
Amra masih terisak tangis mengingat semua kenangannya bersama sang ibu. Rasanya ini tidak adil bagi Amra, ia belum membahagiakan ibu yang sangat dicintainya itu, dan kini ketika sebentar lagi ia akan membawa kabar bahagia dan meningkatkan taraf hidup sang ibu. Dia telah berpulang dan meninggalkannya. Ini tidak adil! Amra masih ingin berbakti lebih kepada sang ibu
"Kenapa Engkau mengambil ibuku ya Allah..." Gumamnya tanpa sadar di sela-sela tangisnya
"Astaghfirullah... Tabah mbak Amra, ikhlaskan ibuk..." Syifa semakin mengeratkan pelukannya
Tangis Amra semakin kencang begitu wajah sang ibu seperti terlintas dihadapan matanya. Semua kenangan bergulir begitu saja seperti rol film, membuat hati Amra terasa di cabik-cabik
"Amra..." Panggilan lembut dari Hafidz berhasil meredakan tangisnya, meski ia masih menunduk dan sesenggukan
"Aku tahu kamu sangat hancur sekarang, tapi...jangan sekali-kali kamu menyalahkan keadaan, apalagi sampai protes kepada ketentuan Allah ini! Semua sudah di gariskan... Kamu ikhlas kan ibumu, doakan beliau agar memiliki tempat terindah disisi Allah..." Hafidz berjongkok di depan Amra dan mengucapkan kalimat itu dengan perlahan, lembut dan hati-hati. Amra menunduk dan kembali menangis dengan diam
"Astaghfirullahal 'adziinm..." Hafidz tersenyum simpul, ingin rasanya ia mengelus kepala Amra, tapi itu mustahil. Setelah menghela pelan, Hafidz berdiri untuk memesan tiket pesawat
"Syifa, tolong bantu Amra menyiapkan barang-barangnya, kita harus segera berangkat.."
"Iya mas.." Syifa mengelus pundak Amra beberapa kali kemudian membantunya berdiri dan menuntunnya untuk duduk di tempat tidur, sebelum beranjak untuk membantu Amra bersiap-siap
"Aku bisa pulang sendiri mas.." ujar Amra begitu merasa sedikit tenang
"Mana bisa kamu pulang sendiri dengan keadaan seperti ini? Aku akan mengantar kamu Amra.. aku sudah pesat tiket pesawat.."
"Pesawat? Aku tidak punya uang buat naik pesawat..." Amra juga ingin segera sampai ke kampung, tapi tidak ada uang untuk membeli tiket pesawat
"Jangan pikirkan itu...!" Seruan lembut itu membuat Amra mengangkat kepalanya dan memandang Hafidz, yang menampakkan senyuman teduh nya
"Terimakasih banyak mas Hafidz, aku tidak tahu bagaimana cara membalasmu..."
"Cukup dengan kembalikan senyumanmu..." Amra memandangnya lekat dengan kedua mata penuh airmata, entah apa yang ada dalam pikiran Amra saat ini. Namun pandangan Amra kali ini lebih tajam dan dalam dari biasanya. Hafidz merasa lemah mendapat tatapan itu, dengan segera ia alihkan pandangannya dari Amra
"Maafkan aku... Amra..." Airmata Amra kembali menetes, memgingat keinginan terakhir sang ibu. Pak Joko sendiri hanya diam memperhatikan mereka, ia juga menyukai Amra dan berharap Amra menjadi menantunya. Syifa memandang Hafidz sembari menghela pelan, kemudian mendekati Amra,
"Sudah mbak... Kita berangkat sekarang!" Amra beralih memandang Syifa dan mengangguk pelan. Syifa membantunya berdiri dan membopong Amra keluar rumah, Hafidz masih pada posisinya, sampai pak Joko mendekat dan memegang bahu putranya itu
"Dia sedang terguncang..." Hafidz mengangguk dan terlihat menyesal telah mengucapkan kalimat sepertu itu, kemudian menyusul setelah menatik nafas beberapa kali.
