
...-HAPPY READING-...
...“I believe there’s an inner power that makes winners or losers. And the winners are the ones who really listen to the truth of their hearts.” – Sylvester Stallone...
...“Saya percaya ada kekuatan batin yang membuat pemenang atau pecundang. Dan pemenangnya adalah orang-orang yang benar-benar mendengarkan kebenaran hati mereka.”...
...•••...
Nayra sudah tiba di rumah sakit, tiga martabak coklat manis berada di tangan nya sekarang. Lorong lorong rumah sakit sangat sepi, padahal jam baru menunjukkan pukul 20.15 dan diri nya sengaja pergi sekarang karena sudah selesai melaksanakan sholat isya.
Kamar rawat inap Nayla berada di lantai dua, jika dia harus kesana berarti dia harus menaiki lift yang sepi itu. Lift nya sangat sepi, Nayra sendiri jadi dibuat merinding sendiri.
Apapun itu, Nayra tetap akan meneruskan niat nya. Di dalam lift Nayra tampak gemeteran, bukan nya takut. Tapi memang suasana nya yang sepi membuat ruangan lorong kamar inap saudara nya itu nampak mencekam.
Ketika pintu lift terbuka, Nayra menghela nafas lega. Pikir nya tadi tidak akan ada orang yang melintas. Namun, ternyata ada.
Dan Nayra sedikit menimbang nimbang untuk tidak menemui orang itu atau menemui, jelas ia kenal siapa itu.
"Pak aghas, kan?"
Pria berjas toxedo maroon itu menoleh, lalu mengernyitkan dahi pertanda sedang memikirkan siapa?
"Oh, assalamualaikum ... Pak?"
Nayra mengatupkan kedua tangan nya di dada. "Bapak ngapain di sini?"
Pertanyaan konyol bukan? Jelas Nayra tau rumah sakit adalah tempat nya orang sakit. Namun, karena Nayra tidak pandai berbasa-basi jadilah seperti ini.
"Maaf, kamu siapa ya?"
"Loh? Bapak sudah tidak kenal lagi, ya?"
Aghas mengernyitkan dahi nya sekali lagi. "Anak nya ... Pak Abyan?"
Nayra mengangguk cepat. "Iya, pak."
"Ah, maaf saya sudah tidak mengenali kamu tadi." Aghas menggangguk kecil. "Gibran tadi pingsan di kamar nya, jadi saya bawa ke sini."
"Pingsan di kamar? Kak gibran sakit apa, pak?"
"Saya juga tidak tau."
Nayra nampak berpikir sekarang. Kalau diri nya menjenguk, nampak dia yang beruntung bukan?
"Saya jenguk, boleh?"
Aghas menaikkan alisnya.
"Saya kan, adik kelas nya di kampus pak?"
...•••...
Nayla kembali menoleh ke arah pintu. Namun, lagi lagi tidak ada tanda tanda sang adik menjenguk. Ayah nya sudah keluar sebentar, karena ingin menerima telfon. Dan kini bunda nya sedang istirahat di sofa tunggu rumah sakit.
Bunda nya nampak sudah lelah, padahal tadi hanya ingin merehatkan badan nya saja di sofa. Namun, kini sang bunda sudah tepar disana.
Nayla tersenyum lebar dengan bibir nya yang kian memucat. Ajakan rumah sakit sudah yang entah keberapa kali nya Nayla tolak. Tapi, tadi saat Zara keluar dan dibelakang nya Nayla bangkit hendak ingin menuju kamar mandi.
Dan karena badan nya yang masih lunglai, dia jatuh tak sadarkan diri.
Padahal Nayla hanya demam biasa dan pusing biasa, tapi sang bunda sudah panik seantartika. Namun, tak bisa dipungkiri lagi lagi Nayla tersenyum mengingat jasa kedua orang tua nya.
"Assalamualaikum."
Nayla mengalihkan pandangan nya ke pintu. Sang adik dan dua kantong berada di tangan nya, satu nya lagi berisi martabak coklat pesanan sang bunda. "Wa'alaikumussalam." Jawab Nayla pelan.
Dia meletakkan martabak nya di meja, lanjut mengecek kesuluruhan badan nya sang kakak. "Ngak kenapa kenapa, kan?"
__ADS_1
Nayla terkekeh pelan dan menggeleng. "Ngak papa, kok."
Dan kini Nayra mengangguk kecil, ia duduk di kursi samping keranjang kasur Nayla. "Martabak nya tinggal dua."
Nayla mengangguk kecil.
"Ngak kamu tanyain, kenapa?"
Nayla kembali mengerutkan keningnya. "Emang kenapa?"
"Tadi tiga, loh?"
"Kamu makan?"
Nayra menggeleng kuat, lalu dia melepaskan pengait Khimar nya. Ruangan nya padahal ber-Ac, tapi kenapa Sangat panas.
"Ngak takut, kalau perawat datang?"
"Tapi, panas banget."
"Ada Ac-nya kok?"
Nayra bangkit dari duduk nya, saat pertama kali kesini diri nya lupa meninggal kan tas berisi baju-baju sang kakak dan bunda nya, selimut pun ada disana. Nayra membuka resleting tas, mengambil selimut hangat dan menyelimuti tubuh sang bunda.
"Ayah mana?"
"Tadi, lagi ngangkatin telfon di luar. Tapi sekarang belum masuk juga."
Nayra mengangguk mengerti.
