
...-HAPPY READING-...
...Jangan berharap masalahmu akan dimudahkan, namun berharaplah kamu akan jadi orang yang lebih kuat. -SEPERTIGA MALAM...
Rupanya, masalah yang kemarin sudah sedikit teratasi. Hari ini tidak bisa dikatakan sudah baik-baik saja, karena kakak dari mahasiswi itu kembali menghubungi kontak Nayra untuk mempertanggung jawab.
Tanggung jawab? Jelas sudah keduanya bertanggung jawab, biaya rumah sakit, kamar VVIP, serta makanan yang mahasiswi itu makan selama tinggal disana, mereka berdua yang bayar.
Tapi kenapa? Dan kenapa tidak kontak Nayla saja yang dihubungi? Tidak! Bukan Nayla ingin egois, sama sekali bukan. Tapi dirinya tak ingin membuat Nayra berpikiran, biarkan diri nya lah yang berpikiran, jangan adiknya.
"Maksudnya, aku ngak boleh ikut selesaiin masalah ini juga!"
Nayla menarik dan membuang nafas panjang yang entah sudah sekian kalinya, sudah jengah menjelaskan kepada sang adik.
"Iya, biar aku aja yang urus. Dan soal ini ... Please, tolong jangan bilang sama ayah sama bunda dulu, boleh?"
Yang nayra rasakan sekarang adalah sesuatu yang sesak didalam hati nya. "Kak! Bisa ngak sih, ngak usah egois!"
"Aku ngak ego—"
"Kamu egois!" Nayra berteriak didepan sang kakak, plesetan untuk tidak sopan. Nanti dia pikirkan. "Bisa ngak? Aku sama kamu ... Beda nya cuma lima belas menit! ngak usah lah! Sok-sokan jadi dewasa!—"
"—Ngak usah sok-sokan atasi masalah ini! Tau ngak? Kalau si kakak mahasiswi itu kontak sama kamu, tau apa yang akan dia lakuin?"
Di dalam kamar kecil lantai atas caffe, mereka pertama untuk kesekian masalah yang penting untuk bertengkar. Kalau hanya sekedar masalah sepele, keduanya hanya akan bertengkar selama beberapa menit saja.
Namun, entah sekarang? Apakah awal dari bertengkar lamanya?—
"Fine! Mau atasi masalah nya sendiri, bukan? Sok! Silahkan! ... Kakak dewasa aku."
Sebelum keluar meninggalkan sang kakak, Nayra menyempatkan untuk tersenyum, tersenyum pedih.
—Sepertinya benar, perdana untuk bertengkar lama mereka ... Baru dimulai.
...•••...
Setelah turun dari lantai atas, Nayra tak sempat melihat sekeliling nya. Di sana ada salah satu dari seseorang tersenyum melihat ke arahnya. Ntahlah, entah senyum apa yang sedang diri orang itu senyumi.
Nayra langsung menancap gas mobil nya, tadi keduanya berangkat bersama. Namun, untuk sekarang? Ntah, Nayra sedang marah dengan partner nya! partner hidupnya. Dari sebelum lahir, mereka sudah bersama-sama bukan?
HAHA
Nayra tertawa saat mengingat kejadian tadi, kenapa Nayla tidak memberi dirinya juga untuk menyelesaikan masalah ini? Kakak nya itu bisa mengatasi nya kah?
Ting!
+6284****
Bagaimana?
Mau saya jobloskan
Kakak kamu? Kedalam ...
Penjara?
...Anda memblokir kontak ini. Ketuk untuk membuka blokir...
...•••...
"Nah! Ente pasti kerasukan jin, ini."
Shaka tergelak saat uztad fajar menangkap basah dirinya, yang tersenyum. Sedari tadi Shaka hanya melamun dan setelah itu tersenyum sendiri.
Pantas uztad fajar menyebut dirinya 'kerasukan', tapi apa ini?
"Astaghfirullah hal adzim ... Uztad! Saya ngak kemasukan jin!"
بسم الله الرحمن الرحيم ...
الله لا إله إلا هوال حي القيوم —
Yah, setelah mengatakan itu, barulah uztad fajar menghentikan aksinya, aksi untuk 'mengusir jin.
