SEPERTIGA MALAM

SEPERTIGA MALAM
THA(NIA)LIA ... WHO ARE YOU?


__ADS_3

...-HAPPY READING-...


...“I don’t say: ‘can’t do that’, ‘won’t do that’. I’ve never thought in that way about work. The genuine truth, and I do think about this a lot, is that I’m one of the least competitive people you’ll ever meet. Except with myself.” – Daniel Craig...


...“Saya tidak mengatakan: ‘tidak bisa melakukan itu’, ‘tidak akan melakukan itu’. Saya tidak pernah berpikir seperti itu tentang pekerjaan. Kebenaran yang sebenarnya, dan saya banyak memikirkan hal ini, adalah bahwa saya adalah salah satu orang yang paling tidak kompetitif yang pernah Anda temui. Kecuali dengan diriku sendiri.”...


...•••...


Nayra sudah sampai di rumah sakit. Tanpa menunggu cellin terlebih dahulu, dia langsung menuju kamar rawat inap Gibran. Yah, Nayra Sangat berdoa agar Gibran masih setia betah di sana.


Sebelum masuk, Nayra lebih dahulu bertemu dengan salah satu suster. Suster itu nampak celingukan disana, Nayra sendiri tidak tau entah apa yang sedang dia lakukan. Yang jelas, suster itu nampak sedang menunggu seseorang.


"Permisi, sus?"


Suster itu menoleh, dan langsung menghadap Nayra. "Iya? Ada perlu saya bantu?" Tanya nya ramah.


"Oh, ngak ... Saya mau masuk ke dalam, di dalam ada teman saya, sus. Lagi di rawat."


Suster itu nampak menaikkan alisnya lalu mengerutkan keningnya. "Di dalam tidak ada orang, saya di sini lagi nunggu pasien baru untuk dipindah kan ke dalam."


Nafas Nayra nampak tercekat.


"Dan ... Seperti nya, pasien nya kabur."


Gotcha!


Keren sekali? Bukan. Lalu setelah itu Nayra berterima kasih dan pamit undur diri, di jalan Nayra nampak tergesa gesa menghubungi kontak sang ayah.


Panggilan pertama tidak di angkat.


Lalu panggilan ke dua—


"Assalamualaikum, kenapa dek?"


Nayra menormal kan pernafasan nya. "Wa'alaikumussalam, yah ... Yah, ayah udah ketemu kak Nayla, nya?"


"Belum, ini ayah sama Shaka udah kelimpungan nyariin nya."


Jawaban lesu itu membuat keputusan Nayra semakin bulat. Bukan lagi menduga-duga, tapi memang sudah pasti dia yang melakukan nya.


"Yah, kita cari dia sekarang." Nayra sudah berlari menuju mobil.


"Siapa? Kamu tau siapa?"


"Gibran, yah."


...•••...


"Hallow?"


Suara perempuan.


"Udah mati, ya?"


Suara nya semakin mendekat. "Ayo keluar, gue tau Lo lagi sembunyi, kan? Ayo cepet."


Perlahan Nayla memberanikan diri untuk membuka mata nya. Ingat Allah Nayla, satu kata, tapi bisa membuat Nayla segera beranjak dari sembunyi nya. Dia keluar dari sana.


Perempuan itu tersenyum lebar sekali, dia mengucapkan say hallo untuk Nayla yang sedang tercekat itu.


"Hai." Sapa nya riang.


Nayla masih tercekat berkat itu, perempuan itu segera mengikis jarak antara kedua nya. Nayla semakin melangkah mundur, dan perempuan itu semakin mewanti-wanti agar semakin dekat.


"Kok mundur?"


Nayla sudah semakin dekat dengan sudut lemari, bahkan pinggang nya sudah sedikit tergores akibat sudut lemari itu. "Ng—ngapain?"


Perempuan itu membelai pipi Nayla. Lalu berubah mencekam nya. "Lo siapa, sih?"


"Tha—thalia."

__ADS_1


Perempuan itu nampak terkejut. "No! Don't say thalia! I'm Thania ... Kenalin, gue Thania Amora grisam."


Tangan nya Thania sudah menggantung di sana. Namun, Nayla belum juga ingin menjabat nya. "Kamu thalia!"


"Ish ... Ish ... Ish ... " Thalia menggeleng tegas. "Kan gue udah bilang, say me ... Thania! No thalia, gue sama Lo sama kali! Kita sama sama punya kembaran!"


HAHAHA ...


Suara tawa Thania menggema di seluruh kamar jika bukan tendangan pintu mengagetkan kedua nya.


Brak ...


Gibran nampak ngos-ngosan disana, pandangan nya rumit saat melihat Nayla. Ada perasaan tak tega padanya saat melihat keadaan Nayla yang seperti itu. "Stop, Thania!"


Thania nampak tak terima. "Loh? Gue belum apa-apain, kok ... Ya ngak?"


Nayla tak membalas pertanyaan Thania yang mengaju pada nya. Dia sudah tidak kuat lagi sekerang, kepala nya mendadak pusing kembali, dan dia sudah jatuh ke lantai. "Lepasin ... Aku," pinta Nayla pelan.


Gibran nampak ingin mendekati Nayla. Namun, sebelum itu sudah ada Thania yang menghadang. "Mau ngapain, Lo?"


"Gue mau bantu, dia!" Tunjuk Gibran murka ke arah Nayla yang sudah lemah.


Thania tersenyum sinis. "Gue udah capek-capek bantuin, dan Lo ... Lo nyia nyiain! Bego Lo!"


"Trus mau Lo?" Gibran mendekat ke arah Thania, mengikis jarak antara kedua nya. "Gue harus apain dia! Biar Lo puas!"


