Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Rindu


__ADS_3

Yumni turun dari mobil dengan terburu-buru saat ia sampai di depan rumah Amra, rumah itu masih tampak sedikit ramai karena masih ada saja orang-orang bertakziah, terutama kerabat dari jauh yang baru bisa melayat karena kendala waktu. Dengan berjalan cepat, Yumni mendekati Amra yang sudah menyambutnya di depan pintu dengan senyuman pilu. Justru Yumni yang tak bisa menahan airmatanya, dengan cepat ia peluk sang sahabat dan mengelus punggungnya


"Aku sudah ikhlas kok Yum..." Amra berujar sembari mengelus punggung Yumni yang kini benar-benar menangis, entahlah, dia merasa sangat kasihan pada sahabatnya yang kini benar-benar hidup sebatang kara itu.


Amra melepas pelukan itu dan menghapus airmata Yumni sembari tersenyum


"Jangan nangis dong! Kamu membuat aku sedih Yum.." meski terlihat tersenyum, namun tak dapat dipungkiri jika setetes air lolos dari kedua mata Amra.


Ikhlas sudah ia rasakan, namun tentu ada rasa kehilangan yang tak mampu membendung kesedihan. Melihat itu Yumni kembali memeluk sahabatnya itu dan mereka menangis bersama, menumpahkan kesedihan yang masih terasa menyesakkan dada.


Puas menangis, mereka memasuki rumah, dan Amra terlihat lebih baik setelah menangis bersama Yumni tadi. Tidak! Sama sekali ia tak sendirian, ia masih punya Yumni, yang selalu menguatkan hatinya, ia juga masih punya bulek dan pak lek nya yang masih memiliki rasa sayang padanya meski tentu tak akan setara dengan kasih sang ibu. Setelah ini, semua akan berakhir, kesedihan ini harus berakhir dan ia harus kembali melanjutkan hidupnya, memenuhi cita-citanya dan cita-cita sang ibu yang begitu mulia


"Apa rencana kamu setelah ini Ra?" Amra memandang Yumni dan terlihat sedikit mengenang sesuatu


"Aku akan kembali ke Jakarta Yum.." Yumni tersenyum dan menggenggam tangan sang sahabat


"Merenovasi rumah ini, meski tidak mungkin aku tinggal lagi disini sendirian. Aku akan waqafkan rumah ini Yum..." Amra tersenyum, atas nama sang ibu, agar pahala kebaikan terus mengalir padanya di kubur. Yumni mengangguk sambil masih terus tersenyum


"Cita-cita ibuk, dulu... Beliau pernah bilang, ingin sekali membuka taman pendidikan khusus untuk Al-qur'an, mendatangkan guru yang benar-benar kompeten untuk mengajarkan Al-qur'an, ibuk tidak ingin anak-anak maupun orang-orang dewasa disini buta Al-qur'an Yum..." Tak bisa dipungkiri, Yumni terenyuh mendengar cita-cita mulia ibu Amra.


Ia memang tidak mengenal ibu Amra, namun ia merasa kagum padanya, terjawab sudah pertanyaannya selama ini, darimana sifat dan sikap Amra selama ini. Beruntung sekali Amra bisa terlahir dan tumbuh dalam pendidikan luar biasa keluarganya, jika dilihat dari luar, Amra memang terlihat berkekurangan, namun Amra mendapatkan apa yang tidak ia dapatkan selama ini. Sedikit perasaan iri menyusup dalam hatinya, terbesit sebuah angan dalam benaknya


'Andai aku lahir sebagai Amra'


"Yum.."


"Iya?" Yumni tersadar dari angannya dan memandang Amra, kemudian kembali tersenyum


"Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan buat ngubungin aku, Ra... Aku siap bantu kamu.." Amra tersenyum penuh haru kemudian memeluk Yumni penuh rasa terimakasih


"Terimakasih banyak Yumni, semoga Allah membalas semua kebaikan kamu selama ini..."