__ADS_1
"Loh? Saya kira ente senyam-senyum gini, ya ... Karena pasti kemasukan jin."
"Saya ngak boleh senyum, gitu?" Shaka dengan sedikit sensi nya.
"HAHA, iya juga yaa ... Kamu boleh kok senyum-senyum?"
Setalah itu, fajar ditinggalkan oleh Shaka. Shaka dengan dirinya yang belum fajar kenali, Shaka hanya pernah bercerita. Kalau dirinya hanya ingin hidup mandiri.
Soal saat fajar menanyakan orang tua, Shaka hanya menjawab ... Mereka masih hidup, tenang ajah. Saya bukan anak durhaka kok, malahan ayah saya yang ingin saya keluar dari rumah, yaa mungkin fajar pikir. Shaka tidak punya banyak uang?
Fajar kembali mengarah penglihatannya kepintu, Shaka keluar dengan segelas teh hangat ditangannya. "Di minum."
"Makasih udah saya repotin, tenang aja saya ngak ngutang kok."
Berujung lah dengan tertawa kecil, fajar memerhatikan Shaka. Shaka itu tampan, mungkin sangat kalah tampan dari dirinya yang terbilang ... Tampan ini.
Umur Shaka juga, pasti dibawah dirinya. Ngomong-ngomong tentang umur, fajar belum mengetahui nya.
"Umur ente, berapa sih?"
Shaka melirik fajar sekilas lalu lanjut membaca buku yang ada di tangannya. "Tebak."
Fajar berdecih dan Shaka terkekeh. Namun, tak urung dirinya memikirkan nya. "30?"
Shaka terperanjat kaget ini loh? 30? Dirinya sudah setua itukah!
"Saya setua, itu?"
Fajar terlebih dahulu terkekeh sebelum mengangguk kecil. "Mungkin kan? Udah tua juga, sana kawin!"
"Nikah dulu atuh."
"Yeeww."
Kembali, keduanya tertawa. "Saya baru 27 tahun padahal loh."
Jelas! Dan sangat jelas jawaban itu tidak membuat fajar kaget, malah sebalik nya. Dirinya fikir Shaka itu ... 25? Atau bahkan 23?"
"Kenapa ngak kaget?"
"Tau tidak? Saya seperti nya sudah mantap!"
"Mantap? Mantap kenapa?"
Shaka tersenyum lebar sekali, bahkan semut yang lewat akan tergiur, saking manisnya ... Menurut fajar.
"Saya sudah mantap." Lalu beralih menatap langit. "Saya sudah shalat istikharah semalam, dan kamu tau jawabannya? Jawaban nya 'iya!"
"Jawaban? kunaon sih! Bisa ente jelaskan sejelas-jelasnya!"
Shaka terkekeh kembali. "Dengarkan ini baik-baik."
Tidak usah ditanya, atau diragukan lagi. Sedari dari fajar sudah memasangkan fungsi telinga nya. "Cepet ente bilang, Napa!"
"Akan saya pastikan, kamu adalah jodoh yang Allah berikan kepada saya". Shaka tersenyum ke arah langit.
"Kamu, itu? Ane?"
...•••...
Setelah pulang dari kosan Shaka, fajar berinisiatif untuk pergi ke supermarket. Ummah nya tadi memesan untuk membeli beberapa bahan buat kue.
Namun, saat memilih beberapa jenis tepung. Dirinya kewalahan, tadi ummah nya menyuruh tepung kunaon sih?
"Biasanya kalau mau buat kue, harus ada tepung maizena nya."
Kepala fajar berputar 180° Celcius, oh tidak! Karena orang yang menyatakan itu ada disamping nya sekarang.
Casual sederhana, namun nampak elegan. 'abaya hitam dengan hijab brown. Dia Nayra.
"Uztazah."
Nayra tersenyum kecil, dirinya terdorong untuk membantu uztad fajar. "Benar, kan? Uztad."
__ADS_1
"Ah? Apa? Tepung nya?"
Nayra mengangguk kecil.
"Sepertinya sih, begitu ... Udah semua ini, uztazah ngapain di supermarket?"
