
...-HAPPY READING-...
..."Life's tough, but it's tougher when you're stupid." - John Wayne...
..."Hidup itu sulit, tapi lebih sulit bila Anda bodoh."...
...•••...
Seperti biasa, jadwal wisuda mereka harus tetap sama. Jurusan nya sama dong? Pasti wisuda nya juga harus sama, jadwal wisuda mereka satu minggul lagi. Berhubung kedua nya tidak ada lagi kerjaan untuk kampus, sekarang Abyan menyuruh mereka untuk memfokuskan ke caffe saja dulu.
Namun, kehadiran mereka di caffe disambut dengan kabar berita yang tidak mengenakan. Bagaimana tidak? Waters nya mengkhianati kepercayaan mereka.
Entah apa ini, Nayla sendiri tidak tau. Kini caffe ditutup seawal mungkin. Mereka berkumpul di halaman belakang yang digunakan untuk area bersantap.
Bagian ini beratapkan skylight, yang bertujuan untuk mendapatkan ruang yang luas dengan plafon yang tinggi dan siraman alami cahaya matahari.
Nayla sudah menyuruh mereka untuk duduk, supaya tenang untuk mengobrol. Namun, hanya ada Nayra yang menemani nya duduk, mereka semua berdiri.
"Je-las-kan!" Tekan Nayra emosi. "Ngak habis pikir aku, maksud nya apa nih?"
"Tapi mereka ngak ada bukti." Seseorang itu menjawab dengan lantang nya. "Main nuduh nuduh, aja." Lanjut nya berkata sinis.
"Siapa bilang," ucap seseorang lagi dan menyenggol salah satu waters disamping nya. "Bilang! Kita punya bukti."
"I-yah ... Ki-Kita punya bukti." Jawab nya gugup.
Jawaban gugup itu membuat Nayla menaikkan alisnya, ia memperhatikan interaksi antara para waters nya. "Kenapa gugup? Thal?"
"Um?" Thalia sedikit bergumam. "Ngak kok, mbak."
"Thalia! tunjukin dong!?" Meisya dibuat geram saat lagi lagi thalia gugup.
Anita, Hana, mika dan Sisil adalah para waters baru. Mereka tidak tau menau akan hal ini, ke empat nya hanya diam tak tau, dan tak ingin menau.
Sementara mbak Nita sudah geram sama hal nya dengan Meisya, mbak Nita juga sudah melihat rekaman cctv-nya. Rekaman cctv-nya yang sudah dihack.
Nita keluar dari sana, tanpa sepengetahuan semua. Lalu ia menuju ruang Nayla dan Nayra, mengambil laptop tanpa persetujuan nya. Lalu kembali ke tempat semula.
Semua nya masih diam, bisa Nita liat sekarang. Nayra dengan emosi tak tertahan nya dan Nayla dengan ekspresi kalem nya. Kalem? Yah kalem. Namun, Nita ngeri saja melihat nya.
Nita meletakkan laptop nya, Meisya sempat menanyakan laptop siapa? Tapi Nita abaikan. Dia memasukkan flesdi ke laptop.
"Laptop aku, ya?"
Nita mendongak menatap Nayra, ya ini laptop Nayra. Sebelum kembali menunduk dia meringis kecil melihat wajah merah padam Nayra.
"Mau apa sih, Nit?"
Nita kembali mendongak lalu memutar arah layar laptop ke hadapan mereka, ke hadapan para bos bos nya.
Nayla menatap Nayra terlebih dahulu, menyuruh nya mengontrol diri.
Di dalam video cctv-nya, terdapat seseorang yang sedang memasukkan bubuk yang entah bubuk apa, mereka semua tidak tau. Bubuk itu dimasukkan kedalam botol kecil, setelah botol itu dituangkan, bubuk nya otomatis keluar.
Bubuk merah.
"Apasih ini, ngak ngerti aku?" Nayra bertanya mengarah ke salah satu waters.
"Bubuk merah, ya?" Tanya Nayla mengangguk nganguk kepalanya beberapa kali.
Ray.
Kini diri nya sedang baik baik saja, jelas kepanikan di wajah nya terlihat lebih santai dibandingkan dengan Thalia. Entah? Semua mengarah pada Ray. Namun, kenapa Ray terlihat santai? Dan justru thalia yang sekarang gemeteran.
"Thalia ada penyakit, ya?"
__ADS_1
Nayla menatap Nayra yang berani berani nya bertanya seperti itu. Namun, ucapan thalia membuat—
"Iya, A—Aku sakit ... Pannic attack."
Semua nya menatap thalia. Namun, kenapa thalia panik? Jika bukan dia, kenapa juga penyakit nya kambuh kan?
Ray tersenyum sinis. "Mbak?" Sahut Ray. "Kalau misal mbak curiga liat aku di cctv-nya? Dan kalau misal mbak mau mecat aku juga ... Ya silahkan?" Lanjut nya menatap thalia sinis.
Nayla menatap Ray tak percaya. Jadi secara tidak langsung Ray mengakui nya? Dan diri nya tidak apa jika dipecat?
Nayla jelas mendengar Nayra yang berdengus sinis. Yah, Nayra ini tidak akan pernah bisa memendam emosi nya. Cepat atau lambat pun emosi Nayla juga akan keluar, jika seperti ini terus.
Meisya dan mbak Nita menatap Ray tak habis pikir, bisa bisa nya dia berkata seperti itu? Lalu Meisya lanjut menatap thalia yang menunduk.
Meisya percaya jika thalia mempunyai penyakit pannic attack itu. Namun, yang tidak Meisya yakin adalah ... Sebelum kejadian ini thalia sudah gemetaran. Jadi panic attack nya sudah keluar sedari tadi.
