
...-HAPPY READING-...
...Ingat kesalahanmu sendiri ketika kamu ingin menyebut orang lain. -SEPERTIGA MALAM...
Alhamdulillah nya, hari ini Nayla mendapatkan panggilan sidang skripsi. Dan Alhamdulillah nya lagi, skripsi Nayla yang jelas jelas diri nya kerjakan setengah hati itu, sangat cepat diterima. Bahkan judul pun tidak perlu ditimbang timbang lagi, langsung A+.
"Aku masuk duluan, ya?"
"Ya harus kan? Enak banget! Yang Udah dipanggil."
Nayla tersenyum melihat kembaran nya merengek. Nayra belum mendapatkan surat undangan, yah kasian juga.
"Palingan bentaran lagi, kan?"
Nayra hanya mengangguk malas. "Cepet sama! Aku mau ke caffe sekarang."
"Iya, iya!"
Nayla menutup pintu mobil dan setelah itu, mobil meleset bak ikan berenang. Pelan sih.
Nayla tersenyum manis dibuat nya. Setelah itu diri nya langsung menuju ruangan. Sedikit berlarian karena sudah sedikit agak terlambat.
...•••...
Nayra sudah sampai di caffe gemini's. Langkah nya sedikit memelan saat sayup sayup mendengar suara dari arah dapur.
"Saya ngak tega kak."
"..."
"Saya ... Ngak bisa."
"..."
"Ba—Baik, tapi saya butuh waktu ... Ngak mungkin dalam jangka waktu ini saya lakuin dan—"
"..."
"Iya, kak—"
Apasih?
Saat Nayra ingin lebih tau dan lebih mendekatkan diri untuk menguping, suara nya hilang. Namun, Nayra tau suara siapa itu.
Salah satu waters nya di caffe ini. Stop Nayra! Bisa aja kan, karyawan nya itu sedang mengalami masalah? Dan jika benar itu, Nayra akan berinsiatif membantu nya.
"Mbak?"
"Ah? Astaghfirullah hal adzim." Nayra mengelus dada nya sabar.
Thalia sedikit meruntuki dirinya gegara mengejutkan sang little boss nya. "Maaf, mbak?"
Sekali lagi, Nayra menghela nafas panjang. "Ngak papa, oh ya!"
"Ya, mbak?"
"Gimana, waters baru nya? Aman?"
"Aman kok mbak! Waters nya ada empat orang, mbak mau ketemu? Biar aku panggilin?"
Nayra mengangguk mengerti. "O—ke, panggilin yah? Saya ada di ruang VVIP sebelah."
Thalia mengangguk lantas segera berpamitan.
Nayra menuju ruang VVIP. Berkat Zara kini caffe ini memiliki 3 ruangan VVIP, entah sulap atau magic dari mana? Yang jelas ide ini sangat membuat Nayra bersyukur.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di restoran ini, kesan industrial yang chic langsung terasa.
Penggunaan material yang terekspos, seperti bata, logam, dan beton yang dibiarkan apa adanya tampil kotras dengan warna hitam yang dominan di sini.
Suasana mewah namun santai inilah yang kemudian tercipta di steakhouse ini.
Hurricane’s Grill Indonesia yang dinaungi Normi International Group merupakan partner bisnis lokal dari Hurricane’s Grill di Australia, dan bukan merupakan waralaba.
Restoran steak ini dirancang oleh konsultan desain interior Metaphor yang sudah menangani projek di Jakarta dan singapura.
Tim Metaphor yakin bisa membawa pesona restoran yang tekenal di Australia ini ke tubuh jakarta.
Kesan kasar dari gaya industrial diperlunak dengan penambahan elemen-elemen interior yang elegan dan berkelas.
Salah satu contohnya adalah pelat tembaga yang dipadukan dengan marmer di atasnya.
Inilah sebuah kemewahan ala industrial yang coba dihadirkan. Mengenai pembagian ruangnya, tim Metaphor membagi Hurricane’s Grill menjadi 3 bagian utama.
