
...-HAPPY READING-...
...Hidup dunia ini singkat, maka kembalilah kepada Allah sebelum kamu benar-benar kembali kepada Allah. -SEPERTIGA MALAM...
Pagi ini, Abyan mendapatkan kabar bahwa salah satu rekan nya, atau teman nya itu ... Meninggal dunia.
Dan kini mereka semua sudah siap untuk melayat, Abyan dan Zara akan berangkat duluan dengan mobil, dan Nayra ditugaskan untuk menjemput Nayla yang sedang yudisium.
Setelah sampai di kampus, Nayra lebih dulu mengecek status online di WhatsApp Nayla. Dan ternyata online.
"Assalamualaikum, kenapa Ra?"
"Wa'alaikumussalam, aku jemput kamu nih. Cepet ya?"
"Tumben—HAHA ... Oke, bentaran lagi aku keluar."
Nayra memutuskan sambungan sepihak, lalu ikut mengirimi SMS kepada sang ayah, meminta alamatnya.
Nayra belum sadar saat sang kakak sudah berada di samping nya. Diri nya sedang memikirkan dimana Pondok pesantren al-jannah?
"Jalan simpang indah, pondok pesantren al-jannah ... Itu Dimana sih?" Gerutu Nayra pelan.
Nayla ikut mendengarkan gerutuan Nayra, tidak salah kan? dia memakaikan sabuk pengaman. "Apa?"
"Astaghfirullah hal adzim." Ucap Nayra kaget.
"HAHA ... Apaan sih? Itu aja kaget! kenapa jemput? Padahal aku ngak minta dijemput, loh?"
Namun, Nayra masih menalisir kekagetan nya sebelum menjawab. "Bisa ngak sih, ngucap salam dulu? Orang muslim kan?"
Nayla memutarkan bola matanya asal, lalu mobil segera berjalan, meninggalkan pekarangan kampus.
Kembali, mereka kembali terdiam saat mobil berjalan dengan mulusnya. Namun, Nayla tak habis pikir, mobil ini berjalan dengan kecepatan diatas rata rata, tinggi.
"Buru buru banget, kayaknya?"
Nayra belum menyaut, dia masih fokus melihat Google maps yang terpampang di dashboard blogger depan. "Ini dimana sih?"
"Mau kemana sih, ini?"
Arah jalannya bukan untuk pulang menuju kerumah dan bukan untuk caffe. Lalu mau kemana Nayra buru buru?
"Temen ayah ada yang meninggal."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un ... Siapa?"
Nayra kembali memutar bola matanya. "Ya, temen ayah! Kalau ngak ada kerjaan, bantuin aku lah?"
"Bantuin apa?"
Nayra menunjukkan dashboard yang menampilkan Google maps dengan dagu. "Tuh, kemana lagi sih ini? Paling ngak bisa aku liat Google maps."
Nayla ikut memperhatikan arah jalan yang sedang dibantu oleh sang Google. "Ngak salah nih?"
"Ya ngak lah." Nayra menjawab dengan masih fokus terhadap jalanan.
"Aku baru aja kemaren kesini."
Nayra memperhatikan Nayla yang tersenyum. "Bilang dong! Ngak capek kan aku jadinya? Ini kemana lagi sih?"
"HAHA ... salah ku dimana, coba?" Nayla kembali memperhatikan jalan. "Itu didepan, putar kebelakang. Ini udah kejauhan banget."
...•••...
Sepanjang jalanan menuju pondok pesantren, sudah sangat dipenuhi oleh para pejalan kaki. Sangat banyak orang yang ingin melayat. Dan jangan tanyakan seberapa padat nya didalam.
Para santriwan maupun santriwati saling ikut bantu membantu keperluan diluar, sudah banyak tenda yang terpasang diluar. Semua para tamu dari orang tua santri pun ikut gabung, orang kampung pun tak kalah ramai nya.
Saat Nayla dan Nayra menginjakkan kaki di depan pesantren, mereka dibuat merinding. Bukan tentang tempat nya, namun kedua nya salah fokus terhadap kekompakan dan juga kealiman mereka.
