
...-HAPPY READING-...
...“You pray for rain, you gotta deal with the mud too. That’s a part of it. I’d be more frightened by not using whatever abilities I’d been given. I’d be more frightened by procrastination and laziness.” – Denzel Washington...
...“Anda berdoa untuk hujan, Anda harus berurusan dengan lumpur juga. Saya akan lebih takut dengan tidak menggunakan kemampuan apa pun yang telah saya berikan. Saya akan lebih takut dengan penundaan dan kemalasan.”...
...•••...
Padahal niat nya hanya ingin menolong saja, tidak lebih. Apalagi melebih lebihkan, tapi sekarang entah bagaimana? Gibran hanya membawa Nayla ke sebuah rumah minimalis, sebelum itu diri nya sempat menelfon seseorang.
Diri nya tidak ikut memapah ketika teman nya itu memapah Nayla membawa nya masuk ke dalam mobil. Teman nya itu ... Perempuan.
Nayla sedari tadi pagi belum juga sadar. Gibran panik, benar-benar panik. Karena ini salah nya, Gibran tau Nayla sedang sakit, tapi berani berani nya tidak mengobati.
"Gue takut,"
"Takut dia mati," jawab teman nya yang sedang makan siang di sebelah sofa nya.
"Ch! Kalau dia mati, gimana?" Gibran membuang puntung rokok terakhir nya, lalu bangkit ingin melihat Nayla.
"Ya kalau mati, ya tanam." Teman nya itu berteriak dari arah depan, tapi Gibran abaikan.
Nayla masih belum sadarkan diri di atas kasur. Gibran sendiri jika menuruti kemauan nya, Gibran akan menyentuh Nayla. Namun, Gibran tau itu, tidak enak menyentuh nya sekarang, bukan?
...•••...
Kini sudah siang, dan mereka semua tidak tau keberadaan Nayla. Bukan hanya kehilangan Nayla kini menjadi faktor utama nya, tapi Nayla sedang sakit. Bagaiman jika nanti Nayla semakin parah saja?
Abyan dan Shaka kini sudah selesai melaksanakan sholat dhuhur, kini kedua nya kelimpungan mencari. Entah, mereka sudah mencari ke semua tapi tetap belum juga ketemu.
Shaka sudah memberi ide untuk melapor ke polisi, tapi polisi tidak akan menindak lanjuti jika belum genap satu hari. Ameera sudah Shaka bawa pulang, walau umma nya tadi nampak risau ingin mencari. Tapi, ia urung kan.
Sementara Zara dan Nayra sudah mengabarkan teman teman nya Nayla, dan sama saja. Mereka juga tidak mengetahui nya, apalagi cellin, Renata, Jessica dan chasandra. Mereka berempat juga sudah ikut bantu mencari.
"Allah ..."
Shaka menoleh ke arah Abyan, bisa Shaka lihat sekarang. Wajah risau Abyan, bibir nya tak berhenti henti nya beristighfar, bershalawat dan berdoa agar Nayla selamat di luar sana. "Biar aku aja, yang nyari nya om?"
Abyan tidak menoleh. "Om saja sudah tidak tau lagi mau kemana? Emang kamu tau?"
Shaka menggeleng meringis.
"Jadi sekarang, kita mau kemana?"
Abyan menoleh dan tersenyum. "Terima kasih. Tapi, kita tetep nyari, ya?"
Shaka tersenyum dan tentu saja mengangguk. Shaka sendiri sama risau nya seperti Shaka. Hari ini shaka ada jadwal mengajar di salah satu pengajian kampung, tapi Shaka tinggal kan terlebih dahulu.
Kedua nya sama sama berjalan menuju mobil 'shaka. Walau mobil nya berjalan, tapi mereka tidak tau kemana tujuan nya.
...•••...
__ADS_1
"Gibran hilang, pa~"
Aghas, menarik nafas berat. Kini diri nya sedang banyak urusan di kantor. Tapi, istrinya, Dea lagi lagi mengabarkan anak mereka itu, hilang. Apa lagi sekarang?
"Kalau penyakit nya itu, kambuh gimana?"
Kambuh ya? Aghas berdengus sinis. Memang nya harus bagaimana lagi? Ya seperti itu? "Udah ngak papa—"
"Ngak papa gimana maksud papa!?—Jelas jelas anak nya ilang! bukan di cariin!"
"Papa banyak urusan, ma?"
Setelah itu panggilan terputus dari sebelah pihak, Dea memutuskan panggilan nya begitu saja. Aghas menaikkan alisnya sebelah, setelah itu tersenyum senis.
"Berbuat apalagi, dia sekarang?"
...•••...
Nayra sudah menidurkan Zara, setelah shalat dhuhur tadi Zara ketiduran akibat banyak menangis. Nayra sendiri sudah tidak bisa lagi menangis, air mata nya sudah mengering tak ingin keluar lagi.
Nayra menghela nafa berat nya. Kemana kembaran nya itu? Semoga saja Nayla baik baik saja, disana. Allah selamat kan kakak hamba ...
