Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Pertemuan Yang Tidak Disangka


__ADS_3

Langit tampak mendung sore itu, dan jalanan masih saja ramai. Tak banyak pengendara motor yang menambah kecepatan laju motor mereka berusaha agar tak sampai bertemu dengan hujan. Hingga jalanan ramai itu terasa seperti sirkuit.


Bunyi klakson mobil bersahutan, jalanan macet membuat suasana menjadi sumpek. Setiap sore pemandangan seperti ini tak pernah absen terjadi. Dan mungkin membuat sang ibu kota merasa lelah serta jenuh.


Di dalam ruangan yang cukup lebar itu, Amra tampak sibuk membereskan beberapa mainan yang sudah ditinggal pulang oleh anak-anak. Yah.. memang semua sudah pulang dan tempat ia bekerja sudah di tutup. Beberapa rekan kerjanya juga sudah pulang. Sudah menjadi kebiasaan bagi Amra, ia akan memilih pulang terakhir. Disana ada komputer yang biasa ia gunakan untuk menulis beberapa halaman novel karangannya setiap selesai bekerja. Karena sekarang, ia sudah tidak tinggal lagi dengan Yumni, dan ia belum mampu untuk membeli laptop. Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam komputer di tempatnya bekerja. Beruntung, bosnya mengizinkan.


Kegitan Amra berhenti sejenak, saat tangannya memegang mainan asing yang tentu saja itu bukan milik tempat penitipan. Ia hafal semua mainan disana. Sebuah boneka kelinci yang tampak sedikit kotor, Amra memandangnya dan mengingat-ingat. Kiranya mainan itu milik siapa?


Bersamaan dengan itu terdengar bunyi bel yang terdapat di depan pintu gerbang penitipan. Sepertinya orang itu sedang mencoba peruntungannya, berharap akan ada orang yang akan membukakan pintu, meskipun tempat penitipan sudah tutup 30 menit yang lalu.


Amra meletakkan boneka itu kembali dan beranjak untuk membuka pintu. Di luar hujan sudah mengguyur kota yang sedari tadi terasa begitu panas. Amra mengambil payung yang terdapat di dekat pintu masuk dan berjalan ke gerbang untuk membukanya


"Syukurlah..." Ujar seorang pria dengan gembira saat pintu terbuka, namun begitu ia tahu siapa yang telah membuka pintu, ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, begitupun dengan Amra yang harus menahan nafas untuk beberapa detik


"Amra? Kamu kerja disini?" Tanya pria itu


"Iya..." Jawab Amra sembari menunduk. Pria itu memandangnya dan tersenyum simpul


"Maaf... Ada perlu apa?"


"Ah.. iya... Shireen menelpon dan bilang kalau bonekanya tertinggal..." Jawab Pria itu cepat, Amra mengangguk


"Baik.. saya ambilkan" setelah mengatakan itu Amra lekas masuk kembali, dan sejenak berdiri memegang dada di balik pintu. Ia sangat terkejut hingga merasa hampir pingsan


"Shireen? Jadi dia anak Fatih?" Gumamnya, kemudian lekas mengambil boneka itu untuk ia berikan kepada Fatih


"Terimakasih ya .."


"Sama-sama.." Amra mengangguk dan tersenyum simpul, kemudian segera masuk begitu Fatih memasuki mobilnya


Telah ia usahakan untuk terus memudarkan perasaannya kepada Fatih. Begitulah cinta pertama, seberapapun kamu mencoba untuk melupakannya namun rasa itu terasa semakin kuat terlebih ketika kamu terus saja berkesempatan untuk bertemu.


Dan mengetahui fakta bahwa salah satu anak yang diasuhnya di penitipan itu adalah putri dari cinta pertamanya membuat hati Amra terasa sangat sakit. Fakta bahwa ia tak akan bisa bersatu dengan cinta pertamanya itu membuat ia harus mengalirkan airmata


'Aku merasa sangat berdosa masih menyimpan perasaan ini ya Allah.. jika Engkau berkenan aku mohon segera hapus perasaan ini dari dalam hatiku...'


***

__ADS_1


Hujan telah reda, malam telah menyapa, Amra merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Dan sebelum pulang ia masih perlu mampir ke supermarket untuk membeli beberapa persediaan makanan yang habis.


Amra berdiri di trotoar menunggu angkot yang akan membawanya pulang. Namun tak seperti biasanya, angkotnya tak kunjung datang. Amra sedikit menghela karena merasa lelah berdiri sedari tadi, lagipula ia juga ingin segera sampai di rumah dan beristirahat. Pertemuan tak terduga dengan Fatih tadi membuat ia lebih lelah daripada biasanya.


Sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapannya. Amra memandang mobil itu dengan was-was, dan meningkatkan kewaspadaan kalau-kalau itu orang jahat.