Pertama, adalah bar menyuguhkan beberapa pilihan minuman dan koktail.
__ADS_1
Area tersebut adalah tempat yang tepat untuk menyantap minuman dan makanan ringan sambil mengobrol santai dengan teman atau kerabat.
...
...
Kedua, adalah area santap utama (main dining).
Bagian ini adalah bagian yang paling nyaman, sekaligus paling diminati.
Area yang berada persis di belakang bar ini dilapis dengan tegel bermotif dalam warna kalem yang serasi dengan sofa yang bermotif kotak - kotak.
...
...
Bagian ketiga adalah halaman belakang yang juga digunakan untuk bersantap.
Bagian ini beratapkan skylight, yang bertujuan untuk mendapatkan ruang yang luas dengan plafon yang tinggi dan siraman alami cahaya matahari.
Dengan cara ini, Metaphor berhasil memadukan kesan eksterior dan interior dengan cara yang menarik.
Ketiga area tersebut didesain secara paralel untuk memungkinkan terciptanya koneksi visual di antara ketiganya.
...
...
Terdapat 3 buah VIP Room di lantai dua, yang didesain secara terpisah.
Ruang yang tidak terkoneksi dengan bagian lain ini mempunyai kapasitas 15 orang tiap ruang.
Ingin bersantap di ruang mana saja tidak masalah, karena rasa mewah dengan sentuhan industrial akan tetap dapat dirasakan.
Lorong entrance restoran menyambut dengan pencahayaan yang hangat.
...•••...
"Uztad Shaka?"
"Ah? Maaf." Shaka berkata dan sedikit meruntuki aksi nya.
Nayla memperbaiki hijabnya dan menghampiri Shaka yang ingin segera pergi. "Kenapa, uztad?"
Shaka berhenti tepat dipembatas antara shaf perempuan dan shaf lelaki. "Bukan apa apa, sih?"
Shaka tersenyum malu. "Saya mau pastiin aja tadi sebenarnya, uztazah apa bukan?"
"Ada perlu apa emang, uztad?"
Shaka menghela nafas panjang, diri nya hanya ingin memastikan penglihatan mata nya. Hanya ada dua orang saja yang berada di masjid ini, jam menunjukkan pukul setengah lima sore.
Setelah pulang dari kampus tadi, Nayla mampir dimasjid sebentar, melaksanakan sholat ashar.
"Uztazah, pulang kampus?" Tanya Shaka ingin berlatih topik.
Nayla mengangguk ragu. "Iya, uztad."
"Oh ya! Saya liat liat, caffe nya uztazah manjur banget ya?"
"Alhamdulillah sih, uztad ... Bunda juga yang bantu bantu."
Shaka mengangguk sekilas. "Saya pamit duluan uztazah," Ucap Shaka.
Nayla kembali mengangguk kecil. "Uztad sama uztad fajar kemaren, kemana?"
Shaka berhenti berjalan, berbalik dan tersenyum. "Maaf, uztad fajar berhalangan waktu itu. Jadi beliau nyuruh saya buat nemenin."
Nayla mengangguk memaklumi. "Oh, ngak papa kok."
Shaka membalas mengangguk lagi. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Tin!
Nayla kembali ke tempat semula, memeriksa message baru. Yang ternyata dari sang adik.
...
...
Nayla tersenyum dan mengemaskan barang barang nya. Lalu menyimpan kembali mukena masjid, dan segera melangkah kaki keluar.
Nayra menggeluarkan kepala nya lewat jendela mobil. Memperhatikan sang kakak yang sangat lama memakai sepatu sneaker Converse nya. "Cepetan bisa ngak sih?" Gerutu Nayra pelan.
__ADS_1
Nayla berdiri dan segera menuju mobil, sudah ada Nayra yang sedikit bete.
"Aku tadi sempet liat uztad Shaka," Ucap Nayra sambil menancapkan gas mobil.
"Hm? Iya, aku juga tadi."
"Kemarin dia nanyain, kamu."