"Tadi ada temen kamu, ngamperin aku."
"Siapa?"
"Cellin."
...•••...
Sang papa yang disebut hanya mendengus sinis, perkataan itu sudah luar biasa kebal nya ia dengar. Sudah tidak ada lagi rasa sakit hati, saat sang anak mengertak nya begitu.
"Saya tidak salah," pungkas nya terlalu biasa.
Anak itu bangun dengan susah payah, sudah di kurung digudang tak terpakai berhari-hari. Kini diri nya harus menanggung nya lagi. Namun, diri nya sudah bertekad akan membalaskan semuanya.
Tubuh nya sudah tidak bisa dia gerakkan, badan nya sakit semua. Dan suara nya sudah parau. Dan Untung berkat sang mama kini diri nya sudah ditangani dirumah sakit.
"Mama kamu itu, ngak tau apa kesalahan kamu? Ah terlalu bodoh, kan?"
Papa nya berkata dengan suara super biasa. Padahal jelas jelas anak nya kini mengertak kan gigi nya, marah.
"Dan satu lagi ... Jangan berani berani nya, kamu libatin anak saya lagi."
Setelah itu dia pergi, pergi meninggalkan anak nya di kamar rawat inap sendirian. Mama nya anak itu entah terlalu bodoh, atau apa? Yang jelas hanya perkataan baik-baik saja dari sang suami pun istri bodoh nya itu percaya.
...•••...
"..."
"Iya, besok tolong taruh semua berkas-berkas nya di atas meja saya."
"..."
"Sudah dulu, assalamualaikum."
"..."
Abyan memutuskan sambungan telfon nya, kini sudah sangat larut. Jelas tidak mungkin jika ia meninggalkan istri dan anak anak nya dirumah sakit. Jadi Abyan memutuskan untuk tidur di rumah sakit saja.
__ADS_1
Istri nya tadi jelas menolak untuk pulang, dan Abyan sendiri pun juga tidak berniat untuk pulang.
Pintu lift terbuka, Abyan keluar dari lift dan hendak ingin menuju ke kamar sang anak jika bukan panggilan dari arah timur tidak mengagetkan nya.
"Assalamualaikum." Sapa Abyan balik.
"Ah, HAHA ... Wa'alaikumussalam."
Abyan mengangguk kecil. "Sedang apa, pak?"
"Anak saya sakit."
Anak yang mana? Pikir Abyan.
"Anak pertama, saya pak." Pungkas aghas sendiri.
...•••...
"Untung lah bapak ngak Nerima, kalau bapak terima ... Entah apa yang akan terjadi, saya tidak tau untuk ke depan nya."
Ya, bukan diri nya yang jahat. Ia hanya ingin anak nya berubah, walau dulu ia sangat menuruti perintah dari sang anak. Kini semua nya sudah berubah, dia tidak akan lagi menyutui ajakan apa saja dari sang anak itu.
Tapi, cara didik nya yang jahat. Dari dulu karena dir nya sangat menyayangi kedua anak nya, dia selalu memanjakan nya. Sampai sampai dia lengah, dia tidak memantau apa apa saja yang sudah anak nya perbuat.
"Kalau di tanya? Sayang atau tidak? Jelas, saya jawab ... Saya sangat sayang."
"Jangan terlalu keras."
Dia menoleh saat lawan bicara nya yang sedari tadi hanya diam, lalu ikut melihat ke salah satu topik penglihatan sang lawan yang sedari tadi fokus melihat ke sana.
"I believe there’s an inner power that makes winners or losers. And the winners are the ones who really listen to the truth of their hearts."
(Saya percaya ada kekuatan batin yang membuat pemenang atau pecundang. Dan pemenangnya adalah orang-orang yang benar-benar mendengarkan kebenaran hati mereka.)
Diri nya cukup terdiam, lawan nya sekarang adalah teman bicara yang tepat. "That's right," jawab nya sambil tersenyum.
Abyan menoleh ke samping. "Saya pamit dulu, istri saya sama anak anak saya pasti udah nunggu saya di dalam kamar."
Aghas menggangguk wibawa. "Saya juga begitu, terimakasih sudah mendengar nya."
Abyan lantas terkekeh saat lawan partner kerja nya berkata sedemikian. "Baiklah, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Abyan meninggalkan aghas sendiri di sana. Memang menjadi sosok ayah sangat luar biasa nya di uji, tinggal kita sendiri saja. Mampu atau kah tidak nya menjalani profesi ini?
Seperti kata Ringgo Agus Rahman. "Kepala keluarga selalu menanggung beban yg paling berat dari kelakuan keluarga lain."
"Ayah!"
Fokus Abyan ambyar saat panggilan itu mengagetkan nya. Diri nya terkekeh sendiri, akibat memikirkan masalah sang lawan partner nya tadi, Abyan ikut tak sadarkan diri saat sudah tiba di depan pintu.
"Ngapain, yah?"
Abyan berjalan memeluk tubuh sang istri, tersenyum bahagia karena telah diberi kepercayaan untuk memiliki sang istri dan anak anak nya. "Syukron, habibati."
Zara ikut tersenyum saat mendengar nya. "Na'am, Habibi."
...-TO BE CONTINUED-...
...Ini nama Ig aku yaa @hellomenaila...
...Okeeee...
...Dah cukoppppp...
...Don't forget to vote and comend...
__ADS_1
...Bye bye...
^^^Aceh, 11 Juni 2023^^^