
"Assalamualaikum, waah pasti Ari bikin kueh nih..baunya enak, eh nak Randi gimana kabarnya" Randi menyokong bapaknya dan menciumi tangan kanannya.
"Oya ini Pa'de nya Ari..ini lho mas, nak Randi calonnya Ari" Randi kembali menunduk dan mencium tangan Pa'de.
"Alhamdulillah kita kumpul disini pak, Saya kangen ngobrol..ayo pak silahkan masuk"
Mereka berbincang ngalor ngidul sambil makan cemilan kueh.
"Mas Randi, saya mau pasang rajah diatas pintu ini ya supaya mereka ga bisa masuk..nanti saya kasih juga satu rajah tolong tempel dipintu rumahmu juga" kata Pa'de.
"Baik Pa'de terima kasih sebelumnya"
"Ini lho..kalian ga bisa liat ya..ada tanda kuku ditembok depan"
"Oh ya?"
"Tapi ga apa apa, sosok ini sekarang malah bersama kita..tadi malam waktu kita tidur dikereta menuju kesini dia hadir..mohon maaf kepadaku, bahkan sekarang ingin menyerang orang orang yang memerintahkan pertama kali"
"Wow!" kataku terperanjat.
__ADS_1
Mereka berbincang lanjang lebar lagi dan setelah makan malam bersama disebuah rumah makan malam itu juga Pa'de oamitan untuk kangsung pulang keSolo karena besoknya ada acara disana, sedangkan sang bapak tetap tinggal bersama Ariyana untuk bermalam satu malam.
********
Dua hari ini semenjak bapaknya berada bersama Ariyana nampak sekali kegembiraan mereka bersama sama bahkan rencana pernikahan telah dibicarakan.
"Alhamdulillah apabila bapak menyetujui rencana saya, besok saya akan keBandung membawa Ariyana ketemu semua saudara saya untuk juga membicarakan hal ini"
"Njjih sebaiknya juga demikian..nanti kalo semua sudah jelas dikedua belah pihak monggo kita tentukan hari pertemuan dengan pihak Ariyana, silahkan mas Randi yang atur semuanya.."
Ariyana yang dari awal duduk didekatku nampak bahagia ia terus menerus tersenyum.
"Kamu siap ketemu mama diBandung?"
Malam itu aku dan Ari mengantarkan bapak kestasiun kereta untuk kembali pulang keSolo.
"Jangan lupa bacakan selalu Shalawat Nabi..Insya Allah kita semua selamat"
Dua hari kemudian disatu subuh aku dan Ari sudah mempersiapkan segalanya, dan berangkat menuju Bandung. Sengaja kita berangkat subuh supaya ga kena macet diperjalanan. Ari nampak begitu cantik dengan rok batik ketat dan dia juga memakai sweater coklat muda nampak begitu anggun.
__ADS_1
"Bismillah semoga semuanya berjalan lancar ya mas"
"Insya Allah yang, tapi mereka pasti senang dengan kedatanganmu. Apalagi Rina adikku kan kamu sudah pernah ketemu dulu"
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam ya ampun udah sampe pagi pagi..Hai Ari apa kabar?" yang pertama menyambut kita ya Rina, dari kemaren anak ini sudah ga sabar menanti kedatangan kita. Apalagi tau bahwa aku akan membawa Ariyana. Dari awal Rina emang selalu mengatakan bahwa Ariyana ga pantes jadi pengasuh anakku..Ari seperti layaknya seorang kantoran, tutur bahasanya yang halus, pengertian dunia luar yang luas dan enak diajak ngobrol. Dan ternyata sekarang akan disunting aku, ia setuju sekali bahkan ia sudah berani dari dulu membandingkan dengan Rumi mantan istriku yang judes.
"Masuk masuk, itu mamah dibelakang mas..ya ampun kamu cantik banget!" Rina membelalakan matanya kearah Ariyana. Yang diajak bicara tersenyum sumringah.
"Ah mba Rina bisa aja nih..jauh lah sama kecantikannya mba Rina"
"Eh jangan panggil mba Rina dong..panggil aku Nana ya mulai sekarang..ayo masuk yuk, dibelakang ada mamah yuk kita kebelakang" Rina langsung menarik tangan Ari dan menuju ruang belakang.
"Assalamualaikum mamah" Aku cium tangan mamah.
"Walaikumsalam ya ampun, baru aja kita ngomong ko lama ya sampenya..Ee ini Ariyana ya? waduh meni cantik pisan" Mamah mulai berceloteh. Aripun mencium tangan kanan mamah.
"Tuh ada Mang Dudung kebetulan juga baru datang dari Tasik sana pada ketemu sama mang Dudung"
__ADS_1
Mang Dudung adalah satu satunya adik mamah, Mang Hari kaka mamah meninggal dua tahun yang lalu,sekarang mereka tinggal berdua dalam keluarga besarku. Sebetulnya masih ada satu lagi Mang Hari, tapi Mang Hari tinggal diKalimantan bersama keluarganya. Kami bercengkrama dengan sangat akrabnya.
********