
Dari pagi Tama keadaannya menurun, ia banyak melamun..mukanya pucat, bibirnya kering..tapi, ada sesuatu perubahan besar pada dirinya. Tama nampak lebih kalem dan tutur katanya pelan dan bersahabat.
"Ndang sayang..coba mendekat" ujarnya kepada sang istri. Endangpun mendekati. Agak aneh dia mendengar suaminya mengucap kata sayang dibelakang namanya. Seingat dia tiga kali selama mereka menikah Tama ngucap kata sayang. Pertama waktu Tama mau minangnya, kedua waktu acara pernikahan dan ketiga ketika Tama harus menghadirkan istrinya dihadapan petugas bank karena hendak mengajukan pinjaman pembelian rumah..selebihnya hanya memanggil nama saja.
"Ya..kenapa? mau berdirikah?"
"Ga..kesini aja sebentar"
Endang mendekat ketempat tidur, ia menarik kursi dan duduk disampingnya.
"Besok sore Randi dan Ariyana calonnya akan kesini..aku yang undang. Kamu tolong siapkan kueh ya beli aja dari Mason Patisserrie yang enak enak"
"Oh ya? ko tumben kamu undang dia"
"Sudah lama kita ga bertemu, lagian..apa salahnya kita menguburkan hal hal negatip dulu" Tama menarik napas yang dalam.
"Oh ya satu lagi.." Tiba tiba tangan Tama menjulur dan memegang tangan kiri Endang.
__ADS_1
"Tama minta maaf atas segala kesalahan yang pernah Tama lakukan kekamu"
Endang langsung menengok kewajah Tama, ia bingung sampe ga bisa bicara apa apa. Ada apa ini?
"Tama khilaf selama ini selalu berbuat congkak, berucap kasar, bertingkah tidak baik..aku mohon maaf.." kedua mata Tama berkaca kaca.
"Tama ga usah bicara begitu..lagian, aku sudah memaafkan dari dulu, kalo ga kan aku dah lama lari hehe"
Endang melirik kearah suaminya.
"Yang penting sekarang sehatkan badanmu dulu..aku seneng kamu undang Randi kesini..nanti Ndang pergi sebentar ke toko kueh, aku pilihkan yang enak enak.."
"Alhamdulillah kamu sudah sadar..love you darling"
Tama menundukkan wajahnya, matanya yang dari tadi basah kini air matanya jatuh kepipinya. Ia mengusap matanya sambil berucap.
"Ndang bawakan aku buku Yassin bisa?"
__ADS_1
"ok bentar ya" iapun mengelus rambut Tama dan ta lupa melemparkan senyum.
********
Tama gemetar memegang buku Yassin, sudah lama sekali ia ta pernah baca surah Yassin..boro boro baca menyentuhpun tidak. Kini ia telah sadar bahwa selama ini ia telah melupakan segalanya. Tuhan seakan tidak ada, yang ia pikirkan hanya amarah, kesal dan bentak bentak.
Perlahan ia buka buku suci itu, perlahan ia membaca surat Al fatehah..terasa hancur hatinya..degup jantungnya berdegap kencang..ya Allah aku telah melupakanmu ya Rab..ia nangis sejadi jadinya..tetesan air matanya berjatuhan dihalaman itu..bibirnya gemetar. Berkali kali ia panggil Allah..
Endang yang berdiri diluar kamar mendengarkan semua tangisan suaminya..iapun ikut bergetar, ingin ia masuk dan memeluknya..tapi ia urungkan niatnya.
Ia biarkan suaminya melimpahkan semuanya didalam kamar sana.
"Ya Allah..aku mohon ampunanmu ya Allah..aku telah banyak berbuat dosa. Allah..sudi kiranya engkau menerima maafku ini. Aku hanya mohon padamu apabila engkau akan mengambil hambamu yang buruk ini aku ikhlas..tapi, ijinkan aku bertemu untuk terakhir kali dengan Randi. Biarkan aku memohon maaf padanya ya Allah" kembali ia terisak menangisi semua kesalahannya.
"Aku sudah merasakan semuanya akan berakhir ya Allah..tolong jaga istriku Endang ya Allah..dia orangnya baik dan tulus, sudah banyak juga dosaku padanya"
Endang ga kuasa menahan tangisnya diluar sana, ia langsung merangsek masuk dan menubruk suaminya. Mereka saling berpelukan dengan erat..Tama nangis sejadinya dipundak Endang.
__ADS_1
********