SEPERTIGA MALAM

SEPERTIGA MALAM
BACK PROBLEM


__ADS_3

...-HAPPY READING-...


...Maafkan orang lain secepat kamu mengharapkan Allah untuk memaafkanmu. -SEPERTIGA MALAM...


Rencana yang awal nya mereka susun, sekarang sudah berantakan. Awalnya, permasalahan mahasiswi yang keracunan itu akan ditindak lanjutin oleh si kakak korban, kini sudah selesai.


Caranya? Abyan.


Hari ini kedua orang tua Nayla dan Nayra akan memberikan kejutan kepada mereka, karena jadwal pulangnya di mundur. Dan bukannya mereka yang memberikan kejutan, malahan mereka yang mendapatkan kejutan nya.


Dengan segera, Abyan menelfon pihak berwajib. Menjelaskan permasalahan ini hanyalah sepele, walau sempat Abyan yang harus ke kantor polisi dan mendebat dengan beberapa orang termasuk sang kakak korban, akhirnya dia lah menang.


Namun, tak sampai disitu. Bukan hanya itu masalah yang anak-anak mereka lewati, mereka bertengkar, itu yang membuat kedua orang tua mereka tak habis pikir.


Sudah tidak memberi tau mereka! Kalau saja mereka tidak pulang, apakah dengan saling diam-diaman ... Masalah akan teratasi?


Tidak!


Untuk sekarang, masalah itu bisa dikatakan sudah clear.


Di ruang tamu hanya berisi, sang bunda yang sedari tadi melihat handphone. Dan kedua anak nya yang menunduk, sedang menunggu Abyan yang pulang dari kantor polisi.


Sedari tadi, ruangan yang biasanya dipenuhi dengan mengobrol hangat, terasa sangat dingin.


Padahal menurut Nayla ini hal biasa dan kenapa? Orang tua nya sedikit ... Berlebihan.


Dan seperti nya, Nayra juga berfikir seperti itu. Jika keduanya saling minta maaf? Masalah ini akan selesai, bukan?


Mereka semua mendengar suara mobil Abyan. Namun, yang bangun hanyalah Zara. Zara menghampiri Abyan, tapi kemudian mereka juga mengikutinya dari belakang, jaga-jaga kalau ada apa-apa.


Assalamualaikum...


"Wa'alaikumussalam, yah." Jawab Zara yang langsung memeluk Abyan.


Abyan membalas memeluk nya. "Kenapa?"


"Gimana?"


Abyan menarik nafas berat, beralih menatap kedua anak nya. "Yaa, menang."


Alhamdulillah...


Semua bernafas lega mendengar nya.


"Lepas dulu, Bun."


Namun, Zara masih urung untuk melepaskan nya. "Bunda lagi marah sama mereka, bunda cuma mau meluk biar marah bunda cepat ilang."


Abyan terkekeh lalu dengan cepat mengeratkan pelukannya. Pelukan nyaman nya, pelukan saat diri nya sedang lelah, itu ada di dalam dekapan nya sekarang.


"Bun..."


Abyan dan Zara masih belum bergeming dengan panggilan kedua anak nya.


"Kita minta maaf."


Nayra mengangguk menyetujui sang kakak. "Disini juga, awal nya aku yang kebawa emosi. Jadi aku yang salah, aku minta maaf."


"Ngak, Aku yang egois, aku yang mau ngelakuin ini sendiri. Padahal jelas-jelas aku pasti ngak bisa, dan aku juga yang bilang ke Nayra kalau ngak usah ngomong ke ayah, sama bunda."


Pengakuan keduanya membuat pelukan dari Zara melonggar.


"Bunda kita minta maaf."


Untuk sekarang, Zara tersenyum dan tentu saja membuat senyuman itu tertular, menular ke Abyan, Nayla dan Nayra.


"Bunda udah maafin, kok."


Zara tersenyum lebar.


"Yang bunda ngak abis pikir, masa masalah yang udah kebawa kepihak hukum. Kalian ngak kasih tau, kita?"


Nayla melangkah dan memeluk sang bunda. "Aku bunda, aku yang udah bilang ke Nayra buat ngak usah kasih tau kalian ... Aku yang salah disini."


"Udah, ngak usah sedih lagi. Masa, ayah sama bunda pulang cape-cape gini belum sempet istirahat."


Keduanya mengangguk. Setelah itu, Abyan dan Zara pamit ke kamar. Dan tinggal mereka berdua saja di ruang tamu ini.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, maafin aku ... Aku—"


"—Udah aku maafin." Sambung Nayra terkekeh.


...•••...


"Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, Yusuf menjauhi nya. Tapi, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datang kan Yusuf padanya."


"Jadi, walau ente bilang. Ente udah mantap! Tapi kalau ente coba Deket dan justru dijauhi sama 'dia!"


"Tapi, Kalau ente Deket sama Allah, ente shalat tuh, ente tahajutan tiap malam, di 'sepertiga Malam' pasti nanti Allah datang kan jodoh ente! Seperti Allah datang kan Yusuf ke Zulaikha."


Penjelasan dari fajar sangat amat dicerna oleh Shaka, dirinya sempat melupakan cerita itu. Diamana Zulaikha yang sangat mencintai Yusuf. Namun, disini dirinyalah yang sedang merindu.


"Ente ngak usah, kepikiran kali! Emang siapa sih?"


Shaka tidak menjawab, dan tidak ingin menjawab. Jelas fajar mengenal nya, maka nya dia tak membahas terlalu dalam kalau sedang bersama fajar.


"Ada, lah."


"Ya emang pasti ada, kan? Tapi siapa? Tinggal di komplek 'merdeka ini?"


Shaka hanya melirik dan mengangkat kedua bahu ringan. "Kamu yang siapa?"


