Senandung Cinta Imriyah

Senandung Cinta Imriyah
Sebuah Jawaban


__ADS_3

Jadilah malam ini, malam yang berat bagi Amra. Tuhan begitu baik padanya dengan mendatangkan seorang Hafidz yang tiba-tiba melamarnya dengan sangat serius, sehingga pikirannya teralihkan dari kesedihan yang menimpanya. Ia sama sekali tak melihat keraguan dalam mata Hafidz, ia juga tidak melihat sikap malu-malu seperti yang Hafidz tunjukkan saat pak Joko datang ke rumah kontrakannya beberapa hari yang lalu.


Sebagai wanita, bohong jika ia tidak tersentuh dengan sikap berani dari Hafidz ini. Ia bahkan tak bisa melupakan setiap kata per kata yang Hafidz ucapkan tadi. Tetapi... Amra merasa sangat berat untuk menentukan keputusan.


Apalagi beberapa hari yang lalu, Amra mendapatkan kabar jika ibunda Shireen meninggal dunia dihari yang sama dengan sang ibu. Harapan yang sempat terkubur kembali mencuat, baiklah! Amra memang merasa sangat murahan sekarang, bagaimana bisa ia berharap kepada seorang laki-laki yang baru saja ditinggalkan oleh sang istri?


Amra yang semula memandang langit yang malam ini dipenuhi bintang itu kembali menunduk sembari menghembuskan nafas pelan, satu sisi dalam dirinya menyalahkan jika semua harapan itu tak pantas ia rasakan, namun disisi lain dalam dirinya membenarkan. Tak masalah jika ia memiliki harapan seperti itu. Tidak ada yang salah dengan perasaan seseorang, ia bisa menunggu hingga Fatih bisa melupakan istrinya mungkin? Bagaimanapun Fatih tetaplah cinta pertama yang masih sangat dicintainya. Amra menghela kembali dengan kencang


"Kamu kenapa Ra..?" Amra terkejut mendengar suara Yumni itu, ia tak tahu sejak kapan Yumni duduk di sampingnya. Ia terlalu larut dalam pikirannya


"Gak apa-apa Yum..." Yumni menghela


"Jangan sok kuat! Kamu pikir semua bisa kamu pikirin sendiiri? Kamu gak sendirian lho..! Meskipun mungkin aku tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa jadi tempat sampah kamu kan...?" Yumni tersenyum di akhir kalimat, membuat Amra juga tersenyum


"Jelek banget sih! Harus tempat sampah ya?"


"Terus apa lagi? Aku sama sekali gak ada ketemu perumpaan yang lain..." Amra tertawa begitupun Yumni.


Amra kembali menghela dan menundukkan kepalanya. Yumni benar, dia tidak bisa memikirkam semuanya sendirian. Terlalu berat hingga ia tak tahu harus memutuskan seperti apa


"Tadi Hafidz kesini..." Yumni masih mempertahankan senyumannya saat Amra mulai bercerita


"Lalu?" Tanyanya, bersikap seakan tak tahu menahu tentang kedatangan Hafidz, meskipun secara tidak sengaja, ia tahu semuanya


"Hafidz melamarku Yum..."


"Benarkah? Syukurlah...." Yumni bereaksi dengan sangat cerah, dan itu tulus dari dalam hatinya. Berbanding terbalik, Amra justru memandangnya dengan mendung


"Sebahagia itu kamu Yum?"


"Tentu, aku sangat..sangat.. bahagia Amra, Hafidz bukan orang sembarangan, dia juga tulus mencintai kamu... Dan yang penting, dia tidak akan pernah membuatmu merasa sendirian..." Amra menghela pelan dan menunduk, semua yang diucapkan Yumni mungkin memang benar adanya


"Tapi...."


"Tapi apa Ra? Apa yang buat kamu ragu?" Amra masih terdiam, tak berani untuk mengatakan keresahannya. Ia merasa malu karena telah memposisikan dirinya.sebagai wanita yang "murahan"


"Aku gak bisa maksain kamu Ra, tapi kalau kamu butuh saran, mungkin aku bisa.."


"Aku malu sekali Yum, aku merasa sangat rendah..." Yumni mengerutkan keningnya dan mendekat


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu Ra?"


"Aku masih mencintainya Yum.." ujar Amra pilu, kembali Yumni mengerutkan keningnya, untuk sesaat ia tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Amra


"Fatih..." Seakan mengerti kebingungan Yumni, Amra memperjelas kalimatnya tadi, Yumni menghela mendengar itu


"Memang tidak bisa dipungkiri juga, cinta pertama itu terlalu berkesan untuk dilupakankan... Tapi Ra, bukannya


Fatih udah punya istri, udah punya anak satu juga! Kamu gak berpikiran mau jadi pelakor kan Ra?"