"Ch! Lo tanya lah sama diri Lo sendiri! Ngapain coba nanya sama gue!"


Setelah itu Thania pergi, pergi meninggalkan ke duanya. Gibran memerhatikan Nayla yang sedang susah payah berdiri.


"Aku mau pulang ... Gibran,"


...•••...


"Om juga ngak ngerti."


"Tapi om udah lacak, kan?"


Abyan mengangguk sekilas, pandangan nya rumit sekarang. Nayra sudah pindah satu mobil bersama mereka, dia juga nampak rumit saat Shaka pandang.


Shaka bertanya sambil menyetir. Nayra nampak terkejut saat diri nya memanggil uztazah.


"Nayra, uztad." Koreksi Nayra. "Jadi kan yah? Temen nya kak Nayla yang namanya cellin itu ... Mantan pacar nya si Gibran, jadi cellin juga udah beberapa kali liat mobil Gibran markir di caffe kita."


Abyan berputar ke belakang. "Terus?"


"Dan tadi malam aku juga sempat jengukin Gibran di rumah sakit, selang beberapa kamar dari kamar nya kak Nayla ... Waktu aku besuk, Gibran nya lagi tidur. Jadi dia ngak tau aku lagi besuk."


"Terus kenapa bisa kamu curiga sama, dia?"


Nayra menoleh ke arah Shaka. "Cellin juga yang cerita."


Flashback on


Makanan nya sudah sampai di depan mereka. Nayra sudah sedari tadi menahan lapar, sudah tidak tahan lagi untuk menunda Nunda nya. "Ini Lo yang nraktir, kan?"


Cellin terkekeh saat Nayra menggunakan bahasa gaul di depan nya. "Iya, makan yang banyak."


Kedua nya fokus makan, Nayra sempat lupa menanyakan hal penting apa yang ingin cellin sampai kan jika bukan karena cellin yang mengungkit nya duluan.


"Jadi ... Gibran mantan pacar gue."


Uhukk ...


Nayra terburu buru minum air putih. "Apa!"


Cellin nampak selow saat mengangguk nya. "Iya, kita becstreet ... Dan ngak ada yang tau, kalau gue pacaran sama ketua BEM di kampus. Itu permintaan dia sih."


"Terus?"


"Awal nya hubungan kita baik baik ajah, tapi setelah gue kenalin temen temen gue ke dia! Dia langsung suka liat kakak Lo, ya gue marah lah ... Gue ngancem bakalan sebarin hubungan kita, tapi dia fine fine aja waktu gue bilang gitu, dan gue coba buat selingkuh, kan? malahan gue yang nyesel ... Awal nya tapi, ya?!"

__ADS_1


Nayra masih fokus mendengar kan.


"Dan setelah itu Kita break, dan dia udah lose contack sama gue ... Hubungan kita toxic banget! Gue juga gretget sama dia!Awal nya dia udah ilang! Gue nggak tau dia kemana? Tapi setelah itu, dia muncul dan kayak ngelakuin hal hal aneh gitu. Awal nya nyokap sama bokap nya yang sayang banget sama dia, sekarang ngejauhin dia ... Tapi nyokap nya masih sayang sih! Terus lagi ..."


"Terus apaan?"


Cellin berubah wajah serius menatap Nayra. "Kayak nya dia ke gue sama dia ke kakak Lo itu, beda. Karena dia suka sama gue, sedang kan ke kakak Lo dia udah ..."


Flashback off


"Terobsesi?"


"Astaghfirullah hal adzim ... Ya Allah."


Nayra mengangguk kecil. "Dan juga, cellin curiga kalau kasus keracunan di caffe itu ... Gibran?"


Fokus mereka ambyar saat panggilan masuk dari handphone Abyan. "Bunda? Kamu udah ngabarin, bunda kan?"


Nayra mengangguk. "Iya tadi, aku ada ninggalin notebook kok ... Ayah cepet angkatin."


"Assalamualaikum, kenapa Bun?"


"Wa'alaikumussalam ... Ayah cepet pulang,"


Shaka menghentikan mobil nya tepat saat lampu merah menyala. Dan Nayra kebingungan saat bunda nya menyuruh ayah nya pulang.


"Pulang? Nanti ayah pulang, ya? Ayah lagi nyariin ... Kakak, Bun."


"Hehe ... Kakak udah pulang, yah? Adek nya ada sama ayah, kan?"


Deg ...


Ketiga nya saling melirik. "Maksud, bunda?"


"Tadi Gibran yang anterin kakak nya, tapi kakak ngak banyak ngomong ... Mungkin masih cape, dan Gibran nya udah pulang, yah."


"Kakak dimana, sekarang?"


"Bunda suruh istirahat, udah tidur."


Abyan mengangguk. "Ayah pulang sekarang, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, ayah."


Abyan memutuskan sambungan telfon nya. Lalu ikut memandang rumit Shaka yang sedang memandang nya juga.


"Ngak ngerti, aku."


Nayra bergurutu pelan. Dan mungkin bukan hanya Nayra saja yang belum mengerti. Kedua nya pun sama, Abyan ... Dan Shaka hanya diam meneruskan perjalanan untuk pulang.


...-TO BE CONTINUED-...


...Siapa nih?...


...Jan lupa klik 🌟🌟🌟🌟🌟 yahhh, sekali ajahhh kok...


...Dan ini nama Instagram aku @hellomenaila okeee...


...Coba tebak siapa?...


...Spam next 👉...


...Spam Allahu Akbar 👉...


...Spam istighfar dulu 👉...


...Spam Masya Allah 👉...


...Seee you next part...


...Don't forget comend and vote...

__ADS_1


...Bye bye...


^^^Aceh, 12 Juni 2023^^^


__ADS_2