"Ayah sama bunda lagi diluar kota, jadi saya mau beli beberapa makanan instan aja. Kalau nanti ngak sempet masak."
Fajar hanya mengangguk, toh dia juga harus apa? Tadi hanya basa-basi saja. Selanjutnya mereka berdua berjalan mengarah ke kasir.
Setelah nya fajar melihat arah jalan Nayra yang akan duduk dikursi, kursi yang sudah disediakan di supermarket. Dirinya tak tega mengingat cerita yang Shaka sempat ceritakan tadi.
"Oh ya, saya boleh ikut duduk."
Nayra memerhatikan sekitar, maksud nya begitu banyak kursi yang masih kosong, mengapa harus disini. Namun, tak urung dirinya pun mengangguk kecil.
"Gimana sama keadaan, cafe?"
Nayra menyimpan ponsel nya di atas meja, lalu meminum minuman kaleng sebelum dirinya pulang. "Keadaan cafe? Baik kok, uztad. Ada Nayla yang ngurus."
Nayra terkekeh.
"Kamu pernah dengar kalimat, ini?" Fajar kembali bersuara. "Jangan berharap masalahmu akan dimudahkan, namun berharaplah kamu akan jadi orang yang lebih kuat."
"Dan saya lihat, sejauh ini. Kamu kuat-kuat saja, ya kan? Mungkin diluar sana lebih berat berat lagi, Allah kasih ujian, dan tentunya sampai sekarang mereka masih kuat."
Nayra hanya tersenyum kecil mendengar nya.
"Dan masalah kamu, ini? Belum apa-apa nya. Kamu masih punya keluarga, bukan? Seorang ayah tidak memberikan apa pun yang lebih baik daripada pendidikan yang baik."
Nayra sudah tidak bisa menahan kedutan senyum nya, dirinya sudah tersenyum lebar.
"Oh, dan ya?"
Nayra menaikkan alisnya ketika fajar kembali bersuara. "Mm? Kenapa, uztad?"
"Jangan meninggalkan (berhenti berbicara) satu sama lain, jangan memelihara kebencian satu sama lain, jangan saling cemburu, dan jadilah sebagai sesama saudara dan hamba Allah. Tidak halal bagi seorang Muslim untuk berhenti berbicara dengan saudaranya (Muslim) lebih dari tiga hari."
"Seperti yang saya liat, seperti nya ... Kamu sedang membutuh kan kata-kata tadi, bukan?"
Melihat Nayra yang mengangguk kecil. "Jadi kalau misal, sikorban nya sudah marah atau benci sama kamu? Jangan balik benci."
Seperti nya, bukan untuk itu. Yah, tak seharusnya dirinya marah dengan sang kakak, ketika sedang dalam masalah. Bukannya sama-sama bangun, malahan dirinya yang mundur duluan.
"Terimakasih, uztad."
"Ah, kan. Sesama muslim harus saling mengingatkan, bukan?"
Nayra tersenyum dan mengangguk kecil.
"Yasudah, saya mau pamit duluan."
Fajar bangkit dari duduknya, dan tak lupa mengucapkan salam. Tapi, selangkah lagi dirinya berbalik, memperhatikan Nayra yang melihat ke arahnya.
Nayra menaikkan alisnya. "Ada yang tertinggal, uztad?" Tanya nya menghampiri, dengan jarak satu meter.
"Tidak." Lalu fajar melirik sekitar. "Hari Sabtu kemarin? Uztazah, tidak hadir bukan?"
Melihat itu, Nayra mengangguk.
Fajar tersenyum kecil. "Besok hari Sabtu, jangan lupa!"
Fajar lanjut pergi, meninggalkan Nayra yang menahan kedua sudut bibir nya untuk tidak tersenyum. Namun, tidak bisa! Nayra tersenyum manis sekarang.
...-TO BE CONTINUED-...
GIMANA???
ALURNYA GANTUNG SEPERTI CINTAKU PADA CRUS?
HAHAHAHAHAHA
MASAKKK
__ADS_1
THANKS TO YOU 🙌
^^^Aceh, 27 Mei 2023^^^