SEPERTIGA MALAM

SEPERTIGA MALAM
NOW 'YES OR 'NO


__ADS_3

...-HAPPY READING-...


...Jiwaku resah saat tidak mendapati Kamu di sampingku. Namun, galauku semakin menjadi ketika tidak mampu bahagiakanmu. Kamu sadarkan aku bahwa segala bentuk duniawi yang dicari tak ada artinya jika tidak ada Kamu di sisi. Menikahlah denganku, wanitaku!...


...Do you merry me?...


...A \= Yes...


...B \= A...


...C \= B...


...•••...


"Saya hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, saya ingin mengatakan dengan segenap kerinduan saya ..."


"Saya Shaka putra athalla Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku ... Queen Nayla Az-Zahra."


Deg.


Jantung Nayla seakan berhenti sebentar. Sedari tadi memang jantung nya ini sudah tidak sehat, tangan nya sangat dingin sekarang.


Nayra.


Nayra tersenyum geli melihat nya, tangan nya sudah berpindah untuk menggenggam tangan sang kakak nya. Nayla menoleh dan Nayra mengangguk kecil dengan bibir tersenyum lebar.


Semua nya ikut tersenyum manis mendengar penuturan dari sang pemeran utama disini. Abyan sendiri sangat bersyukur, apalagi Zara yang kini meneteskan air mata nya. Abyan tersenyum lembut ke arah istri nya.


"Kami sih, setuju setuju aja ... Ya kan, Bun?" Zara mengangguk. "Hehe, tinggal anak nya aja? Yang gimana?"


Nathan mengangguk menyetujui.


Sedangkan Ameera dan Kanaya sudah tidak bisa lagi menahan senyum nya saat Shaka kembali gugup. Padahal tadi lancar lancar aja ngucap nya? Kenapa mas nya ini, mudah sekali gugup? Pikir Kanaya.


"Gimana, Kak?"


"Um?" Nayla sedikit bergumam saat Zara memanggil nya, Nayla kembali menunduk. Kenapa jantung nya seperti berdisko di dalam, dan kenapa saat Shaka mengucapkan nama nya berbeda saat Gibran kala itu yang mengucapkan nya.


"Cepet, kak." Nayra menggoyang kan tangan yang digenggam oleh Nayla kuat. Sangking kuat nya tangan Nayla yang dingin, ikut menyatu dengan tangan Nayra yang hangat.


Nayla mendongak dan berdehem canggung.


Saat Nayla ingin membuka mulut nya—


"Jangan bawa bawa nama aku, lagi!" Bisik Nayra di samping nya.


Nayla sedikit rileks akibat terkekeh akan perkataan Nayra. "Aku gimana ... Ayah sama bunda, aja?"


Semua nya menatap Nayla. Abyan dan Zara kan sudah melempar jawaban kepada Nayla, dan kenapa Nayla kembali melempar kan jawaban nya. Makna nya—


"Kamu terima?"


...•••...


"Kamu mau pulang?"


Ray nampak berpikir sebentar. Kemana diri nya harus pulang? Ke rumah? Harus gitu, pikir Ray.


"Ngak tau," jawab Ray memang tidak tau.

__ADS_1


Thalia nampak ikutan berpikir, mereka sudah menyetop salah satu taksi. Rencana nya mereka akan singgah di restoran untuk makan malam.


Restoran nya sangat lah ramai. Kali ini thalia yang ingin mentraktir Ray. Thalia sengaja tidak ikut gabung tadi siang di caffe, karena harus mengurus sidang Ray ... Yang dicabut oleh sang papa.


Namun, sampai sekarang Ray belum bertemu dengan sang papa.


Aghas masih belum tau kebenaran nya. Dan Ray sendiri tidak tau harus menceritakan nya lewat segi mana dulu.


Makanan nya sudah sampai di depan mereka.


Ray mulai makan saat thalia ingin memukai percakapan. "Kamu di pecat, ya?"


Ray mengangguk dengan kunyahan besar nya. "Ngak papa, orang aku lulusan terbaik Swiss? Jadi ngak usah khawatir?"


Thalia mengangguk kecil. "Tapi ... Mbak Nayla sama mbak Nayra ngak tau cerita nya, gimana? Mereka semua pasti udah ngak suka ... Sama kamu?"


Ray masih sibuk menyantap makanan nya. Di dalam penjara, Ray sangat sedikit makan, dan makanan disana sungguh sangat tidak enak sekali. "Biarin, lah."


"Ngak ada, rencana buat cerita?"


Ray menghela nafas, lalu beralih menatap sang kekasih yang sedari tadi bertanya. "Aku makan dulu, ya?" Pinta nya lembut.


Thalia seakan lemot, diri nya mengerjabkan mata nya beberapa kali, persis anak kecil. Lalu ikutan tersenyum dan ikutan memakan makanan nya.


Kedua nya adalah sepasang kekasih, lebih tepat nya becstreet. Tidak ada yang tau, dan hanya sang kakak, Thania yang tau. Jarak umur kedua nya pun terbilang sangat jauh, 4 tahun.


