Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Dilema


__ADS_3

Bukannya merasa lega, Amra justru merasa gelisah. Ada sebuah peluang, setidaknya sebagai bantu loncatan untuknya, namun ia tak bisa mengambil peluang itu. Akhirnya ia dan Yumni kembali dengan tangan kosong. Yumni sangat menyayangkan keputusan Amra ini, meski Amra sudah menceritakan alasannya tidak menerima pekerjaan yang sudah menunggu di depan mata itu. Mereka bahkan sempat melakukan cek cok tadi, tapi apa yang bisa dilakukan Yumni? Keputusan Amra begitu bulat, ia hanya bisa mengalah dan mendukung apapun itu kemauan sahabatnya. Ia yakin pasti ada alasan yang lebih kuat dari sekedar apa yang disampaikan Amra padanya.


Sepanjang perjalanan ini, Amra hanya diam memandang lalu lalang kendaraan. Ada yang penuh dipikirannya, namun ia tak tahu harus menyampaikannya atau tidak. Yumni sendiri juga hanya diam, membiarkan Amra memikirkan ulang keputusannya itu. Sebenarnya ia merasa malu pada Hafidz


"Sudah adzan Yum, sholat dulu ya..." Ujar Amra


"Nanggung Ra... Benatar lagi nyampek rumah..."


"Itu ada masjid! Gak baik menunda-nunda..." Amra meliriknya dan tersenyum, Yumni hanya menghela dan membelokkan mobilnya memasuki pelataran masjid


"Kamu gak turun?" Amra bertanya saat ia telah keluar dari mobil


"Di rumah aja..." Amra kembali tersenyum keibuan


"Gak sayang? Udah di masjid lho!" Yumni menghela lagi kemudian kaluar dari mobil, Amra tersenyum semakin lebar dan menggandeng tangan sahabatnya itu


"Sholat dirumah juga masih keburu kali Ra... Harus banget ya kayak begini?" Amra hanya mengangguk mantap


"Yang penting kan masih keburu waktu?"


"Iya kalau masih keburu? Kalau gak?"


"Pasti keburu lah... 100 meter lagi kan kita nyampek rumah, ini juga baru adzan?"


"Kamu yakin?" Pertanyaan singkat itu membuat Yumni harus memutar otak untuk menjawabnya. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menggetarkan hatinya. Selama ini ia selalu berpikir pasti ada waktu untuk menunda, berbeda sekali dengan cara pikir Amra yang seakan setelah ini waktu akan berhenti untuknya. Ia sangat faham kemana arah pertanyaan Amra ini, maksudnya adalah kematian yang kapan saja bisa datang......


Perlahan Yumni melepas gandengan tangan Amra dan berjalan mendahului. Amra hanya memandangnya dengan diam, ia tak memgerti arti sikap itu.


Sepuluh menit kemudian, mereka selesai melaksanakan sholat maghrib. Amra terus memperhatikan Yumni yang berada di shaf berbeda dengannya itu, kemudian menghela. Ia alihkan pandangannya dan menunduk dengan rasa berat. Apa yang terjadi tadi telah menjadi beban pikiran baru dalam otaknya. Apakah ia sudah bertindak benar atau malah ia terlalu gegabah? Atau ia terlalu berlebihan menanggapi sesuatu? Bagaimanapun ia sadar, sulit untuk menemukan pekerjaan, sementara ia harus segera memperoleh pekerjaan. Tapi disisi lain, hatinya pasti tak akan nyaman? Amra memejamkan kedua matanya dan menghela


"Bukan karena aku sombong Ya Allah... Aku hanya merasa malu menerima kebaikan mas Hafidz setelah aku mengecewakannya..."

__ADS_1


Adunya dengan resah. Tapi bagaimana jika ia tak segera bekerja? Haruskah ia menjadi benalu untuk Yumni yang begitu baik padanya? Ini baru hari pertama untuknya, tapi mengapa ia merasa begitu berat seperti ini?


"Apa ibuk sebenarnya gak ikhlas aku berangkat?" Gumamnya


Padahal ia mengira hari pertamanya akan berjalan dengan baik saat menerima kabar jika salah seorang teman Yumni bersedia membuka lapangan pekerjaan untuknya. Tapi mana ia sangka jika dia adalah Hafidz?


"Ra?" Amra menoleh dengan terkejut, Yumni sudah berada di sampingnya


"Udah selesai?" Tanyanya, Yumni mengangguk


"Ya udah yuk...! Malam ini aku masakin ya?"


"Ngga usah, kita makan di luar aja..."


Bukan restoran mewah atau tempat mahal lainnya, sebuah kedai nasi goreng kaki lima menjadi pilihan mereka. Dengan lalu lalang kendaraan sebagai iringan musik dan gemerlapnya lampu jalanan yang menjadi suguhan pemandangan. Bukan karena Yumni pelit atau semacamnya, ini adalah pilihan Amra, sepertinya ia belum terbiasa makan di tempat yang terbilang mewah. Yumni sendiri juga tak keberatan karena ia pikir berbincang di area terbuka seperti ini terasa lebih akrab dan nyaman.