Fajar tergelak. "Lah kan, ente tau? Ane, siapa?"


Shaka menelik fajar, kapan diri nya mengetahui nya? Dan kapan fajar memberi tahunya?


"Ngak tuh, kamu ngak pernah ngomong apa-apa."


"Beneran ngak tau?"


Shaka menggeleng.


"Belum pernah ane kasih tau?"


Shaka menggeleng.


"Tapi, tenang aja! Ane tau kok."


Shaka menggeleng. Tapi menggangguk, dirinya teringat akan perkataan fajar kala itu.


"Yaa kan, saya orang."


Yah memang benar bukan? Jodoh orang itu ... 'Orang. Tapi perkataan fajar kala itu juga benar ada nya, kalau dirinya juga orang.


Plak.


Fajar menggeplak bahu Shaka agar tidak 'bengong lagi. Dan Shaka sempat meringis berkat itu, mungkin bahu nya akan memerah, disebabkan kulit Shaka yang terlalu putih untuk disakiti.


"Ente rajin-rajinlah shalat tahajjud, kedepan nya."


Shaka hanya mengangguk sekilas. Kalau dia katakan bahwa setiap malam dirinya bangun pun, bisa. Karena setiap malam, di 'sepertiga Malam'. Shaka selalu terbangun, banyak alasan yang membuat Shaka terbangun.


Salah satu nya, di 'sepertiga Malam' ini. Adalah salah satu doa yang Allah ijabah kan, doa yang cepat Allah kabulkan.


"Oh, ya ... Saya dengar-dengar, masalah caffe yang sempat ente ngajakin ane waktu itu, yang mau diperpanjang. Ngak jadi deh."


"Maksudnya?"


"Orang tua dari uztazah kembar itu, pulang dari luar kota, kan? Dan udah, udah di clearin sama pak Abyan."


"Pak Abyan?"


Fajar melirik Shaka dan mengangguk kecil. "Iya pak Abyan, orang tua nya uztazah kembar itu."


Shaka terdiam sesaat. "Istrinya pak Abyan, Bu Zara, kan?"


Fajar mengangguk kecil.


"Saya kenal."


"Ente kenal? Sama pak abyan dan Bu Zara?"


Dan Shaka kembali mengangguk.


"Seperti nya, saya mau bertamu ... Mungkin, pak Abyan sama Bu Zara belum tau kalau saya ada disekitaran komplek ini."

__ADS_1


"Kalau, tau?"


"Ya pasti udah lama saya tau, soalnya pak Abyan pasti akan nyamperin saya."


Shaka tersenyum lebar.


Fajar diam.


...•••...


Nayla tersenyum lebar. Yaa Sangat lebar, dikarenakan keluarga nya kini sedang berada di caffe gemini's, menjelaskan tentang acara ulang tahun, ulang tahun Nayla dan Nayra.


"Temanya, kalian mau tema apa?"


"Aku mau tema gold, Bun."


Nayla melirik Nayra yang menjawab. "Jangan, masa gold. Ungu ... Lebih berkesan elegan, tau ngak?"


"Dih? Ungu elegan? Sejak kapan?"


"Ya ... Kapan kek."


"Dih? Ngak jelas banget! Gold pokoknya."


"Ungu lebih keren, tau? Apalagi dekor nya itu punya temen aku, aku pernah liat. Keren banget pokoknya."


"Aku juga, kemaren ulang tahun temen aku, gold. Keren banget pokoknya."


Nayla menatap kesal Nayra yang sedang menatap nya sombong.


Ayah dan bunda tersenyum kecil, kedua nya sudah baikan. Walau memang akan jadi seperti ini terus kedepan nya, bertengkar sebentar.


"Ngomong-ngomong, kayak nya pengunjung caffe disini, belum tau mau dibuka kan?"


Atensi Nayla dan Nayra berpusat pada Abyan. Yah, mereka juga belum mengetahui nya. Bagaimana nanti pengunjung disini, sudah tidak lagi percaya terhadap penyajian caffe nya?


Walau mereka sedang berada disini. Namun, yaa hanya mereka yang berada disini, bahkan para waters caffe ini pun belum keduanya kasih tau, kapan akan dibuka, lagi.


"Ngak usah khawatir, kita bangun sama-sama."


Zara tersenyum, lalu bangkit. "Gimana, kalau modif caffe ini sedikit kita renov? Terus juga parkiran nya, kita buat lebih luas lagi."


Zara menaik turunkan alisnya seraya tersenyum. "Ayo dong! ... Masa cuma bunda yang semangat!"


Zara menguncang kan kedua bahu anak nya yang sedang tersenyum. "Aku mau minta bantuan, dulu."


"Bantuan? Ke siapa?"


Sebelum bangkit, Nayla melirik ayah nya. "Meisya, mbak Rina, cello sama Ray. Yah."


Abyan mengangguk kecil.


"Oh ya! Masa waters nya, cuma 4 orang? Nanti kalau misal caffe nya lagi ramai pengunjung, pasti mereka kewalahan."


Abyan kembali mengangguk kecil. "Biar ayah yang urus."


"Nah! Gitu dong yah ... Okey! Sekarang kita renov caffe nya, dan untuk besok lusa caffe nya akan lanjut didekor, mau warna apa?"


"Gold."


"Ungu."


Zara mengangguk. "Oke, warna putih cantik."


...


...


...-TO BE CONTINUED-...


Ahh~


Cafek? Bukan cape nules sih sebenarnya


Tapi cape mikir, aku itu kayak maksa bakat aku itu untuk keluar.


Padahal jelas dan sangat jelas bakat ini tidak bisa keluar

__ADS_1


Tapi kenapa kupaksaka!!!?


^^^Aceh, 28 Mei 2023^^^


__ADS_2