"Astaghfirullah... Ya ndak lah Yum..." Yumni tertawa kecil melihat reaksi Amra itu


"Lantas, kamu mau apa? Kenapa kamu mempertahankan yang tidak jelas sementara sudah ada yang jelas di depan mata kamu Ra...!"


"Justru aku merasa sangat rendah saat harapanku untuk bersama Fatih kembali ketika Fatih baru saja kehilangan istrinya... Entahlah Yum.. wajah Shireen yang sekarang ada dalam benakku.. aku tidak tahu mengapa? Tapi..."


"Udah deh... Gak usah muter-muter! Aku gak bisa menghakimi perasaan kamu... Tapi, jawaban dan keputusan ada di tangan kamu, ngadu deh sama Allah..." Yumni tersenyum dan merangkul sahabatnya itu


"Dulu.. aku selalu merasa dipusingin sama cinta, pusing banget.. tapi makasih ya Ra, kamu udah bebasin aku dari kepusingan ini..." Kali ini bergantian Yumni yang tampak bersemangat untuk bercerita, Amra yang masih berada dalam rangkulan Yumni, hanya bisa meliriknya


"Bebas gimana maksud kamu Yum?"


"Aku udah putus.." singkat Yumni dengan tenang sembari melepaskan rangkulannya, yah.. sebenarnya bukan perkara mudah bagi Yumni saat harus mengakhiri kisah cintanya dengan sang kekasih. Lantas mengapa ia setenang ini? Karena dia telah melewati masa beratnya, ia telah menghabiskan airmatanya untuk menangisi semua ini


"Kenapa?" Tanya Amra, masih khas dengan kelembutan suaranya


"Iya... Udah gak sejalan lagi.." Amra terdiam dan menunduk


"Jadi sahabatku ini sekarang sedang patah hati, aku turut prihatin Yum.. tapi aku juga bersyukur... Semoga Allah segera mempertemukan kamu dengan jodoh yang tepat.." Yumni tertawa renyah mendengar ucapan sahabatnya itu, Amra... Dia benar-benar sangat lugu


"Ra... Mau bantuin aku gak?"


"Bantu apa?"


"Nanti aja, kalau kamu sudah menemukan jawaban untuk lamaran Hafidz.."

__ADS_1


"Kok begitu Yum?"


"Ini gak terlalu penting, selesaikan dulu masalah kamu.."


***


Keesokan harinya, langit tampak cerah dan udara pagi ini sangatlah sejuk. Sungguh sesuatu yang akan jarang dirasakan saat berada di Jakarta. Yumni, baru saja datang dari jogging pagi, seorang diri. Dia merasa sangat berat untuk meninggalkan kampung halaman Amra. Tapi tidak ada pilihan, ia masih punya tanggungan pekerjaan.


Hari ini, ia akan kembali ke Jakarta. Seorang diri pula. Ia sudah mengemasi barang-barangnya tadi malam sebelum tidur. Dan pagi ini juga ia akan pulang.


Amra tersenyum padanya saat ia akan ke kamar mandi, Yumni membalas senyuman itu dengan ceria. Ia tahu, bibir sahabatnya itu tersenyum. Namun ada banyak kebimbangan dalam hatinya saat ini. Andaikan ia bisa menemani Amra?


"Nduk.. temanmu mau pulang sekarang?"


"Iya bulhek.."


"Jadi kamu mau nganterin dia?" Amra menggeleng pelan


"Yumni ndak mau diantar..."


"Oh... Nanti kalau dia udah mau berangkat, kamu kasihkan ini ya.. buat bekal di perjalanan.." Amra tersenyum dan mengangguk


"Ya udah bulhek mau ke toko pak mat dulu ya.." Amra tersenyum semakin lebar.


Keberadaan sang bulhek sangat membantu Amra memulihkan perasaannya. Pasalnya, suara dan juga wajahnya hampir mirip dengan sang ibu


"Amra gak sendirian buk..." Gumamnya.


Waktunya Yumni kembali, dengan membawa bekal yang disiapkan oleh bulhek Amra. Hanya beberapa hari ia disana, tetapi rasa kekeluargaan sudah terbangun begitu erat. Membuat Yumni yang jarang merasakan hangatnya keluarga, merasa semakin berat untuk pergi. Yah.. tapi inilah kehidupan


"Hati-hati dijalan ya Yum... Kabarin aku terus.." Yumni tersenyum


"Siap..siap...!! Aku tunggu juga kabar baik dari kamu, aku pergi dulu ya..."


"Bulhek terimakasih banyak bekalnya.."


"Iya nduk..."


"Assalamualaikum..." Yumni melambaikan tangannya dan pergi.