Tak butuh waktu puluhan jam untuk sampai di kampung halaman, namun perjalanan ini terasa sangat lama bagi Amra. Ia ingin berhenti menangis, namun semakin ia berusaha untuk berhenti, semakin deras pula airmatanya mengalir. Beruntung ia satu tempat duduk dengan Syifa, jadi masih ada yang bisa menenangkan
"Ibuk..." Gumamnya disela-sela tangisnya, Syifa tak bisa banyak kata, ia hanya bisa mengelus punggung Amra mencoba untuk menenangkan
Sekitar lima jam kemudian mereka sampai di rumah Amra. Sudah tidak banyak pelayat, suasana sudah tak seramai tadi. langit sudah gelap karena hari telah berganti malam. Dari jauh sudah terasa begitu banyak kabut duka di rumah sederhana itu. Tak hanya sanak saudara yang merasa berkabung, para tetanggapun bersedih dengan kepergian orang sebaik ibu Amra. Mereka juga memiliki banyak kenangan dengan beliau. Mobil berhenti tepat di depan rumah, Amra bergegas keluar dari mobil berlari sembari meneriakkan nama ibunya
"Ibuukkk....."
Tangisnya kembali pecah saat ia memasuki rumah dengan kalut. Bulhek yang mendengar suara Amra segera mendekat dan memeluknya, menenangkan keponakannya yang begitu kalut itu
__ADS_1
"Ibukk... Ibukk..." Nafasnya terengah-engah
"Ibukmu sudah dikebumikan, Ra..." Mendengar bisikan itu, tubuh Amra lemas dan jatuh pingsan dalam pelukan sang bulhek
"Amraa..." Tak terasa Bulhek berteriak panik, Hafidz segera mendekat, namun ia tak bisa menyentuh Amra. Akhirnya dengan bantuan beberapa orang Amra digotong menuju kamar.
Hafidz bersandar pada dinding dan tampak sangat khawatir. Ia hembuskan nafasnya kencang sembari menunduk. Rasanya ingin segera ia menikahi Amra saat ini, ia benar-benar ingin berada di dekat Amra pada saat seperti ini, Syifa mendekat
"Mas... Kita pulang dulu.." ujarnya pelan
"Tidak, mas akan disini.....!" Dia hanya ingin memaastikan Amra baik-baik saja.
Malam semakin larut, Amra telah tersadar dari pingsannya. Ia sudah lebih tenang, meski masih banyak sekali kesediahan terpancar di wajahnya. Malam ini dia akan ditemani oleh bulhek hingga tujuh harian sang ibu selesai. Amra keluar dari kamar dan duduk di teras rumahnya, disana ia dan ibu biasa berbincang. Malam ini terasa sangat berbeda, kehangatan yang biasa ia rasakan kini menghilang. Ia sendirian...
***
"Anak keduanya yang ada di kota sedang mencari istri, dan pak Joko merasa tertarik padamu.... Ibu pikir, dari pada kamu luntang-lantung seperti ini, lebih baik kalau kamu menikah nduk....!"
"Amra masih belum siap buk...."
"Lho? Kamu kan sudah 25 tahun nduk? Ibuk dulu menikah saat ibuk umur 15 tahun...." Tutur sang ibu lembut
"Tapi Amra belum siap buk... Maaf, Amra masih ingin kerja..." Kepalanya menunduk, mengisyaratkan rasa bersalah karena menolak keinginan ibunya
"Lho? Pak Joko itu keluarga baik-baik lho nduk ! Apa gak sayang kalau ditolak? Ibuk ini kepingin kamu hidup enak...."
"Bukannya Amra tidak mau patuh sama ibuk, Amra sungguh masih ingin sukses dan membahagiakan ibuk.... Jika Amra menikah, Amra akan berkeluarga sendiri dan akan jarang bersama ibuk... Maaf buk...."
Sang ibu menoleh padanya dan memandang putrinya itu sedikit kecewa. Namun apa yang bisa ia lakukan? Mengarungi biduk rumah tangga memang sulit, apa mau dikata jika yang bersangkutan masih tak siap?
"Dia pulang lho nduk! Kamu gak kepingin ketemu dulu? Setidaknya buat pertimbangan?"
