagai simbol baktinya kepada sang suami. Hafidz meletakkan tangan kirinya di ubun-ubun Amra dan membacakannya doa, Amra memejamkan kedua matanya dan menangis kembali. Sungguh hari ini telah menjadi hari yang penuh haru bagi Amra, hingga ia tak bisa menahan airmatanya sedari tadi. Begitu selesai, Hafidz mengecup kening sang istri sebagai tanda kasih sayangnya.
Rebana kembali berbunyi diiringi suara merdu shalawat untuk memeriahkan pesta.
***
Pesta telah usai, untuk pertama kalinya mereka berada dalam satu kamar. Hanya berdua, mereka duduk berdampingan. Amra menunduk, sementara Hafidz terus memandangnya tanpa menghilangkan senyuman
"Kamu takut?" Tanya Hafidz tiba-tiba
"Apa?" Kejut Amra sembari menoleh dengan cepat, dan itu membuat Hafidz tertawa kecil. Membuat kedua pipi Amra memerah karena malu. Hafidz kembali tersenyum, dan perlahan mengangkat tangannya, hendak menyentuh pipi itu dan reflek Amra memejamkan kedua matanya dengan cepat.
Saat itulah senyuman Hafidz memudar, dan ia turunkan kembali tangannya. Tak juga merasakan sentuhan, Amra membuka kedua matanya, dan melihat Hafidz berdiri tak jauh dari tempat tidur membelakanginya. Melihat itu, Amra menunduk merasa bersalah
"Maafkan aku mas..." Ujarnya pelan, Hafidz menoleh dan tersenyum tulus
"Aku tahu apa yang kamu rasakan.. tidak perlu minta maaf.."
"Aku telah berdosa dengan melakukan hal ini kepadamu mas..."
"Jika memang masih sulit bagimu, aku ikhlas untuk menunggumu sampai merasa siap... Sebaiknya kita tidur.. kamu pasti lelah... Aku akan ke kamar mandi dulu" Hafidz ucapkan itu dengan senyuman, ia tak ingin Amra merasa bersalah padanya.
Sementara Amra hanya bisa menunduk dengan hati yang berkecamuk, saat Hafidz mengeluari kamar.
***
__ADS_1