Meninggalkan Amra dengan kebimbangannya. Amra menghela dan beranjak masuk begitu Yumni sudah tak terlihat lagi. Bulhek menyusul, ia juga akan segera pulang ke Surabaya


Panggilan itu menghentikan langkah Amra yang akan ke dapur, ia menoleh dan tersenyum kepada bulhek


"Ada apa bulhek?"


"Sini, duduk! Ngobrol sebentar!"


Tanpa protes, Amra mendekati bulhek dan duduk di sampingnya. Tatapan hangat ia dapatkan, dan dengan lembut bulhek mengelus kepala Amra


"Ingat ya nduk..! Kamu tidak pernah sendirian, masih ada bulhek sebagai pengganti ibukmu..." Amra tersenyum dan mengangguk


"Bulhek lihat kamu murung sekali dari kemarin.."


"Tidak apa-apa bulhek, Amra baik-baik saja"


"Bener?" Amra mengangguk


"Besok, bulhek pulang, kamu tidak apa-apa sendirian?"


"Besok? Apa tidak bisa di tunda lagi?"


"Maaf nduk... Bulhek tidak bisa tinggal lebih lama lagi.." Amra menghela pelan dan menunduk. Haruskah ia mengambil keputusan seorang diri? Sebenarnya ia masih ingin meminta pendapat dari bulhek mengenai lamaran dari Hafidz kemarin


"Bulhek... Sebenarnya, Amra mau merundingkan sesuatu.." ujar Amra akhirnya jujur


"Tentang apa?"


"Masa depan Amra... Amra sudah tidak punya orang tua lagi, Amra takut salah mengambil keputusan.." bulhek tak banyak bicara, ia diam dan memperhatikan Amra, ia tak ingin menduga-duga apa yang sedang dirisaukan oleh keponakannya ini


"Hafidz, anak kedua Pak Joko, melamar Amra kemarin.. dan Amra merasa bimbang, akan menerimanya atau tidak"


"Apa yang membuatmu bimbang?" Amra menunduk dan menghela kembali, memilih diam tak menjawab, ia malu jika harus terlalu jujur dengan perasaannya


"Nduk.. apakah dia pria baik-baik?" Amra mengangguk

__ADS_1


"Dia sholat?" Amra mengangguk kembali


"Bertanggung jawab?"


"InsyaaAllah.."


"Lantas pertimbangan apa lagi yang membuatmu bimbang? Kamu tidak mencintainya?" Amra terdiam dan masih mengangguk


"Cinta itu datangnya dari gusti Allah, begitupun jodoh... Jodoh dan cinta itu sudah satu paket, kalau Allah tetapkan dia jodohmu, mau kamu gak cinta sama dia, lama-lama juga akan tumbuh rasa juga..! Kalau saran bulhek, sebaiknya kamu istikharah, pasrahlan sama Allah! Sudah kelihatan lho nduk... Hanya pria baik-baik yang mau datang untuk mengajakmu menikah..."


***


Malam ini, sunyi....


Amra terjaga seorang diri, sulit baginya untuk bisa tertidur. Lamaran Hafidz benar-benar membuatnya gamang.


"Yaa Allah... Aku pasrahkan semua ini kepadaMu, semoga keputusan yang telah hamba ambil ini baik untuk hamba, dan juga baik untuk mas Hafidz... Semoga keputusan hamba ini tidak menyakiti hati siapapun, terlebih tidak menyakiti hati hamba sendiri... Semoga keputusan ini menjadi baktiku kepada ibuk.."


Amra mengambil ponsel jadulnya, mengetikkan sesuatu disana, dan sepertinya dia akan mengirimkan pesan singkat untuk seseorang. Jarum jam menunjulkkan pukul 10.30 malam, tidak mungkin ia mengganggu seseorang dengan menelpon. Karena itu ia memilih untuk mengirim pesan singkat.


***


Tak jauh berbeda dengan Amra. Sejak ia memberanikan dirinya untuk melamar Amra kemarin, Hafidz sungguh tidak bisa untuk tidur nyenyak. Perasaannya bercampur aduk tak karuan. Malam ini pun, ia masih terjaga seorang diri


"Yaa Allah... Semoga berilah hamba kekuatan, semoga apa yang telah hamba lakukan ini baik untuk hamba dan juga Amra, semoga apa yang telah hamba lakukan ini tidak menyakiti perasaannya.. hamba pasrah kepadaMu yaa Allah.."


