
...-HAPPY READING-...
..."Berada di tengah mereka (keluarga), sehat-bahagia-nikmat yang gak ternilai harganya." - Zaskia Adya Mecca...
...•••...
Nayla keluar dari kamar mandi, dengan bantuan gagang infus ia berjalan ke arah keranjang kasur nya. Berniat untuk melaksanakan sholat subuh dengan duduk, mukena nya sudah disiap kan oleh bunda, dan dengan duduk Nayla kini sudah memulai sholat nya.
Abyan, Zara dan Nayra kini sedang berada di musalla rumah sakit, bukan berniat meninggalkan Nayla sendirian diruangan ini. Tapi, memang lebih leluasa sholat di tempat yang luas.
Selesai melaksanakan sholat subuh nya, Nayla ingin jalan-jalan di lorong lorong rumah sakit. Tak lupa, ia meninggalkan notebook untuk memberitahu kan jika ia sedang diluar sebentar, agar tidak khawatir.
Nayla berjalan dengan sendal rumah sakit, baju rumah sakit yang dilapisi dengan gardigan rajut maroon nya, dan Khimar coklat instan membaluti wajah pucat nya.
Nayla sendiri tidak tau dia sakit apa? Yang jelas diri nya akan pusing jika sudah lama lama berdiri, seperti sekarang ini. Dia sudah keluar dari lift, orang orang sudah mulai beraktivitas.
Dan Nayla juga tak lupa menyapa beberapa perawat yang diri nya kenal. Diri nya berencana untuk duduk duduk di bangku taman rumah sakit sejenak, kabar nya nanti siang Nayla akan keluar dari sini.
Ya karena memang Nayla tidak sakit.
...•••...
"Permisi, assalamualaikum."
Ruangan nya sepi. "Di kamar mandi, ya? Saya tunggu ya? Soal nya saya mau ngecek pasien nya?"
Pertanyaan itu tidak terjawab, mungkin pikir nya sedang berada di ambang terakhir. Suster itu terkekeh sendiri mengingat nya. Namun, sudah beberapa menit pasien nya belum juga keluar.
Suster mely.
Mely berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk nya beberapa kali. Namun, urung tak ada sahutan dari arah berlawanan. "Halo? Permisi? Ada orang di dalam?"
Ceklek.
Kamar mandi nya kosong.
...•••...
"Jodoh, kan?"
Dia terkekeh geli saat melihat seseorang itu sedang duduk tersenyum sendirian. Jika ada yang menanyakan padanya, samper atau tidak? Jelas dengan lantang ia menjawab nya, kesempatan tidak datang untuk yang ke dua kali nya.
Ya jawaban nya samper.
"Hai,"
Dengan wajah tersenyum nya, diri nya mengikis jarak antara ke dua nya. Namun sebelum itu, lawan nya kini lebih dulu bangkit dari duduk nya. "Duduk aja, dulu."
"Ada apa, ya?"
Mungkin diri nya sudah bukan lagi antara suka atau bukan lagi terhadap gadis di depan nya. Namun, diri nya sendiri sudah menyebut jika diri nya sudah terobsesi.
Parah sekali memang.
Hanya mendengar suara nya saja, bisa membuat mood nya yang tadi tidak enak menjadi goodmood saja. "Mau ngomong, sih," ucap nya dengan kekehan di ujung.
"Tapi, saya mau balik ke kamar."
__ADS_1
"Duduk aja, dulu."
"Saya udah duduk tadi."
Diri nya tersenyum kemudian, sudah capek memikirkan hal apa yang bisa membuat gadis nya ini menuruti perintah nya. "Ngak mau duduk?"
Lawan nya menggeleng kepala.
Imut? Satu hal yang tercipta saat Nayla menggeleng kan kepala nya, Gibran memainkan lidah nya dalam mulut menahan untuk tidak tersenyum. "Yaudah, minta nomor telepon boleh?"
"Untuk?"
Bisa Gibran lihat, Nayla sedari tadi hanya mampu berpegangan pada penyandar kursi taman itu. "Lagi pusing, ya?"
Nayla mengangguk kecil, bibir nya sudah pucat pasi. Kepala nya entah kenapa sudah semakin pusing saja, tak tahan lagi. Nayla langsung meninggalkan taman itu.
Namun, beberapa langkah. Nayla jatuh tak sadar kan diri.
...•••...
"Aku ikut juga, ya?"
"Jangan dulu dek, umma juga cuma sebentar kok. Dan siang ini juga Nayla nya udah pulang."
'Kanaya merucutkan bibir nya, sedikit kesal karena tidak diperbolehkan menjenguk Nayla yang sedang di rumah sakit.
"Umma pergi sekarang, ya? Mas kamu udah lama nunggu di mobil, soal nya."
