
"Tuh kan mas,.aku sudah punya prasaan..suatu saat pasti ibu akan melakukan ini..trus gimana mas,kamu langsung matikan hpmu? ya ampun mas"
"Kamu ga usah takut, aku akan membelamu..tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi hubungan kita. Lagian kan kita sudah bercerai dan juga hubungan kita ini bukan perselingkuhan, aku mendekati dan melanjutkan hubungan kita berdasarkan saling sayang dan cinta bukan ***** birahi atau apa. Semuanya wajar saja, dia kan hanya malu pada dirinya apalagi yang aku tau dia blom punya pasangan baru sekarang mungkin saja dia gengsi..aah gila!"
"Aku mohon sabar ya mas, aku hanya ga mau kalo gara gara aku mas jadi susah"
"Tidak Ari, tidak apa-apa aku sudah bulat dengan tekatku bahwa kamulah orang yang akan aku dampingi. Biarkan mereka begitu, tidak akan membuatku ketakutan, aku akan bersamamu selamanya"
Ariyana bergeser mendekat dan memelukku. Bau aroma minyak wangi ditubuhnya membuatku santai, lembut dan berbau bunga melati bau kesayanganku. Pelan-pelan aku mengangkat dagunya, kudekati wajahnya, bibirku perlahan menyentuh bibirnya yang ranum. kukecup, bibir kita bersatu kupeluk tubuhnya kencang, biasanya klo sudah begini kita akan saling bergelora, napas² kita saling kejar mengejar, aku rebahkan tubuhnya dikasur yang empuk, ia merintih dan membisikan sesuatu.
"Mas..tahan ya, jangan kelewatan kita belum menikah"
Aku menganggukan kepalaku dan kusandarkan didadanya tanganku mengelus rambutnya yang tebal. kita berbaring disana dan pikiran kita masing-masing menerawang akan perjalanan hidup ini.
"Ari..sebelum kita nikah aku mau cari tanah didekat orang tuamu, aku mau bangun rumah kita disana, dan supaya kita bisa urus juga bapa ibumu"
"Ya Allah..Alhamdulillah kalo itu yang mas inginkan saya ikut saja, kenapa tidak didekat asalmu saja diJawa Barat?"
__ADS_1
"Emang banyak tanah yang bagus disana tapi aku ingin dekat dengan orang tuamu supaya kita bisa ikut mengurusi mereka"
"Alhamdulillah mas" Ariyana mendekap tubuhku lebih kencang.
Sebentar saja dan...
Ahirnya kita tertidur lelap sampai sore dan terbangun karena jeritan suara Ariyana.
"Aduh mas! Aduh tolong!" teriaknya tiba tiba.
Aku terbangun, kulihat Ariyana dipojok tempat tidur kedua tangannya memegangi perutnya, kedua matanya tertutup bibirnya terkatup erat.
"Ari! ada apa? mananya yang sakit?" aku bingung.
"Perut mas! kaya ada yang menusuk dan menggigit! aaaaaah!" aku bingung dan tidak tau apa yang harus kulakukan.
"Aduuh mas, kalo terus terusan begini tolong bawa aku ke rumah sakit terdekat ya..aduh ada apa ini?"
__ADS_1
Cepat aku beranjak dari tempat tidur menyiapkan semua barang barangku dan tas Ariyana bersiap-siap apabila harus berangkat ke rumah sakit.
"Tunggu sebentar mas, klo datang lagi sakitnya kita akan berangkat ya..ya Allah apa ini? belom pernah aku alami sakit kaya gini" Aku hanya mengangguk pasrah, ada apa ini?
Tiba tiba selang 2menit kemudian Ari mengejang kembali kedua kakinya terbujur kaku, matanya terpejam erat lagi, salah satu tangannya menarik tanganku dan meremasnya sangat kuat.
"ya Allah sakitnya..aduuuh! ya Allah mas Ari tolong aku kaya tertusuk"
Aku melirik kearah barang²ku, sebaiknya aku mempersiapkan semuanya.
"Ari..coba tarik napas pelan² lemaskan tubuhmu..baca Al fatehah ya..aku juga demikian. Kita selanjutnya berdua membacakan surat Al fatehah dan mohon ke Allah bantuannya. Aku bingung ada apa ini? Selang kemudian nampaknya Ari sudah mulai tenang kembali dan pelan pelan ia bangkit dari tempat tidur. Tangannya masih memegang perut seakan takut sakit itu akan datang lagi.
"Coba aku minum air putih dulu mas" dengan cepat aku siapkan air digelas sambil aku bacakan Al faetah diatas air itu sebelum kuserahkan ke Ari. Nampaknya membantu ia mulai tenang.
"Mas, anter aku ke dokter yuk..aku takut,blum pernah aku merasakan sakit seperti ini..aku takutnya usus buntu atau apa..soalnya sakitnya bukan main kaya ada yang nusuk didalam perutku"
"Baiklah sayang".
__ADS_1
********