***

__ADS_1


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Amra mempersilahkan Yumni untuk beristirahat dalam kamarnya, untuk satu malam, Yumni akan menginap. Sementara Yumni beristirahat di kamarnya, Amra memilih keluar rumah, ia ingin mengalihkan perasaan dan menjernihkan pikirannya.


Yumni meletakkan tasnya diatas tempat tidur yang jauh dari kata mewah itu, tidak ada kasur empuk seperti dirumahnya. Yumni melihat semua barang yang ada disana sangatlah sederhana, namun tertata dengan rapi. Ada foto Amra dan sang ibu yang diletakkan di sebuah meja, Yumni mengambil foto itu, memandanginya dengan kedua mata berkaca-kaca. Entahlah, Yumni tidak mengerti dengan perasaannya saat ini.


Ada kerinduan yang tiba-tiba menyusup dalam relung hatinya, kerinduan yang telah lama tak bisa terobati. Yumni meletakkan foto itu kembali dan menghapus airmatanya. Setelah itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang


"Mamah..." Ujarnya dengan parau begitu panggilannya tersambung


"Ada apa Yum, mama lagi sibuk sekarang, kamu bisa telepon mama nanti ya... Mama janji akan hubungi kamu begitu selesai..." Yumni menunduk mendengar kalimat penolakan itu, bahkan sebelum ia mengutarakan isi hatinya. Ibunya selalu saja sibuk, apalagi sang ayah? Airmata mengalir lagi dari kedua matanya


"Aku kangen mama..." Ujarnya pelan kemudian memutuskan sambungan.


Amra berjalan-jalan disekitar rumahnya, beberapa bulan ia meninggalkan kampung halaman, dan tidak ada yang banyak berubah. Semua masih sama, kampungnya masih terisolir.


"Ibu Amra...." Amra menoleh dengan cepat, saat mendengar suara anak-anak memanggilnya dengan senyuman ia sambut murid-muridnya itu, mereka berlarian mendekatinya


"Apa kabar ibu Amra, kami sangat merindukan ibu, surau sepi sekali rasanya.."


"Alhamdulillah bu...."


"Amra..." Sebuah suara berat terdengar menyapa telinganya. Amra berbalik untuk mengetahui siapa yang telah menyapanya itu


"Mas Hafidz?" Hafidz tersenyum simpul meresponnya, seketika Amra ingat jika ia belum berterimakasih pada Hafidz dan keluarganya. Waktu itu dia masih sangat tenggelam dengan kesedihannya


"Amra.. maaf, bisakah kita bicara sebentar?" Amra tampak berpikir, bagaimana caranya ia bisa berbincang dengan Hafidz?


"Jika kami tidak keberatan, bisakah kita berbincang di rumah kamu?" Amra memandang sejenak, kemudian mengangguk singkat


"Mari mas.." ujarnya sembari melangkah terlebih dahulu.


Mendengar suara seseorang datang, Yumni yang masih berada di kamar Amra membuka tirai yang menutupi pintu kamar Amra. Niat hati ingin mendekat saat melihat Hafidz, namun urung ia lakukan ketika ia melihat raut wajah Hafidz yang sangat serius. Merasa tak ingin mengganggu akhirnya Yumni kembali masuk, namun tak memungkiri jika ia pasti bisa mencuri dengar perbincangan mereka


"Aku buatkan minum dulu ya mas.."

__ADS_1


"Tidak perlu Amra!" Cegah Hafidz cepat sebelum Amra beranjak, Amra memandangnya kaget


"Aku tidak ingin berlama-lama" jelasnya membuat Amra duduk di kursi dari rotan itu, duduk diam menunggu Hafidz kembali bicara. Sementara Hafidz menundukkan kepalanya berusa untuk mengatur perasaannya. Meyakinkan dirinya bahwa ini keputusan yang tepat, dan mempersiapkan hati jika mungkin Amra akan memakinya. Karena Hafidz tahu betul, apa yang akan ia utarakan ini tak berada pada waktu yang tepat


"Am..."