"Sekali lagi maaf buk, jika hati Amra sudah tidak mantap, ada baiknya kami tidak usah bertemu, daripada nanti membuat luka! Lebih baik kami tidak usah kenal dulu buk..." Sang ibu menghela
"Baiklah... Ibuk tidak akan memaksa, tapi ada baiknya jika kamu pikir-pikir lagi..." Amra hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kemarin, waktu kamu lagi ke rumahnya bu Tuti, pak Joko kesini lagi, menanyakan kelanjutan dari pernyataannya beberapa minggu yang lalu....! Dia bilang, nak Hafidz sudah rela meminggalkan pekerjaannya demi menunggu jawaban pasti dari kamu nduk! Ibuk tidak akan memaksa, tapi bukankah ketika ada pria baik yang berniat untuk mengkhitbah akan sayang jika ditolak? Nak Hafidz juga orangnya ganteng, pinter dan sudah mapan lagi..!"
***
"Ya Allah... Ibuk.... Amra minta maaf..." Amra menyandarkan tubuhnya pada dinding dan menangis sembari menutup wajahnya. Itu adalah pertama kali dalam hidupnya Amra menolak permintaan ibunya berkali-kali. Meskipun sang ibu sudah berkali-kali pula membujuk. Dan sekrang ia merasa menjadi pendosa karena itu. Hilang sudah kesempatannya untuk meminta maaf, hilang sudah kesempatan untuk berbakti. Hilang sudah kesempatan untuk meminta doa, dan semuanya telah hilang. Mungkinkah ini hukuman? Ia bahkan tak hisa melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya? Mungkinkah ini hukuman dari sang kuasa karena ia begitu egois?
Amra terpekur di tengah malam yang gelap itu. Tangisnya pecah begitu kerasnya. Hari terberat dalam hidupnya telah dimulai. Rasa sesal membuat dadanya semakin sesak, andai ia tahu sang ibu akan berpulang dengan cepat, andai ia tahu saat-saat bersama ibunya hanya tinggal sebentar saja, dia tidak akan pergi dan menolak permintaan sang ibu.
"Ibuk....." Ujarnya terdengar begitu menyayat hati disela-sela hembusan nafas pilunya.
__ADS_1
Dari dalam rumah bulhek juga menangis melihat Amra sehancur itu. Ia tahu bagaimana Amra sangat menyayangi ibunya. Sang suami mendekat dan memegang kedua lengannya
"Gimana kita bisa ninggalin Amra sendirian, pak?"
"Amra anak yang kuat, dia akan segera kembali baik-baik saja seiring berjalannya waktu, bu... Kita juga punya tanggungan di Surabaya..." Bulhek menunduk sedih.
Di luar, tak jauh dari rumah duka. Hafidz berdiri memandang Amra dengan hati yang hancur pula. Perasaannya terhadap Amra begitu dalam. Ia merasa tak kuat melihat orang yang sangat dicintainya itu hancur seperti ini
"Kamu tidak akan pernah sendirian, Ra... Akan aku pastikan itu!" Ujarnya dengan penuh tekat kemudian beranjak pergi.
Keesokan harinya.....
Malam yang panjang, telah Amra lalui. Lelah menangis Amra kembali masuk ke dalam kamarnya dan berbaring. Ia ingin segera tidur, dan berharap semua ini hanya mimpi buruk. Saat adzan subuh berkumandang, Amra keluar dari kamarnya untuk mengambil wudhu
"Ibuk?" Ujar Amra pelan kemudian tersenyum sembari memasuki kamar sang ibu saat ia melihat sekilas ibunya sedang menggelar sajadah bersiap untuk sholat subuh. Namun senyumannya menghilang begitu ia tahu telah salah mengira, dia bulek Na yang memang memiliki paras sangat mirip dengan ibunya
"Sudah bangun, nduk?" Begitupun dengan tipe suaranya. Amra hanya mengangguk dan kembali keluar dengan perasaan yang tak karuan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan tangisnya. Dia tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Ia harus tabah dan ikhlas melepas kepergian sang ibu, tugasnya saat ini bukanlah terus menerus meratapi yang sudah terjadi. Tidaklah boleh seorang muslim meratapi kepergian seseorang yang disayangi. Dia harus segera bangkit dan melanjutkan hidup.