Hafidz terkejut saat mendengar getar dari ponselnya, entah mengapa dadanya bergetar meski ia belum mengambil ponselnya. perlahan ia buka ponselnya untuk melihat siapa yang telah mengirim pesan. Gemuruh dalam dadanya semakin kuat saat ia melihat nama Amra tertulis di layar, ia hembuskan nafas pelan untuk menenangkan diri


'Assalamualaikum mas Hafidz... Maaf telah mengganggu malam-malam.. Amra hanya ingin memberitahukan, jika Amra akan memberikan jawaban atas lamaran mas Hafidz, datanglah ke rumah bersama keluarga besok sore ba'da asyar.. terimakasih'


"Apa ini sudah 3 hari? Mengaoa cepat sekali?" Rasa khawatir kembali mengusik hati Hafidz. Sepertinya ini bukan kabar baik


'Waalaikumussalam... Iya Ra, semoga Allah memberikan kemudahan' balasnya dengan hati yang berkecamuk


***


Keesokan harinya, entah mengapa cuaca menjadi tidak bersahabat. Tiada sapaan sinar matahari hangat sedari pagi tadi karena tertutup awan mendung. Hafidz sudah mengutarakan keinginan Amra tadi malam kepada keluarganya, dan mereka menyambut itu dengan sangat antusias. Berbanding terbalik dengan dirinya yang harap-harap cemas, apalagi mendung seakan tak mendukungnya. Mereka sedang bersiap-siap untuk ke rumah Amra, pak Joko, Syifa dan sang ibu akan mendampingi Hafidz sore ini.


Sementara itu,di rumahnya, Amra tengah mempersiapkan suguhan untuk keluarga pak Joko, dibantu oleh bulhek yang batal pulang ke Surabaya hari ini


"Maaf merepotkan bulhek..."


"Tidak apa-apa Ra, ini juga kewajiban bulhek sebagai pengganti ibukmu..." Amra tersenyum


"Terimakasih banyak bulhek..."


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di pelataran rumah sederhana Amra. Melihat itu Amra buru-buru memasuki kamarnya, sementara bulhek keluar untuk menyambut tamu. Iya, dia sendirian, karena sang suami sudah kembali ke Surabaya terlebih dahulu untuk menemani anak-anak.


Pak Joko yang pertama kali turun dari mobil, tersenyum kepada bulhek begitupun dengan bulhek yang menyambut sang tamu dengan ramah


"Assalamualaikum..." Ujar pak Joko yang berjalan berdampingan dengan istrinya, sementara Hafidz berjalan di belakang bersama Syifa


"Waalaikumussalam... Monggo.. monggo pinarak (silahkan masuk)!!"


Mereka semua masuk bersama-sama dan beramah-tamah sebentar, sebelum bulhek beranjak untuk memanggil Amra. Berbeda dengan seluruh keluarga yang tampak begitu antisias, Hafidz justru hanya bisa menunduk lesu. Ia sudah merasa kalah sebelum berperang


"Mas.. mbok jangan lesu gitu toh..! Yakinkan dirimu mas, ini pasti kabar baik, kalau tidak, ndak mungkin mbak Amra meminta seluruh keluarga datang" Bisik Syifa yang duduk di sampingnya, Hafidz hanya menghela, sejauh yang ia tahu, Amra adalah gadis yang jujur, tidak pernah berpura-pura apalagi tentang perasaannya


"Mas..mas.. mbak Amra.." bisik Syifa kembali


Hafidz mengangkat kepalanya dan terpaku memandang Amra yang terlihat sangat cantik sore ini, meski tidak ada riasan sama sekali diwajahnya. Pak Joko tersenyum kepada Amra


"Bapak senang sekali saat Hafidz memberi kabar kalau kamu mengundang kami untuk datang" ujar pak Joko, Amra tersenyum, kemudian melirik Hafidz sejenak


"Jadi, apa kamu sudah punya keputusan nduk?" Tanya Pak Joko tak ingin berlama-lama


"Sebelumnya saya sangat berterimakasih kepada mas Hafidz dan juga keluarga sudah mau meluangkan waktu..." Amra memberikan jeda sejenak pada kalimatnya ini


"Saya tidaklah sebaik yang mas Hafidz dan keluarga bayangkan... Saya hanyalah manusia biasa, banyak kekuarangan saya yang tidak terlihat, saya tidak ingin mas Hafidz dan keluarga menaruh ekspektasi tinggi terhadap saya..." Amra menundukkan kepalanya saat mengatakan itu


"Kami mengerti..." Ujar pak Joko, Amra menarik nafas panjang dan mengangkat kepalanya


"Mas Hafidz... Terimakasih banyak atas ketulusan mas untuk mencintaiku... " hafidz hanya mengangguk dengan sendu, firasat buruknya semakin kuat


"Saya tidak ingin membohongi siapapun, sejujurnya untuk saat ini, memang tidak ada perasaan cinta dalam hati saya, tapi insyaaAllah... Saya siap menjadi istri yang baik untuk mas Hafidz.."

__ADS_1


Mendung di wajah Hafidz perlahan-lahan menghilang mendengar pernyataan dari Amra ini, Ada rasa tidak percaya terlukis dalam wajahnya, apakah dia tidak salah dengar? Amra menerima lamarannya? Apakah itu benar? Hafidz masih mematung memandang Amra.


***


__ADS_2