Sementara Ray dan Gibran 1 tahun. Ray sudah lulus kuliah nya, karena masa kuliah nya hanya 3 tahun, dan Gibran belum, masa kuliah gibran 4 tahun. Namun, tertunda menjadi 5 tahun.


Seharus nya Gibran juga sudah sarjana kemarin. Tapi, entah ... Ray tidak tau pasal kakak nya itu.


...•••...


"Lo ngak, pulang?"


"Gue pulang, ya?"


Thania sudah bangkit dari duduk nya. Namun, Gibran masih saja melamun melihat bintang bintang. Thania tak tega, perasaan bersalah kembali bersarang pada nya. Semua nya salah diri nya, semua akar permasalahan nya ada pada nya. Lalu kenapa?


"Gue mau mati."


Thania sudah tidak bisa lagi membendung air mata nya, mata nya memanas saat mendengar penuturan dari—Kakak—Sahabat, bahkan Thania sempat menaruh perasaan nya pada nya.


"Lo nyerah, gitu?" Tanya nya sinis, namun air mata nya sudah berjatuhan di pipi nya.


Gibran memandang langi dengan pandangan kosong, sudah tidak ada lagi tujuan dalam hidup nya. Diri nya ini sakit ... Dia sakit, dan dia sakit. Gibran sudah membuat kedua orang tua nya membenci adik nya.


Walau diri nya juga sudah dibenci.


Gibran tak peduli, Gibran ingin sembuh. Namun apakah bisa? Dan—dan apakah boleh?


"Lo pasti sembuh."


Gibran menoleh ke arah sang pelaku, suara nya itu bergetar, pertanda ia menangis. "Lo ... Nangis?"


Thania kelalapan, ia menghapus air mata nya dengan kasar. Lalu menelan ludah kasar saat Gibran datang menghampiri nya.


Deg.


Gibran ... Gibran menjatuhkan kepala nya dibahu kanan Thania. Jantung Thania sudah tidak aman sekarang, tangan nya mengusap lembut punggung tenggap nya Gibran. "Tenang aja, ada gue kok ... Kak."

__ADS_1


...•••...


Sedari tadi Nayla tak habis pikir, Nayra? Entah lah entah kemasukan apa Nayra sehingga dia nampak aneh. Bukan aneh seperti biasa nya ... Namun, Nayla sendiri ikut merinding dibuat nya.


"Kenapa sih!" Panik Nayla berteriak saat Nayra bergelenyut manja di tangan nya.


Nayra masih diam, namun tangan nya tidak. Nayra memeluk posesif tubuh sang kakak.


"Bunda!~"


Jelas lah Nayla panik! Adik nya ini kenapa coba?


Zara datang kembali dengan mukena yang masih terpasang di wajah cantik nya, rok mukena nya ia angkat kan. "Kenapa!" Tanya nya tak kalah panik.


Nayla memasangkan wajah memelas, lalu menunjukkan Nayra yang masih belum mau melepaskan nya. "Bunda liat! ... Nayra kenapa sih?"


Zara mengerutkan kening nya memperhatikan, tangan nya memegang kening sang bungsu yang masih belum juga melepaskan pelukan nya, bibir nya tersenyum, namun mata nya tertutup.


Zara pun ikutan panik, kening nya tidak panas ... Tapi kenapa?


"Dek?" Panggil Zara menggoyang kan tangan yang memeluk tubuh langsing Nayla. "Dek, kamu kenapa?" Lanjut dengan menanyakan panik.


"Pfftt ... HAHAHA ... Apasih!"


Tawa Nayra pecah saat ... Zara menggelitik nya, Nayra mundur melepaskan pelukan nya. Tawa nya masih belum reda. Zara dan Nayla semakin takut dibuat nya.


"Ra?"


Nayla memanggil nya pelan. Namun, Nayra masih memegang perut nya sakit karena tertawa. "Apasih bunda!~ geli tau,"


"Kamu kenapa sih, dek?"


Akhir nya Nayra berhenti, dia mengikis jarak antara bunda nya dengan sang kakak. "Bunda tau ngak?"


Zara menggeleng khawatir.


Nayra menghela nafas dibuat nya. "Ck! Kakak aku kan ... Bentaran lagi mau nikah? Jadi nya aku harus luangin waktu, mulai sekarang!"


Nayra menaikkan alisnya sebelah dan tersenyum misterius.


...-TO BE CONTINUED-...


...Jan lupa klik 🌟🌟🌟🌟🌟 yahhh, sekali ajahhh kok...


...Dan ini nama Instagram aku @hellomenaila okeee...


...Coba tebak gimana jawaban nya?? Dan tebak aku kangen kalian ngak???...


...Spam next 👉...


...Spam Allahu Akbar 👉...


...Spam istighfar dulu 👉...


...Spam Masya Allah 👉...


...Seee you next part...


...Don't forget to comend and vote...

__ADS_1


...Bye bye...


^^^Aceh, 13 Juni 2023^^^


__ADS_2