Kanaya hanya mengangguk kecil, lalu setelah itu Ameera pergi meninggalkan nya.
Shaka sudah sedari tadi menunggu di dalam mobil. Entah perasaan tak enak apa ini? Shaka hanya bisa berdoa jika semua nya hanya baik baik saja.
"Palingan kita jenguk nya, sebentar kan mas?"
Shaka tersenyum dan mengangguk nya saja. "Iya, umma."
Mereka tiba di rumah sakit, Shaka turun duluan membuka pintu mobil untuk sang umma. Ameera tersenyum lebar saat diperlakukan seperti itu. "Romantis, kamu ya?"
Shaka hanya terkekeh kecil.
Kedua nya menuju resepsionis, menanyakan dimana kamar inap Nayla. Setelah itu ke dua nya menuju lift, dan naik ke lantai dua.
Ameera tadi pagi hanya ingin menanyakan resep kue caffe gemini's, Shaka sangat suka dengan red Velvet, jadi Ameera berkeinginan untuk membuat nya. Namun, bukan nya mendapatkan resep, Ameera justru mendapat kan kabar Nayla yang sedang dirawat inap.
Tak menunggu lebih lama lagi, Ameera lantas langsung menyuruh Shaka untuk segera pergi menjenguk.
Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi, kabar nya nanti siang Nayla akan dipulang kan. Karena tidak enak membesuk nya di rumah, mereka dengan cepat pergi sekarang.
No. 108
Kamar rawat inap Nayla no.108 dan di depan sana sudah ada kamar yang menunjukkan nomor yang tertera.
...•••...
Suasana dalam ruangan sangat genting untuk sekarang. Abyan kembali meluncurkan beberapa anak buah nya, Zara sudah berada di dalam pelukan nya Nayra. Mereka berdua sama sama menangis menguatkan.
Nayla hanya meninggal kan notebook berisi dirinya yang keluar untuk ke taman sebentar saja. Namun, sampai sekarang. Mereka tidak tau Nayla berada di mana.
__ADS_1
Setelah memutuskan sambungan telfon dari Ameera tadi, mereka semua baru keluar bersama dari musalla rumah sakit. Ketiga nya jalan menuju kamar Nayla, sempat risau tapi, dengan cepat Nayra menemukan notebook nya.
Namun, setelah lebih dari satu jam. Nayla belum juga kembali, semua nya sudah ikut turun mencari, bahkan pihak rumah sakit juga ikut membantu.
Abyan ingin melaporkan ke polisi, tapi kasus kehilangan Nayla belum pasti. Dan juga Nayla belum mencapai waktu 24 jam hilang.
"Assalamualaikum."
Fokus mereka segera beralih ke pintu, di sana tampak lah Ameera dengan sang anak, Shaka. Ke dua nya tersenyum menghampiri.
"Memang bener bener, mirip ya?"
Ameera terkekeh melihat wajah Nayra, pikir nya ke dua nya memang sangat lah mirip, hanya saja badan Nayra yang lebih tinggi.
Nayra hanya tersenyum paksa, dan bunda nya sudah melepaskan pelukan nya dan beralih untuk menyalami tangan ameera.
"Om," panggil Shaka terhadap Abyan.
Abyan tersenyum ikut menjabat tangan Shaka yang hendak menyalami. "Muka, nya? Kenapa?"
Ameera juga baru tersadar akan hal itu, bukan hanya Abyan yang nampak seperti itu. Zara dan Nayra jelas seperti baru selesai menangis.
"Kita ngak tau, yang pasti kita sekarang mau cari Nayla."
Semua nya menatap Abyan menunggu kelanjutan. "Maksud nya?" Tanya Shaka.
Zara sudah berhenti menangis, dia dibantu oleh Nayra yang ingin beranjak berdiri. Nayra juga membantu nya memapah. "Belum pasti juga ..." Sahut Zara pelan.
"Maksud nya? Saya belum paham loh, Zara?"
Zara menatap Ameera—teman lama nya itu, lalu berpindah menatap shaka—kembaran nya—arsya. Kedua nya memang sangat mirip saat panik seperti ini, wajah panik Shaka memang sangat persis seperti sosok mendiang ayah nya.
"Nayla ... Hilang,"
...-TO BE CONTINUED-...
...Siapa nih?...
...Jan lupa klik 🌟🌟🌟🌟🌟 yahhh, sekali ajahhh kok...
...Dan ini nama Instagram aku @hellomenaila okeee...
...Coba tebak siapa?...
...Spam next 👉...
...Spam Allahu Akbar 👉...
...Spam istighfar dulu 👉...
...Spam Masya Allah 👉...
...Seee you next part...
...Don't forget comend and vote...
...Bye bye...
__ADS_1
^^^Aceh, 11 Juni 2023^^^