"Sebelumnya..." Potong Amra cepat kemudian tersenyum


"Maaf... Tapi sebelum aku lupa lagi, bolehkah aku dulu yang bicara?" Spontan Hafidz mengangguk sembari tersenyum heran


"Mas Hafidz... Terimakasih banyak... Kalau waktu itu tidak ada mas Hafidz, aku tahu apakah aku akan bisa melihat wajah ibuk untuk terakhir kalinya.." kedua mata Amra berkaca-kaca saat mengatakan itu, Hafidz bisa melihat kesedihan dan kerinduan mendalam dalam kedua mata Amra


"Terimakasih banyak..." Amra menutup ucapannya dengan senyuman. Membuat Hafidz menunduk kembali dan menghela pelan. Merasa bimbang dengan perasannya, tapi ia sudah tidak bisa lagi untuk ditunda. Ia tarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara, kemudian ia tatap Amra dengan yakin


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu Amra, aku akui aku egois, aku hanya memikirkan perasaanku saja saat ini, aku benar-benar minta maaf..." Amra masih diam, meski ia tak mengerti dengan situasi ini


"Sejujurnya, sebelum bapak mengutarakan niat kepada ibu kamu waktu itu, aku sudah mengikutimu sejak SMA..."


"Sebentar... Aku tidak mengerti mas.."


"Sudah sejak SMA aku mengagumimu Ra, tapi malu rasanya aku mendekatimu... Kamu adalah seoarang perempuan yang tidak bisa didekati oleh sembarang orang, karena itu, aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh.. sambil perlahan-lahan mempersiapkan diri untuk bisa mendekatimu secara terang-terangan.." biarlah, Hafidz tahu kalimatnya sangat tidak rapih, tapi itulah perasaannya. Amra masih memandangnya


"Karena itu, aku meminta bapak untuk mengkhitbahmu melalui ibumu..." Amra sebenarnya sudah tidak sabar mengetahui kemana arah pembicaraan Hafidz ini


"Sekarang, aku tahu waktunya tidak tepat.. tapi Amra, hancur rasanya hati ini melihatmu merasakan kesedihan seperti ini.. aku tidak bisa melihatmu hidup dengan kesepian seperti ini..! Karena itu, izinkan aku untuk menemani hari-harimu...! Amra.. menikahlah denganku..." Hafidz ucapkan itu dengan yakin seyakin tatapan matanya ketika memandang Amra. Sementara Amra hanya terdiam, pikirannya melayang, dan hanya wajah sang ibu yang bisa ia lihat sekarang


"Ibuk tidak akan memaksa, tapi bukankah ketika ada pria baik yang berniat untuk mengkhitbah, akan sayang jika ditolak? Nak Hafidz juga orangnya ganteng, pinter dan sudah mapan lagi..!"


Ucapan sang ibu tiba-tiba terngiang dalam telinganya


Ia tatap Hafidz dengan pandangan yang melembut, setega itu kah ia menolak orang yang telah begitu tulus kepadanya ini? Tapi menerimapun berat bagi Amra, entah mengapa? Mungkinkah hatinya terkunci oleh perasaannya pada Fatih yang justru kini telah menjadi suami dari seseorang, Amra menunduk dan airmatanya menetes, dengan segera ia menghapusnya. sementara Hafidz masih setia memandang dan menunggu jawaban Amra


"Beri aku waktu tiga hari untuk berpikir mas...aku akan menghubungi kamu tiga hari lagi..." Hafidz menghela pelan, tidak ada cara lain, ia tak bisa memaksakan agar Amra menjawab saat ini juga. Ia hanya perlu semakin memperkuat hatinya, bersiap menerima jawaban apapun dari Amra tiga hari kemudian.

__ADS_1


__ADS_2