
Mereka yang hadir dipertemuan dirumah Tama terdiam, menanti apa yang akan diberitakan Tama..khususnya Endang sang istri, karena blom pernah suaminya betkata seserius ini.
"Kalian sudah tau bahwa kemarin aku mengalami kecelakaan yang fatal..Sukur kehadirat Allah bahwa aku masih dikasih selamat.." Tama memulai.
"Pada waktu aku ga sadarkan diri muncul satu sosok yang mengerikan ia berteriak keras dan suaranya menakutkan selain wajahnya yang juga menakutkan"
Endang sang istri beringsut dan duduk disamping suaminya, ia turut mendengarkan dengan was was.
"Sosok berteriak bahwa sebentar lagi akan mengambil nyawaku..aku berusaha menolak dan berteriak teriak karena ketakutan..saat itu tiba tiba ada sosok lain yang hadir tapi hanya sinar putih yang aku liat..sekonyong konyong wujud sinar putih itu datang, sosok mengerikan itu pergi tapi sebelumnya ia masih mendesiskan suaranya dan ia katakan akan kembali"
Giliran Randi yang tertegun akan cerita Tama, tanpa sadar ia memegang tangan Ariyana.
"Dan ketika aku sudah siuman dirumah sakit, sosok itu tiba tiba muncul lagi..kali ini ia sudah membawa seperti tombak panjang yang lancip..ia berteriaj bahwa sebaiknya kau memaafkan semua irang yang telah kau sakiti sebelum aku cabut nyawamu"
__ADS_1
Endang menitikkan air matanya, ia memegang salah satu tangan Tama. Seakan ia hendak mengatakan, Stop jangan kau teruskan cerita buruk ini..tapi ia tak sanggup mengucapkan..
"Ketika aku kembali ketumahku ini, aku didatangi sosok sinar putih itu kembali..mungkin kamu masih ingat ketika aku mengigau keras dalam tidurku..itulah waktu sosok putih itu datang.."
"Tama..jangan kau teruskan cerita mimpi ini" akhirnya Endang berhasil berbicara sambil menghadap ke Tama.
"Biarkan aku cerita Ndang..ini pengalaman spiritual yang harus aku sampaikan"
"Sosok putih itu mengatakan bahwa setelah kau mohonkan maafmu aku akan datang lagi untuk menjemputmu.." Suara Tama sekarang aga pelan dan kedengarannya menyayat hati yang mendengarkan.
"Aku mohon maaf sebesar besarnya dan sedalam dalamnya karena aku telah sering berkata salah, sering berlaku salah..dan hal lainnya yang tidak patut aku lakukan kepada kalian" Wajah Tama memelas, matanya basah bibirnya kering.
"Aku rela untuk dijemput apabila itu seharusnya yang akan kutemui"
__ADS_1
Endang langsung menangis mendengarkan itu, ia peluk kencang suaminya.
"Jangan kau berkata demikian Tama..itu hanya buah mimpimu..karena kamu masih trauma akan kecelakaanmu yang lalu" Ia berkata sambil terus memeluk tubuh suaminya.
"Kang Tama, tidak ada yang perlu kang Tama sampaikan maaf kepada kami..semua sudah berlalu, yang lalu biarlah berlalu..ayok kita bangun persahabatan yang baru..kita ikhlas dengan itu..dan sama seperti Ce Endang katakan semua hanya buah mimpi buruk saja" kata Randi.
"Terima kasih Randi dan Ari aku lega..tapi mimpi ini terus berdatangan baik yang berwajah buruk maupun sosok sinar putih..mereka jelas sekali penampakan nya dan akupun ikhlas apabila aku harus pulang.."
"Tamaaa.." tangisan Endang kini bersautan dengan tangisan Ari.
"Apabila aku benar benar telah pulang, tolong sampaikan maafku juga kepada ibu dan keluargamu semua diBandung"
"Ndang aku capek..ijinkan aku berbaring ditempat tidur..kepada kalian berdua aku ucapkan sekali lagi terima kasih sudah datang dan sudah memaafkan aku"
__ADS_1
********