Yumni mengeluarkan ponselnya seembari menunggu pesanan datang, sementara Amra yang tak memiliki ponsel secanggih itu hanya diam menikmati suasana baru. Berbeda dengan di kampung, selepas sholat maghrib, suasana terasa menjadi sangat sunyi, karena semua orang memilih untuk masuk ke rumah mereka masing-masing untuk sekedar berbincang bersama keluarga. Ini hal baru untuk Amra


"Iya?" Amra mengalihkan pandangannya pada Yumni


"Ceritain dong kenapa kamu bisa sampek sebegini berubahnya? Iya... Memang sih dari dulu kamu itu udah kalem banget... Tapi sekarang tuh aku ngerasa banget perubahan kamu..." Amra hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan itu


"Apa kamu mengalami hal yang sifatnya spiritual banget?"


"Aku tidak tahu apa yang terjadi sama aku Yum, aku hanya menjalani apa yang harus aku jalani...kamu jangan salah, penampilan seseorang itu tidak bisa mengukur seberapa dalam kadar keimanannya.. jelas aku sudah pasti tak sebaik apa yang terlihat diluar! Aku hanya seseorang yang sedang dalam proses belajar..." Yumni menghela dan tampak terharu


"Tuh kan... Kamu itu berhasil banget buat hati aku bergetar..." Keluh Yumni dengan manja, membuat Amra tersenyum simpul


"Tidak usah berlebihan seperti itu Yum, nanti aku jadi besar kepala..."


"Kenapa kamu tolak Hafidz?" Senyuman Amra sedikit memudar

__ADS_1


"Apa benar hanya karena kamu berharap pada Fatih itu?"


"Alasan yang pertama karena aku merasa belum melakulan apapun! Aku masih belum mencapai kata sukses untuk mimpiku, tahu lah... Aku masih ingin berkelana..."


"Alasan kedua?"


"Fatih...." Singkat Amra sembari menunduk


"Bukankah kamu bilang dia sudah menikah?"


"Benar. Aku pasti berdosa sekali mengharapkan cinta suami orang....." Yumni terdiam karena tak tahu harus menanggapi apa. Dan kebetulan pesanan mereka datang. Jadi tak ada obrolan kembali saat makan berlangsung.


~Keesokan harinya~


Hari ini adalah hari perjuangan seorang Amra dimulai, setelah semalaman membuat beberapa surat lamaran kerja, pagi ini ia akan mulai usahanya untuk mencari pekerjaan. Ia berangkat seorang diri, berbekal arahan dari Yumni. Dimana ia harus naik bus, bus apa yang harus ia naiki, kemana rute yang harus ia tempuh untuk sampai di rumah Yumni kembali, semua itu ia tulis dalam buku catatannya.


Pagi ini, ia akan berkeliling di kompleks pertokoan tak jauh dari rumah Yumni. Siapa tahu salah satu toko disana memerlukan seorang pegawai. Tas ransel usang menemani perjalanannya. Amra segera meminta supir angkot yang ia naiki untuk menghentikan mobil begitu ia sampai dipertokoan yang dimaksudnya.


Dan mulailah ia memasuki toko yang sudah buka itu satu per satu untuk bertanya. Namun jawaban yang diterimanya masih sama meskipun ia sudah memasuki hampir lima toko yang ada disana


"Maaf.... Lagi gak ada mbak...!"


Tak kenal lelah, Amra masih terus berusaha. Entah sudah berapa toko yang telah ia masuki, semua tak membuat surat lamaran yang ia buat berkurang meskipun hanya satu. Matahari sudah meninggi, cuaca dikota besar ini tentu tak sama dengan cuaca di kampungnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul 10.30 pagi, namun terik sudah terasa, panas, haus, lelah mulai sedikit melemahkan usahanya.


Namun Amra tak akan pernah berhenti untuk berusaha. Setelah sejenak melepas dahaga dengan beberapa teguk air minum yang ia bawa dari rumah Yumni, Amra melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia memutuskan untuk berpindah lokasi kembali, ia hentikan sebuah angkot dan ia tak tahu kemana angkot itu akan membawanya. Tapi ia yakin, selama ia mengingat dengan jelas apa yang dijelaskan Yumni semalam, ia tak akan tersesat. Sekitar 10 menit di dalam angkot, ia kembali meminta sang supir menghentikan mobilnya.


Sampailah ia di kompleks pertokoan yang lain. Kakinya kembali melangkah dan berharap kali ini surat lamarannya akan berkurang. Dua tiga toko menolaknya, Amra kembali keluar dengan wajah yang terlihat lelah. Sekarang ia merasakan bagaimana sulitnya mencari sebuah pekerjaan. Tapi bukan waktunya ia mengeluh, ia niatkan langkahnya ini untuk ibadah, demi membahagiakan sang ibu, meski ini tak mungkin cukup untuk membalas semua kasih sayang sang ibu.


Sejenak ia teringat, bagaimana kemudahan yang ia terima kemarin. Jalan begitu terbuka lebar untuknya, namun ia menolak kemudahan itu demi sebuah ego. Salahkah ia mengambil keputusan? Apakah ia telah menolak takdir sang maha kuasa? Apakah ia sudah terlalu gegabah? Tapi tak mungkin pula ia kembali...........


"Sudahlah Amra! Jalani saja apa yang sudah kamu pilih!" gumamnya dalam hati

__ADS_1


******


__ADS_2