Saat mereka berdua ingin masuk, mereka dihadang oleh salah satu uztazah yang Nayla tau, yah kemarin Kanaya sempat membaritahu.
Dan Nayla belum pasti untuk sekarang. Siapa yang meninggal?
"Maaf mbak ... Mbak nya bisa tunggu disini dulu. Soal nya didalam penuh." Ucap uztazah itu.
__ADS_1
Mereka hanya mengangguk meringis, lalu kedua nya dibawa kebawah tenda, dengan kursi yang sudah teratur.
"Mbak keluarga nya almarhum, ya?"
Nayla menggeleng. "Bukan, uztazah."
"Loh? Tadi katanya kalau ada dua orang perempuan kembar, yang datang kesini disuruh nunggu dibawah tenda dulu disini, katanya keluarga."
Kedua nya menggeleng kompak. Yah, memang bukan keluarga kan?
Uztazah itu duduk bergabung bersama mereka, sangat banyak orang disini. "Yang meninggal, siapa uztazah?"
Feyla menatap aneh kedua nya. Mereka ngak tau siapa yang meninggal? Berarti bener dong kalau mereka bukan keluarga? Lah? Saya salah orang.
Sebelum menjawab, feyla tersenyum ramah. "Pemilik pondok pesantren ini, mbak."
Kedua nya mengangguk kecil.
"Kyai," Ucap feyla melanjutkan. "Kyai itu sosok pemilik pesantren yang disegani sama semua yang ada disini. Tapi, walau begitu kyai itu receh orang nya, makanya banyak banget yang suka. Apalagi orang orang kampung, orang kampung manggil nya 'abi dan pada suka banget kalau Abi yang ngajar."
Nayla dan Nayra tersenyum, kedua nya memang belum bertemu dengan sosok kyai itu. Tapi, mereka sudah bisa mengambil intinya, dan semoga pemilik pondok pesantren ini akan diterima disini Allah.
Amin...
"Tapi, kita semua pada prihatin sama anak nya loh mbak?"
Kedua nya bingung. "Kenapa, uztazah? Kanaya?"
"Bukan ning Kanaya nya, anak pertama nya ... Baru aja tadi nyampe, waktu tau informasi nya tadi, langsung kesini—"
"—Uztazah feyla," Potong seseorang dari arah belakang seraya tersenyum dan sambil mengayun ayunkan tangan nya.
Feyla peka akan hal itu, dirinya membalas dengan sedikit anggukan dan segera pamit pergi. "Saya pamit dulu ya, mbak nya?"
Nayla dan Nayra memperhatikan kedua nya dan mengangguk memaklumi. "Ngak papa mbak," jawab kedua nya.
"Penasaran ngak sih?"
Atensi Nayla berpindah ke arah sang adik. "Penasaran? Penasaran kenapa?"
Kedua nya memperhatikan sekeliling, mana tau terdapat nama dan bin nya nanti.
Ketemu.
...Kyai arsha athalla...
...Bin...
...Kyai Ibnu abbas...
"Athalla?"
...•••...
"Mas?"
Atensi seorang pria yang sedang duduk melamun, teralihkan kebelakang. Ada seorang gadis cantik disana. Sebelum menjawab dirinya menyempatkan untuk tersenyum.
"Ya?" Jawab nya lembut.
Gadis itu menghampiri sang 'mas yang dipanggil nya, duduk disamping nya yang tidak beralaskan apa apa.
"Kotor loh, Ra." Tutur nya lembut.
"Ngak papa, kok." Jawab nya sambil tersenyum.
Kedua nya terdiam, gadis itu memperhatikan kakak nya yang ia panggil dengan sebutan 'mas. "Mas?"
Laki laki itu kembali mengarahkan pandangan nya ke arah sang gadis cantik. "Ya?" Dan kembali menjawab dengan lembut.
"Mas, oke?"
Shaka terdiam sesaat lalu tersenyum lebar. "Oke, banget."
"Mas ngak mau nemenin, umma?"