Seseorang keluar dari kursi kemudi sembari tersenyum tak percaya apa yang sudah dilihatnya


"Ternyata beneran kamu?" Amra yang semula menunduk kembali mengangkat kepala mendengar suara ramah itu


"Mas Hafidz?" Gumamnya pelan, Hafidz tersenyum ramah. Sungguh pertemuan yang tak terduga bagi Hafidz


"Kebetulan sekali..." Hafidz lagi-lagi tersenyum "Dari dalam mobil tadi aku hanya mengira-ngira ternyata beneran kamu..."


"Iya mas"


"Ngomong-ngomong mau kemana?"


"Lagi nunggu angkot, mau pulang" jawab Amra


"Alhamdulillah sudah nemu kontrakan sendiri mas" Hafidz menganggukkan kepalanya beberapa kali dan untuk beberapa detik suasana menjadi hening, hanya suara lalu lalang kendaraan yang terdengar. Sepertinya mereka terjebak dalam situasi yang canggung


"Aku antar..."


"Oh.. tidak usah mas, tidak apa-apa aku nungguin angkot saja.." ucap Amra lekas, hingga tanpa sadar menyela ucapan Hafidz


"Ini sudah malam Amra, aku khawatir ada orang yang berniat jahat kepadamu" jujur Hafidz setelah berdiam beberapa detik. Amra tanpa sadar memandang Hafidz dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


Entah mengapa perkataan Hafidz itu terasa tepat sasaran menyentuh kalbu nya. Dan Amra merasa tersihir mendengar ucapan itu


"Mas..."


"Kamu jangan khawatir, aku sungguh berniat untuk mengantar kamu pulang..."


Amra menghela pelan dan tampak berpikir untuk beberapa saat. Akankah ia menerima tawaran itu atau merelakan sedikit uangnya untuk naik taksi? Karena sedari tadi angkotnya tak kunjung datang


"Baiklah..." Putus Amra memilih ikut, dibandingkan dengan naik taksi dengan orang yang tidak ia kenal, lebih baik ia menumpang kepada Hafidz.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Amra memilih untuk duduk di jok belakang dan hanya menunduk merasa canggung dan malu. Ini benar-benar kali pertama untuknya berada di dalam satu 'ruangan' dengan seorang pria. Resah, tentu saja ia merasakannya. Untuk beberapa lama suasana menjadi sangat hening dan canggung, hingga pada akhirnya Hafidz memutuskan untuk memecah kesunyian


"Maaf..." Mendengar ucapan itu Amra mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangan pada Hafidz dari belakang


"Aku pasti membuat kamu merasa tidak nyaman.." Hafidz menambahkan kemudian menghentikan mobil, itu membuat Amra menjadi keheranan


"Aku akan hubungi Yumni agar mengantar kamu pulang"


"Tidak perlu mas, kasian... Mungkin Yumni sedang sibuk atau mungkin sedang istirahat" ujar Amra dengan cepat, Hafidz menghela kemudian mengangguk setelah itu menoleh dan tersenyum


"Kalau begitu aku temani kamu sampai ada angkot lewat" setelah memutuskan itu Hafidz turun dari mobil diikuti Amra yang sedikit banyak merasa tersentuh dengan sikap Hafidz ini.


Hafidz sudah begitu baik telah menawarkan hal ini, ia juga sangat menjaga perasaanya, jadi Amra merasa sungkan jika kali ini ia harus menolak lagi. Akhirnya ia putuskan untuk menyetujui saran Hafidz itu


"Terimakasih mas.." ujar Amra tulus, Hafidz tersenyum simpul sebagai jawaban. Dan kembali hening, mungkin mereka masih merasa sangat canggung


"Ehm... Terkait dengan sikapku waktu itu, aku minta maaf mas.." ujar Amra mengawali


"Maksud kamu?"


"Mungkin mas Hafidz mengira aku sombong, sok cantik, sok alim.."


"Tunggu.. tunggu! Apa sekarang kamu sedang membahas rencana khitbahku yang gagal?" Sela Hafidz dengan nada ringan diiringi tawa santai


"Iya" Amra menunduk merasa malu


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Hafidz


"Aku hanya merasa bersalah sama mas Hafidz..."


"Kenapa kamu harus merasa bersalah?" Hafidz lagi-lagi bertanya dengan nada ringan


Amra tertegun mendengar pertanyaan santai yang dilontarkan Hafidz itu. Dan memaksa otaknya untuk memikirkan kembali pernyataannya tadi.


'Benar! Kenapa aku harus merasa bersalah?' pikirnya


Memang tak seharusnya Amra merasa bersalah kepada seseorang yang batal mengkhitbahnya karena ia menolak, apalagi ia juga tidak mengenal orang itu dari awal. Karena itu hal yang wajar, bukan? ada apa dengannya?

__ADS_1


__ADS_2