Nayra keluar dari kamar sang bunda, diri nya juga tidak bisa cuma menangis tak jelas seperti ini. Diri nya juga harus ikut bantu mencari, walau tidak tau kemana?
Perkataan cellin kala itu, jelas terlintas di benak Nayra. Tapi, dia masih dirumah sakit kan? Sakit nya itu parah, jadi tidak mungkin jika dia yang membawa nya.
Nayra lagi lagi meruntuki diri nya, cerita cellin kala itu ... Nayra belum memberi tau kan orang tua nya, apalagi Nayla. "Kerumah sakit, kali ya? Tapi, kalau ngak ada? Sama aja buang buang waktu."
Nayra mengangguk meyakinkan diri nya sendiri. Pertama Tama, diri nya harus menghubungi cellin terlebih dahulu, agar tidak susah nanti nya.
Gambar Poto
Setelah mengirim message, Nayra langsung menancap gas mobil menuju rumah sakit. Semoga, semoga saja dia masih ada di rumah sakit, jadi Nayra tidak akan su'udzon terlebih dahulu.
...•••...
Nayla sadar dimana diri nya, kepala nya masih sangat pening. Dia memperhatikan sekeliling, kamar nya sangat bersih, jelas sekali kamar ini dirawat dengan baik oleh sang empu nya.
Tapi siapa?
Gibran kah? Tapi tidak mungkin Gibran. Nayla turun dari kasur nya, Khimar nya sedikit berantakan. Dan sandal rumah sakit ... Sudah tidak ada, dan diganti kan dengan sandal bulu bulu kelinci.
Punya siapa ini?
Jelas ini punya seorang wanita, jadi tidak mungkin Gibran yang menculik nya. Nayla berjalan dengan sempoyongan ke arah pintu, gagang pintu sangat susah untuk Nayla buka, pintu nya terkunci.
Lagi lagi Nayla ingin menangis saat ini, Nayla sendiri tidak tau jam berapa sekarang. Tapi, yang jelas matahari sudah nampak di atas, jadi mungkin saja dhuhur sudah tiba.
Karena tidak ada tanah untuk bertayamum, Nayla menggunakan dinding saja. Dan in sya Allah, badan Nayla terbebas dari berhadas.
Nayla masih tidak sanggup melaksanakan sholat berdiri. Jadi diri nya memutus kan untuk duduk kembali.
__ADS_1
Nayla melaksanakan sholat nya sekitar ... 15 menit, tak lupa setelah nya ia bermunajat kepada Allah. Meminta di selamat kan dari marabahaya, di selamat kan dari jin atau setan, dan jika ini jin semoga dia insaf ... Amin.
Nayla bangkit dari duduk nya, pintu nya juga belum di buka. Perut Nayla sudah sakit sedari tadi, Nayla sungguh tidak bisa jika tidak sarapan. Apalagi sekarang, sudah waktu nya makan siang, dan nayla sarapan saja belum.
"Permisi!"
Nayla berteriak, tapi disebelah sana tidak ada suara pertanda ada manusia. Diri nya kelimpungan sendiri, bisa saja Nayla keluar dari jendela. Tapi, ini lantai dua. Mau mati ayo?
Dan jika di dobrak, Nayla bisa saja kalau diri nya sedang sehat sehat saja. Namun, Nayla sadar diri sekarang, badan nya saja jika dia paksakan untuk lama berdiri, akan pening. Apalagi itu?
Namun, tiba tiba Nayla menyadari ada yang dangkal. Siapa itu? Sayup sayup Nayla mendengar jejak kaki yang mendekat, dan semakin dekat saja.
Nayla berpindah ke samping lemari, tidak ingin diketahui jika dia sudah sadarkan diri. Lamat Lamat Nayla mendengar suara kunci dimainkan, dan pintu nya terbuka.
Nayla menutup kedua mata nya tak ingin melihat. Tapi, jelas ia penasaran siapa itu?
"Hallow?"
Suara perempuan.
"Udah mati, ya?"
Suara nya semakin mendekat. "Ayo keluar, gue tau Lo lagi sembunyi, kan? Ayo cepet."
Perlahan Nayla memberanikan diri untuk membuka mata nya. Ingat Allah Nayla, satu kata, tapi bisa membuat Nayla segera beranjak dari sembunyi nya. Dia keluar dari sana.
Perempuan itu tersenyum lebar sekali, dia mengucapkan say hallo untuk Nayla yang sedang tercekat itu.
...-TO BE CONTINUED-...
...Siapa nih?...
...Jan lupa klik 🌟🌟🌟🌟🌟 yahhh, sekali ajahhh kok...
...Dan ini nama Instagram aku @hellomenaila okeee...
...Coba tebak siapa?...
...Spam next 👉...
...Spam Allahu Akbar 👉...
...Spam istighfar dulu 👉...
...Spam Masya Allah 👉...
...Seee you next part...
...Don't forget comend and vote...
...Bye bye...
__ADS_1
^^^Aceh, 12 Juni 2023^^^