Saat matahari meninggi, Amra telah bersiap-siap untuk berangkat ke makam sang ibu. Meski tersisa kesedihan di wajahnya, hari ini ia lebih terlihat normal
"Mau kemana, nduk?"
"Ke makam ibuk, Amra pergi dulu bulhek... Asaalamualaikum..!" Amra tersenyum simpul kemudian beranjak keluar.
Amra mengayuh sepeda usangnya perlahan menuju tempat bersemayam sang ibu saat ini. Memang benar dibandingkan kemarin, hari ini Amra terlihat lebih cerah. Secerah suasana pagi ini. Sesekali ia tersenyum ramah membalas sapaan murid-muridnya dulu, sampai akhirnya kayuhan sepedanya terhenti, saat seorang nenek tua, yang biasa dipanggil mbah Yem menyapanya. Amra adalah gadis penuh sopan santun sedari dulu, tak mungkin baginya terus berjalan, sementara orang yang lebih tua darinya menyapa
"Assalamualaikum.. mbah..." Amra turun dari sepeda dan mendekat
"Yang sabar ya nduk..." Mbah Yem memeluknya, Amra tersenyum simpul sebagai usahanya untuk tidak menangis
"Ibukmu lebih disayang sama Allah..."
"Nggeh mbah... InsyaaAllah Amra sudah ikhlas..." Amra melepas pelukan itu perlahan sembari menunjukkan senyumannya.
Kematian orang baik akan ditangisi oleh banyak orang. Bu Marni, adalah sosok yang sangat baik, sudah terlihat sebaik apa dia karena telah membesarkan Amra menjadi seorang gadis yang juga sangat bagus akhlaq nya, mempunyai rasa malu sebagai seorang perempuan.
"Mau kemana nduk?"
"Mau ke makam ibuk, mbah.. kemarin Amra tidak sempat untuk memandikan dan mengantar ibuk ke peristirahatan terakhirnya..." Mbah Yem menepuk pundak Amra untuk menguatkan, Amra menganggukkan kepalanya tanda terimakasih.
"Amra pergi dulu ya mbah, Assalamualaikum.."
Kembali ia mengayuh sepedanya menuju pemakaman. Sampai akhirnya lima menit kemudian ia sampai. Sebelumnya ia sudah bertanya kepada bulhek dimana letak makam sang ibu. Ia susuri pemakanan itu mencari pusara sang ibu yang ternyata bersebelahan dengan sang ayah. Amra tersenyum pahit melihat itu. Kemudian ia duduk diantara dua makam itu, menyentuh gundukan tanah keduanya dengan pilu. Segera ia tundukkan kepalanya, memanjatkan doa untuk keduanya. Salah satu amal terbaik bagi seseorang yang telah meninggal adalah doa dari anak-anaknya yang sholih dan sholihah. Orang tua yang beruntung dan sukses bukanlah orang tua yang bisa memberikan anaknya kemewahan atau harta duniawi. Orang tua yang sukses ialah ketika mereka bisa mendidik seorang anak yang bertaqwa kepada Allah dan berbakti kepadanya meski mungkin tak adalagi jasadnya di dunia ini.
"Kesedihan terdalam seorang anak adalah ketika ia tidak lagi mendapatkan doa ampuh dari tangan seorang ibu..." Gumam Amra sembari menyentuh nisan sang ibu
__ADS_1
"Maafkan Amra bu...." Terlalu banyak kesalahan yang Amra rasa, hingga membuatnya merasa sesak saat mengucapkan kata maaf.
Tinggallah ia seorang diri, penyemangatnya telah pergi meninggalkan ia seorang diri. Setengah dari kebahagiannya telah pergi bersama dengan pulangnya sang ibu ke pangkuan Ilahi, setengah jiwanya terasa hilang dan itu membuat semua terasa berat untuk dilakukan. Mungkinkah... Sosok pengganti, yang akan mengisi ruang kosong dalam hatinya akan segera hadir? Atau... Ruangan itu akan kosong dalam waktu yang lama?