"Emang sekarang umma ngapain?"
__ADS_1
"Di dalam kamar."
Shaka mengangguk kecil. "Kamu juga ke kamar ya? Istirahat. Capek kan tadi? Habis di makam?"
Adik nya kembali mengangguk. "Aku pergi duluan ya mas?" Ucap Humaira berlalu.
Shaka menarik nafas panjang sebelum bangkit dari duduk nya. Kamar orang tua nya ada di depan, dan diri nya harus bertemu beberapa sanak keluarga dulu baru bisa masuk ke dalam kamar.
Namun, ternyata tidak. Saat Shaka menginjakkan kaki di ruang tamu, orang orang sedang berada diluar. Sungguh sangat ramai, dan Shaka tersenyum lega akan hal itu.
Shaka membuka pelan pintu, disana umma nya sedang memperhatikan foto sang Abba. "Umma? Mas masuk ya?"
Sang umma yang terpanggil mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum. Dan tak lupa menyapu air mata yang keluar.
"Sini." Umma menepuk kasur di samping nya.
Sebelum itu, shaka menutup pintu kamar terlebih dahulu. Lalu tersenyum saat sang bunda menyuruh nya duduk disamping.
"Umma."
Shaka mengambil tangan ameera, mencium nya ... Sangat lama. Sampai Ameera merasakan ada sesuatu di tangan nya, air mata.
"Mas kenapa nangis?" Tanya Ameera penuh kelembutan.
Shaka, sedari tadi menahan untuk tidak mengeluarkan air mata, menahan untuk tidak menangis di depan sang adik, untuk tidak membuat nya tambah 'sedih. Namun, saat di depan Ameera, Shaka tidak bisa, ia langsung menangis.
Ameera paham. "Ngak papa kok." Tutur ameera pelan, ia mengusap usap punggung sang anak, shaka belum juga melepaskan tangannya untuk dicium.
"Abba, pasti ... Kecewa sama mas, umma? ... Gimana?"
Shaka sesegukan.
Sudah sangat lama Ameera tidak melihat sang anak menangis, apalagi sesegukan. Ia tersenyum haru, berusaha menguatkan, walau dirinya belum kuat.
"Siapa bilang? Justru umma mau bilang, umma bangga sama mas."
Ameera membangunkan punggung Shaka, menepuk kedua pundak tegap anak nya. Shaka sudah sangat sembab sekarang, matanya dan hidung nya sudang memerah akibat menangis.
"Mas, sama dek Naya ... Adalah anugerah dari Allah untuk umma sama, Abba."
Ameera tersenyum dengan air mata mengalir.
"Kamu jangan pergi lagi, ya?"
Shaka menahan untuk tidak terisak. "Maafin, mas umma."
"Pasti lah." Ucap Ameera mencairkan suasana.
Shaka memeluk sang bunda, dirinya harus kuat, dirinya sekarang kepala keluarga disini. Dan dirinya bisa berada disini sekarang, hanya karena berkat kedua orang tua nya.
"Abba ada nitip pesan, sama umma." Tanpa melepaskan pelukan, Ameera melanjutkan pernyataan nya.
"Abba pingin kamu yang nerusin pondok pesantren ini, Abba pingin kamu yang jadi pemilik pesantren. Kamu mau kan?"
Shaka sudah memikirkan ini terlebih dahulu. Lambat laun, cepat atau telat, dirinya lah yang akan meneruskan pesantren ini. Memang nya siapa lagi? Dan siap atau tidak dirinya harus tetap siap untuk ini.
"Pasti umma, mas pasti mau."
Ameera tersenyum lega.
...
...
...-TO BE CONTINUED-...
Allowwwwww
Gimana? Menarik, bukan?
Menarik untuk you vote kan? Ya iyalah
CEPET!!! PENCET ATAU TINGGAL KLIK BINTANG 🌟🌟🌟🌟🌟 DIBAWAH INI
SEKALI AJAHHHHHHH
^^^Aceh, 6 Juni 2023^^^
__ADS_1