Nayla menaikkan alisnya. "Ngapain?"
"Lah? Ngapain ya? Mana ku tau, kan kemaren uztad Shaka kerumah dan—"
"—Apa? Kerumah?"
Nayra tersenyum terpaksa, marah nih kayaknya kakak nya ini? Dia sih? Bunda juga udah kasih tau buat ngejelasin sama Nayla kan? Adeh.
"Ngak penting sih."
"Lah?" Nayra memerhatikan sang kakak di samping, lalu lanjut mengemudi.
Kedua nya terdiam. Namun, ini sudah biasa, Nayla sibuk memperhatikan luar jendela, dan Nayra sibuk dengan mengemudi nya.
Lampu merah.
"Tadi malam aku ke kamar kamu." Ucap Nayra sedikit menahan senyum, karena tak ingin tawa nya muncrat. Dia menfokuskan ke depan.
Nayla melirik sinis sang adik. "Ngapain!"
"Hehe, ya kan? Aku juga penasaran, komik apa aja kan ya?"
Nayla memutarkan bola matanya, jengah. Selalu saja hobi nya ini diremehkan, atau disepelekan. Mau dia ceramah panjang lebar pun, kalau Nayra tidak suka komik, ya ngak akan suka.
"Kanaya—"
"—Temen baru?" Potong Nayra dan diangguki Nayla.
"Lampu ijo, tuh."
Mobil kembali melaju, dan Nayra sedikit penasaran sekarang. "Kanaya siapa sih?"
"Temen aku."
"Komik." Tanya Nayra masih fokus mengemudi.
"Loh? Ngak mau pulang?"
Sang supir menggeleng. "Ada urusan dikit tadi, sebelum kamu suruh jemput. Kalau aja masjid nya jauh, sama caffe? Ngak akan aku jemput."
"Sadis."
Nayra terkekeh geli.
...•••...
Sedari kemarin, Shaka dibuat risau sendiri. Entah kenapa otak nya tidak bisa konsentrasi. Bukan, bukan tentang cinta nya kepada makhluk Allah, bukan juga risau saat mendengar kata Tapi, saya tolak.
Namun, untuk sekarang ada perasaan tak enak baginya sedari kemarin. Shaka memikirkan keluarga nya, ayah nya, ibunda nya, dan adik nya yang berada dirumah.
Hati Shaka dibuat gelisah, ingin menelpon pun. Shaka tunda terlebih dahulu, ia ingat pesan ayah nya.
kenali dunia bebas diluar sana, Bersikaplah baik, karena setiap kali kebaikan menjadi bagian dari sesuatu, itu memperindahnya. Setiap kali itu diambil dari sesuatu, itu membuatnya ternoda. Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat.
Setelah pulang dari Cairo Mesir kala itu, Shaka hanya sempat menginap di rumah nya selama dua Minggu. Itu pun sudah membuat ayah nya gatal ingin sekali Shaka merantau lagi, mencari ilmu Allah.
Dan itu sebab nya shaka ingin mengajar di perkomplekan ini. Anak anak disini, belum cukup sampai ke tahap atas, ada yang kelas 1 SMP, namun masih belum bisa membaca Alquran.
Shaka kembali melakukan kebiasaan nya setiap malam. Bangun si SEPERTIGA MALAM, kali ini ia berdoa untuk keluarga nya.
Jangan salah, tiap hari Shaka berdoa keselamatan dirinya yang pertama, dan yang kedua orang tua nya, keluarga nya, dan baru keinginan keinginan yang ingin Shaka raih, ia berlomba-lomba tiap malam.
^^^Ada yang diam diam mendoakan disepertiga malam^^^
^^^Itu aku :)^^^
...-TO BE CONTINUED-...
Hari ini sedikit
Tak pe lah
Ini Instagram aku yah guys @hellomenailaa
Kalau kalian post screenshot cerita aku dia atas, jangan lupa tag aku!
Pasti aku repost😌😌
__ADS_1
Thanks to you ❤️
^^^Aceh, 6 Juni 2023^^^