"Yaudah bubar dulu, gih."
Nayla membubarkan semua nya, semua nya pergi ... Kecuali Ray.
"Ngapaian kamu!" Tuding Nayra kesal.
Ray menaikkan alisnya sebelah, songong. "Mbak ngak mau masukin aku ke penjara?"
...•••...
"Ada~ aja, masalah."
"Ya nama nya aja, hidup."
Nayra kembali merucutkan bibirnya kesal atas jawaban dari sang bunda. Nayla yang disampingnya-ayah hanya diam sedari tadi, sedari Nayra mencerita kan kejadian kejadian di caffe.
Dan tanggapan sang bunda hanya itu.
Nayla menatap ayah nya-disamping. "Kenapa, yah?" Tanya nya pelan.
Abyan menyedikkan bahu tak tau. "Kan mahasiswi itu, akar dari ini kan?"
"Tapi, semenjak itu udah ngak pernah liat lagi." Sahut Nayra.
Abyan menatap kedua putri nya, menghela nafas berat. "Udah ngak papa? Caffe aman, kan sekarang?"
Kedua nya mengangguk kecil.
Zara menatap Nayla yang hanya diam, anak nya yang satu itu ... Yaa begitu. Jika ada masalah Nayla akan lebih banyak diam, sedangkan Nayra berkebalikan dari itu, Nayra akan banyak bertingkah.
Nayla menghela nafas dengan panjang nya lalu menghembuskan pelan pelan. Dia mendongak, terlihat lah sang bunda yang sedang memperhatikan nya juga. Zara tersenyum.
"Udah ngak papa." Zara berucap menguatkan. "Mandi gih, udah sore juga."
Nayla lebih dulu bangkit. "Aku ke kamar, ya?" Pamit nya berlalu.
Nayra juga akan bangun. Namun, panggilan dari sang Bunda ia urungkan sejenak. "Kenapa?"
"Kakak kamu lagi over thingking tuh." Ucap Zara terkekeh.
Nayra ikut terkekeh juga. "Biarin lah, biar cepet tua ... Masa, kalau keluar aku yang dikira Kakak karena badan aku yang lebih gede." Nayra berucap dengan kekehan kecil diujung nya.
...•••...
Selesai melaksanakan sholat magrib, Nayla lebih dulu bertadarus. Yah, seperti biasanya. Namun, biasanya Nayla akan mengaji paling lama ya sampai 15 menit. Tapi sekarang 2 lembar saja Nayla sudah tidak sanggup lagi.
Nayla pusing
Bukan pusing mengaji, tapi sepertinya Nayla akan sakit. Gejala nya sudah Nayla rasakan sedari tadi siang. Ia langsung melipat sajadah nya, dan melepaskan mukena nya.
__ADS_1
Tin!
Baru saja ingin merebahkan diri ke atas kasur, suara notifikasi message terdengar. Handphone Nayla hanya menyimpan beberapa kontak penting Saha, jadi mungkin ini adalah salah satu dari penting itu.
Ia mengambil handphone yang terletak di nakas.
...
...
"Dia ngampus disana juga, kan?"
Nayla hanya melihat nya tak ingin berniat membalas. Soal permasalahan yang tadi saja belum terselesaikan, terus ini juga si cellin. Jelas jelas cellin juga satu kelas bersama nya, dan kabar nya dia juga sudah yudisium.
Kepala Nayla sudah semakin pusing saja, ingin tidur pun tidak bisa karena masih magrib. Dan jika ia memaksa untuk membuka mata, kepala nya semakin pening.
Obat
Sekuat tenaga dirinya bangkit dari posisi tengkurap di kasur, berjalan ke arah meja belajar. Biasa nya diri nya sudah menyetok beberapa obat-obatan, seperti obat Paracetamol misal nya.
Dan ada, obat nya hanya tersisa dua butir saja. Dan kini yang belum ada hanya lah air, Nayla tidak biasa menyetok air di dalam kamar. Paling tidak, yaa dia akan berjalan keluar untuk mengambil air di dapur.
Dan kini jawaban nya hanya ada itu.
Dia keluar dari kamar, berjalan dengan gontai nya sambil memegang apa saja yang berada di jarak terdekat nya. Dan Nayla sedikit menyesal tadi, padahal sudah jelas dirinya akan sakit, gejala nya pun sudah berefek sejak tadi siang. Tapi tadi sore dia mandi.
"Pusing?"
Nayla sedikit mendongak dari arah tangga, sedari tadi dia hanya menunduk. Jalan nya sudah tidak kuat lagi. "Iyaa," jawab nya super pelan.
Nayra memperhatikan wajah pucat kembaran nya. Akibat terlalu terbawa pikiran ya seperti ini, syukur Alhamdulillah kan Nayra tidak seperti itu?
"Kamu sih?" Nayra berkata kesal. Namun, tak ayal dirinya membantu Nayla memapah untuk segera ke dapur.
Nayla meminum air dan setelah itu melempar obat ke dalam mulut nya, hanya sekali tegukan obat itu lantas langsung meluncur ke rongga tenggorokan.
"Syafakillah ... Kakak."
Nayla melebarkan bibir pucat nya saat mendengar penuturan sang adik.
...-TO BE CONTINUED-...
...Siapa nih?...
...Jan lupa klik 🌟🌟🌟🌟🌟 yahhh, sekali ajahhh kok...
...Dan ini nama Instagram aku @hellomenaila okeee...
...Coba tebak siapa?...
...Spam next 👉...
...Spam Allahu Akbar 👉...
...Spam istighfar dulu 👉...
...Spam Masya Allah 👉...
...Seee you next part...
...Don't forget comend and vote...
...Bye bye...
^^^Aceh, 10 Juni 2023^^^
__ADS_1